Jatnika, Pendekar Bambu Cimande
Mawar KusumaTumbuh
dan besar di hutan bambu, hidup Jatnika Nanggamiharja (54) tak
terpisahkan dari tanaman itu. Ia telah membangun lebih dari 3.000 rumah
bambu di dalam dan luar negeri. Ia sisihkan keuntungan bisnisnya untuk
penghijauan tebing sungai. Di lahan seluas 5.000
meter persegi milik Yayasan Bambu Indonesia di Bumi Cibinong Indah,
Bogor, Jawa Barat, Jatnika melatih tenaga ahli pembuatan rumah bambu.
Mereka dibekali kemampuan olahraga bela diripencak silat Cimande.
Ilmu bela diri khas Jawa Barat ini memberi bekal kekuatan sehingga
mereka mampu membangun rumah bambu yang ikatannya kuat dan tahan lama.Jatnika
telah melatih lebih dari 20 angkatan tenaga ahli bambu yang
masing-masing terdiri atas 25 orang. Mereka dilatih untuk mampu mengikat
kuat setiap bambu dengan sepuluh macam ikatan tali ijuk. Mereka sanggup
merakit bambu betung, bambu gombong, bambu tali, hingga bambu hitam
yang diameternya bisa mencapai 20 sentimeter.Produk rumah bambu
itu menjadi komoditas ekspor. Demi kualitas, Jatnika hanya menyanggupi
dua permintaan ekspor rakitan rumah bambu knock down (bongkar pasang)
per tahun. Proses pembangunan rumah bambu di luar negeri juga hanya
dilakukan dengan tenaga ahli yang sudah dididik Jatnika. Permintaan
ekspor rumah bambu, antara lain berasal dari Malaysia, Brunei, dan Arab
Saudi.Pembangunan tiap rumah bambu biasanya memakan waktu tiga
bulan. Sejak tahun 1985, kata Jatnika, pihaknya telah membangun lebih
dari 3.000 rumah bambu.Jatnika mematok biaya pembangunan rumah
antara Rp 1,2 juta hingga Rp 2,5 juta per meter persegi dan luas satu
rumah rata-rata 50 meter persegi.Jatnika hidup sederhana di rumah
bambu miliknya yang menyatu dengan kawasan Yayasan Bambu Indonesia.
Keuntungan yang diperolehnya dari pembangunan rumah bambu juga
dimanfaatkan untuk pengadaan bibit, yang kemudian ditanam sebagai upaya
penghijauan. ”Saya sebar kembali untuk penanaman. Kebahagiaan tidak
selamanya terletak di materi,” kata Jatnika.Penghijauan terutama
dilakukan di sekitar sungai sebagai penahan tebing. Bambu yang
ditanamnya sudah merimbun di bantaran Sungai Ciliwung, Cisadane, dan
Ciluwer. Di kampung halamannya, Jatnika menanam lebih dari 10 hektar
bambu di tepian sungai Cimande. Tanaman bambu tersebut tak sekadar
mencegah erosi sungai, tapi juga memberi kesejahteraan bagi warga
sekitar.Selain rumah, Jatnika juga membangun pesantren miliknya
dari bambu. Jika membangun 10 masjid atau mushala dari bambu, Jatnika
menyumbangkan satu mushala secara gratis. Impiannya adalah menyaksikan
rumah bambu menjadi ciri khas utama ketika orang memasuki wilayah Jawa
Barat.Prabu Haur KuningJatnika
meyakini, fatwa bambu yang dulu dilontarkan oleh Prabu Haur Kuning.
Prabu Haur Kuning adalah putra Prabu Siliwangi dari istri ke-11. Prabu
Haur Kuning yang hanya memiliki wilayah kekuasaan seluas 1.200 depa
mampu mewujudkan kesejahteraan rakyatnya dari penanaman bambu.Tiga
fatwa bambu itu menyebutkan, jika Nusantara ingin sejahtera, tidak
dihinggapi penyakit menular, dan tidak dijajah, maka tiap keluarga
minimal harus menanam 1.000 rumpun bambu. Melalui penanaman bambu, akan
tercipta kesejahteraan, kesehatan, dan pertahanan negara.Jatnika
pribadi mengaku sangat merasakan buah kesejahteraan karena bambu. Dari
penanaman 1.000 rumpun bambu betung berumur lima tahun, misalnya, dia
bisa memanen 20.000 batang bambu. Dengan harga jual Rp 30.000 per
batang, Jatnika sudah bisa memperoleh Rp 600 juta per panen, setahun
sekali.Nilai jual tersebut akan semakin tinggi setelah disentuh
dengan keahlian, seperti dibuat menjadi kipas, sangkar burung, dan
beragam alat dapur.Tiap tahun, kata Jatnika, minimal lima batang dari serumpun
bambu harus ditebang agar pertumbuhan bambu tak terhambat.Satu
rumpun bambu yang terdiri dari 50 batang mampu menyimpan 2.000 liter
air. Tak heran jika orang di pedesaan biasa membuat sumur di dekat
rumpun bambu.Tinggal di rumah bambu, menurut Jatnika, juga mampu
memberi kenyamanan. Resonansi dengung panjang berbunyi dari rongga bambu
mampu menumbuhkan ketenangan bagi penghuninya.”Kita ini
bersaudara dengan bambu. Bunyi nggg... yang sama bisa kita dengar ketika
menutup telinga dengan tangan. Itulah kenapa sangat nyaman tidur di
rumah bambu,” ujar Jatnika.Mulai sebagai penganyamSejak
duduk di bangku SD, Jatnika sudah menganyam bambu untuk dijual.
Orangtuanya berprofesi sebagai perajin bambu. Tiap malam, ketika masih
memakai seragam SMP dan SMA, kepada teman-temannya Jatnika juga mengajar
cara menganyam bambu serta melatih pencak silat Cimande.Setelah
kuliahnya selesai tahun 1981, Jatnika menekuni bisnis pembangunan rumah
bambu sembari bekerja di perusahaan penerbitan. Ekspor kerajinan bambu
mulai dijalaninya tahun 1985 ke Taiwan, dan sejak saat itu dia fokus
menggeluti usaha bambu. Usaha kerajinan bambunya kala itu berkembang
dengan lima sanggar di Jakarta.Ketika ikut pameran rumah bambu di
Lapangan Banteng tahun 1995, Ketua Dewan Kerajinan Nasional kala itu,
Nyonya Tri Sutrisno, mengajaknya mendirikan Yayasan Bambu Indonesia.
Sejak itulah Jatnika melebarkan sayap ekspor rumah bambunya. Yayasan
Bambu Indonesia hingga kini masih aktif mendidik para ahli pembuat rumah
bambu.Jatnika mengaku hingga kini sudah mengembangkan 41 model
rumah tradisional bambu khas Jawa Barat. Bekerja sama dengan PT Angkasa
Pura II, dia telah mematenkan hak cipta untuk rumah bambu semi permanen
pada 2006.Indonesia kaya dengan 105 spesies endemik asli bambu
yang 95 di antaranya ditemukan di Jawa Barat. Namun, Jatnika merasa
resah karena bambu masih dianggap tanaman liar, tanpa adanya penanaman
yang terprogram.Berdasar catatan Jatnika, hampir 1.000 hektar
hutan bambu di Bogor ditebang dalam kurun lima tahun terakhir. Padahal,
katanya, kehidupan masyarakat Indonesia tidak lepas dari budaya bambu,
mulai dari keperluan bahan baku rumah hingga makanan.Jatnika Nanggamiharja•
Lahir : Cikidang, Sukabumi, 2 Oktober 1956 • Istri : Marsidah (33) • Anak :1.
Samsul Fajri2. Sundari (almarhum)3. Ratu Pertiwi4. Karisma Nusanagara5. Salmah
Maksum6. Banjar Kaspaya • Pendidikan : - SD IV di Cibadak, Sukabumi - SMP I
Cibadak, Sukabumi - SMA 424 Cibadak, Sukabumi - Kuliah Akademi Pimpinan
Perusahaan Jakarta • Pengalaman Organisasi : - Ketua Paguyuban Perajin Bambu
Kidang Kencana (1974-sekarang) - Pengelola atau Ketua Harian Yayasan Bambu
Indonesia (1995-sekarang) - Ketua Pembina Senam Pencak Silat Cimande Hijaiah
(2010-sekarang) • Penghargaan (antara lain) :Pembuat rumah bambu tradisional
terbanyak dari Ikatan Arsitek Indonesia (2009)
http://cetak.kompas.com/read/2011/04/12/04130364/.jatnika.pendekar.bambu.cimande