Selalu senang dengan tulisan Bang Ucok yg lugas n' logis. Welcome back Bang :).
Memang begitulah keadaan di desa saat ini :((. Daya dukung lingkungan yg semakin buruk, biaya hidup yg semakin tinggi, sementara pendapatan segitu-2 aja, ujung-2nya bandar tekor :(. Seiring jaman materialistis yg bablas makin nambah rumit karena tumbuh spirit baru biar tekor asal kesohor. Sawah digadaikan utk beli motor anak sma-nya, kalo ngak dibeliin ngancam putus sekolah karena malu semua teman-2nya punya motor, sudah dibeliin anaknya ikut-2an Geng Motor. Begitu lulus gengsi kerja di sawah, ujung-2nya jadi tukang ojeg :(. Kalau di daerah terlihat yg cukup mapan itu PNS. Itupun SK sudah digadaikan utk kredit konsumtif :((. Oleh karena itu tidak lah mengherankan di kampung Mang Kabayan saja SEENG NENEK dari tembaga ada yg nyuri 2 dari pawon/dapur :((. Karena seumur hidupnya ngak pernah ngunci pintu. Seeng ~alat utk menanak nasi. Padahal dulu kampung mang kabayan paling aman sedunia. Belum lagi narkoba yg juga sudah masuk desa :(. Semoga Nu Kawasa memberkati kita semua. Amiiin Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: "Irwan Tampubolon" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 10 Jun 2011 11:43:41 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [Senyum-ITB] Re: Si Empur Temanku Welcome back oom Rachmad. Skenario yang diajukan Empur adalah fantasi. Tidak heran dia merantau ke Jakarta (kita juga :-). Kalau panen sukses, mungkin nilai padi/gabah bisa Rp 15juta. Tapi input benih, pupuk, pestisida, buruh, sewa traktor dll pasti lebih dari itu. (akibat tata niaga dihulu). Pengamatan saya, pertanian padi hampir pasti tekor, kecuali jika kembali ke pola jadul: kerja keluarga dan organik. Dan konsumen padi adalah orang sekitar (menghindari rantai panjang distribusi yg isinya tikus semua). Hakikat masalah adalah pola hidup orang (desa) jaman sekarang. Mereka tua-muda sudah berubah dari pengusaha agrobisnis mini (siklus 6 bulan), menjadi buruh harian. Kerja hari ini, dapat hari ini. Yang kedua, konsumsi mereka sudah besar pasak dari tiang. Anak SD harus punya uang jajan, anak SMP harus punya HP, anak SMA harus naik motor dan beli bensin. Ortu mereka harus membelanjakan "future income" yang tentunya masih berupa mimpi. Besar kemungkinan mimpi itu meleset, lalu menjadi sengketa dengan pemilik uang. Alasan rasional menghubungi pak Rachmad adalah krn anda tidak akan menggunakan kekerasan jika terjadi sengketa. Di pantura cukup banyak pemodal (kapitalis) tradisional. Tapi mereka mengelola credit risk dengan cara2 kejam. Lalu bagaimana solusinya? Menurut saya (konseptual) suatu wilayah, misal kabupaten, harus punya mekanisme yang secara sistemik menggiring ekonomi masyarakat kepada ekonomi lokal. Artinya produksi lokal dikonsumsi lokal vv. Kita tau begitulah caranya supaya wilayah (begitu juga negara) bertumbuh secara berkelanjutan. Lawannya adalah penghisapan berkelanjutan, transfer kekayaan (wealth) dari orang miskin ke orang kaya. Orang Papua yang makan beras (tanpa tanam padi) adalah contoh gamblang dari Net Deficit semacam itu. Prakteknya bagaimana? Nah disini saya belum punya gambaran pasti. Yang jelas wilayah itu harus punya tokoh visioner, yang merumuskan langkah konkritnya. Kalau dia ada di Pemda, instrumennya tentu Perda. Kalau dia pengusaha, instrumennya teknologi produksi. Misalnya utk pak Rachmad (pengusaha property): mengapa di pulau yang jauh dari pabrik semen orang menggunakan conblock, genteng beton, jalan beton, batako, bata-ringan, dll yang sudah pasti biaya energinya akan naik terus ? Irwan Tampubolon. --- In [email protected], Rachmad M <rachmadm@...> wrote: > > > > Empur adalah nama seorang tukang loak yang biasa berkeliling diseputaran > Cilandak. Dia sering mampir ke rumah saya. Mungkin sudah lebih dari 20 tahun > hidupnya begitu-begitu saja. > > Awalnya saya pikir ia tukang pulung, segera saja ia protes dan menjelaskan > duduk > > persoalannya. Tukang pulung berbeda dengan tukang loak. Tukang loak punya > modal > untuk membeli barang bekas, sementara tukang pulung hanya mengambil saja > barang > yang tidak terpakai. Meskipun sekilas sama-sama menarik gerobak :-) > > Beberapa tahun yang lalu, saya jalan-jalan ke Rangkas Dengklok, terus > menyusuri > sungai Citarum sampai Muara Gembong. Ketika hal ini saya ceritakan pada si > Empur, bukan main girangnya dia. Dia mengundang saya menghadiri pernikahan > anaknya yang masih belia dikampungnya di daerah Rangkas Dengklok dan kami > hadiri itu. > > Berulang kali si Empur menyarankan saya untuk mengambil gadai tanah > persawahan > disana yang memang lumbung padi. Caranya adalah penduduk sana akan > menggadaikan > tanah 1 ha seharga sekitar 100 juta rupiah. > > Misal untuk periode 1 tahun atau dua musim. dari tanah 1 ha itu akan > menghasilkan padi sekitar 15 juta rupiah sekali panen atau 30 juta rupiah dua > kali panen. Dari haril itu akan dibagi dua, 15 juta untuk yang punya tanah > gadai > > dan 15 juta untuk yang memegang gadai. > > Seandainya setahun kemudian, pemilik tanah tidak mampu mengembalikan yang 100 > juta, maka tanah itu bisa menjadi milik saya yang harganya berkisar 100 > sampai > 250 juta tergantung lokasinya. > > Tapi umumnya mereka bisa mengembalikan, karena tahun depan dia akan mencari > orang yang mau terima gadai lagi dengan harga yang sudah naik misalnya jadi > 125 > juta. 100 kembali ke saya 25 juta jadi keuntungannya. > > Berulang kali saya tolak konsep itu. Saya katakan bahwa saya bekerja > memberikan > layanan dibidang properti, apakah itu perkantoran, perhotelan, mal, apatement > dsbnya sementara istri juga kerja dibidang perminyakan dan energi dan > sebentar > lagi anak saya juga akan memberikan layanan barang atau jasa dibidangnya. > > Jadi sebaiknya kalian fokus saja memberikan layanan di bidang pangan, entoh > kami-kami ini juga perlu beras. Jangan saya kamu paksa mengambil hak kalian > orang desa. > > Tapi apa lacur, seluruh tanah didesa menurut dia sudah digadaikan ke orang > Jakarta dan dia akan merasa nyaman kalau saya saja yang ambil gadainya. > > Saya pikir harus ada solusi untuk mengentaskan masyarakyat pedesaan dari > jerat-jerat pemodal. > > Dan cilakanya ternyata pola ini juga terbawa dalam pengelollan negara ini :-( > > Salam > > RM SI79 >
