Wah, palebah dinya mah, kuring teu bisa ngajawab he..he..he..
biasana kolot mah asak jeujeuhan, nanaon teh dipikir leleb, dibeuweung diutahkeun. Nya meureun nu matak teu mere oge aya alesannana, jeung pastina keur kahadean.

Teu kitu, nya meureun geus uga-na, yen elmu eta teh ngan samet si aki sepuh tea, teu diteruskeun.

duka ketang he..he..he..

On 05/13/2011 02:24 PM, Deni Indra Kelana wrote:
Nuhun seratannana, kahartos pisan lan panuju...
Mung anu janten kapanasaran abdi mah, naha nya para sepuh anu kacarioskeun tilas jawara kapungkurna pami diperedih elmu silatna teh sok siga anu teu purun? estuning koret kacida. Atuh tungtungna peperenian elmu silat urang teh laun-laun mah punah nyalira kumargi teu aya nu ngawarisna.
Kumaha tah Kang?
Nuhun,

------------------------------------------------------------------------
*From:* Irpan Rispandi <[email protected]>
*To:* [email protected]
*Cc:* [email protected]
*Sent:* Friday, May 13, 2011 1:23 PM
*Subject:* [kisunda] Beladiri

Kuring tulas-tulis deui yeuh, hatur lumayan. Ngan hampura make basa
Indonesia.
wilujeng maca :)

***

Seorang pemuda secara luar biasa mampu melompat dari gedung dua lantai
dengan cara bersalto dan mendarat secara empuk dengan kedua ujung
kakinya, dan hebatnya dia tidak mengalami cedera sedikitpun. Hal
berbahaya seperti ini bisa dia lakukan berkat ketekunannya belatih
Parkour. Olahraga ini berkembang cukup pesat dan banyak diminati,
terutama oleh kaum muda. Hal ini terjadi karena Parkour, memungkinkan
pelakunya untuk melakukan gerakan-gerakan 'keren', seperti yang tadi
itu, melompat dari atap gedung dua tingkat dengan selamat. Meski
demikian bukanlah ke-keren-nan yang dicari oleh seorang Traceur (sebutan
untuk atlit Parkour) sejati, namun justru lebih ke ekspresi seni.

Parkour, secara resmi didirikan tahun 1995 oleh David Belle, seorang
pria berkebangsaan Perancis, bersama beberapa orang kawannya. Meski
demikian gerakan maupun metoda latihan Parkour bukanlah 'barang baru'.
Aktifitas yang menyerupai Parkour sudah ada sejak lama, dan dipraktekan
orang di berbagai negara.

Bagi para traceur, Parkour adalah seni. Dengan ini dia bisa
mengekspresikan dirinya, menyalurkan energinya, dan mengembangkan
potensi yang dimilikinya. "L' art du deplacement" atau seni berpindah
tempat, demikianlah mereka menyebut aktifitasnya itu. Mereka bisa
bergerak dengan cepat dari satu tempat ke tempat lain, dan mengatasi
berbagai rintangan, entah itu tembok tinggi, tangga, parit lebar, celah
sempit, dsb. Kita bisa melihat aksi-aksi luar biasa para traceur lewat
video yang mereka upload ke Internet. Yang paling gampang kita bisa
melihatnya di youtube. Tinggal buka website www.youtube.com lalu masukan
kata kunci "Parkour". Hasilnya banyak sekali video-video berisi aksi
luar biasa para traceur.

Setelah kita melihat aksi mereka, kita mungkin akan merenung, bagaimana
bisa, si traceur yang tubuhnya terdiri dari daging dan tulang seperti
kita, bisa melompat dari atap gedung ke tanah tanpa cedera. Padahal
dalam keadaan normal dan bagi orang biasa, tindakan seperti itu sama
saja bunuh diri, atau kalau pun tidak sampai tewas minimal cedera berat.

Namun itulah istimewanya tubuh manusia. Meski terdiri dari tulang dan
daging, jika dilatih dengan metoda tertentu dan secara berkesinambungan,
maka sebentuk tulang dan daging ini bisa melompat tinggi, mengangkat
beban sangat berat, memecahkan benda-benda keras, bahkan menahan sayatan
benda tajam, dsb. Kunci dari pencapaian luar biasa ini terletak pada
metoda latihan dan ketekunan.

Dalam acara ulang tahun sebuah perguruan tinggi, pada salah satu segmen
acara, tampil seorang pria. Dengan berseragam sebuah perguruan Silat,
dia maju ke tengah lapangan dengan membawa kapas, lakban hitam, ikat
kepala, dan kantung kain tebal berwarna hitam. Ditengah lapangan dia
mulai beraksi. Kapas ditempelkan menutupi kedua matanya. Kemudian kapas
tersebut diikat dengan lakban hitam. Untuk memastikan bahwa dia memang
menjadi tidak bisa melihat, dia ikat lagi matanya yang telah tertutup
lakban itu dengan ikat kepala. Masih merasa kurang juga, dia menutup
kepalanya dengan kantung kain tebal yang dibawanya.

Kemudian beberapa orang yang sepertinya anggota perguruan Silat yang
sama, terlihat dari seragamnya, mulai menebarkan kartu-kartu bergambar
huruf dan angka. Yang lain ada yang memasang tiang-tiang yang terbuat
dari pipa pralon yang diberi kaki, kaleng bekas cat yang diisi semen.
Ada juga yang menyimpan buah semangka pada sebuah meja kecil. Dan yang
seorang lagi memasang beberapa bendera berwarna pada ujung atas beberapa
tiang pralon. Dan orang terakhir mengikatkan balon pada pucuk salah satu
tiang yang lebih tinggi dari tiang-tiang lainnya.

Sang pria berpenutup kepala mula-mula memberi hormat kepada para tamu,
dan kemudian para hadirin. Setelah itu, dia mulai bergerak melangkah.
Dengan dibantu kedua telapak tangannya yang dihadapkan kedepan, dia
mulai berjalan melewati berbagai rintangan. Mungkin dia menggunakan
kedua telapak tangannya itu sebagai radar. Dan memang luar biasa, si
pria bisa berjalan melewati tiang-tiang tanpa menyenggol apalagi sampai
menjatuhkannya. Aksipun berlanjut, satu-persatu kartu bergambar huruf
dan angka yang tersebar di seantero lapangan dia ambil, dan dibacanya
dengan benar. Dia pun bisa mengambil semua bendera yang dipasang di
pucuk tiang dan menyebutkan warnanya dengan tepat. Aksi berikutnya,
dengan mata tertutup rapat, dia berjalan keluar lapangan, mengambil
sebilah golok yang diselipkan pada batang sebuah pohon. Dengan menenteng
golok tersebut, dia mencari meja kecil yang diatasnya disimpan semangka.
Setelah berhasil menemukannya, dia pun membelah semangka tersebut. Dan
sebagai aksi terakhir, dia menghampiri meja panitia, disitu telah
tersedia sebuah senapan angin. Si pria tersebut mengambilnya, kemudian
dengan bantuan telapak tangannya yang diarahkan dan digerakan seperti
mencari, dia membidik ke arah balon yang diikat pada tiang tinggi.
Untunglah tiang tempat balon ini diikat cukup tinggi, sehingga kalau
sampai peluru senapan angin ini meleset, pelurunya akan terbang ke udara
terbuka dan tidak sampai mengenai penonton. Dengan mantap dia menarik
pelatuk, dan pop! balon meletus diterjang peluru senapan angin.

Aksi luar biasa ini tak pelak mendapat sambutan meriah. Semua hadirin
tepuk tangan. Si pria kembali ketengah lapangan. Sesampainya ditengah
dia pun membuka satu persatu barang-barang yang menutupi matanya tadi.
Setelah itu dia pun memberi hormat kepada semua hadirin.

Cerita diatas bukanlah adegan dalam sebuah film, namun aksi nyata yang
dilakukan oleh murid perguruan Silat Merpati Putih (MP). MP sendiri
adalah sebuah perguruan Silat yang berpusat di Jogjakarta. Setelah
melakukan latihan-latihan tertentu, seorang murid MP akan memiliki
kemampuan yang dalam istilah mereka disebut "ilmu getaran". Dengan
kemampuan ini, dia bisa menggunakan indra selain matanya untuk
"melihat". Sekilas mungkin ini terdengar mistis, namun para murid MP
mengklaim bahwa tidak ada mistis dalam latihan-latihan mereka. Mereka
bisa mencapai hal tersebut berkat teknik olah nafas.

Pada beberapa tahun yang lalu, Indonesia pernah kedatangan rombongan
biksu dari Kuil Shaolin China. Pada kesempatan tersebut, para biksu ini
memperkenalkan hasil-hasil luar biasa dari latihan olah tubuh yang telah
mereka jalani selama bertahun-tahun. Ada yang tubuhnya kebal tak mempan
ditusuk tombak, ada yang kepalanya mampu menghancurkan beton, memainkan
berbagai jenis senjata dengan indah namun sekaligus berbahaya (baca
mematikan), dll.

Sebenarnya setiap kebudayaan di seluruh permukaan bumi ini mempunyai apa
yang disebut dengan seni bela diri. Di Indonesia ada Silat, di China ada
Kung Fu, Jepang Karate, di Brazil ada Capoeira, India ada Kalaripayattu,
Rusia punya Sistema, dll. Yang kesemuanya dapat membuat orang yang
berlatih seni bela diri tersebut, bisa mencapai hal-hal atau kemampuan
diluar kemampuan orang biasa yang tidak berlatih.

Sayangnya, bagi kebanyakan orang dijaman sekarang ini, Ilmu Silat atau
Ilmu Beladiri lainya dipandang sebagai hal yang membahayakan, atau
setidaknya Silat dianggap hal yang tidak penting, masih lebih penting
kursus bahasa asing. Memang tiap orang mempunyai hobi masing-masing,
punya kecenderungan bahkan prioritas yang berbeda-beda. Sehingga dalam
hal ilmu beladiri pun kita tidak bisa mengatakan bahwa Silat itu hal
yang sangat penting.

Namun demikian, kalaupun kita tidak bisa memasukkan Silat ke daftar
hal-hal yang akan kita pelajari, setidaknya kita bisa merubah cara
pandang kita terhadap Silat, yang selama ini mungkin hanya sebatas
netral atau bahkan negatif, menjadi lebih positif. Karena Silat tidaklah
beda dengan ilmu-ilmu lainya, seperti fisika, kimia, ekonomi, dsb. Ilmu
Silat juga merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia.

Kalau ilmu matematika yang kita kenal sekarang merupakan hasil karya
para jenius dibidangnya, maka Silat pun sama. Ilmu-ilmu olah tubuh yang
dimiliki perguruan-perguruan Silat, merupakan hasil karya para jenius
dibidang ilmu Silat. Para pendekar pencipta ilmu Silat, telah melewati
berbagai hal untuk meciptakan suatu ilmu. Semua proses itu melibatkan
pengenalan mendalam tentang sifat tubuh, mekanisme gerakan tubuh, aliran
darah, pola bernafas, dan banyak lagi. Selain mengenali tubuhnya
sendiri, mereka pun berusaha mengenal dan memahami alam sekitar. Kesemua
pengetahuan itu kemudian diikat dan disusun menjadi suatu pola latihan
tubuh, baik latihan tubuh secara sendiri maupun latihan tubuh dengan
memanfaatkan bantuan alam.

Dengan ilmu kimia dan metalurgi, kita bisa merubah besi yang tadinya
regas dan mudah berkarat kalau terkena air, menjadi baja stainless yang
alot dan tahan karat. Ilmu Silat pun sama, dengan ilmu Silat, kita bisa
merubah tubuh yang rapuh sakit-sakitan menjadi lebih sehat, kuat, dan
penuh vitalitas. Malahan pada beberapa orang, kebiasaan bersilat bisa
membuat panjang umur lho. Salah satu contoh adalah Ibu Eni Rukmini, guru
besar Perguruan Silat Panglipur, yang berpusat di Garut, Jawa Barat. Di
usianya yang hampir mencapai 100 tahun, beliau masih segar bugar dan
tangkas.

Memang zaman sekarang ini bukanlah zaman "Dunia Persilatan", dimana ilmu
Silat menjadi alat dominan untuk bertahan hidup dan menyelesaikan
masalah. Namun manfaat positif dari ilmu Silat masih tetap berguna bagi
kita, karena bisa membuat tubuh kita menjadi lebih sehat. Selain itu,
kalau kita sedikit tahu caranya bela diri, seandainya kita mengalami hal
tak terduga seperti kejahatan penodongan misalnya, kita bisa lebih bisa
mempertahankan diri. Dan diatas itu semua, ilmu Silat seperti juga
ilmu-ilmu lainya, bisa menghantarkan kita pada pemahaman tentang diri
sendiri, alam sekitar, dan puncaknya, berupa kesadaran akan posisi kita
sebagai ciptaan Allah. Dengan kesadaran kita sebagai 'barang ciptaan',
kita bisa lebih baik lagi dalam menjalankan tugas yang diberikan Sang
Pencipta. Tidak ada sifat sombong, tidak ada takabbur. Yang ada hanyalah
menghamba.

Di sisi lain, jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 adalah sekitar 237,56
juta jiwa (suber: vivanews). Seandainya sepersepuluhnya saja atau
sekitar 24 juta orang adalah praktisi bela diri, syukur-syukur mencapai
tataran Pendekar. Tidakkah itu menjadi aset besar bagi pertahanan
Negara. Pada film berjudul "300", ada satu adegan dimana raja Leonidas
membandingkan susunan tentaranya dengan tentara negara sekutunya.
Tentara negara sekutu tersusun oleh berbagai orang dengan berbagai
profesi. Ada yang pemahat, petani, dsb. Mendengar itu, raja Leonidas
dengan percaya diri bertanya pada para tentaranya yang hanya 300 orang
itu: "Spartan! what is your profession?", pertanyaan ini disambut dengan
pekik serentak "AHU!!!", suatu seruan yang menandakan bahwa mereka,
meski hanya 300 orang, namun terdiri dari orang-orang yang terlatih. Dan
terbukti, di celah sempit Thermopylae, 300 orang ini mampu menahan
gelombang-demi gelombang serangan tentara Persia. Meski kemudian harus
hancur karena pengkhianatan Ephialtes.

Memang kita mempunyai TNI, dan saat ini jumlahnya sekitar kurang lebih
500.000 yang aktif. Meski demikian, tidakkah lebih baik jika Indonesia,
penduduknya itu bukan orang-orang yang lemah. Dengan demikian rasa
bangga kita menjadi Bangsa Indonesia, bisa memancar lebih terang,
setelah selama ini redup bahkan mungkin padam di dada kita.

Sekarang kita tahu, betapa banyak hal-hal bermanfaat yang bisa terjadi
jika kita belajar ilmu Silat (atau bela diri lainnya).Gimana, mulai
berubah pikiran? :)

Segera hubungi perguruan-perguruan Silat terdekat.




Kirim email ke