Insyaallah tiasa kang
Kantun kersa weh panginten

Sent from MobilePhone®

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Mon, 21 Feb 2011 04:53:18 
To: kisunda<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [kisunda] Fw: [JARKOM PERSIS] dunia keempat: Ekonomi Keadilan 
Islam = ekonomi kerakyatan ala Ahmad dinejad

Hebat tah iran diajar mandiri sareng tiasa katingal hasilna, indonesia tiasa 
teunya ?

Baktos
Ern
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Mohammad zen <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 20 Feb 2011 20:55:34 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [kisunda] Fw: [JARKOM PERSIS] dunia keempat: Ekonomi Keadilan Islam = 
ekonomi kerakyatan ala Ahmad dinejad

Kemandirian bangsa adalah kunci kemerdekaan





  
sumber : 
http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=21845&Itemid=103


Oleh: Purkon HidayatAhmadinejad seorang diri adalah sebuah media, begitu Prof. 
Maulana berujar. 

Presiden Iran ini menggegerkan dunia dengan pidato lugasnya di berbagai even 
nasional dan internasional. 

Baru-baru ini, pria brewok kurus itu berpidato keras dalam konferensi 
peninjauan 

ulang Traktat Non-proliferasi Nuklir (NPT) mengenai solusi mewujudkan dunia 
tanpa senjata nuklir. Tentu saja, Ahmadinejad harus menanggung berbagai 
resikonya. 

Seperti dugaan sebelumnya, sejumlah negara adidaya seperti AS, Inggris dan 
beberapa negara Barat lainnya walk out dari ruang sidang saat presiden Iran 
berpidato. Bukan hanya di luar negeri, Ahmadinejad pun dikecam kaum terdidik 
mapan Iran sebagai tidak becus berdiplomasi. Bahkan, dengan sinis mereka 
berkata, "Lelaki ini bikin malu kami saja, in mard abero ma ra mibare."
Beberapa bulan lalu, saat memasuki kantor Dekan fakultas ekonomi sebuah 
universitas negeri paling bergengsi di Iran, yang terletak dua ratus meter dari 
kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia, saya mendengar obrolan lirih bernada 
sinis, "Pemerintah tidak becus mengurusi ekonomi negara ini, daulate ma 
namitune 

iqtishade kesvar ra idareh kune." Di perguruan tinggi inilah para ekonom Iran 
jebolan universitas Barat berdiskusi dan mencetak para ekonom dalam negeri. 

Mereka adalah para pengajar dan penulis terkemuka di bidang ekonomi mikro, 
makro 

dan studi ekonomi pembangunan. Sebagaimana pendidikan ekonomi yang mereka 
adopsi 

dari Barat, resep-resep yang ditawarkan masih berkutat pada arus mainstrem 
ekonomi dunia. Bahkan, seorang profesor ekonomi lulusan Barat yang saya temui 
di 

kantornya mengajukan pertanyaan bernada mengejek, "Apa bedanya ekonomi Islam 
dengan kapitalisme?" Bukan sekali, saya menyaksikan pakar moneter Iran ini 
menyerang kebijakan pemerintah di televisi Iran sendiri.
Kali ini, resep ekonomi para ekonomi senior tidak laku di masa Ahmadinejad. 
Padahal, mereka adalah dokter ekonomi Iran yang senantiasa didengar resep 
ekonominya pada periode Rafsanjani dan Khatami.Tidak mengherankan, pada pilpres 
Iran lalu, bersama kaum borjuis sebagian dari mereka berkumpul mengelilingi Mir 
Hossein Mousavi, kandidat presiden yang gagal itu.
Sepertinya Ahmadinejad kapok dengan resep-resep para ekonom papan atas Iran 
ini. 

Sekitar lima tahun lalu, koran terkemuka Iran, Kayhan memuat kontroversi 
mengenai ide saham adalat (saham keadilan) yang digulirkan tim ekonomi 
Ahmadinejad. 

Para penentang yang sebagian besar jebolan universitas terkemuka di Barat, 
mencibir saham adalat tidak memiliki model di dunia. Sebaliknya, Ahmadinejad 
dan 

timnya membalas dengan pertanyaan yang menohok. Haruskah segala yang kita 
lakukan mengikuti model mainstream? Sampai kapan kita akan terus menjadi 
pengekor. Sejatinya, kitalah yang harus menjadi model bagi negara lain.
Dengan spirit inilah, tim ekonomi Ahmadinejad merancang reformasi ekonomi Iran. 
Tim ekonomi Ahmadinejad adalah para ekonom yang dibantu pakar disiplin lain 
dari 

seluruh penjuru Iran. Bahkan tidak tanggung-tanggung, mantan walikota Tehran 
ini 

merekrut ulama yang mendalami ekonomi dan para akademisi dari universitas di 
daerah. 

Pada saat Mullah konglomerat semacam Rafsanjani memimpin Iran dan Akhon 
reformis 

seperti Khatami menjadi Presiden, nama-nama tim ekonomi Ahmadinejad ini hanya 
terdengar sayup-sayup ditelan hingar-bingar nama ekonom lulusan Barat dan 
universitas terkemuka Iran.
Ahmadinejad tidak ambil pusing. Menurut mantan walikota Ardabil itu, tidak ada 
perbedaan antara lulusan ekonomi Harvard maupun universitas di pelosok Iran. 
Baginya, yang penting gagasan ekonom itu cemerlang secara teoritis dan praktis. 
Jebolan teknik sipil Universitas Ilm va Sanat ini berupaya menerapkan pesan 
Imam 

Ali, "lihatlah isi, jangan melihat siapa yang berbicara."
Dari sejarah, Ahmadinejad mempelajari pasang surut perekonomian berbagai negara 
dunia. Negara-negara yang kaya sumber daya alamnya dan sebagian besar negara 
muslim, adalah negara yang terpinggirkan secara ekonomi dan politik. Bahkan di 
segala sektor mereka harus mengekor titah adidaya global.
Tampaknya, Ahmadinejad memahami pesan Naomi Klien. Carut marut ekonomi 
Indonesia 

tidak bisa dilepaskan dari peran vital Mafia Barkeley yang menggurita tahun 
1960-an. 

Tiga belas tahun kemudian, anak didik Friedman yang kembali ke tanah airnya 
berhasil mengubah Chile yang menganut ekonomi sosial menjadi kapitalis. 
Presiden 

Chile, Salvador Allende yang mengusung ekonomi kerakyatan, yang mirip dengan 
prakarsa Hatta di Indonesia, digulingkan oleh Jenderal Augusto Pinochet 
dukungan 

CIA. Buntutnya, Chile terperangkap utang dan kekuasaan asing akibat resep dosis 
tinggi para ekonom Friedmanis yang menguasai negara itu. 

Lalu, apa yang sedang diperjuangkan tim ekonomi Ahmadinejad? Ekonomi yang 
mereka 

tawarkan dan telah dijalankan saat ini, memprioritaskan kemandirian ekonomi dan 
desentralisasi pembangunan berbasis keadilan. Untuk itu, pemerintah menggalakan 
pembangunan sektor industri utama supaya Iran bisa memenuhi kebutuhannya 
sendiri 

dan tidak menengadahkan tangan ke negara lain.
Saat ini, pemerintah Iran sedang getol-getolnya membenahi dan melengkapi 
Infrastruktur di daerah. Berbagai pabrik dibangun di daerah untuk menyuplai 
kebutuhan komoditas dalam negeri. Untuk meminimalisasi defisit anggaran yang 
membengkak akibat lonjakan pembangunan industri di negara ini, Ahmadinejad 
menerapkan subsidi terarah, terutama subsisi BBM. Baginya, orang-orang kaya 
tidak layak disubsidi, selama kemiskinan masih gentayangan di negeri ini.
Di level internasional, Iran meneriakan reformasi sistem ekonomi dunia. Di mata 
Ahmadinejad, Kapitalisme dan Welfare State gagal membawa dunia pada 
kesejahteraan yang adil. Krisis ekonomi global adalah buah getir keserakahan 
para kapitalis.
Saat ini, Iran menekankan urgensi restrukturisasi tata kelola dunia yang adil 
dalam bentuk kelembagaan baru. Di sektor ekonomi, Iran berupaya mengarahkan 
arus 

global saat ini menuju titik keseimbangan baru dengan mengakhiri unilateralisme 
adi daya global semacam Amerika Serikat.
Bagi Ahmadinejad, krisis ekonomi global tidak terjadi spontan, tapi akumulasi 
dari kebijakan keliru yang berpangkal pada kebobrokan sistem ekonomi 
kapitalisme.
Ahmadinejad tahu persis peringatan lampu merah ekonom peraih hadiah nobel tahun 
1993, Douglass C. North. Dalam artikelnya, Economic Performance Through Time, 
North mengingatkan, mekanisme pasar bukan interaksi bebas antara supply dan 
demand semata. Namun juga diatur oleh perangkat keras dan lunak. 

Sebuah mekanisme pasar diatur oleh perangkat keras berupaya tata kelola, hukum 
dan konstitusi. Selain itu juga dikendalikan oleh norma, perilaku, konvensi 
serta perangkat lunak lainnya. Gagasan North ini sebenarnya mengamini usulan 
Joseph Schumpeter mengenai urgensi perombakan ekonomi yang mengarah pada 
perbaikan sistem ekonomi.
Bagi Ahmadinejad, perangkat keras dan lunak sistem ekonomi global itulah yang 
harus diperbaiki saat ini. Ketiga sistem ekonomi yang pernah menguasai dunia 
harus diganti. Masa berlaku kapitalisme, Sosialisme dan Walfare State 
kadaluarsa.

Lalu, adakah sistem model keempat setelah kegagalan Walfare Statenya, yang 
pernah menyelamatkan AS dari depresi ekonomi 1930? Apabila kita tanyakan pada 
Ahmadinejad, tentu ia akan mengatakan ada, dan ekonomi Islam yang tengah 
diterapkan saat ini di Iran adalah gelombang keempat.
mungkinkah ide ini hanya isapan jempol belaka.Ternyata tidak, Iran menunjukkan 
kelajuan signifikan di berbagai sektor. Di bidang ekonomi, dana Moneter 
Internasional (IMF) memasukan Iran sebagai 18 negara ekonomi terkuat di Dunia. 
Di sektor sains dan teknologi, Iran melesat mengejar ketertinggalannya selama 
ini. Institute for Scientific Information (ISI) melaporkan, Iran menyabet 
peringkat pertama secara global dalam hal laju pertumbuhan output. ISI 
menegaskan, Iran meningkatkan hasil penerbitan akademis hampir sepuluh kali 
lipat dari 1996 hingga 2004.
Selain itu, perusahaan riset Kanada Science-Metrix baru-baru ini menempatkan 
Iran di peringkat teratas dunia dalam hal pertumbuhan dalam produktivitas 
ilmiah 

dengan indeks pertumbuhan 14,4. Di bawah tekanan sanksi, Ahmadinejad menyerukan 
kemandirian sebagai modal utama kemajuan suatu negara. Iran membuktikannya 
kepada dunia.

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      

Kirim email ke