Nyanyahoanan ilen, nyanyahoanan
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: ilen kardani <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 23 Feb 2011 07:06:58 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [kisunda] Aya "Front" di Cikeusik?

Meni asa teu pas sigana mun teu nyandung teh nya, kumaha atuh kang Ujang beut 
tega mateni dulur sorangan? Hayang ka surga ku cara singkat jihad? Loba keneh 
jalan sejen keur ka surga mah.



________________________________
From: Waluya <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wed, February 23, 2011 10:48:25 PM
Subject: [kisunda] Aya "Front" di Cikeusik?

  
Ada Front di Cikeusik
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/02/21/LU/mbm.20110221.LU136003.\

id.html

DERAP sepatu membuyarkan kesunyian permukiman di pinggiran Bogor, Jawa Barat, 
Rabu dinihari pekan lalu. Perayaan Maulid Nabi di masjid kampung telah usai 
berjam-jam lalu. Belasan lelaki bersepatu lars mendekati satu rumah di 
permukiman itu, lalu mengetuknya.

Begitu membuka pintu, tuan rumah kaget. Mereka yang berdiri di depan pintu pada 
dinihari buta itu menenteng senapan panjang. "Kami dari kepolisian. Mau 
menjemput Haji Ujang," kata lelaki yang berdiri paling depan, seperti ditirukan 
sumber Tempo. Tanpa disadari pemiliknya, polisi berpakaian preman mengintai 
rumah itu sejak siang sehari sebelumnya.

Haji Ujang, yang disebut para penjemputnya, telah tujuh hari bersembunyi dari
kejaran polisi. Populer dengan sebutan Ujang Bengkung, ia bernama asli Ujang
Arif bin Surya. Ia diincar polisi setelah penyerbuan ribuan orang ke rumah
penganut Ahmadiyah di Kampung Peundeuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik,
Pandeglang, Banten, pada Ahad tiga pekan lalu itu.

Banyak jejak menunjukkan keterlibatan Ujang dalam peristiwa yang menewaskan tiga
orang itu. Sejumlah kiai yang diperiksa polisi menyebut Ujang sebagai pengirim
pesan pendek ajakan mengusir Ahmadiyah dari Pandeglang. Tim Pembela Muslim yang
menjadi pengacara Ujang juga mengakui penyebaran pesan pendek itu.

Sejumlah saksi mata melihat Ujang berada di tempat kejadian. Sebelum insiden,
Ujang tampak berada di antara massa yang berkelimun di depan Masjid Al-Huda,
Cangkore, sekitar 500 meter dari rumah Ismail Suparman, juru dakwah Ahmadiyah,
yang jadi sasaran penyerangan. Mamat, saksi mata, yakin melihat Ujang karena
kawannya yang berdiri di sebelahnya menyaksikan lelaki yang sama. "Itu Ujang
Bengkung, Ketua FPI Pandeglang," kata Mamat, menirukan kawannya.

Selain melihat Ujang Bengkung, Mamat menyaksikan wajah asing bergerombol tak
jauh dari tempatnya berdiri. Di barisan depan, tampak sekelompok lelaki
berperawakan tegap yang rata-rata berbalut jaket hitam dan mengenakan peci. Pagi
itu, mereka bersiap-siap menuju rumah Suparman. Golok yang masih tersarung
menyembul dari balik jaket. Pita biru terpacak di dada mereka.

Tatkala barisan ini bergerak menuju rumah Suparman, Ujang Bengkung masih
terlihat di sekitar masjid Cangkore, titik berkumpul massa dari pelosok
Pandeglang. "Dia ikut gelombang kedua," kata Mamat.

Saksi lain, sebut saja Ali, yang berada di depan rumah Suparman sepanjang
kericuhan, juga melihat Ujang. Ia bahkan sempat mencium tangan Ujang begitu pria
45 tahun itu tiba di depan rumah Suparman. Ali mendengar sebagian massa yang
tiba bersama Ujang berbicara dengan logat Betawi. Seperti kelompok pertama,
massa Ujang menaruh pita di dada, tapi warnanya hijau.

Ujang menghilang dua hari setelah penyerangan Cikeusik. Dicari-cari polisi, dia
panik. Diam-diam ia meninggalkan rumah tanpa pamit kepada kedua istrinya,
Nengsin dan Umi Iyoh. "Mereka enggak tahu ke mana Haji Ujang pergi," kata
Syamsuddin, ipar Ujang.

Ujang ditangkap di rumah kerabatnya di pinggiran Bogor. "Malam itu juga langsung
dibawa ke Kepolisian Daerah Banten," kata Kepala Bidang Penerangan Umum Markas
Besar Kepolisian Negara Komisaris Besar Boy Rafli Amar.

HANYA segelintir warga Cikeusik- yang mengenal Ujang Bengkung. Dua kiai yang
menerima pesan pendek ajak-an mengusir Ahmadiyah-Munir bin Masri dan Muhammad
bin Syarif-menggeleng ketika ditanya siapa Ujang. "Saya tidak tahu," kata
Muhammad, Ketua Gerakan Muslim Cikeusik. Diang-gap ikut terlibat menggerakkan
massa, Munir dan Muhammad ditetapkan polisi sebagai tersangka.

Seorang warga Cikeusik lain mengetahui, Ujang merupakan kiai dari Kampung
Bengkung, Desa Ciseureuheun, Cigeulis, 30 kilometer lebih ke arah barat
Cikeusik. Karena berasal dari Bengkung, Ujang lebih dikenal dengan panggilan
"Kiai Ujang Bengkung". Ia getol menyerukan pengusiran Jemaat Ahmadiyah dari
Pandeglang.

Di Kampung Bengkung, Ujang mengasuh Pesantren Bani Surya, diambil dari nama
ayahnya, Surya, juga seorang kiai. Menurut Syamsuddin, hanya ada sekitar sepuluh
orang santri yang mondok di pesantren itu. "Santrinya tidak banyak, tapi beliau
sering berceramah atau mengisi pengajian ibu-ibu," katanya.

Kepala Kepolisian Daerah Banten Brigadir Jenderal Agus Kusnadi sebelum dicopot
terang-terangan mengatakan polisi akan memeriksa aktivis Front Pembela Islam.
"Dia Ketua FPI Banten," kata Agus kepada para wartawan, tiga hari setelah
kejadian. Yang ditunjuk adalah Ujang Bengkung, Ketua FPI Pandeglang. Dari
situlah pertama kali FPI dikaitkan-kaitkan dengan insiden Cikeusik.

Menurut polisi, sejauh ini kaitan FPI dengan penyerangan Cikeusik baru terlihat
dari jejak Ujang Bengkung di lokasi dan pesan pendek yang disebarnya ke para
kiai. "Keterlibatan organisasi belum ditemukan," kata Boy Rafli Amar.

Lewat juru bicaranya, Munarman, FPI pusat, yang bermarkas di Petamburan,
Jakarta, menolak dikait-kaitkan dengan insiden Cikeusik. Menurut dia, FPI pusat
tak pernah mengirimkan orang ke desa itu. Ia juga mengatakan, di Pandeglang atau
Banten, tak ada Front Pembela Islam. "Lagi pula, FPI tak perlu pakai
pita-pitaan," ujarnya.

Syamsuddin mengatakan tak mengetahui aktivitas Ujang dalam organisasi. "Saya
belum pernah melihat kedekatan beliau dengan FPI," ujarnya. Tempo tak berhasil
mewawancarai Ujang, yang berada di Rumah Tahanan Kepolisian Daerah Banten.

Jejak Ujang justru direkam jelas oleh Achmad Dimyati Natakusumah, mantan Bupati
Pandeglang, yang kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai
Persatuan Pembangunan. Ia mengaku lama mengenal Ujang. Pada tahun-tahun dia
menjabat bupati, Ujang kerap menemuinya. Ujang dianggap tokoh lantaran memimpin
Front Pembela Islam di wilayah itu. Selain FPI, organisasi yang dirangkul
-Dimyati antara lain Front Hizbullah.

Menurut anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat ini, FPI di Pandeglang
memiliki cukup banyak pengikut. Itulah salah satu alasannya merangkul Ujang
Bengkung. "Daripada rusuh, mending saya ajak berunding," kata Dimyati, yang
menjabat bupati sejak 2000 sampai 2009.

Lantaran sering bertemu, keduanya menjadi dekat. Tak jarang, Ujang cukup
menelepon bila meminta Dimyati mela-kukan sesuatu. "Tolong, ada maksiat di
Pantai Carita," ujarnya menirukan Ujang. "Saya jawab: siap, segera saya
tertibkan." Sebagai Ketua FPI Pandeglang, kata Dimyati, Ujang selalu melaporkan
hal yang mengganjal hati, termasuk soal Ahmadiyah. "Saya bilang, Ahmadiyah tak
boleh syiar," ujarnya. "Ahmadiyah patuh, FPI enggak rusuh."

Saking dekatnya, ketika FPI Pandeglang menggelar acara, Dimyati juga kerap
hadir. Di sanalah Dimyati mengaku beberapa kali bertemu dengan Rizieq Shihab,
Ketua FPI, yang datang jauh-jauh dari Jakarta.

Anton Septian (Jakarta), Wasi'ul Ulum (Serang)





      

Kirim email ke