Maaf, apakah buku ini dijual kepada publik dan bisa ditemukan di toko-toko buku? Nuhun pisan. Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
-----Original Message----- From: Ki Hasan <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 15 Jun 2011 05:40:43 To: Ki Sunda<[email protected]> Reply-To: [email protected] Cc: Baraya Sunda<[email protected]> Subject: [kisunda] Buku - Tepian Tanah Air Wanadri Luncurkan Buku “Tepian Tanah Air” Selasa, 14/06/2011 - 22:03 JAKARTA, (PRLM).- Mayoritas jejeran pulau-pulau dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia bukanlah warisan dari batas wilayah yang dibuat pemerintah kolonial Belanda. Ribuan pulau di Indonesia bahkan tidak dikenal dan belum pernah ditemukan Belanda. Pulau-pulau tersebut justru dipertemukan oleh prinsip-prinsip negara kelautan yang tercantum dalam Deklarasi Djuanda. Koordinator Penasihat Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara, Sarwono Kusumaatmadja mengatakan itu dalam peluncuran buku kedua hasil laporan ekspedisi yang bertajuk "Tepian Tanah Air" di Galeri Nasional, Jln. Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Selasa (14/6) malam. Deklarasi Djuanda menandakan pernyataan Bangsa Indonesia tentang wilayah kedaulatannya yang terdiri atas semua pulau-pulau dan perairan yang berada di sebelah dalam garis pangkal kepulauan Indonesia. Namun, dalam perjalanan Indonesia merdekan, keberadaan pulau-pulau terdepan Indonesia itu selama ini kerap terabaikan bahkan luput dari dokumentasi. Atas dasar itulah, Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara yang diinisiasi perhimpunan Wanadri dan berbasis di Bandung itu melakukan perjalanan ke pulau-pulau terdepan Indonesia dan dituangkan secara tertulis dalam bentuk buku. Hari Selasa (14/6) malam, mereka meluncurkan buku keduanya yang berisi laporan perjalanan menyusuri 92 pulau terdepan di wilayah tengah Indonesia yang berlangsung sejak 27 Mei 2009 hingga 17 Agustus 2009. Secara keseluruhan, ekspedisi di wilayah tengah ini menempuh jarak perjalanan 9.181 kilometer selama 81 hari. Tim berhasil mengunjungi 24 pulau terdepan yang menjadi titik batas NKRI di enam provinsi, yaitu Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Dari 24 pulau tersebut, 12 di antaranya tidak berpenghuni. Keistimewaan ekspedisi garis depan wilayah tengah adalah karena daerah ini dikenal sebagai tempat garis Wallacea atau garis imajiner yang membedakan keanekaragaman hayati di wilayah Indonesia Barat dan Timur. Di wilayah tersebut, tim menemukan beragam jenis flora dan fauna yang masih belum tercatat dalam laporan penelitian biologi. (A-156/a-26).*** http://www.pikiran-rakyat.com/node/148618
