Survei: Rohis di Sekolah Tak Picu Radikalisme

Jum'at, 29 April 2011 | 12:29 WIB
*TEMPO Interaktif*, *Jakarta* - Hasil survey yang dilakukan Lembaga Kajian
Islam dan Perdamaian (LaKIP) menyebutkan, meski ada peningkatan
kecenderungan radikalisme di kalangan siswa sekolah menengah, hal itu tidak
terkait dengan kegiatan kerohanian islam (rohis). Direktur Pelaksana LaKIP
Achmad Baedowi mengatakan dalam penelitian itu ditemukan jumlah siswa yang
mengikuti kegiatan rohis tak sampai 30 persen.

"Sekitar 76,9 persen tidak ikut rohis meski lebih 80 persen sekolah memiliki
kegiatan rohis," kata dia di Jakarta, Kamis 28 April 2011 kemarin.
Kegiatan-kegiatan rohis di sekolah menengah juga sebagian besar dibimbing
oleh guru agama setempat, sehingga kecil kemungkinan mendapat susupan ajaran
dari luar.

Survey LaKIP digelar akhir tahun lalu di 10 wilayah Jabodetabek yaitu lima
kota DKI Jakarta, Kota Depok, Bogor, Tangerang, Tangerang Selatan dan
Bekasi. Penelitian ini melibatkan 590 orang guru sebagai responden dan 993
siswa muslim sekolah menengah pertama (kelas 8 dan 9) serta sekolah menengah
atas (kelas 10, 11, 12).

Hasil survey menunjukkan peningkatan kecenderungan radikalisme di kalangan
siswa dan guru agama. Ini terlihat dari dukungan siswa dan guru terhadap
tokoh-tokoh radikal dan tindakan kekerasan. Temuan memperlihatkan tingkat
kesediaan guru untuk terlibat dalam berbagai kekerasan terkait isu agama
maupun moral mencapai 28,2 persen. Sedangkan di kalangan siswa mencapai 48,9
persen.

Namun menurut Baedowi temuan itu juga menunjukkan kecil kemungkinan
radikalisme dipicu oleh kegiatan rohis dan pengajaran agama di sekolah.
Porsi pengajaran agama di sebagian besar sekolah kurang dari 24 jam dalam
satu minggu. Topik yang diajarkan meliputi aqidah, akhlak, tauhid, fiqih dan
sebagainya. Bahkan ia menilai sebenarnya pengajaran agama di sekolah gagal
secara kognitif.

"Karena ketika kita uji siswa tersebut untuk menjawab 10 soal agama bahan
ujian, rata-rata nilai siswa ini hanya 3,7," ujarnya. Hal ini mementahkan
anggapan bahhwa pengajaran agama di sekolah dan kegiatan rohis menjadi
sumber lahirnya bibit-bibit radikalisme di kalangan pelajar.

Dugaan sementara tim peneliti, munculnya kecenderungan radikalisme ini
justru dipicu oleh media dan internet. Baedowi mengatakan tindakan terorisme
di tanah air yang mendapat porsi pemberitaan terus-menerus di media,
berperan mengenalkan tokoh-tokoh teroris kepada pelajar. Apalagi salah satu
pelaku bom bunuh diri di hotel JW Marriot beberapa waktu lalu adalah pemuda
yang baru lulus dari sekolah menengah atas.

* KARTIKA CANDRA
http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/04/29/brk,20110429-330920,id.html

*

Kirim email ke