Intisari Khutbah Shalat Gerhana 16 Juni 2011: Antara Mitos, Aqidah Islam,
dan Sains
Posted on 15 Juni 2011 by tdjamaluddin

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika LAPAN

<http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2011/06/image003.jpg>

*Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam
dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya
Tuhan Kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau,
maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran:190-191).*

*Jamaah Rahimakumullah,*

Hanya ulil albaab (orang-orang yang berfikir dengan iman) yang mau merenungi
makna gerhana dan mengambil hikmahnya. Gerhana kadang tampak menakutkan.
Secara perlahan bulan menjadi gelap sebagian, lalu selama beberapa saat
bulan berada pada fase gelap total, dan kemudian secara perlahan purnama
kembali pada wujudnya yang cemerlang. Seolah  bulan “dimakan” sesuatu yang
luar biasa. Malam terang bulan tiba-tiba gelap.  Muncullah berbagai mitos di
berbagai masyarakat. Sebagian masyarakat ada yang percaya dengan mitos bahwa
saat gerhana bulan dimakan raksasa sehingga orang-orang memukul berbagai
benda untuk mengusir raksasa itu. Dan itu dianggap berhasil ketika bulan
kembali benderang.

Sebagian masyarakat percaya juga dengan mitos yang mengaitkan gerhana dengan
pertanda buruk tertentu. Pada zaman Rasululah SAW, mitos itu pun terekam di
dalam beberapa hadits. Saat putra Rasululah SAW, Ibrahim, wafat terjadi
gerhana sebagian di wilayah Madinah. Orang-orang ada yang mengaitkan
kematian Ibrahim dengan kejadian gerhana. Namun Rasulullah SAW membantahnya
dan mengajarkan nilai-nilai tauhid untuk menyikapinya. Kalau pun ada
ketakutan yang muncul, takutlah kepada Allah yang menciptakan gerhana, bukan
takut kepada gerhananya atau mitos-mitos yang tak jelas logikanya.

Di dalam hadits Abû Burdah dari Abû Mûsâ *Radhiyallâhu ‘anhu*, dikisahkan
peristiwa gerhana di Madinah:

“Ketika terjadi gerhana matahari, Nabi *SAW* langsung berdiri terkejut dan
merasa ketakutan kiamat akan datang. Beliau pergi ke masjid dan melakukan
sholat yang panjang berdiri, ruku’, dan sujudnya. Setelah itu Nabi bersabda,
“Gerhana ini adalah tanda-tanda dari Allah, bukan disebabkan karena kematian
atau kelahiran seseorang. Namun gerhana ini terjadi supaya Allah menakuti
hamba-hamba-Nya. Apabila kalian melihat sesuatu dari gerhana, maka takutlah
dan bersegeralah berdzikir kepada Allah, berdoa, dan memohon ampunan-Nya.” (
*Muttafaq ‘Alaihi*)

*Jamaah Rahimakumulah,*

Ya, gerhana hanyalah salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Dengan
sains, kita bisa lebih banyak mempelajari ayat-ayat-Nya di alam ini. Gerhana
memberi banyak bukti bahwa alam ini ada yang mengaturnya. Allah yang
mengatur peredaran benda-benda langit sedemikian teraturnya sehingga
keteraturan tersebut bisa diformulasikan untuk prakiraan.

*Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus
menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah menundukkan bagimu malam dan
siang. (QS Ibrahim:33)*

Matahari dan bulan beredar pada orbitnya masing-masing, bagaimana bisa
menyebabkan gerhana? Pada awalnya orang-orang menganggap bumi diam, bulan
dan matahari yang mengitari bumi dalam konsep geosentris. Kemudian
berkembang pemahaman matahari yang diam sebagai pusat alam semesta,
benda-benda langit yang mengitarinya, dalam konsep heliosentris. Bulan dan
matahari juga dianggap  punya cahayanya masing-masing. Tetapi Al-Quran
memberi isyarat, bahwa walau terlihat sama bercahaya, sesungguhnya bulan dan
matahari berbeda sifat cahayanya dan gerakannya.

*Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan
ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu,
supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak
menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan
tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS
Yunus:5).*

Ayat ini bukan hanya mengungkapkan perbedaan sifat cahaya bulan dan
matahari, tetapi juga perbedaan geraknya. Perbedaan orbitlah yang
menyebabkan matahari tampak tidak berubah bentuknya, sedangkan bulan
berubah-ubah bentuknya sebagai perwujudan perubahan tempat kedudukannya
(manzilah-manzilah) dalam sistem bumi-bulan-matahari. Kini sains bisa
mengungkapkan sifat gerak dan sumber cahaya bulan dan matahari.

Gerak harian bulan dan matahari, terbit di Timur dan terbenam di Barat,
hanya merupakan gerak semu. Karena sesungguhnya bumilah yang bergerak. Bumi
berputar pada porosnya sekali dalam sehari sehingga siang dan malam silih
berganti dan benda-benda langit pun tampak terbit dan terbenam, seperti
hanya bulan dan matahari. Sesungguhnya gerak yang terjadi bukan hanya bumi
yang berputar pada porosnya, tetapi juga bulan dan matahari beredar pada
orbitnya. Bulan mengorbit bumi, sementara bumi mengorbit matahari, dan
matahari pun tidak diam, tetapi bergerak juga mengorbit pusat galaksi.
Cahaya matahari berasal dari reaksi nuklir di intinya, sedangkan bulan
berasal dari pantulan cahaya matahari. Efek gabungan sudut datang cahaya
matahari dan sudut tampak dari permukaan bumi menyebabkan bulan tidak selalu
tampak bulat, tetapi berubah-ubah dari bentuk sabit ke purnama yang bulat,
dan kembali lagi ke sabit tipis seperti pelepah kering.

×

*Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam, Kami
tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam
kegelapan. Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah
ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. Dan telah Kami tetapkan
bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang
terakhir) kembalilah ia seperti bentuk pelepah yang tua. Tidaklah mungkin
bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang,
dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS Yaasiin: 37-40).***

Walau tampak matahari dan bulan berjalan pada jalur yang sama, tidak mungkin
keduanya bertabrakan atau saling mendekat secara fisik, karena orbitnya
memang berbeda. Perjumaan bulan dan matahari saat gerhana matahari hanyalah
ketampakkannya, ketika matahari tampak terhalang oleh bulan yang berada di
antara matahari dan bumi. Dan pada saat gerhana bulan, bulan dan matahari
berada pada posisi yang berseberangan sehingga cahaya matahari yang mestiny
mengenai bulan, terhalang oleh bumi. Bulan purnama menjadi gelap karena
bayangan bumi.

*Jamaah Rahimakumulah,*

Bentuk sabit bulan selama perubahan manzilah-manzilah (fase-fase) bulan
menunjukkan bahwa bulan itu berbentuk bulat. Lengkungan sabit dibentuk oleh
lengkungan bulan yang berbentuk seperti bola. Lalu mengapa pada saat gerhana
bulan terlihat juga bentuk lengkungan selama proses gerhana sebagian?
Lengkungan kegelapan gerhana itu menjadi bukti bahwa bumi kita juga bulat.
Karena sesungguhnya pada saat terjadi gerhana bulan, bayangan bumilah yang
menutupi permukaan bulan. Lengkungan pada saat gerhana tidak terlalu
melengkung karena lingkaran bayangan bumi di bulan beberapa kali lebih besar
dari lingkaran piringan bulan.

Banyak aspek bisa kita pelajari dari gerhana bulan. Tingkat kegelapan saat
gerhana bulan juga menjadi indikator kualitas atmosfer yang bayangannya
tampak pada peralihan terangnya purnama dan gelapnya bayangan bumi. Bila
cahayanya jernih putih kekuningan dan batas antara gelap dan terang terlihat
sangat nyata, itu mengindikasikan atmosfer bumi relatif bersih dari debu.
Namun bila ada debu letusan gunung berapi yang cukup tebal, maka pada proses
gerhana sebagian akan tampak warnanya kemerahan sampai hitam dengan batas
gelap-terang yang baur.

Sains menjelaskan fenomena yang sesungguhnya. Sains menghilangkan mitos dan
meneguhkan keyakinan akan kekuasaan Allah. Gerhana kita ambil hikmahnya,
bahwa Allah menunjukkan kebesaran-Nya dan kekuasaan-Nya dengan fenomena itu.
Keteraturan yang luar biasa yang Allah ciptakan memungkinkan manusia
menghitung peredaran bulan untuk digunakan dalam perhitungan waktu dan
digunakan untuk memprakirakan gerhana. Mari kita buktikan bahwa gerhana
malam ini akan bermula pukul 01.23 dan akan berakhir pukul 05.02 WIB. Proses
gerhana total akan berlangung dari pukul 02.22 – 04.03 WIB. Ketika kita
menyaksikan kebenaran prakiraan sains, bukan kebanggaan intelektual yang
kita tunjukkan melainkan ungkapan:

*Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci
Engkau (dari segala kekurangan), maka (ampunilah segala kesalahan
penjelahahn intelektual kami dan) peliharalah Kami dari siksa neraka.*

*Jamaah Rahimakumulah,*

Setelah kita melaksanakan shalat gerhana dan merenungi hikmah di balik itu,
marilah kita akhiri khutbah ini dengan mohon ampunan dan mohon kekuatan
untuk menjejaki kehidupan kita selanjutnya.

…. (Doa)

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/06/15/intisari-khutbah-shalat-gerhana-antara-mitos-aqidah-islam-dan-sains/

Kirim email ke