KOnferensi Persatuan Islam Tehran 




  
sumber : 
http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=29641:persatuan-solusi-melawan-gerakan-anti-islam&catid=63:sosial&Itemid=69



Saat ini umat Islam sedang memperingati hari-hari yang mengingatkan kita kepada 
kelahiran manusia suci penyeru tauhid dan rahmat bagi segenap alam, Nabi Besar 
Muhammad Saw. 

Mayoritas Ahlussunnah meyakini bahwa Nabi Saw lahir pada tanggal 12 Rabiul 
Awwal 

tahun gajah yang bertepatan dengan tahun 570 Masehi. Sementara kebanyakan Syiah 
berpendapat bahwa hari ke-17 Rabiul Awwal adalah hari kelahiran Nabi Saw. 

Perbedaan pendapat mengenai hari kelahiran Rasulullah Saw dijadikan peluang 
oleh 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Imam Khomeini untuk memprakarsai penamaan 
hari-hari antara 12 dan 17 Rabiul Awwal sebagai Pekan Persatuan Islam. 

Dalam beberapa abad terakhir, salah satu hal yang mengguncang kaum muslimin dan 
membuat umat ini lemah adalah perpecahan yang muncul di tengah mereka. 
Musuh-musuh Islam sengaja memanfaatkan perbedaan pendapat dan madzhab di antara 
umat Islam untuk menebar perpecahan dan pertikaian. Padahal, titik persamaan di 
antara madzhab-madzhab Islam jauh lebih banyak dari perbedaannya. Imam Khomeini 
(ra) menyadari dengan baik adanya ancaman yang mengintai umat. Karena itu, 
sejak 

terbentuknya pemerintahan Islam di Iran, beliau menyeru kaum muslimin untuk 
menghentikan perselisihan dan memupuk persatuan. Penamaan Pekan Persatuan Islam 
oleh beliau menunjukkan kepedulian besarnya kepada persatuan yang mesti ada, 
meskipun perbedaan pandangan dalam masalah fikih maupun sejumlah masalah 
parsial 

kalam tidak bisa dihindarkan. 

Tiga dekade sudah berlalu sejak pertama kali Imam Khomeini memprakarsai 
penamaan 

Pekan Persatuan Islam. Dan kini, Dunia Islam semakin menyadari urgensi 
persatuan 

dalam menghadapi ancaman bersama. Dengan semakin sistematiknya konspirasi 
musuh, 

umat Islam dituntut memiliki kecerdasan ekstra supaya dapat mematahkan tipu 
daya 

lawan. Salah satu tipu daya rezim-rezim Barat adalah dengan menebar Islamphobia 
dan gerakan anti-Islam. 

Dalam propagandanya, salah satu target yang diincar oleh Barat adalah 
menakut-nakuti masyarakat di Dunia Barat akan Islam. Mereka mengerahkan seluruh 
sarana propaganda yang meliputi sinema, buku, media cetak, internet dan sarana 
lainnya untuk mengesankan bahwa Islam adalah agama yang berbahaya. Pada tahap 
berikutnya, mereka menebar propaganda bahwa Islam yang menakutkan itu kini 
sedang berkembang pesat di seluruh dunia dan tak lama lagi bakal merambah 
Amerika dan Eropa. Islam dikesankan sebagai agama yang keras, anti kemanusiaan 
dan tak mengenal hak asasi manusia. Dengan cara ini, media-media Barat berusaha 
menjauhkan masyarakat di sana dari Islam.
Akan tetapi, kenyataan yang terjadi berbeda dengan yang dimaukan para perumus 
kebijakan di Dunia Barat. Gelombang kecenderungan kepada Islam di tengah 
masyarakat Barat semakin meningkat. Kebanyakan mereka yang tertarik kepada 
Islam 

menyatakan terpikat setelah mengetahui bahwa agama ini mengajarkan norma-norma 
yang tinggi dan logis. Apalagi di Barat, waga Muslim biasanya terdiri dari 
kalangan terpelajar dan kaum cendekia. Karena itu, sudah pasti mereka memilih 
Islam dengan kesadaran penuh dan setelah melalui kajian dan telaah mendalam. 

Berkembangnya Islam di negara-negara Barat, kian luasnya kecenderungan kepada 
Islam di sana, dan menurunnya angka pertumbuhan penduduk di banyak negara Eropa 
semakin menambah kekhawatiran para pemimpin Dunia Barat. Realita itulah yang 
mendorong mereka semakin meningkatkan gerakan anti Islam dan Islamphobia. Lavia 
Safi, Direktur Eksekutif Organisasi Islam di Amerika Utara mengatakan, 
"Islamphobia adalah senjata strategis untuk mengetepikan umat Islam."
Gelombang Islamphobia kini menjadi tren bagi media informatika di Barat seiring 
dengan perkembangan teknologi informasi. Orientasi media Barat khususnya di 
bidang seni dan sinema menunjukkan kebijakan negara-negara Barat di bidang 
budaya dalam upaya memerangi Islam tertumpu pada langkah memutarbalikkan fakta 
dan menebar perpecahan di tengah umat Muslim. Tujuannya adalah untuk menekan 
perkembangan Islam di dunia. Dalam beragam bentuknya, gerakan anti Islam di 
Barat menggunakan empat modus, ‘cibiran, hinaan, distorsi dan intimidasi.'
Di dunia saat ini, media-media propaganda Barat rajin menebar isu-isu 
perselisihan di tengah umat Islam. Barat tak segan menyulut perang saudara di 
negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, sebab hal itu termasuk dalam 
kebijakan mencegah persatuan Dunia Islam. Dengan adanya perang saudara di 
sebuah 

negara Muslim, negara tersebut tak akan punya kemampuan untuk membantu 
mewujudkan persatuan Islam. Akibatnya, konflik internal di sebuah negara akan 
berimbas pada krisis lintas negara di Dunia Islam. Itulah yang sejak lama 
diupayakan oleh Barat di Palestina, Lebanon, dan kawasan Kaukasus.
Islamphobia dan gerakan anti-Islam merupakan fenomena yang terbentuk dengan 
elemen-elemen yang canggih, dimensi yang luas dan kesannya yang dalam. Karena 
itu, untuk melawan gelombang ini diperlukan pengerahan seluruh potensi Dunia 
Islam. Salah satu hal yang paling urgen dan manjur adalah mempererat persatuan 
Islam. Bangsa-bangsa dan negara-negara Islam mesti membentuk kesamaan sikap dan 
langkah dalam melawan gerakan anti-Islam dan memukul mundur Barat. Hal yang 
pernah mereka tunjukkan terhadap Barat di akhir dekade 1980, ketika Imam 
Khomeini mengeluarkan fatwa hukuman mati terhadap Salman Rushdie, penulis novel 
the Satanic Verses yang berisi penghinaan dan hujatan terhadap Nabi Muhammad 
Saw. Menyusul fatwa itu, negara-negara Eropa secara serentak menarik Duta 
Besarnya dari Tehran. Namun berkat kesatuan sikap Dunia Islam dan negara-negara 
Muslim terhadap novel tersebut, negara-negara Barat secara diam-diam mengirim 
kembali Dubes mereka ke Tehran.
Sejak terjadinya peristiwa 11 September 2001 gelombang Islamphobia meningkat 
tajam di dunia. Tahun 2006 Paus Benediktus XVI melontarkan kata-kata hinaan 
terhadap Islam. Tahun 2007, media-media di Barat memuat karikatur yang 
menghujat 

Nabi Muhammad Saw. Aksi-aksi itu dilawan dengan demonstrasi besar-besaran di 
seluruh dunia. Umat Islam bangkit melawan apa yang mereka sebut dengan 
penghinaan terhadap kesucian agama. Akibatnya, para pelaku penghinaan pun 
melemah. Demikianlah kesan yang bakal muncul ketika umat Islam melakukan satu 
gerakan serentak dan seiring di seluruh dunia. Barat tak akan pernah mampu 
melawan dan akan terpaksa menyerah kepada logika dan tekad kuat umat Islam. 

Salah satu sarana yang sangat berpengaruh dalam upaya melawan gerakan anti 
Islam 

di Barat adalah media massa serta pertukaran pemikiran di tengah masyarakat 
Muslim. Barat saat ini menguasai media massa dengan berbagai macam dan 
kecanggihannya. Dengan sarana ini, para perancang dan penyokong budaya Barat 
itu 

berusaha sekuat tenaga menjauhkan umat manusia dari kebenaran yang diusung 
Islam. Dalam kaitan ini, adalah hal yang tepat jika umat Islam juga 
memanfaatkan 

sarana yang sama untuk mengarungi perang media dan mengenalkan agama yang 
sejalan dengan fitrah manusia ini. Negara-negara Islam bisa berbuat banyak jika 
memupuk persatuan yang kuat di antara mereka. Persatuan itulah yang bisa 
melandasi kerjasama kokoh di bidang media, informasi dan berbagai bidang 
lainnya. Umat Islam di seluruh dunia dapat membangun komunitas yang satu dan 
kompak untuk berjalan beriringan membangun peradaban. 

Akhirnya, perlu diingatkan bahwa Islam adalah agama yang melahirkan peradaban 
agung yang belum pernah dan tak akan pernah ada tandingannya. Islam adalah 
agama 

yang universal dan komprehensif yang meliputi berbagai dimensi, politik, 
ekonomi, sosial, budaya dan spiritualitas umat manusia. Dunia hari ini 
merindukan peran Islam yang sesungguhnya. Para ulama, ilmuan, dan cendekiawan 
Muslim juga negara-negara Islam memegang peran yang penting dalam mengenalkan 
wajah Islam yang sebenarnya dan sinar terang hidayah yang ada pada agama ini. 
Mereka yang di tengah gemuruh badai propaganda anti Islam berhasil menemukan 
hakikat Islam dan memeluk agama ini menegaskan bahwa umat manusia yang telah 
tersesat ini sangat memerlukan bimbingan ajaran Ilahi untuk mengakhiri 
ketersesatan dan kesengsaraannya.

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      

Kirim email ke