Daftar merk susu nu kakontaminasi bakteri nu ngider di internet eta mah 
jelas-jelas Hoax. Tong dipercaya. Dihareupeun anggota DPR, pihak IPB keukeuh 
moal ngumumkeun hasil panalungtikanana. Sapuk pisan kana tulisanna bung Andi 
Irman (nu di handap).


--- On Sat, 2/26/11, Eko Ruska Nugraha <[email protected]> wrote:

From: Eko Ruska Nugraha <[email protected]>
Subject: Re: [kisunda] Tulisan Soeryo Pratomo Ngeunaan Susu Formula bakterian
To: "kisunda" <[email protected]>
Date: Saturday, February 26, 2011, 11:10 PM







 



  


    
      
      
      












Sababaraha minggon kapengker kaleresan nonton warta di tv swasta DPR keur 
hoghag jeung wakil ti pamarentah menkes jeung ti ipb. Si DPR keukeuh pamarentah 
kudu ngumumkeun info susu ieu ka rahayat tapi pihak pamarentah keukeuh embung 
ngumumkeun.

Puguh jang sim kuring mah rada bingung kudu milih susu nu mana jang budak nu 
leutik kabeneran poe ieu pas 3 taun. Jeung deuih pernah meunang kiriman email 
ti babaturan duka bener henteuna mah daftar susu nu ngandung kuman ieu, 
kabeneran deuih susu anu sok diinum ku budak aya dina daftar. Ari ditanya 
kababaturan mah cenah eta daftar susu teh pengumuman sababaraha waktu katukang 
tipamarenata.

Cing susuganan aya baraya anu menang ingpo perkawis ieu rek google kompi keur 
ngadat deui rada telat ari meungan linkna teh.

Baktos
ERNPowered by Telkomsel BlackBerry®From:  "Ii Sumirat" 
<[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Tue, 22 Feb 2011 14:28:33 +0700To: <[email protected]>ReplyTo:  
[email protected]
Subject: [kisunda] Tulisan Soeryo Pratomo Ngeunaan Susu Formula bakterian

 



    
      
      
      Urusan kukumanan... 

Sikuring neraskeun

  



Catatan Soeryo Pratomo Tentang Heboh Susu Formula Berbakteri



SALAH satu hal yang harus kita bisa lakukan adalah menjadikan bangsa

ini sebagai masyarakat berpengetahuan. Dengan itulah maka bangsa ini

akan mempunyai wawasan yang luas dan tidak terjebak dalam persoalan

yang sekadar menimbulkan ingar-bingar.



Beberapa hari belakangan ini kita diramaikan oleh perdebatan

berkaitan susu formula yang mengandung bakteri. Apalagi ketika

Mahkamah Agung memutuskan untuk mengumumkan susu formula yang ada di

pasaran, yang diduga tercemar Enterobacter sakazakii. Dengan alasan

untuk kepentingan publik, maka para peneliti Institut Pertanian Bogor

dan juga Badan Pengawasan Obat dan Makanan serta Kementerian Kesehatan

diharuskan mengumumkan secara terbuka nama susu formula yang didapati

tercemar bakteri.



Kita tidak bermaksud untuk tidak menaati keputusan MA yang

berkekuatan hukum tetap. Namun apa yang sedang terjadi sekarang ini

tidak sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan dan kebebasan yang

dimiliki oleh seorang peneliti dalam melakukan penelitian bagi

kebaikan kehidupan manusia.



Mengapa kita sampai mengatakan seperti itu? Peneliti IPB yang

melakukan penelitian terhadap kemungkinan adanya Enterobacter

sakazakii di dalam susu formula, bukan sedang melakukan pemeriksaan

terhadap susu formula yang beredar di pasaran. Peneliti itu sedang

mencoba menemukan ada atau tidak bakteri sakazakii di dalam susu

formula.



Dari 22 sampel yang diambil, ditemukan adanya bakteri sakazakii

pada lima sampel. Langkah selanjutnya adalah mencoba mengetahui bahaya

dari keberadaan bakteri sakazakii tersebut di dalam susu formula.

Untuk itulah lalu dilakukan percobaan kepada mencit atau anak tikus

putih.



Hasil penelitian yang dilakukan tahun 2003-2006 itu kemudian

dibawakan dalam forum ilmiah dengan diberi judul "Potensi kejadian

Meningitis pada Mencit Neonatus akibat infeksi Enterobacter sakazakii

yang diisolasi dari Makanan Bayi dan Susu Formula". Penelitian ini

dipublikasikan melalui website IPB pada tanggal 17 Februari 2008.



Di kalangan para peneliti, hasil penelitian seperti ini merupakan

sesuatu yang biasa. Bahkan dari debat ilmiah bisa dikembangkan lebih

lanjut bagaimana misalnya mengendalikan bakteri tersebut agar tidak

membahayakan kesehatan manusia. Atau kalau memang dianggap sangat

membahayakan kesehatan masyarakat bisa dimasukkan sebagai usulan

kepada BPOM maupun Kementerian Kesehatan untuk misalnya melakukan

penelitian lebih lanjut dan bahkan mungkin melarang susu formula yang

mengandung Enterobacter sakazakii untuk beredar di pasaran.



Hasil penelitian yang seharusnya didekati dari kacamata ilmiah

menjadi persoalan ketika dibawa menjadi bahasan awam di ranah publik.

Apalagi kemudian tidak ditempatkan konteks yang tepat bahwa yang

sedang dilakukan bukanlah pemeriksaan terhadap semua produk susu

formula yang ada di pasaran, tetapi pencarian terhadap ada atau

tidaknya bakteri sakazakii pada susu formula.



Kesalahkaprahan ini semakin menjadi-jadi ketika dijadikan ajang

untuk mencari sensasi. Penelitian ilmiah dibawa ke dalam ranah hukum.

Yang lebih menyedihkan, kini persoalan dibawa lagi ke ranah politik.

Anggota DPR begitu genit untuk seakan-akan membela kepentingan rakyat,

tanpa mencoba memahami duduk perkara penelitian yang sebenarnya

dilakukan.



Kalau persoalan ilmiah didekati dengan cara pandang yang tidak

ilmiah, maka pasti yang lebih mencuat adalah kontroversi. Kalau

peneliti selalu ditakut-takuti oleh cara-cara seperti itu, maka ilmu

pengetahuan Indonesia tidak akan pernah berkembang. Sepanjang kita

masih bersikap seperti itu, maka ilmu pengetahuan kita akan semakin

jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain.



Padahal bangsa lain justru mendorong ilmuwannya untuk melakukan

penelitian. Bangsa Korea misalnya sudah berhasil melakukan kloning

pada hewan. Dengan dasar ilmu pengetahuan itu, maka bangsa Korea

semakin melompat tinggi dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain.



Apakah seorang peneliti bisa salah? Sebagai seorang manusia

biasa, pasti peneliti bisa salah. Namun kesalahan yang dilakukan

peneliti tidak bisa dikriminalkan. Kalau pun ada pelanggaran berat

yang dilakukan, itu harus dinyatakan bersalah terlebih dahulu oleh

Komite Etik Peneliti.



Kriminalisasi terhadap peneliti tidak bisa dibiarkan, karena itu

akan mempengaruhi kemajuan bangsa ini. Orang akan malas menjadi

peneliti, karena akan dihadapkan kepada hal-hal yang tidak masuk akal.

Padahal menjadi seorang peneliti tidak bisa begitu saja, tetapi harus

melalui jenjang profesional yang panjang.



Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) harus turun tangan

untuk menyelesaikan kekisruhan yang terjadi sekarang ini. AIPI tidak

bisa membiarkan para peneliti kita dijadi-jadikan bulan-bulanan para

politisi yang butuh panggung ataupun para petualang yang membutuhkan

popularitas. AIPI harus tampil untuk mendudukkan perkara dan sekaligus

mengedukasi bangsa ini.



Jangan biarkan persoalan yang berkaitan dengan bakteri pada susu

formula menjadi persoalan IPB atau BPOM atau Kementerian Kesehatan

semata. Ini harus menjadi persoalan AIPI, karena ini akan mempengaruhi

nasib para peneliti Indonesia.



Bangsa ini tidak akan pernah mempunyai orang-orang sekelas

Albert Einstein, kalau kondisinya seperti ini. Padahal dari "kegilaan"

peneliti seperti itulah akan ditemukan sesuatu yang besar dan

bermanfaat bagi kehidupan bangsa ini. Dari penelitian-penelitian yang

jauh berwawasan ke depan akan bisa membawa Indonesia dikenal sebagai

negara terkemuka, karena ilmuwan-ilmuwannya mendapat penghargaan Nobel

dari hasil ketekunan melakukan penelitian.



Pilihan lain kita akan terus menjadi bangsa paria seperti

sekarang ini. Bangsa yang hanya ramai dalam berwacana, namun tidak

pandai dalam melakukan karya yang bermanfaat bagi kehidupan bangsa dan

negaranya.



-- 

Andi Irman

Public Relations Specialist

HP:0813-1088-1000





    
     

    










    
     




   





 



  






      

Kirim email ke