sok atuh beresan & bubarkeun, tapi kade barang pusakana mah kadieukeun.


________________________________
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, February 18, 2011 10:24:18 PM
Subject: Re: [kisunda] Budaya - Ritual Ngalungsur Pusaka, Godog, Garut?

  
Urang uyup we hijikeun jeung jus tomat 
Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From: ilen kardani <[email protected]> 
Sender: [email protected] 
Date: Fri, 18 Feb 2011 06:22:10 -0800 (PST)
To: <[email protected]>
ReplyTo: [email protected] 
Subject: Re: [kisunda] Budaya - Ritual Ngalungsur Pusaka, Godog, Garut?
  
Tah, mangkanin nu malusyrik mah getih na oge halal cenah............bade 
dikumahakeun kang? Bade dicikeusikeun?




________________________________
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, February 18, 2011 8:04:08 AM
Subject: Re: [kisunda] Budaya - Ritual Ngalungsur Pusaka, Godog, Garut?

  
Ralat : ka kuncen godog, tetep we alesana naon wae ge anjeun nu tanggung jawab 
kana kamusyrikan di dinya, nu di makamkeun di dinya teu ngajarkeun kitu, nu 
dimakamkeun didinya jalma muslim nu ngajauhan kamusyrikan.

Jeung hiji deui, nu dimakamkeun di dinya lain rakean santang, tapi siliwangi, 
nu 
make gelar samaran sunan rohmat, nu nyebarkeun islam di sunda. Nu nyamar 
kusabab 
diudag2 kunu hianat ka raja sunda nyaeta banten jeung cirebon dibantuan ku 
nagara ti jawa jeung walanda. Nuhun 

Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From: Ki Hasan <[email protected]> 
Sender: [email protected] 
Date: Fri, 18 Feb 2011 07:13:33 +0800
To: Ki Sunda<[email protected]>; Baraya 
Sunda<[email protected]>
ReplyTo: [email protected] 
Subject: [kisunda] Budaya - Ritual Ngalungsur Pusaka, Godog, Garut?
  
Ngalungsur Pusaka, Buat Hormati Leluhur


 
disparbud.jabarprov.go.id
Ngalungsur Pusaka 
Jumat, 18 Februari 2011 | 03:56 WIB
Oleh Feri Purnama
Upacara adat "Ngalungsur Pusaka" atau membersihkan benda-benda pusaka 
peninggalan Prabu Kiansantang atau Syech Sunan Rochmat Suci di makam keramat 
Godog, Kampung Godog Makam, Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan, 
Kabupaten 
Garut, Jabar, Kamis, merupakan penghormatan terhadap leluhur.
"Bukan menghormati pusakanya, tapi menghormati beliau (Syech Sunan Rochmat 
Suci) 
yang telah berjasa menyebarkan ajaran agama Islam disini," kata Ketua Juru 
Kuncen Makam Godog, Ahmad Syarifudin.
Prabu Kiansantang merupakan seorang anak dari Raja Padjadjaran yakni Prabu 
Siliwangi yang menyebarkan agama Islam di tanah Pasundan, dan dimakamkan di 
Gunung Suci, Garut.
Upacara adat "Ngalungsur Pusaka" tersebut selalu digelar di makam Godog setiap 
satu tahun sekali atau dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Upacara membersihkan benda pusaka tersebut, ditegaskan Ahmad bukan menyembah 
suatu benda yang diyakini akan memberikan sebuah keajaiban atau melebih 
kekuatan 
Tuhan Yang Maha Esa, melainkan sebagai cara melestarikan budaya seperti menjaga 
peninggalan benda-benda pusaka zaman dulu.
Para peziarah yang datang ke makam Godog tersebut oleh pihak kuncen selalu 
diingatkan bahwa melestarikan benda pusaka dan menghormati pemiliknya itu bukan 
menyembah pusaka.
"Jangan sampai kita melestarikan benda pusaka salah langkah atau salah aqidah, 
ini bukan menyembah tetapi melestarikan, beberapa kali kepada jemaah jangan 
sampai salah aqidah, mendewa-dewakan sesuatu atau benda, tapi kita tetap 
memohon 
dan berdoa kepada Allah SWT," kata Ahmad.
Upacara adat "Ngalungsur Pusaka" digelar dengan hati-hati dari awal dibawanya 
tempat benda pusaka yang disimpan di makam, hingga ke aula dan dilakukan 
pembersihan kemudian dikembalikan ke tempat semula oleh kuncen berseragam gamis 
identik warna hijau.
Prosesi upacara adat yang digelar tersebut, ditegaskan Ahmad bukan berarti 
mengunggulkan benda pusaka sehingga timbul keyakinan akan memberikan barokah 
melainkan bentuk penghormatan agar benda tersebut terjaga baik.
"Seperti kita punya benda, terus dilemparkan oleh orang lain, berarti itu tidak 
menghormati kepada yang punya barang," kata Ahmad mencontohkan bahwa uapcara 
adat benda pusaka dengan hati-hati merupakan bentuk penghormatan kepada 
pemiliknya.
Keberadaan benda pusaka tersebut, diceritakan Ahmad berawal ketika Syech Sunan 
Rochmat Suci membawa benda tersebut dengan sebuah peti kayu dari tempat 
keramaian kerajaan Padjadjaran.
Dengan bekal benda pusaka tersebut Syech Sunan Rochmat Suci mendapatkan ilham 
harus menyebarkan ajaran Islam ditempat lain hingga akhirnya mendapatkan 
petunjuk dengan menempatkan benda pusaka di Gunung Suci yang sekarang menjadi 
tempat pemakamannya.
Benda pusaka tersebut disimpan Syech Sunan Rochmat di Gunung Suci setelah 
beberapa tempat telah dilakukan untuk mencari petunjuk menyebarkan ajaran agama 
Islam.
Dalam petunjuk itu, peti yang berisikan benda pusaka tersebut bergoyang dan 
diyakini Gunung Suci sebagai lokasi yang harus memberikan perubahan yang lebih 
baik kepada masyarakat dengan menganut agama Islam.
"Pertamanya di Padjajaran beliau mendapat ilham untuk hijrah, meninggalkan 
tempat rame dan bertafakur disini, dan berjuang mengajarkan agama Islam," kata 
Ahmad.
Sedangkan nama Godog tersebut dijelaskan Ahmad berasal dari kata bahasa Sunda 
yang artinya matang kemudian diartikan disimpannya benda pusaka tersebut telah 
matang dan Syech Sunan Rochmat harus menetap di Gunung Suci dan menyebarkan 
ajaran Islam.
"Tafakur di tempat ini lebih matang, sehingga pendekatannya dalam mengajarkan 
agama Islam berhasil dengan matang," katanya.
Selama prosesi "Ngalungsur Pusaka" tersebut para juru kunci makam mendampingi 
kuncen yang sedang membersihkan benda pusaka dengan minyak khusus seperti 
minyak 
keletik, jeruk nipis untuk menghilangkan karat, dan minyak wangi.
Benda pusaka yang sudah berusia ratusan tahun itu yakni seperti senjata keris 
yang berjumlah 15 yang dahulu digunakan bukan sebagai senjata melakukan 
kekerasan melainkan sebagai pegangan menjaga diri saat berjuang menyebarkan 
ajaran Islam.
Pusaka tanduk berbentuk terompet, kata Ahmad oleh Syech Sunan Rochmat Suci 
digunakan untuk memberitahukan dan mengajak masyarakat berkumpul menggelar 
musyawarah dengan cara ditiup hingga mengeluarkan bunyi khas.
"Benda pusaka tanduk ini hanya bisa berbunyi oleh kangjeung Sunan Rochmat, 
kalau 
sekarang tidak bisa bunyi, itulah keajaiban yang tidak dapat masuk akal 
manusia," kata Ahmad menerangkan di hadapan peziarah yang hadir di makam Godog.
Benda peninggalan lainnya yakni pecut atau disebut Cameti, kemudian rante untuk 
mengukur waktu hingga mengatahui waktu menjalankan ibadah shalat.
Kemudain Babango atau gunting yang ukurannya kecil sebagai alat tajam zaman 
dulu 
untuk khitanan atau memotong kelamin laki-laki sebagai salah satu syarat 
mengikuti ajaran agama Islam. "Alat gunting ini untuk khitanan ukurannya kecil, 
tapi anjeuna (Syech Sunan Rochmat) bisa melakukannya," katanya.
Selain itu benda pusaka lainnya yakni benda miniatur alat-alat menanak nasi dan 
pertanian, Ahmad menilai adanya benda tersebut sebagai gambaran bahwa 
macam-macam bentuk alat pertanian dan menanak nasik sudah dibentuk pada zaman 
dulu.
"Setelah dilakukan pembersihan, kita perlihatkan kepada masyarakat, inilah 
benda-benda pusaka," kata Ahmad.
Jodhi Yudono 
Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/02/18/0356332/Ngalungsur.Pusaka.Buat.Hormati.Leluhur






      

Kirim email ke