kenging ngorowot ti kompas dinten ieu:

                                
                                        
                                        
                                                                                
                Komarudin Kudiya
                                                                                
                Guru Batik dari Cirebon
                                                                                
                                                        
                                                                                
                                
                                                                                
                                KOMPAS/CORNELIUS HELMY
                                                        
                                                        
                                                
                                                                                
                                                        
                                                                                
                        
                            
                                Cornelius Helmy HerlambangIa
 ibarat guru bagi siapa saja yang ingin belajar memulai usaha batik. Di 
sisi lain, batik dianggap sebagai media yang tepat membentuk identitas 
budaya, di samping membuka lapangan kerja baru. Salah
 satu tempat untuk belajar membatik bagi mereka yang tidak memiliki 
tradisi pembuatan batik adalah Galeri Batik Komar Bandung, milik 
Komarudin Kudiya (43).Kalangan masyarakat atau pemerintah daerah 
belajar selama tiga minggu di galeri batik milik Komarudin di Cigadung, 
Kota Bandung, Jawa Barat. Materinya mulai dari membuat desain, alat-alat
 membatik seperti cap tembaga, proses pembuatan batik cap dan batik 
tulis, hingga proses penjualan batik. Bukan hanya dari Jawa, siswa 
antara lain berasal dari Banda Aceh, Deli Serdang, Pekanbaru, Jambi, 
Solok, Polewali Mandar, Lombok, Flores, hingga Jayapura.Selain 
membantu menciptakan beragam motif baru, ia juga diminta menghidupkan 
lagi motif batik yang dianggap punah. Rekonstruksi teranyar adalah 
sembilan motif batik pajajaran dari Kabupaten Bandung dan empat motif 
dari Kabupaten Ciamis.Komar mengatakan, total motif batik 
pajajaran yang terdata sebanyak 37 motif, tetapi baru sembilan yang 
dikembangkan. Motif yang sudah dikembangkan antara lain ragen panganten,
 banyak ngantrang, hihinggulan rama, hihinggulan resi, hihinggulan ratu 
binokasih, hihinggulan nanoman, gaganjaran, dan kembang wijayakusuma.Komar
 menjelaskan, motif bergambar tumbuhan dan hewan itu amat lekat dengan 
upacara adat dan kehidupan masyarakat Kerajaan Pajajaran. Motif ragen 
panganten, misalnya, digunakan dalam pernikahan Prabu Siliwangi dengan 
Ratu Ambet Kasih.”Menjaga eksistensi batik bukan sekadar 
mengambil keuntungan dari pembuatan batik. Perajin batik juga harus 
bertanggung jawab menjaga batik sebagai identitas dan bagian budaya 
masyarakat Indonesia,” ujar Komar.Panggilan hatiPerannya
 sebagai ”kamus batik” berjalan tidak datang begitu saja. Meski lahir 
dari keluarga perajin batik trusmi di Cirebon, ia sempat dilarang 
mendalami batik oleh orangtuanya. Alasannya, usaha batik tahun 1997— 
saat itu—sedang terpuruk dan seperti tidak punya masa depan. Banyak 
perajin batik di Cirebon merugi karena sepi transaksi. Namun, hanya 
dengan tekad ingin memajukan batik, ia nekat meninggalkan pekerjaan di 
bidang manajemen informasi dan teknologi di Jakarta.”Panggilan 
membesarkan batik tidak bisa saya tolak. Mungkin karena sejak lahir di 
antara timbunan kain-kain batik dan bahan-bahan batik,” katanya.Sebagai
 pengusaha pemula, jalanan Jakarta mulai ia telusuri, dari Tebet hingga 
Pasar Tanah Abang. Dengan modal pinjaman dari pihak keluarga, ia 
tawarkan batik buatan keluarganya ke galeri batik dan toko busana. 
Pesanan tidak dilunasi, penipuan, dan sepinya order kerap ia alami. 
Namun, dalam keprihatinannya, ia selalu yakin batik pasti bisa menjadi 
tuan di rumahnya sendiri.Titik terang ia dapatkan setelah 
menjuarai Lomba Cipta Selendang Batik Internasional di Yogyakarta tahun 
1997. Faktor penentu kemenangannya adalah pembuatan model dan motif 
batik yang terbilang revolusioner karena menggunakan fasilitas komputer.
 Hasilnya, dianggap lebih rapi, cepat, dan mampu menciptakan banyak 
desain baru. Dia pun lantas berpikir, inovasinya pasti akan membawa 
angin segar bila digarap serius.”Perkiraan saya tidak meleset. 
Pembuatan model dan motif memakai komputer membuat pekerjaan lebih 
singkat sehingga memuaskan pelanggan. Pelanggan pun bertambah banyak,” 
ujar Komar. Dia pun sukses menggelar pameran batik di Malaysia, Jerman, 
dan Jepang.Sukses penambahan pelanggan memacunya untuk terus 
belajar. Ia memilih langsung terjun bersama istrinya untuk mengelola 
keuangan dan bahan baku. Ia mengaku tidak ingin aji mumpung saat menjalankan 
usaha.”Strategi
 pasar yang selalu saya tempuh adalah rajin menjalin komunikasi dengan 
pelanggan. Dengan mengenal lebih dekat karakteristik pelanggan, saya 
bisa menawarkan produk yang sesuai dengan selera mereka,” ujarnya.Tidak
 sekadar belajar secara otodidak, Komar melengkapi dirinya dengan 
pengetahuan ilmiah lewat Program Strata 2 Magister Fakultas Seni Rupa 
dan Desain Institut Teknologi Bandung. Ia yakin, penambahan literatur 
akan membantunya menciptakan inovasi baru. Hasilnya adalah kreasi baru 
pembuatan kain batik menggunakan kombinasi kain sutra dan serat bambu 
dengan variasi tenun songket. Ia juga menerapkan sistem registrasi, 
dokumentasi di setiap produk batik buatannya.”Tujuannya, menjaga 
hak cipta, keaslian produk batik, dan daya jual batik,” ujar Komar. Dia 
pernah mencatatkan namanya dalam Museum Rekor Indonesia dan Guinness 
World Records setelah mendesain dan memproduksi batik sepanjang 446,6 
meter dengan 402 motif dan 112 kombinasi warna, tahun 2005.Lewat 
pendekatan dan usaha kreatifnya, usahanya pun meroket. Dari berjualan 
keliling hingga mengontrak di berbagai tempat, kini Komar punya ruang 
pamer batik dan satu pusat pembuatan batik di Bandung. Kini, ia 
mempekerjakan 200 orang di pusat pembuatan batik miliknya. Tenaga kerja 
itu mampu menghasilkan ratusan helai dengan omzet puluhan juta per 
bulan.”Akan tetapi, kebanggaan bukan sekadar mendapatkan 
penghasilan ekonomi. Hati ini sangat bangga saat bisa menularkan 
kemampuan pembuatan batik kepada mereka yang sebelumnya buta tentang 
batik. Total, saya pernah melatih lebih dari 1.000 orang,” katanya 
bangga.Komar tidak ingin sendirian di jalur pengembangan batik 
yang tepat. Ia berharap semakin banyak perajin dan pengusaha batik yang 
mampu mengembangkan sayap usahanya. Dengan dukungan pemerintah, akan 
semakin banyak perajin dan pengusaha batik yang sejahtera dan membuat 
eksistensi produksi batik tetap terjaga.”Jangan pernah puas 
dengan apa yang sudah didapatkan. Apa pun usahanya, dengan terus 
berimprovisasi pasti akan menghasilkan banyak hal baru,” kata Komar.
***Komarudin Kudiya• Lahir: Cirebon, 28 Maret 1968 

• Istri: Nuryanti Widya (31) 

• Anak: 
- Putri Urfany Nadhiroh (18) 
- Nauval Mirrah Makareem (15) 
- Sekar Triagnia Hasya (9) 
- Revan Afqon Makareem (7)• Pendidikan: 
- Diploma III Administrasi Negara Logistik Universitas Padjadjaran (1992) 
- Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unpad (2000) 
- Magister Strata 2 Jurusan Desain Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (2003) 

• Pengalaman:
- Pendiri Paguyuban Sutra Parahyangan 
- Pendiri Induk Koperasi Sutra Alam Parahyangan 
- Pengurus Masyarakat Persutraan Alam Indonesia 
- Pengurus Yayasan Batik Indonesia 
- Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat.

http://cetak.kompas.com/read/2011/03/14/03315942/guru.batik.dari.cirebon



      

Kirim email ke