http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/02/28/CTP/mbm.20110228.CTP136031.id.html

Ahimsa
Catatan Pinggir Tempo, 28 FEBRUARI 2011

Lapangan Tahrir, sebelum Mubarak lengser. Ketika malam menutupi Kairo, para 
pemuda yang ikut protes bergeletakan berbaring. Ada yang tidur, ada yang 
membaca. Sebuah cerita di BBC menyebut, di bawah bayang-bayang tank tentara 
yang menjaga alun-alun itu, seorang demonstran membaca buku Gene Sharp.

Sejak itu Sharp disebut di BBC dan The New York Times sebagai pengilham gerakan 
yang meletus di Mesir dan Tunisia.

Mengagetkan juga. Lelaki 89 tahun ini tampak kuno banget. Di rumahnya yang 
sederhana di East Boston, ia tak tahu Facebook atau Twitter; bahkan ia harus 
diberi petunjuk untuk memakai e-mail.

Tapi rupanya, di dunia ia cukup dikenal. Ia, pendiri Albert Einstein 
Institution, pernah jadi salah satu calon penerima Nobel Perdamaian. Ia menulis 
satu buku tentang Gandhi dan kemudian menghasilkan satu buku lain, From 
Dictatorship to Democracy. Risalah tipis ini telah diterjemahkan ke dalam 
sekitar 30 bahasa, yang menurut The New York Times telah mempengaruhi gerakan 
prodemokrasi di Bosnia, Burma, Estonia, Zimbabwe, dan kini Mesir serta Tunisia. 
Sharp juga menulis sebuah manual, 198 Methods of Nonviolent Action, yang 
memberi petunjuk aksi bagaimana "mogok makan" sampai bagaimana "mengenal 
mata-mata".

Tapi ia tak pernah ikut dalam pergerakan apa pun. Pada dasarnya ia seorang 
periset. Maka bisa dimengerti jika Sharp, yang pemalu dan rendah hati itu, tak 
mau mendaku bahwa apa yang terjadi di Mesir itu akibat pengaruhnya. "Rakyat 
Mesir yang melakukan itu," katanya, "bukan saya."

Bagaimanapun, sebuah ide bisa menyeberangi lautan. Ia bisa menyusup ke sebuah 
situasi yang memang pas untuknya-dan jadi kuat atau menakutkan. Di Venezuela 
dan Burma, Sharp dianggap biang pembangkangan. Di Teheran ia dituduh "agen CIA".

Demikian berbahayakah gagasan Sharp, yang menegaskan prinsip nonkekerasan? Ia 
sendiri akan menyebutnya sebagai "gagasan Gandhi". Pergolakan Mesir, katanya, 
itu "datang langsung dari Gandhi".

Memang Gandhi, yang menolak untuk memakai kekerasan dalam perjuangan 
antikolonialismenya, sebuah legenda yang mempesona. Salah satu adegan dalam 
film tentang sang Mahatma yang dibuat Richard Attenborough melekat di kepala 
saya: sejumlah demonstran tegak tak melawan ketika polisi kolonial Inggris 
datang menghantam mereka dengan tongkat. Tapi, ketika reportase tentang hal ini 
tersiar ke seluruh dunia, orang pun tahu mana yang "biadab" dan mana yang teguh 
dalam keluhuran budi. Sejak itu penjajahan Inggris kehilangan legitimasinya, 
juga di Inggris sendiri.

Hari-hari ini kita tahu di Libya Qadhafi juga kehilangan legitimasinya. Selama 
42 tahun ia berkuasa dan kini tetap ingin bertahan dengan menembaki ratusan 
orang penentangnya. Dalam pergaulan dunia ia tak akan dilihat sebagai pemimpin. 
Ia seorang pembantai, hanya dengan kostum yang teatral: aktor tunggal dalam 
sebuah teater kekejaman.

Tapi dibutuhkan sesuatu yang lebih hingga runtuh satu legitimasi dan jatuh 
seorang diktator. Apa gerangan yang akan terjadi dengan Qadhafi: gagalkah ia 
bertahan dengan "darah & besi"? Butuhkah ia diakui sebagai seorang yang 
beradab? Jangan-jangan tidak. Jika ia begitu kuat dan begitu tak peduli, Libya 
akan tetap ditundukkannya.

Sebab tak semua perlawanan nonkekerasan berakhir bahagia. Apalagi jika yang 
disebut "berhasil" bukanlah hanya makzulnya seorang penguasa, tapi hadirnya 
sebuah kekuasaan lain berdasarkan ahimsa. Prinsip ini memang berakar dari kata 
"tak melakukan tindakan yang mencederai". Tapi ia juga bagian dari sikap yang 
menampik untuk membenci apa pun, berdusta, dan mengutarakan kata-kata bengis.

Betapa tak gampang....

Dalam perjuangan merebut hak-hak asasi kaum Hitam di Amerika Serikat yang 
dipimpin Martin Luther King, yang tak gampang itu ternyata berbuah. Sebagaimana 
Gandhi berhasil. Tapi tak semua berakhir dengan kemenangan, baik dalam 
kekuasaan maupun dalam nilai-nilai.

Di Cina, para pemuda memprotes Partai Komunis yang berkuasa hanya dengan 
pengeras suara, patung darurat, dan sikap nekat. Kita ingat potret jurnalistik 
yang termasyhur itu: seseorang berdiri sendiri di tengah jalan menyetop barisan 
tank yang menderu ke Tiananmen. Tapi Partai yang berkuasa bersikeras. Entah 
berapa puluh orang tewas dibabat. Protes punah; kekuasaan tegak, malah makin 
kukuh.

Contoh lain di Iran. Para demonstran dalam revolusi ini tak menembakkan pistol 
atau melemparkan granat. Mereka hanya dengan berani berseru-seru. Syah akhirnya 
jatuh, Ayatullah Khomeini naik. Tapi, setelah itu, kekuasaan yang 
menggantikannya dengan rajin menghukum mati kawan-kawan revolusinya sendiri. 
Ahimsa-dikembangkan Gandhi dari tradisi Veda, Jainisme, dan Buddhisme-tak ada 
dalam tradisi Islam. Ahimsa tak menang di Iran.

Ataukah Gandhi sebuah perkecualian yang mujur? Kaum sosialis dari pelbagai 
penjuru dunia, dari Jawaharlal Nehru sampai George Orwell, novelis dan esais 
itu, tak menganggap sang Mahatma begitu suci. Orwell (yang pernah bekerja 
sebagai polisi kolonial) menulis bahwa pemerintah kolonial Inggris sengaja tak 
hendak menghancurkan Gandhi. Mereka takut, bila penganjur ahimsa ini lenyap, 
akan tampil para militan yang lebih menyukai bom. Gandhi sendiri tak selamanya 
konsisten, kata para pengkritiknya pula. Ahimsa asas yang terlalu luhur bagi 
dunia yang berdosa.

Tapi jangan-jangan kita berlebihan. Perjuangan politik bukanlah drama moralitas 
tentang yang "luhur" dan yang "berdosa". Ahimsa sebuah strategi, dan tiap 
strategi bisa keliru. Jika ada yang tak keliru, itu adalah keberanian untuk 
berkata "tidak" kepada yang lalim tapi punya bedil. Di dalamnya ada keberanian 
untuk gugur dan gagal.

Goenawan Mohamad

 
 




------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke