Mendak seratan ieu dina Facebook. Duka leres henteuna, manawi aya nu langkung 
terang? Punten teu disundakeun.

Baktos, 
Adit


BADUY: TERSEOK DI MANDALA SUNDA
Chye Retty Isnendes  Negeri yang luhur ininegeri yang subur iniKakekku dulu 
memegang bambuberani berjuang, Kawan Yang dulu dijajah orangyang dulu diinjak 
orangDarah mengalir untuk mengukirdi batu nisan mereka Jangan kira selesai 
sekarangmasih lama kita harus berjuangterlalu pagi untuk bernyanyiterlalu pagi 
untuk tersenyum Mari berdoa, Kawanmari usaha, KawanBapak menolongBapak 
menyokongmenjinakkan Raja Zalim dunia... *Lagu JAMAL MIRDAD era 80-an, sayang 
saya lupa apa
 judulnya.* Sengaja
 saya kutip lagu Jamal Mirdad yang saya tidak tahu apa judulnya dan saya
 ubah sedikit kata-katanya –Raja Zalim dunia, seharusnya Raja Guru di 
Asia. Lagu ini menurut hemat saya masih sangat kontekstual dengan 
kondisi kekinian Indonesia, khususnya Jawa Barat, dan khususnya lagi 
Baduy yang kini dirundung malang. Saya ingin membangkitkan darah para 
pembaca supaya bergolak mencermati keadaan Baduy dan Jawa Barat, 
setidaknya ikut memikirkan atau simpati dan empatipun tak apalah. Tentu 
saja, saya sangat bersyukur apabila pembaca tergerak hati untuk 
bertindak apapun yang kita bisa lakukan untuk menolong dulur urang di sana di 
suku bukit Gunung Baduy di Leuwi Damar di Kabupaten Lebak. Pengalaman ke 
Baduy Tahun 1992, Anis Djati Sunda alm. dalam pendahuluan makalahnya 
menyebutkan bahwa: 1)  telah banyak tulisan ihwal urang Kanekes ini,
 2) telah banyak pula kegiatan saresehan, seminar, dan lain sebagainya 
yang perbincangkan Baduy, dan 3) frekuensi pengunjung semakin meningkat.
 Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Baduy memiiki daya tarik 
tersendiri dan mempunyai misteri yang sangat eksotik. Tahun
 1996, saya dan kawan-kawan satu angkatan (1993) pernah berkunjung pula 
ke Baduy untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Morfologi dan Linguistik 
Historik Komparatif. Dengan dikawal Akang-Teteh yang dianggap 
berpengalaman menaklukan medan (anggota pencinta alam Himpunan Mahasiswa
 Jurusan: Pancak Suji, di antaranya Kang Hadiayanto, Kang Endin, Teh 
Yanti, dll.), kami sampailah ke Baduy Luar (Panamping). Dari 35 
mahasiswa, hanya 6 orang yang bertahan dan kuat berjalan sampai ke Baduy
 Jero (itupun hanya sampai ke Kedu Ketug yang termasuk pada Tangtu 
Cikertawana). Jumlah seluruh rombongan adalah 10 orang (satu orang dosen
 pendamping dan tiga orang kakak senior). Bukan hanya medan yang luar biasa 
tidak kami akrabi (karena tidak biasa berjalan sejauh itu --bilangan enam 
gunung kecil: pasir),
 tapi juga cuaca yang pada waktu itu adalah musim penghujan: Desember, 
juga Jaro Pulung –Jaro Baduy Panamping sudah meninggal tahun 2000an, 
ketika itu memperingatka bahwa tidak boleh berombongan besar. Saya yang 
termasuk dari 10 orang tersebut merasa bersyukur bisa mengunjungi dulur di 
sana. Dari
 perjalanan tersebut saya mencermati, bahwa: (1) tahun 1996 keadaan 
Baduy masih alami –saya tidak tahu sekarang karena kagiridig itu, (2) 
kealamiannya karena didukung faktor jalan yang sangat berat dilalui 
–Ciboleger masih jalan kerikil dan sebagian tanah yang bila diguyur 
hujan sampai nyeblok kaki kami semet tuur. Hal 
tersebut saya pandang sebagai sesuatu yang menguntungkan bagi Baduy 
karena beratnya perjalanan kaki menembusi jalan Ciboleger menjadikan 
akses berat bagi mereka yang tidak punya mental baja. Tetapi
 tahun 1999, jalan Ciboleger dihotmik dengan mulus dan lebarnya. Entah 
apa yang ada dalam pikiran pemerintah kabupaten dan provinsi ketika 
proyek itu dilakukan? Mungkin alasannya membuka akses daerah tertinggal 
atau mengatasnamakan pembangunan atau piduiteun nu teu kawadahan dari 
pengunjung (turis dommestik dan asing?) dan pialang-pialang modal? Entahlah, 
saya yang pada waktu itu mahasiswa S1 hanya ngagerentes dalam hati: eum karunya 
teuing urang Baduy. Entah kekhawatiran apa yang melanda hati saya, tak 
terkatakan... Tulungan Kami 15 taun dari waktu itu, kekhawatiran itu kini 
berjawab. Seminggu
 sudah hati saya tidak tentram memikirkan Baduy. Hal itu karena Derry 
Hudaya mahasiswa Sunda UPI yang juga pendatang potensial di dunia sastra
 Sunda memberitakan bahwa Urang Baduy meminta tulung. 
Data-datanya dia dapatkan dari mulut seorang Baduy sendiri yang datang 
berjualan membawa aneka kerajinan tangan pada acara mahasiswa Sunda 
‘Riksa Budaya’ tanggal 4-9 April di PKM UPI. Gera
 hudang ulah tiris bae, lawan ku seuneu, seuneu nu tiis. Gera tulungan, 
Baduy geus gareheng. Lain ku panas lain ku usum halodo...Demikian dulur kita
 itu berbisik meminta tolong sebelum pulang meninggalkan PKM tanggal 10 
April. Tentu saja setelah dia menginformasikan sejumlah data mengenai 
kegelisahannya menghadapi kondisi yang tidak tentu dan menakutkan. 
Betapa bisikan yang menyiratkan kepedihan hati dan kegelisahan yang luar
 bisa dari masyarakat yang selama ini kita yakini mereka tangguh dan 
pengkuh menjaga alam sekitarnya. Apakah para pembaca tetap tak bergeming
 dan tidak merasa kasihan dengan bisikan terdalam dari dulur kita 
tersebut? kasadayana lamun bener daerah baduy ata (eta)
 lembur urang, cing gera tulungan yen daerah atanapi lembur urang ges 
tereh aweh.. tulungan kami ges hampir te kuat ngekehan leweng jeng 
lembur... 12 April 2011 jam 11:24Cobalah renungkan SMS yang datang dari dulur 
urang
 di atas. Apakah para pembaca masih mau ‘masa bodoh’ dan tidak tergerak 
hati menolong mereka. Hati saya meleleh ketika membacanya... urang-urang
 kami tadi ngumpul nyaritakeun kumaha lembur urang..ges aya dei wae 
gunung nu dibitukeun nepi k disada blug beh.. tulung kami didie. 
sebarkeun sms iye, baduy ges haredangen, haredangen lain kuhalodo panas?
 12 April 2011 , 11:21Masihkan belum percaya bahwa mereka meminta tolong? 
lantaran dihurup ku kaayaan nu hese dilawanan ku urang Baduy yang serba diam 
dan eksotis? Naha rek diantep wae? Selain sms di atas, masih ada data lain yang 
dibawa oleh orang Baduy, yang memang harus kita cermati, yaitu:
 Adanya perusahaan minyak, entah tambang atau  penyulingan. Hal ini 
sangat mengganggu mereka terutama menjadi polusi suara bagi ketentraman 
Baduy (seperti dalam sms di atas).  Banyaknya orang asing yang masuk ke wilayah 
Baduy. Padahal orang asing atau di luar agama Islam sangat dipahing dan 
dilarang masuk. Orang Baduy tidak mengetahui dari pintu mana mereka masuk (baca 
juga EKSPLOITASI BADUY di www.radarbanten.com ). Rahasia-rahasia Baduy yang 
disimpan erat, sudah ada yang membukukan malah disebarkan. Setiap hari mereka  
berkumpul tapi tidak bisa bertindak apapun dan tidak bisa melakukan 
apapun.Menurut Cecep Burdansyah (melalui Derry Hudaya), eksploitasi ini sudah 
menjadi isu nasional. Akan tetapi geuning tidak
 ada penyelesaiannya atau sedikit saja solusi dan pencerahan bagi 
masyarakat Baduy. Dimana keberadaan WALHI atau LSM-LSM pembela 
lingkungan dan sosial-budaya? Dimana keberadaan masmedia Banten dan Jawa
 Barat? Atau masmedia internasional? Kita sudah tidak bisa mengharapkan 
anggota dewan, yang saya tidak tahu apa yang dikerjakannya, atau harus 
mengharapkan apa dari pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Lebak 
untuk melindungi warganya, aset sumber daya alam, dan aset budayanya? Mari
 pikirkan cara menolong mereka karena orang Baduy tidak bisa 
mengkomunikasikan kegelisahan batin mereka dengan lantang atas apa yang 
terjadi berkaitan dengan keyakinan dan kearifan mereka. Jangan biarkan 
mereka terus menderita sedang kita terus merasa bahwa uga dan 
kepengkuhan akan menolong mereka. Mari secepatnya beraksi 
sebelum kehancuran alam dan kehancuran budaya Baduy melanda. Karena 
budaya masyarakat yang selaras dengan kehidupan alam sekitarnya semakin 
tidak dapat dipertahankan dan kemungkinan terbesarnya hilang atau punah 
jika tidak ada konservasi alam dan budaya bagi masyarakat Baduy. 
Padahal, keselarasan budaya dengan alam hanya akan mungkin terjadi 
apabila hutannya masih terjaga dan terpelihara. Bukankah itu kearifan 
lokal dan kearifan tradional yang kita gembar-gemborkan pada dunia bahwa
 Indonesia adalah negara berbudaya???*** Keterangan: SMS yang datang adalah 
dari urang Baduy asli
 yang telah mempunyai HP dan telah melek aksara. Namun demikian, beliau 
ekstra hati-hati menggunakannya karena bisa dirampas jikalau 
ketahuan.  Bandung, 16 April 2011

Kirim email ke