Nuhun Mang Yayat, urang forwardkeun ka Ki Sunda.
Mangga diantos kintunan sejenna.


2011/4/29 Mang Yayat Thea <[email protected]>

> mani resep puguh maca sajarah, dongeng atawa carita sunda teh. ieu aya blog
> manawi aya mangpaatna. bilih teu uninga. nuhun.:
>
> Sinopsis:
> Prahara Di Galuh Pakuan
> Gugurnya Prabu Maharaja Linggabuana
>
> [1] Mendung di Dayeuh Pakuan semakin tebal ketika Prabu Maharaja
> Linggadewata sakit keras dan Putra Mahkota Rahiyang Satriadewa justru tidak
> berada di Kadaton Suradipati, sementara beberapa kerabat istana dan senapati
> Sunda tengah merencanakan pengambilalihan kekuasaan, bekerja sama dengan
> beberapa bangsawan, senapati dan prajurit Majapahit, yang tidak mendapat
> restu Maharaja Putri Tribuana Tunggadewi, yang mulai berdatangan memasuki
> Kotaraja Pakuan.
>
> Rakean Munding Lelean, Rahiyang Ragamulya Luhur Prabawa, Rahiyang Aji Wangi
> Linggabuana dan Rakean Braja Niskala yang sedang menempuh perjalanan dari
> Galuh ke Dayeuh Pakuan mengetahui adanya rencana itu dan menemui Ki Patih
> Sunda Rahiyang Jawok Panunggal.
>
> Pertempuran sengit terjadi antara Rahiyang Limburwesi dan pengikutnya, yang
> didukung beberapa bangsawan dan senapati Majapahit, melawan Ki Patih Sunda
> Jawok Panunggal dan Munding Lelean yang mempertahankan kehormatan dan
> kewibawaan Sunda dan Maharaja Linggadewata.
>
> Cerita berkembang ketika Putra Mahkota gugur di peperangan melawan
> pemberontak dan Maharaja Linggadewata mangkat karena sakit. Penetapan raja
> baru di Kerajaan Sunda mengalami ketegangan, namun berhasil teratasi. Namun
> ketegangan itu telah memaksa Prabu Maharaja Sunda Rahiyang Linggawisesa,
> yang baru diangkat menjadi raja baru di Sunda, memindahkan pusat Kerajaan
> Sunda ke Kadaton Surawisesa di Kawali, di dekat puseur dayeuh Kerajaan
> Galuh.
>
> Pertentangan akibat perebutan kekuasaan, ketamakan, kebencian, dendam dan
> keinginan untuk memperoleh wahyu keraton dan senjata pusaka telah menjadikan
> Kerajaan Sunda tidak pernah sepi dari pertentangan dan dendam.
>
> Namun mendung di atas Kadaton Surawisesa di Kawali terjadi lagi ketika
> Maharaja Linggawisesa mangkat dan digantikan putrandanya Aji Wangi
> Linggabuana. Bahkan Prabu Maharaja Linggabuana kemudian harus melakukan
> perjalanan jauh melalui Sungai Citarum dan pantai utara ke puser dayeuh
> Majapahit untuk mengantar Sang Mahadewi Dyah Pitaloka yang akan menjadi
> permaisuri Prabu Maharaja Hayam Wuruk.
>
> Maka terjadilah prahara di Bubat yang membuat Kerajaan Sunda menjerit
> maratan langit. Prabu Linggabuana gugur, Dyah Pitaloka belapati, dan para
> perwira dan kesatria kerajaan gugur.
>
> [2] Namun Rakean Braja Niskala berhasil menyelamatkan diri setelah dibantu
> oleh Panglima Pasukan Berkuda Kerajaan Majapahit Gajah Enggon. Bahkan Gajah
> Enggon telah menemui Prabu Hayam Wuruk yang kemudian diperintahkan untuk
> meminta maaf kepada Hyang Bunisora, rayinda Prabu Linggabuana.
>
> "Bakti hamba kepada Mahapatih Mangkubumi Sang Rahiyang Bunisora," kata
> Braja Niskala.
>
> "Pamanda Braja Niskala, bangunlah. Tidak semestinya Pamanda berbuat
> demikian yang membuat aku menjadi tidak enak hati," kata Sang Guru Jampang
> Hyang Bunisora.
>
> [3]
> "Ilmu puncak Bongas Amparan adalah ilmu yang sangat berbahaya, Aji Sangga
> Buana, ilmu yang sulit dicari bandingnya pada saat Kerajaan Singasari,"
> desis Ki Mara di dalam hatinya.
> Karena itu, ketika Bongas Amparan itu meloncat dengan kecepatan yang sangat
> tinggi, secepat petir menyambar, maka Ki Mara itupun kemudian telah meloncat
> pula menyambut Bongas Amparan. Kedua tangannya yang menyilang dengan
> jari-jari yang mengepal direntangkannya ke depan untuk menyambut pukulan
> tangan Bongas Amparan dalam ilmu puncaknya.
> Benturan dua ilmu yang dashyatpun terjadi dan menimbulkan ledakan yang
> menggetarkan. Rumah Ki Dukuh dan pepohonan tampak bergetar. Daun-daun yang
> menguning telah rontok ke bumi.
> Sekejap setelah benturan terjadi, tubuh Ki Mara telah terdorong surut ke
> belakang dan kemudian jatuh berguling-guling ke belekang dengan kerasnya.
> Sesaat kemudian dia terlentang. Wajahnya tampak menegang dan menahan sakit
> yang tidak terkira di dadanya, sedangkan dari sela-sela bibirnya terlihat
> darah kehitam-hitaman mengalir ke luar.
> Bukan hanya Ki Mara. Tubuh Bongas Amparan juga telah terlempar beberapa
> tombak setelah benturan terjadi. Bongas Amparanpun kemudian telah
> terlentang. Terdengar keluhan, sedangkan kedua tangannya menekan dadanya.
> Dari sela-sela bibirnya telah pula ke luar darah yang kehitam-hitaman.
>
> [4]
> Prabu Ragasuci kemudian telah membagikan pusaka itu secara adil kepada para
> putranya, Rahiyang Citraganda memperoleh Kujang Sanghyang Jago, Rahiyang
> Handap Ageung mendapatkan Kujang Sanghyang Ciung Wanara, sedangkan Rahiyang
> Salaka Adyamanah menerima Trisula Sanghyang Tapak Ragamanah.
> Namun Mahaprabu Ragasuci yang merasa lebih asih kepada putra bungsunya,
> telah pula menyerahkan Sanghyang Bangkong Ngora kepada Rahiyang Salaka
> Adyamanah itu. Kenyataan itu membuat Rahiyang Citraganda yang menjadi Putra
> Mahkota merasa tidak senang.
>
> [5]
> "Namun ternyata Aji Brajawisesa Ki Teja Nunggal benar-benar telah
> sempurna," desis Kiai Munding Lelean.
> "Tuan. Sesungguhnya tidak ada ilmu yang sempurna itu, karena yang sempurna
> itu hanya milik Gusti Yang Maha Agung," kata Ki Teja Nunggal perlahan. "Jika
> hamba dan adik hamba memiliki Aji Brajawisesa yang diciptakan oleh Mahaprabu
> Brajawisesa pada masanya itu, sesungguhnya merupakan karunia bagi hamba
> berdua, karena sesungguhnya hamba bukanlah orang-orang dari keturunan
> Ksatria," katanya lagi.
> Kiai Munding Lelean itu kembali mengangguk-anggukkan kepalanya.
> "Jika Tuanku Rakean Galih Sundabuana mengizinkan hamba berdua menguasai Aji
> Brajawisesa itu, maka tujuannya adalah agar ilmu itu tidak sirna, dan
> menjadi kewajiban hamba untuk mewariskannya kepada orang-orang yang pantas
> dan terpilih," kata Ki Teja Nunggal sambil menundukkan kepalanya.
> "Aku mengerti Ki Teja Nunggal. Pamanda Galih Sundabuana merasa cemas bahwa
> ilmu itu akan semakin hilang, sedangkan Pamanda tidak bisa berbuat apa-apa
> dalam pewarisan ilmu itu kepada para putranya karena Pamanda harus terus
> bersembunyi dari kejaran Pamanda Rakean Jabung Palima dan Rakean Limburwesi
> yang menginginkan pusaka itu," kata Kiai Munding Lelean.
> Sementara itu keadaan di dalam goa itu kini semakin gelap setelah matahari
> sama sekali telah hilang di cakrawala.
> "Ki Teja Nunggal, ruangan di dalam goa ini demikian gelapnya, apakah kita
> akan ke luar sekarang?" tanya Kiai Munding Lelean.
>
> [6]
> "Bahkan kini aku mendengar pengaruh Rakean Limburwesi dan putranya Rakean
> Jagat Balungbeusi telah membuat Kadaton Suradipati menjadi memanas, para
> panglima dan senapati telah saling mencurigai dan mulai berpihak serta
> mencari keuntungan. Bahkan ketika Mahaprabu Linggadewata kini sedang sakit,
> Rakean Limburwesi diduga telah melakukan hubungan dengan para bangsawan dan
> senapati di Majapahit untuk menjadikan Sunda menjadi taklukkan Majapahit,"
> kata Kiai Munding Lelean.
> "Apakah orang-orang Majapahit itu mendapat restu dari Sang Ratu Majapahit
> Tribuana Tunggadewi?" tanya Raden Raga.
> "Tentu tidak, meskipun aku belum bisa memastikannya. Untuk itulah aku harus
> segera bertemu dengan Mahapatih Sunda Rakean Jawok Panunggal," kata Kiai
> Munding Lelean.
> "Apakah keuntungan orang-orang Majapahit itu dengan menaklukkan Sunda?"
> tanya Raden Raga.
> "Banyak alasan. Mereka kerajaan besar. Tentu banyak pihak yang ingin
> mencari keuntungan, ingin memperoleh pujian, kamukten, ingin memperoleh
> kekuasaan, atau bahkan harta benda. Selalu saja ada orang-orang yang ingin
> memaksakan kehendaknya, merasa paling berkuasa, paling benar," kata Kiai
> Munding Lelean.
> Raden Raga itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apalagi ketika orang-orang
> Majapahit itu telah mendapat dukungan dari kalangan dalam di Kadaton
> Suradipati sendiri," desis Raden Raga.
> "Mungkin juga sebaliknya. Orang-orang Sunda yang menginginkan kekuasaan
> kemudian membujuk atau menjebak orang-orang Majapahit untuk membantu mereka
> merebut kekuasaan, baru setelah itu orang-orang Majapahit itu akan
> dimusnahkan," desis Kiai Munding Lelean.
> "Paman benar. Semua bisa terjadi. Bahkan bisa jadi kedua-dua pihak saling
> memengaruhi, saling memberikan dukungan untuk tujuan yang berbeda," kata
> Raden Raga tersendat.
> "Bagaimana menurut pendapatmu, Ki Teja Nunggal?" tanya Kiai Munding Lelean.
> "Tuan, hamba adalah orang yang tidak memiliki pengetahuan apapun selain
> kesetiaan. Tetapi sebaiknya Tuan segera bertemu Mahapatih Sunda yang telah
> menyampaikan pesan agar Tuan segera ke Dayeuh Pakuan," kata Ki Teja Nunggal.
> Kiai Munding Lelean itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia
> mengambil napas yang dalam. "Baiklah. Aku memang harus menemui adikku itu,"
> desisnya. [/]: www.ceritasilatsunda.wordpress.com
>
>
>

Kirim email ke