*Tokoh Semar bukan ciptaan Sunan Kalijaga* By WayangIndonesia Thursday,
23-July-2009, 12:58:16  Masih banyak masyarakat Indonesia yang mengira bahwa
Semar adalah ciptaan Sunan Kalijaga. Pendapat tersebut amat keliru karena
membaca atau mendengar dari sumber yang salah, atau sengaja memutar balikkan
fakta. Tokoh Semar sudah ada pada zaman Pra Islam. Tokoh Semar pertama kali
ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala.
Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief
dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439.

Semar atau lengkapnya Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan
paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai
pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah kisah
Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah
asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini
merupakan asli ciptaan pujangga Jawa. *Sejarah Semar*

Semar dikisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu
Sahadewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai
pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan
suasana yang tegang.

Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Pulau
Jawa, pewayangan pun dipergunakan sebagai salah satu media dakwah.
Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang saat itu sudah
melekat kuat dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal
sebagai ahli budaya, misalnya Sunan Kalijaga. Dalam pementasan wayang, tokoh
Semar masih tetap dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih
banyak daripada dalam kisah Sudamala.

Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Para
pujangga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan
sekadar rakyat jelata biasa, melaikan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari
Batara Guru, raja para dewa.

Terdapat beberapa versi tentang kelahiran atau asal-usul Semar. Namun
semuanya menyebut tokoh ini sebagai penjelmaan dewa.

Dalam naskah Serat Kanda dikisahkan, penguasa kahyangan bernama Sanghyang
Nurrasa memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal dan Sanghyang
Wenang. Karena Sanghyang Tunggal berwajah jelek, maka takhta kahyangan pun
diwariskan kepada Sanghyang Wenang. Dari Sanghyang Wenang kemudian
diwariskan kepada putranya yeng bernama Batara Guru. Sanghyang Tunggal
kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama
Semar.

Dalam naskah Paramayoga dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dari
Sanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti,
seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu
lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang
pria. Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam,
dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga
membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan
kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismaya
hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal
golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham
memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat
Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi
Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa,
Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat
ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun. Jadi menurut versi ini, Semar
adalah cucu dari Ismaya.

Dalam naskah Purwakanda dikisahkan, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang
putra bernama Batara Puguh, Batara Punggung, Batara Manan, dan Batara Samba.
Suatu hari terdengar kabar bahwa takhta kahyangan akan diwariskan kepada
Samba. Hal ini membuat ketiga kakaknya merasa iri. Samba pun diculik dan
disiksa hendak dibunuh. Namun perbuatan tersebut diketahui oleh ayah mereka.
Sanghyang Tunggal pun mengutuk ketiga putranya tersebut menjadi buruk rupa.
Puguh berganti nama menjadi Togog sedangkan Punggung menjadi Semar. Keduanya
diturunkan ke dunia sebagai pengasuh keturunan Samba, yang kemudian bergelar
Batara Guru. Sementara itu Manan mendapat pengampunan karena dirinya hanya
ikut-ikutan saja. Manan kemudian bergelar Batara Narada dan diangkat sebagai
penasihat Batara Guru.

Dalam naskah Purwacarita dikisahkan, Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi
Rekatawati putra Sanghyang Rekatatama. Dari perkawinan itu lahir sebutir
telur yang bercahaya. Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal membanting
telur itu sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih, dan
kuning telur. Ketiganya masing-masing menjelma menjadi laki-laki. Yang
berasal dari cangkang diberi nama Antaga, yang berasal dari putih telur
diberi nama Ismaya, sedangkan yang berasal dari kuningnya diberi nama
Manikmaya. Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih karena masing-masing
ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun mengadakan perlombaan
menelan gunung. Antaga berusaha melahap gunung tersebut dengan sekali telan
namun justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar.
Ismaya menggunakan cara lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit
demi sedikit.

Setelah melewati bebarpa hari seluruh bagian gunung pun berpindah ke dalam
tubuh Ismaya, namun tidak berhasil ia keluarkan. Akibatnya sejak saat itu
Ismaya pun bertubuh bulat. Sanghyang Tunggal murka mengetahui ambisi dan
keserakahan kedua putranya itu. Mereka pun dihukum menjadi pengasuh
keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebagai raja kahyangan, bergelar
Batara Guru. Antaga dan Ismaya pun turun ke dunia. Masing-masing memakai
nama Togog dan Semar.

Wayang Indonesia
sumber : FB Wayang
Indonesia<http://www.facebook.com/masadidjoko#/note.php?note_id=124376272501>
Dunia
Wayang Pitoyo Dotcom : http://www.pitoyo.com/duniawayang
Online version:
http://www.pitoyo.com/duniawayang/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=47

Kirim email ke