Surat Nasihat buat Sahabat Minggu, 20 Februari 2011 | 13:22 WIB
*TEMPO Interaktif*, *Jakarta* - Siapa Muhammad Assad? Sepintas membaca biografi singkat anak muda usia 23 tahun ini, bisa jadi kita akan langsung melompat pada kesimpulan, "Hmm, pemuda yang sangat beruntung." Betapa tidak, lulus SMA, Assad mendapat beasiswa S-1 di Petronas University of Technology, Malaysia. Kembali ke Indonesia setelah 3,5 tahun di Malaysia, anak muda ini langsung angkat koper menuju Qatar Faculty of Islamic Studies, melanjutkan S-2 di bidang islamic finance atawa ekonomi syariah. Lagi-lagi keberangkatan Assad ini atas beasiswa dari Qatar Foundation di Doha, Qatar. Tapi cukuplah dengan berbagai cerita keberuntungan itu. Sebab, begitu kita membuka lembar demi lembar buku ini, kita akan tahu, Assad bukan hendak sekadar bersombong-sombong dengan pengalaman hidupnya yang unik. Unik karena di usia semuda itu Assad mampu memaknai tiap pengalaman barunya dan mengaitkannya dengan berbagai ajaran dalam Islam. Buku ini merupakan kumpulan dari pilihan tulisan terbaik Assad pada blognya, www.muhammadassad.wordpress.com, sejak November 2001, yang pernah dikunjungi lebih dari 150 ribu orang kurang dari setahun. Di samping berbagai kata pengantar dari sejumlah tokoh yang agak mengganggu karena panjangnya, buku ini lumayan renyah untuk dinikmati. Tapi tetap ada beberapa kata pengantar dari tokoh yang layak dicermati dan lumayan sayang untuk dilewatkan. Seperti dari First Lady Qatar, Her Highness Sheikha Mozah bint Nasser al-Missned, yang menunjukkan siapa Assad atau kata pengantar dari Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia. Terlepas dari kata pengantar itu, tulisan Assad tentang pengalaman sebagai mahasiswa beasiswa di Qatar ini juga sarat informasi. Misalnya simak bagian tentang pengalaman berburu beasiswa. Meski disampaikan dengan gaya bertutur yang cukup santai khas tulisan anak muda pada blog pribadinya, pengalaman itu lumayan bermanfaat bagi yang baru ingin memasuki belantara pencari beasiswa. Di bagian ini kita juga akan tahu bahwa Assad pun pernah mengalami kekecewaan saat pengajuan beasiswanya ditolak. Tapi simak bagaimana dia mengatasi kekecewaannya, di situlah kunci emas yang membedakan Assad dengan anak muda lain bisa ditemukan. Lewat kata-katanya, Assad memompakan pentingnya semangat pantang menyerah dan terus berdoa. Untungnya, dengan Assad sendiri sebagai tokoh utama yang bertutur tentang hidupnya, kita bisa membaca bahwa si penulis juga punya cita-cita hebat dan kadang "lebay" khas anak muda lain. Jadi orang kaya, populer kaya raya, populer, banyak teman, juara segala lomba, dan sebagainya. Ungkapan singkat yang beberapa kali dituliskan Assad adalah bagaimana menjalani hidup agar bisa "muda berkarya, tua kaya raya, mati masuk surga". Salah satu kisah unik yang diceritakan Assad adalah soal kehebatan sedekah. Bagaimana Assad membuktikan ia bisa mendapatkan apa yang diidamkannya, yakni menonton pertandingan persahabatan kesebelasan Brasil versus Inggris. Dengan pancingan sedekah, 50 riyal, Assad bisa mendapatkan kursi VVIP senilai 700 riyal atau sekitar 1,5 juta, dengan buffet gratis dan berkenalan dengan banyak orang secara gratis. Lagi-lagi dia menunjukkan hebatnya sedekah saat, dalam perjalanan kembali ke Jakarta, Assad, yang mengikuti penerbangan dengan kelas ekonomi seharga Rp 8 juta, tiba-tiba dipindah ke bisnis senilai Rp 18 juta. Uniknya lagi, ketika kembali Doha, lagi-lagi Assad dipindahkan pihak penerbangan ke kelas bisnis. Kisah ini membuat kata kebetulan jadi benar-benar kehilangan arti. Ya, hampir di setiap bagian penulis mengutip ayat Al-Quran dan hadis. Hanya, kutipan itu dijabarkan Assad dengan gaya yang sangat mengena untuk anak-anak muda. Kaitan kisah-kisahnya pun lumayan mengena dengan kehidupan masa kini, sesuai dengan tujuan penulis, yang ingin menjabarkan bahwa Islam adalah way of life. Karena tak terbebani oleh keinginan menasihati--dan sekadar berbagi pengalaman--Assad dengan santai bisa bicara mulai tentang bola, sedekah, istri yang diidamkan, hubungan dengan orang tua, pembantu rumah tangga, tato, bahkan judi yang berkaitan dengan bola. Kelenturan Assad dalam berkisah tampaknya juga buah dari kehidupan sehari-hari Assad yang tak melulu berkutat dengan buku, pengajian, dan kuliah. Ia juga terlihat cukup bisa menikmati masa luangnya dengan bergaul dengan banyak kalangan. Di tiap batas bagian buku ini ada beberapa informasi tentang Qatar yang lumayan unik dan mungkin tak banyak diketahui orang. Misalnya bahwa jumlah wanita Qatar hanya seperempat dari total populasi negeri salah satu penghasil minyak itu. Hanya, Assad tampaknya harus sedikit merenggangkan otot untuk membuat buku ini sedikit lagi lebih cair dengan humor. Sebab, toh, humor selalu ada dalam setiap penggal hidup. Tentu saja bukan humor yang menertawakan diri sendiri, macam karya Raditya Dika dalam "Catatan Perjalanan Mahasiswa Bodoh"-nya--yang memang sama sekali bukan masalah--karena itulah "jualan" buku Dika. Tapi sedikit humor pastilah tidak akan menyakitkan. Bagaimanapun, dunia kan masih butuh sedikit pancingan senyuman. Judul: Notes from Qatar, Positive, Persistence and Pray Penulis: Muhammad Assad Penerbit: Elex Media Komputindo (Kelompok Gramedia ) Edisi: 2011 Tebal: 312 + xlv halaman http://www.tempointeraktif.com/hg/buku/2011/02/20/brk,20110220-314659,id.html
