Dipublikasikan pada *Radio Netherlands Worldwide * (http://www.rnw.nl)

------------------------------
Tionghoa Indonesia di Belanda: Dari Diundang sampai Ilegal
Oleh *Joss Wibisono*
Dibuat *16 Mei 2011 11:26*
 [image: image/jpeg
icon]tariancina.jpg<http://cdn.radionetherlands.nl/data/files/images/lead/article/2011/05/tariancina.jpg>

*Pada awal 1970an, Belanda begitu parah kekurangan dokter gigi dan dokter
umum. Waktu itu banyak dokter gigi Indonesia mendapat tawaran melamar
pekerjaan di Belanda. Kebanyakan yang melamar adalah dokter gigi keturunan
Tionghoa asal Indonesia.*

Itulah gelombang lain kedatangan orang Tionghoa Indonesia ke Belanda.
Sesudah tahun itu Belanda makin susah didatangi, sehingga tidak sedikit
orang Tionghoa yang secara ilegal masuk Belanda. Berikut bincang-bincang bagian
terakhir<http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/gelombang-emigrasi-tionghoa-indonesia-ke-belanda>
[1] dengan dokter The Gwan Tjaij, salah seorang penulis buku *Indonesische
Chinezen in Nederland*, Tionghoa Indonesia di Belanda.

*Gigi anak-anak*
Sampai tahun 1975 integrasi orang Tionghoa asal Indonesia di Belanda
berlangsung lancar, karena mereka kebanyakan berpendidikan tinggi, tingkat
akademis. Jadi mereka cukup cepat menguasai bahasa Belanda. Biasanya karena
bekerja, perempuan atau laki-laki, dalam dua sampai tiga tahun sudah fasih
berbahasa Belanda. Yang di rumah mengurusi anak biasanya memang kurang.

Di sini, The Gwan Tjaij mengemukakan satu detil yang menarik. "Permulaan
tahun 1970an," tuturnya, "Negeri Belanda kekurangan dokter dan dokter gigi."
Di lain pihak, pendidikan dokter dan dokter gigi Indonesia pada waktu itu
dinilai cukup tinggi oleh pemerintah Belanda. Akibatnya lulusan Indonesia
dengan cukup gampang bisa datang ke Belanda, sebagai dokter. Salah satunya
adalah The Gwan Tjaij sendiri.

Pada awal tahun 1970an, kira-kira 160 orang dokter gigi datang ke Belanda
untuk melamar dan dipekerjakan di *school tandarts verzorging*, pendidikan
mengurusi gigi anak-anak sekolah. Dari tahun 1970an itu, sampai 1998,
kira-kira terdapat 300-400 dokter gigi dan kira-kira 600 orang dokter umum
yang berdatangan dari Indonesia ke Belanda.

Kepada Radio Nederland, The Gwan Tjaij membenarkan bahwa kebanyakan tenaga
medis yang datang ke Belanda itu adalah orang Tionghoa Indonesia.
Menurutnya, pendidikan dokter gigi di Indonesia memang banyak mahasiswa
Tionghoanya. Itu pertama. Kedua, tentu saja untuk ke mari butuh uang. Tetapi
tidak semuanya. Dokter The melihat seperempatnya orang Indonesia suku lain.

*Tidak jelas*
Dokter The sendiri datang ke Belanda tidak bersama kelompok ini.
Pertama-tama, dengan berterus terang, ia mengaku suka petualangan. Ia ingin
melihat dunia. Tambahnya lagi, "Saya ke sini bukan karena peristiwa G30S,
waktu itu saya bekerja di Angkatan Laut, jadi tidak ada problim sama sekali
soal itu." Masalahnya, di sini The Gwan Tjaij berubah nada bicara, menjadi
pelan-pelan. "Waktu saya melamar untuk spesialisasi bedah, tidak diterima.
Alasannya tidak jelas, tapi saya rasa ya juga berlatar belakang etnis."

The Gwan Tjaij sudah lulus kedokteran dari Universitas Airlangga, Surabaya.
Dia datang ke Belanda tahun 1971. Bagaimana ceritanya, selain petualangan
itu? "Sebetulnya setelah wajib militer selama tiga tahun, saya bekerja di
missi di Flores juga selama tiga tahun, sebagai dokter. Saya merasa sangat
berterima kasih kepada Universitas Airlangga, almamater saya, karena telah
mendidik saya menjadi dokter yang bermutu." Di sini The Gwan Tjaij merasa
harus berbagi kemampuan. Ia ingin spesialisasi bedah tapi tidak diterima di
Surabaya, karena itu dia melihat-lihat lowongan di luar negeri. Dan karena
fasih berbahasa Belanda, nomer satu tentu dia ingat Negeri Belanda.

Pada zaman penjajahan dulu, memang banyak keluarga Tionghoa yang bertegur
sapa dalam bahasa Belanda di rumah. Menarik untuk mengetahui bagaimana The
Gwan Tjaij bisa fasih berbahasa Belanda. Apakah karena keluarganya berbahasa
Belanda di rumah? Dokter The menyangkal. Yang benar karena ayahnya guru
bahasa Jerman. "Jadi saya diharuskan waktu masih kecil belajar bahasa
Belanda dan bahasa Jerman, terpaksa ini sebetulnya," tuturnya polos.

Di Semarang, kota asalnya, The Gwan Tjaij pertama-tama masuk sekolah Chung
hwa hwe. Kemudian sekolah Karang Turi, yang di Jawa Tengah dikenal sebagai
sekolah Gao. Tetapi ayahnya menjadi guru di SMA negeri, bukan di Karang
Turi. Sebagai guru bahasa Jerman, ia juga fasih berbahasa Belanda. The
mengenang masa kecilnya, "Ayah saya punya banyak banget buku bahasa Belanda.
Jadi saya ingin sekali membacanya, oleh karena itu dengan sendirinya bisa
bahasa Belanda."

Adakah ini berarti dokter The tidak mendapat pelajaran bahasa Belanda secara
khusus dari ayahnnya? "Tidak," tuturnya, "Tapi kalau keliru bicaranya
langsung dikritik, dapat tuntutan dari bapak." Dengan latar belakang ini
maka pilihan Belanda sebagai negara tujuannya untuk merantau merupakan
sesuatu yang normal saja?

*Klinik nyeri*
Setibanya di Belanda pada tahun 1971, The Gwan Tjaij menjalani pendidikan
spesialisasi di Amsterdam, pada profesor Buruma. Ia merasa beruntung sekali,
karena profesor Buruma ini adalah salah satu guru besar paling terkenal
waktu itu dan dia banyak berhubungan dengan Indonesia. "Umpamanya *hyper
pression tank* yang sekarang masih ada pada Angkatan Laut di Surabaya, itu
adalah ciptaan dia," tutur The dengan bangga. Dan salah satu murid Buruma,
profesor Ludin sangat disenangi. Jadi waktu melamar, The Gwan Tjaij langsung
diterima. Karena dia sudah tahu kualitasnya.

Pendidikan spesialisasi itu dijalaninya selama enam tahun, sampai tahun
1977. "Itu normal sebagai ahli bedah," tuturnya. "Setelah lulus sebagai ahli
bedah umum, saya masih meneruskan sebagai ahli bedah vaskular, pembuluh
darah dan juga paru-paru". Ia butuh waktu dua tahun lagi. Zaman itu masih
belum pendidikan formal, sekarang sudah formal.

"Jadi saya ikut latihan di dalam rumah sakit. Karena saya tahun 1977 sampai
1982 masih menjadi staf Wilhelmina Gasthuis, pada waktu itu kami
memperkembangkan bedah transplantasi, bedah vaskular dan bedah paru," The
Gwan Tjaij menjelaskan. Buruma itu adalah satu pionir dalam bidang operasi
jantung. Untuk bidang bedah vaskular, pembunuh darah, The berguru pada
profesor Van Dongen, seorang pionir dalam bidang vaskular. "Jadi itu
keberuntungan saya," tuturnya dengan bangga. Sesudah itu dia pindah ke
wilayah pinggiran, menjadi ahli bedah di kota kecil Bussum, dekat Hilversum,
tepatnya di Majella Ziekenhuis. Karena fusi, rumah sakit itu sekarang
menjadi besar, dan kemudian berkembang. Sejak tahun 2005 dia sudah menjalani
pensiun.

Walau demikian The Gwan Tjaij tidak benar-benar meninggalkan dunia medis. Ia
masih aktif sebagai wakil ketua perkumpulan dokter-dokter akupuntur Negeri
Belanda. Sebetulnya akupuntur ini sudah mulai diperkenalkan tahun 1992.
"Dalam RS kami punya apa yang disebut *pain clinic*, yaitu poliklinik untuk
nyeri, dan salah satu cara yang dipakai untuk mengatasi nyeri itu adalah
akupuntur." Dari ahli bedah pembuluh darah, dokter The Gwan Tjaij sekarang
bergeser menjadi ahli akupuntur

*Pelecehan dan penjarahan*
Salah satu perkumpulan yang juga aktif digelutinya adalah Akui. Waktu itu,
tahun 1998, Yayasan ini mengurusi orang-orang Tionghoa dari Indonesia yang
terus datang ke Belanda. The menjelaskan, yayasan itu sampai sekarang
sebetulnya masih ada, tapi tidak punya aktivitas lagi, maklum sudah tidak
ada korban-korban lagi. Memang waktu itu ada beberapa orang Tionghoa dari
Indonesia yang datang ke Belanda, yang diurusinya bersama beberapa teman
lain yang aktif dalam Akui.

Walau demikian, tetap jelas sampai akhir zaman orde baru itu gelombang
kedatangan orang Tionghoa ke Belanda terus berlanjut. The Gwan Tjaij
menjelaskan duduk perkaranya. Sebetulnya, kalau mulai dari pasca G30S, zaman
Soeharto, ada gelombang-gelombang datang ke mari, di sebabkan oleh pelecehan
dan penjarahan terhadap etnis Tionghoa. Misalnya waktu pecah Malari tahun
1974. Ini berarti selalu ada gelombang orang Tionghoa berdatangan ke
Belanda. Tapi tidak banyak. Karena setelah tahun 1975 masuk negeri Belanda,
itu dipersulit oleh pemerintah Belanda.

Tahun 1998 ada beberapa orang Tionghoa datang sebagai pengungsi. Dan ini
bisa dikatakan sebagai gelombang terakhir. Setelah tahun 2000, sampai
sekarang, itu banyak yang masuk sebagai pembantu rumah tangga. "Pembantu
yang ilegal sebetulnya," The Gwan Tjaij berterus terang. Tapi, dia
menambahkan, ini bukan cuma orang Tionghoa, tapi juga banyak orang Indonesia
lain.

Pembedaan Tionghoa dan non-Tionghoa di Indonesia sekarang sudah tidak lagi.
"Di Belanda juga tidak, sudah lama tidak," tegas The Gwan Tjaij. Kalau
begitu bagaimana dia bisa membedakan mereka yang legal dari yang ilegal?
"Kalangan ilegal ini," demikian dokter The, "datang ke gereja-gereja kami.
Kami membantu dan memberi pembinaan dan kadang-kadang memberi perawatan
kalau ada sakit, soalnya mereka tidak punya asuransi. Pokoknya kita
tampunglah dan coba memberi jalan." Selain itu, juga diadakan coaching.
Akhir-akhir ini banyak instansi Belanda bergabung dalam LOS, *Landelijk
Ongedocumenteerd Steunpunt*, organisasi bersama ini membantu kalangan
ilegal. Kata bahasa Belanda *ongedocumenteerd *berarti tanpa surat-surat.
Tentu saja ini bukan melulu orang Indonesia.

*Sering terjadi*
Selain itu, kelompok juga memberi mereka pengetahuan dan pemahaman tentang
hak-hak kalangan tidak punya surat-surat ini. Sebab biarpun tidak punya
dokumen resmi, mereka tetap punya hak. Malah di Belanda kalangan yang tidak
punya surat tetap bisa menjadi anggota organisasi buruh. The Gwan Tjaij di
lain pihak juga ketua perkumpulan beberapa gereja kalangan pendatang di
Belanda, mereka bersatu dalam apa yang disebut SKIN, *Samen Kerk in
Nederland*, gereja bersama di Belanda. SKIN mengeluarkan protokol tentang
penjualan dan penyelundupan manusia, untuk membantu gereja-gereja menangani
masalah ini.

Dengan hak yang dijamin dan prasarana yang ada, apakah itu justru tidak
mengundang orang untuk datang ke Belanda secara ilegal? The Gwan Tjaij
segera membantahnya, "bukan itu tujuan kami". Kalangan ilegal ini sudah ada
di Belanda, bukankah lebih baik membantu mereka? Dokter The berlanjut,
"Bantuan yang diulurkan bukan saja memberi tempat penampungan, tapi juga
memberi jalan untuk kembali ke Indonesia." Kembali ke Indonesia biasanya
diurus oleh IOM,* International Organisation for Migration* (Organisasi
Migrasi Internasional) dan IND, yaitu polisi orang asing Belanda. Melalui
keduanya, kembali ke Indonesia bisa diatur dengan baik. "Ini sudah sering
terjadi," tegas The Gwan Tjaij.

   - [image: image/jpeg icon]Menonton tarian
Barongsai<http://cdn.radionetherlands.nl/data/files/images/image/article/2011/05/barongsai.jpg>
   - [image: image/jpeg icon]Sampul depan buku "Indonesische Chinezen in
   
Nederland"<http://cdn.radionetherlands.nl/data/files/images/image/article/2011/05/chinezen_cover_0.jpg>

 ------------------------------
*URL sumber:*
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/tionghoa-indonesia-di-belanda-dari-diundang-sampai-ilegal
 *Links:*
[1]
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/gelombang-emigrasi-tionghoa-indonesia-ke-belanda
 *Images:*
[i1]
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/lead/article/2011/05/tariancina.jpg
[i2] Menonton tarian Barongsai --
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/image/article/2011/05/barongsai.jpg
[i3] Sampul depan buku "Indonesische Chinezen in Nederland" --
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/image/article/2011/05/chinezen_cover_0.jpg

Kirim email ke