<http://www.kompas.com/>
 http://cetak.kompas.com/read/2011/02/10/03283218/jurig.supa.dari.karawang
"Jurig
Supa" dari Karawang
KOMPAS/DEDI MUHTADI

Misa Suwarsa, praktisi mikrobiologi yang juga petani jamur merang di Desa
Mekarjati, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, berhasil menciptakan bibit jamur
merang sendiri. Kini dia dikenal sebagai ahli ”supa” alias jamur.

Misa seperti menjalani konsep Restorasi Meiji, manabu (belajar), maneru
(meniru), dan nusumu (mencuri) ilmu pengetahuan dan teknologi. Doktor teknik
kimia Institut Teknologi Bandung (1985) ini berhasil menciptakan bibit jamur
merang sendiri. Setelah 30 tahun dia mengembangkan bibit itu, kini mantan
pegawai Badan Tenaga Nuklir Nasional itu berhasil menjadi jurig supa (bahasa
Sunda) atau hantu jamur. Misa dianggap sebagai ahli atau tukang jamur.

Selain pernah dikucilkan keluarga, ia juga dikucilkan almamater akibat
tindakan ”restorasinya” dari ranah intelektual akademis ke pematang sawah.
”Ijazah S-3 hingga kini belum pernah saya pegang karena harus ditebus Rp 200
juta. Saya tidak mau…,” ujarnya.

Kisahnya dimulai tahun 1989-an ketika ia memutuskan keluar dari pengajar di
ITB dan beralih menjadi petani jamur. ”Saat itu gaji saya sudah Rp 1.920
juta, ketika (nilai satu) dollar AS masih Rp 1.500,” kenangnya.

Keputusannya itu mengundang kemarahan orangtuanya. Ia lalu diusir dari
keluarganya di Depok. Hanya dengan bekal Rp 10.000, ia pun harus
meninggalkan keluarga besarnya. ”Itu uang dari ibu saya,” katanya.

Misa dianggap intelektual dungu. Dengan bekal uang dan baju seadanya, ia
pergi ke Karawang. Daerah lumbung padi ini merupakan kawasan potensial
budidaya jamur merang.

Setiba di Karawang, Misa langsung mencari kubung, bekas budidaya jamur yang
sudah tidak dipakai di Tanjungpura, perbatasan Karawang-Bekasi. Dia berjalan
kaki berkilo-kilometer menyusuri irigasi mencari pemilik kubung untuk
meminjamnya.

Hari sudah malam setiba di dekat kubung. ”Saya tidur di kandang kambing
karena petani ini anaknya 12 orang,” kenangnya.

Petani miskin yang ditemuinya itu tertarik dengan cerita Misa soal budidaya
jamur, tetapi tidak punya modal untuk membudidayakannya. Sementara empat
kubung yang tersedia di sana harus disewa Rp 200.000 per kubung.

Misa pun kemudian meminjam uang ”monyet” (pinjaman rentenir). Jika pinjam Rp
200.00, harus kembali Rp 300.000 dalam sebulan.

Mereka butuh modal Rp 600.000 untuk media tanam, yakni jerami dan kapas.
Uang yang tersedia adalah uang ”setan” atau ”uang iblis”.

Warga desa menyebut uang pinjaman itu demikian karena pengembalian uang
panas itu amat menjerat. Jika pinjam Rp 600.000, harus kembali Rp 1,2 juta
dalam sebulan.

Misa benar-benar di persimpangan jalan. Yang bisa dia lakukan hanya shalat
tahajud (shalat malam) selama tiga malam. Tuhan pun memberikan jalan untuk
melangkah. Dia mendapat pinjaman tanpa agunan.

Dia memperbaiki kubung dengan mengangkut jerami sendiri dari sawah. Daun
kelapa untuk biliknya dia ambil dengan memanjat pohon sendiri. ”Badan saya
lecet-lecet,” ceritanya.

Singkat kata, delapan hari kemudian, bibit jamur yang dia buat sendiri
tumbuh dengan baik dan dijual di pasar Cikampek, Karawang, dengan harga
total Rp 1,45 juta.

Dia mengembalikan pinjaman Rp 1,2 juta sesuai perjanjian tertulis di atas
segel. ”Uang tersisa hanya Rp 250.000,” ujarnya. Namun, setelah itu, pemilik
tanah kubung tidak mengizinkan lagi Misa menanam jamur.

Misa akhirnya bertemu dengan pemilik kubung bekas sopir Kedutaan Besar
Amerika Serikat. Pemilik kubung itu memang menyerahkan pengelolaan, tetapi
tidak meminjamkan modalnya.

Misa kembali kepada rentenir. Tetapi, kali ini hanya ada uang ”jalan”. Itu
sebutan uang pinjaman yang harus dikembalikan secepat mungkin. Jika meminjam
Rp 300.000, harus kembali Rp 600.000 dalam delapan hari!

Tanpa berpikir panjang, ia modali empat kubung. Delapan hari kemudian, Misa
mampu mengembalikan modalnya kepada tukang pukul yang menagihnya. Dari satu
kubung, pinjaman itu lunas selama delapan hari. Tiga kubung lainnya mampu
menghasilkan 1 ton jamur merang.

Empat bulan kemudian, dia berhasil membeli empat kubung bersama 1.500 meter
lahannya di Tanjungpura, Karawang.

*Dibakar warga*

Misa memulai kehidupan baru usaha pembibitan dan budidaya jamur di tempat
itu. Dari empat kubung terus dikembangkan menjadi 12 kubung, dan hasilnya
puluhan juta rupiah.

Misa lalu membeli 1 hektar sawah senilai Rp 50 juta tahun 1991 untuk
memproduksi jerami. Karena tinggal di lingkungan petani miskin, perkembangan
usaha Misa yang sangat cepat itu menimbulkan kecemburuan.

”Kami sudah berpuluh-puluh tahun menanam padi tetap miskin, tapi si jurig
supa hanya beberapa bulan sudah kaya raya,” kenang Misa menirukan umpatan
warga. Mereka pun ramai-ramai membakar kubung-kubung jamur Misa.

”Hati saya hancur saat melihat kepulan asap keluar dari sisa-sisa pembakaran
kubung,” kata Misa. Ia pun stres dan hampir frustrasi menerima peristiwa
pada pertengahan tahun 1992 itu. Namun, ia segera bangkit, membangun 30
kubung baru senilai Rp 35 juta dengan uangnya yang tersimpan di dalam drum
selama usahanya berbulan-bulan.

Usahanya berkembang pesat karena dibantu puluhan tenaga kerja. Seiring
berjalannya waktu, Misa membuka pelatihan magang bagi para calon wirausaha
melalui Pusat Pendidikan dan Latihan Jamur Merang Kelompok Tani Jamur Prima,
Karawang.

Misa bercerita mendapat ilmu ”perjamuran” itu semasa masih mengajar di ITB,
tinggal di Dago, Bandung Utara. Saat itu dia bertetangga dengan Prof Han,
guru besar yang saat itu menjadi dosen tamu mikrobiologi di ITB.

Suatu saat, profesor itu harus segera pulang ke negerinya, Jerman. Dia
menitipkan buku-buku miliknya yang tak sempat dibawa pulang ke negerinya
kepada Misa. ”Saya percayakan kepada kamu. Buku-buku ini jangan sampai
keluar karena bersama 40 profesor lain kami sudah disumpah untuk tidak
keluar ke negara lain,’’ ujar Prof Han.

Dasar ”tukang insinyur sableng”, sesudah guru besar pergi, ia melakukan
nusumu, mempelajari buku-buku mikrobiologi itu. ”Ternyata bahasanya China
sehingga saya harus minta bantuan seorang teman menerjemahkan,” kata Misa.

Dari situlah Misa nekat hengkang dari ITB dan menjadi jurig supa hingga
sekarang. Dari pusat pendidikannya, kini sudah ratusan orang menjadi
pembudidaya jamur di seantero Nusantara.

Kirim email ke