Cing baraya, sugan aya nu apal, aya teu hubung-kait-na antara "jihad" jeung
"gambaru".
Kaci teu mun "jihad" ditafsirkeun "gambaru"? Hade jigana

2011/3/16 <[email protected]>

>
>
> Punten teu disundakeun, da aslina mah basa jepang he he..
>
> salam
>
>
> From:
> Subject: Soal Jepang, dari temenku....
>
>
>  Memang agak panjang, tapi baik sekali untuk dibaca.
> Ditulis oleh seorang mahasiswi yg tinggal Jepang:
> ------------ --------- ---------
> Say YES to GAMBARU!
> By Rouli Esther Pasaribu
> Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba
> di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai
> titik darah penghabisan.
> Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup
> selalu :
> motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni
> gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama) ,
> motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih  dan lebih
> lagi).
> Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain
> GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru.
> Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males
> atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya...berhenti aja.
> Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya : "doko made mo nintai
> shite doryoku suru" (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha
> abis-abisan)
> Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter "keras" dan
> "mengencangkan". Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini
> adalah "mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan
> terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu"
> (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah
> kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan
> ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru,
> titik.).
> Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti,
> kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya.
> Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di
> sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga
> manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki
> karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan,
> sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos
> sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak
> akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri.
> Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw
> ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo!
> (mama ayo berjuang, mama ayo fight!).
> Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah
> penghabisan it's a must!
> Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget
> dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan
> 9.0 di jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam di indonesia seperti
> tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung
> merapi....juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan
> gempa bumi di jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu.
> Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia.
> Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat jepang panik
> kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai
> ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain.
> Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa "dimaafkan" jika
> stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan
> membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban
> bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan.
> Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis
> seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka
> tidak punya harapan.
> Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini?
> Dari hari pertama bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala ebiet
> diputar di stasiun TV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana
> alam. Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu
> (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri),
> sama sekali ngga disiarkan di TV.
> Jadi yang ada apaan dong?
> Ini yang gw lihat di stasiun2 TV :
> 1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada
> 2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi
> bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah
> tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)
> 3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan
> pemadaman listrik terencana
> 4. Tips-tips menghadapi bencana alam
> 5. nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam
> 6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang
> terkena bencana
> 7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang
> terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai
> banget harganya)
> 8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang
> dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita
> hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan
> secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati
> 9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :
> *ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi
> tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat
> pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo
> kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)
> *Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu,
> kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana
> ini;
> Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu
> bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.
> Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana
> ala gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat yang
> bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang.
> Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas
> banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya
> mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu.
> Bisa dibilang, orang-orang jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU.
> Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam
> hidup.
> Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan.
> Hanya, mental yang apa-apa "nyalahin" Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya,
> Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput
> yang bergoyang... ..
> I guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam
> diri kita, sampai kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa
> maju.
> Kalau ditilik lebih jauh, "menyalahkan" Tuhan atas semua bencana dan
> persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani
> bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup.
> Jika diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya  : lari
> dari masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang
> dan baru ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja.
> Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk
> apa gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo
> mau S2 atau S3 mah, ya di eropa atau  amerika sekalian, kalo di Jepang mah
> nanggung. Begitulah kata beliau.
> Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go
> international ya mestinya ke amrik atau eropa sekalian, bukannya jepang ini.
> Toh sama-sama asia, negeri kecil pula dan kalo ga bisa bahasa jepang, ngga
> akan bisa survive di sini.
> Sampai sempat nyesal juga,kenapa gw ngedaleminnya sastra jepang dan bukan
> sastra inggris atau sastra barat lainnya.
> Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin  sama sanak keluarga yang
> menyatakan ngga ada gunanya gw nuntut ilmu di jepang.
> Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya.
> Mental gambaru itu yang paling megang adalah jepang. Dan menjadikan mental
> gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go international
> dan sejenisnya itu.
> Benar, sastra jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana
> saja. Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan biar
> udah ngga ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang ideal untuk memahami
> semua itu adalah di jepang.
> Dan gw bersyukur ada di sini, saat ini. Maka, mulai hari ini, jika gw
> mendengar kata gambaru, entah di kampus, di mall, di iklan-iklan TV, di
> supermarket, di sekolahnya joanna atau di mana pun itu, gw tidak akan lagi
> merasa muak jiwa raga.
> Sebaliknya, gw akan berucap dengan rendah hati :
> Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte,
> kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru
> seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu.
> (Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan
> arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang
> tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian
> semuanya, orang-orang Jepang).
> Say YES to GAMBARU!
>
> Powered by my Onyx®
> http://agushermawan.com
> ------------------------------
> *From: * [email protected]
> *Date: *16 Mar 2011 13:35:16 -0000
> *To: *<[email protected]>
> *ReplyTo: * "No Reply"<[email protected]>
> *Subject: *[kisunda] Digest Number 4193
>
>   Mailing List Ki Sunda
> <http://groups.yahoo.com/group/kisunda;_ylc=X3oDMTJkcGhqMnUxBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzI2MzYzNjkEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MTcxNDY0BHNlYwNoZHIEc2xrA2hwaARzdGltZQMxMzAwMjgyNTE2>
>  Messages In This Digest (1 Message)
>  1.  Religiusitas Urang Jepun? <#12ec3a64a4a22dd4_1> From: Ki Hasan
>  View All 
> Topics<http://groups.yahoo.com/group/kisunda/messages;_ylc=X3oDMTJmZTV2aGs0BF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzI2MzYzNjkEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MTcxNDY0BHNlYwNkbXNnBHNsawNhdHBjBHN0aW1lAzEzMDAyODI1MTY-?xm=1&m=p&tidx=1>|
>  Create
> New 
> Topic<http://groups.yahoo.com/group/kisunda/post;_ylc=X3oDMTJmczR2bjc2BF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzI2MzYzNjkEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MTcxNDY0BHNlYwNkbXNnBHNsawNudHBjBHN0aW1lAzEzMDAyODI1MTY->
>  Message
>  1.   Religiusitas Urang Jepun?
> <http://groups.yahoo.com/group/kisunda/message/47945;_ylc=X3oDMTJyZmlsNHZqBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzI2MzYzNjkEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MTcxNDY0BG1zZ0lkAzQ3OTQ1BHNlYwNkbXNnBHNsawN2bXNnBHN0aW1lAzEzMDAyODI1MTY->
>  Posted
> by: "Ki Hasan" [email protected]
> <[email protected]?Subject=+Re%3A%20Religiusitas%20Urang%20Jepun%3F>   khs579
> <http://profiles.yahoo.com/khs579>  Wed Mar 16, 2011 4:26 am (PDT)
>
>
> Nu kieu meureun nya nu disebut sikap religius teh:
>
> =======
> Ketangguhan Jepang Memukau Dunia
>
> AP<
> http://www1.kompas.com/printnews/xml/2011/03/16/07391145/Ketangguhan.Jepang.Memukau.Dunia#
> >
> Seorang perempuan memasak untuk keluarganya di depan rumah mereka yang
> hancur di Ishinomaki di Prefektur Miyagi.
> Rabu, 16 Maret 2011 | 07:39 WIB
> *Oleh*: *Pascal S Bin Saju *
>
> *KETANGGUHAN *Jepang menghadapi tekanan tiga bencana besar sekaligus, yakni
> gempa bumi, tsunami, dan radiasi nuklir, memukau dunia. Reputasi
> internasional Jepang sebagai negara kuat mendapat pujian luas. Tak adanya
> penjarahan menguatkan citra ”bangsa beradab”.
>
> Pemerintah Jepang, Selasa (15/3), terus memacu proses evakuasi dan
> distribusi bantuan ke daerah bencana yang belum terjangkau sebelumnya.
> Seluruh kekuatan dan sumber dayanya dikerahkan maksimal ke Jepang timur
> laut, daerah yang terparah dilanda tsunami.
>
> Evakuasi korban tsunami berjalan seiring dengan evakuasi ribuan warga yang
> terancam terpapar radiasi nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
> Fukushima Daiichi, utara Tokyo. Prefektur Fukushima juga termasuk salah
> satu
> daerah korban gempa dan tsunami yang terjadi pada Jumat lalu.
>
> Televisi, media cetak, radio, dan situs berita *online *di seluruh dunia
> telah merilis bencana itu. Hal yang mengagumkan dunia, seluruh kejadian
> serta momen dramatis dan mendebarkan direkam televisi Jepang detik demi
> detik, sejak awal gempa, datangnya tsunami, hingga air bah itu ”diam”.
>
> Jepang lalu mengabarkan drama amuk alam yang menyebabkan lebih dari 10.000
> orang tewas dan 10.000 orang hilang itu ke seluruh dunia. Meski sempat
> panik, Jepang dengan cepat bangkit, mengerahkan seluruh kekuatannya, mulai
> dari tentara, kapal, hingga pesawat terbang. Jumlah tentara dinaikkan dua
> kali lipat dari 51.000 personel menjadi 100.000 personel. Sebanyak 145 dari
> 170 rumah sakit di seluruh daerah bencana beroperasi penuh.
>
> Sekalipun kelaparan dan krisis air bersih mendera jutaan orang di sepanjang
> ribuan kilometer pantai timur Pulau Honshu dan pulau lain di Jepang, para
> korban sabar dan tertib menanti distribusi logistik. Hingga hari keempat
> pascabencana, Selasa, tidak terdengar aksi penjarahan dan tindakan tercela
> lainnya.
>
> *Associated Press* melukiskan, warga Jepang tenang menghadapi persoalan
> yang
> ditimbulkan bencana. Sisi lain yang diajarkan masyarakat Jepang ialah sikap
> sabar meski mereka diliputi dukacita akibat kehilangan orang-orang
> terkasih.
> Mereka sabar menanti bantuan. Pemerintah bisa lebih tenang untuk fokus pada
> evakuasi, penyelamatan, dan distribusi logistik.
>
> Bencana terbaru adalah bahaya radiasi nuklir akibat tiga ledakan dan
> kebakaran pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi. Dari
> enam
> reaktor nuklir, empat di antaranya telah bermasalah. Jepang belajar dari
> kasus Chernobyl dan membangun sistem PLTN-nya lebih baik. Pemerintah
> menjamin tak akan ada insiden Chernobyl di Jepang.
>
> ”Perserikatan Bangsa-Bangsa belum mengambil langkah-langkah selama belum
> ada
> permintaan. Jepang adalah negara paling siap di dunia (menghadapi
> bencana),”
> kata Elisabeth Byrs, juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan
> Kemanusiaan (OCHA), kepada *Reuters*.
>
> Byrs melanjutkan, ”Jepang menanggapi tiga darurat sekaligus, yakni gempa,
> tsunami, dan ancaman nuklir, dan melakukannya dengan sangat baik.”
>
> Para *blogger *dan pengguna situs jejaring sosial berbahasa Inggris memuji
> Jepang sebagai bangsa yang tabah (*stoic*) dan bertanya-tanya tentang
> kemampuan bangsa lain, terutama di Barat, jika diguncang tiga bencana besar
> sekaligus. Mereka memuji Jepang adalah sebuah bangsa yang hebat, kuat, dan
> beretika.
>
> Profesor Harvard University, Joseph Nye, mengatakan, bencana telah
> melahirkan Jepang sebagai bangsa *soft power*. Istilah itu diciptakannya
> untuk melukiskan Jepang mencapai tujuannya dengan tampil lebih menarik bagi
> bangsa lain.
>
> Saat bencana dan tragedi kemanusiaan mengundang simpati dari dunia Jepang,
> citra negara yang tertimpa bencana jarang mendapat keuntungan dari bencana
> tersebut. Pakistan, misalnya, menerima bantuan AS dan negara lain saat
> dilanda banjir bandang tahun lalu. Namun, bantuan individu sangat sedikit,
> yang disebabkan citra negeri itu di mata dunia. China dan Haiti juga
> menghadapi kritik atas penanganan gempa bumi tahun 2008 dan 2009.
>
> Menghadapi kebutuhan akan dana rekonstruksi skala besar, Jepang masih
> menimbang tawaran internasional. ”Meski dilanda tragedi dahsyat, peristiwa
> menyedihkan, ada fitur-fitur yang sangat menarik dari Jepang,” kata Nye
> kepada *AFP*.
>
> ”Terlalu dini untuk memprediksi apakah mereka berhasil memulihkan ekonomi.
> Tetapi, dilihat dari jauh, rakyat Jepang memperlihatkan ketabahan saat
> krisis. Hal ini berbicara banyak soal Jepang di masa depan,” kata Wakil
> Direktur Center for Strategic and International Studies Nicholas Szechenyi.
>
> *Dapatkan artikel ini di URL:*
>
> http://www.kompas.com/read/xml/2011/03/16/07391145/Ketangguhan.Jepang.Memukau.Dunia
>

Kirim email ke