Wilujeng mudik ka kang Zen. Biasa dinu panas ayeuna di tempat tiis, haneutan ku bandrek geura he..he..he..

kopas ti milis tatangga:

Pengalaman pahit di bandara Soekarno Hatta Cengkareng
Jumat, 01 Juli 2011

Saya hendak melakukan perjalanan penerbangan dari Jakarta ke Kuala Lumpur . 
Saya datang di bandara Soekarno Hatta pukul  5 Pm  WIB, pesawat yang akan saya 
tumpangi akan terbang dari Jakarta ke Kuala lumpur  pada pukul  7 Pm  WIB. 
Sadar waktu hanya tinggal 2 jam, saya segera melakukan Check in di konter Air 
Asia, setelah check in waktu menunjukkan 6 Pm WIB (berarti saya masih punya 
kesempatan satu jam lagi untuk boarding pass),  segeralah saya hendak  
melakukan boarding pass.
sebelum sampai pada gate boarding pass,  semua calon penumpang tujuan  luar 
negeri  tidak boleh tidak harus melalui border imigrasi untuk melakukan cop 
passport tanda melakukan perjalanan keluar Negara. Diborder imigrasi inilah 
pengalaman tidak menyenangkan itu bermula.  pertama tama petugas imigrasi 
bertanya kepada saya, “Hendak kemana pergi?” saya menjawab,  “ ke Brunei”. 
Kemudian dia Tanya lagi, “di brunei Ngapain?”,  saya jawab dengan polos, 
“kerja”. dia nanya lagi, “di brunei kerja apaan?”, agak geram juga saya  di 
interogasi seperti ini, saya jawab “ ngapain sih nanya nanya  gini segala?” 
merasa bersalah juga, petugas imigrasi itu meminta maaf kemudian dia 
menjelaskan. “sejak kasus di pancungnya Ruyati, TKI di arab Saudi itu, 
pemerintah memberi aturan kepada semua WNI yang kerja di luar negeri harus 
memegang KTKLN (kartu tenaga kerja luar negeri)” kemudian petugas imigrasi itu 
menunjukkan dimana saya harus mengurus kartu itu. Dengan kepala tertunduk 
karena malu saya berangsur, karena semua antrean di belakang menatap saya.
Sampai di tempat yang ditunjukkan oleh petugas imigrasi itu, saya bertanya 
kepada petugas sebuah counter yang di atasnya bertuliskan (Validasi KTKLN). 
“Pak mau mengurus KTKLN”  petugas counter itu menjawab “oh disana pak 
tempatnya, disini hanya validasi aja” , saya bertanya lagi, “bayar berapa pak?” 
 petugas itu menjawab “ oh enggak pak, gak bayar, gratis”. saya bertanya lagi 
meminta arah secara jelas tempat dimana kartu brengsek itu meski di buat. 
Petugas counter itu kemudian memberikan kepada saya kertas kecil berupa catatan 
arah tempat mebuat KTKLN itu. Tepatnya adalah lantai basement disamping pintu 
masuk D1 ada tangga kebawah kemudian ke kanan di depan bakso AFUNG  bandara 
internasional soekarno hatta.
Sadar waktu tak lama lagi, dengan langkah seribu saya menuju ke tempat itu. 
Namun harapan saya hendak selesainya kemelut ini dengan segera, jadi sirna 
seketika dan berubah dengan rasa pilu di hati yang amat sangat. Ketika melihat 
kenyataan bahwa di tempat pembuatan KTKLN itu telah berjubel dan saling 
berdesak desak puluhan orang dengan wajah cemas dan tergesa gesa. Setelah 
bertanya kepada seseorang yang sedang berdesak desak itu, rupanya mereka itu 
adalah orang orang yang bernasib sama dengan saya.
Kemudian saya mencoba menerobos antrean itu, dengan sekuat tenaga  
alhammdulillah saya berhasil meletakkan  paspor saya pada tempat mengantri 
untuk di panggil. Dengan kecemasan yang luar biasa saya menunggu ketidakpastian 
ini. orang lain yang sedang mengantri juga sudah mulai hilang kesabaran. Mereka 
ada yang mengumpat umpat, berkeluh kesah dan berjalan kesana kemari.
Di tengah kecemasan yang tak karuan ini tiba tiba listrik padam, ….pet…. di 
iringi oleh teriakan kecewa semua orang yang sedang mengantri itu. Semakin 
perih – lah hati saya terasa. Seorang ibu setengah baya yang mau pergi ke arab 
Saudi,  barang bawaannya sudah masuk ke bagasi pesawat, dia terancam misflight 
dan kehilangan barang barangnya menangis dan hampir pingsan, seorang lelaki 
kekar yang mau pergi ke Dubai juga mengalami hal yang sama, ia meninju lantai 
sampai tangannya lecet.
Saya berpikir keras, dengan tekat gambling  saya ambil lagi paspor saya yang 
sudah masuk antrean, dengan agak memaksa kepada petugas muda yang menjaga 
tempat itu untuk menemukan paspor saya. ( petugas pembikinan KTKLN dan validasi 
KTKLN terdiri dari orang muda muda yang berseragam warna cream dan di dadanya 
bertuliskan PN2TKI , wajah mereka tidak begitu ramah dan tampak seperti orang 
yang kurang terpelajar. Entah ini hanya perasaan saya yang amat marah waktu itu 
atau bukan, tapi ini adalah kesan saya waktu itu).

Setelah menemukan paspor saya. Saya segera kembali kepada counter validasi 
KTKLN. Saya protes keras atas matinya listrik dalam keadaan ketika sangat 
sibuk, dan hanya terjadi pada counter pembuatan KTKLN. (ada kecurigaan didalam 
hati, jangan jangan ini ada kesengajaan).  padahal tidak ada satupun di tempat 
lain yang listriknya mati, bahkan kios bakso AFUNG yang terletak didepan kantor 
pembuatan  KTKLN itu menyala terang benderang tanpa kekurangan suatu apapun. 
Tapi apa jawaban yang saya terima dari petugas validasi KTKLN yang sok 
procedural itu?, dia berkata “seharusnya kalau soal listrik mati anda protes ke 
PT Angkasa pura, jangan ke saya” dengan kecewa dan geram saya berteriak “aturan 
brengsek” kemudian saya bergegas meninggalkan counter validasi KTKLN jelek itu 
dengan perasaan remuk redam.
Saya duduk sebentar untuk menenangkan perasaan  yang tak karuan, waktu sudah 
menunjukkan 06.20 Pm WIB. Berarti saya hanya punya waktu sekitar 30 menitan 
untuk bisa menembus imigrasi dan boarding pass tanpa mengantongi KTKLN.
Pikiran menimbang nimbang, hati gelisah tak karuan.“ya Allah berilah hamba ilmu 
untuk bisa melawan neraka dunia ini”.
Dalam kebimbangan ini, saya teringat dengan kejadian pertama tadi, “bukankah 
tadi petugas imigrasi yang menceburkan saya dalam kekalutan ini bertanya 
“hendak kemana?” oh alangkah jujurnya hamba ini… bukankah tidak salah juga 
kalau saya mengatakan “hendak pergi ke Kuala Lumpur?”  toh penerbangan yang 
akan saya tempuh ini adalah juga ke Kuala Lumpur? Jangan jangan jawaban polos 
saya yang pertama tadi, “ bahwa saya hendak pergi ke Brunei “ membuka pintu 
pertanyaan untuk mengorek lebih jauh lagi perihal saya.
 OK. Dalam fikiran seperti ada sinar terang, kini saya punya semangat baru dan 
keyakinan kuat, bahwa saya bisa menerobos imigrasi yang tak punya kebijaksanaan 
itu.

Dengan semangat baru dan bismillah dalam hati, saya ikut mengantri pada deretan 
cop paspor yang bukan pertama tadi, saya lihat lihat dulu mana wajah yang 
paling indah dan teduh diantara kurang lebih 7 petugas imigrasi itu. 
Alhamdulillah apa yang di inginkan hati ini mendapatkan juga. Saya ikut 
mencebur dalam antrean.  Tibalah saat yang mendebarkan, datanglah giliran saya. 
Saya kasikan paspor dan tanda Chek-in saya, petugas Imigrasi itu memeriksa dan 
membolak balik paspor saya, kemudian sekilas melayangkan pandangannya menatap 
wajah saya, saya tampakkan muka semanis  manisnya. Ehem. Kemudian Ia bertanya 
“mau pergi kemana mas?” batin saya,  saya tak boleh salah lagi, saya jawab 
dengan lantang sampai petugas imigrasi itu agak terkejut “ke Kuala lumpur pak”. 
Dia bertanya lagi “ berapa hari di Kuala Lumpur?”, Saya berhenti sejenak 
memeras otak mencari cari jawaban yang sekiranya tidak berbohong, sampai ia 
mengarahkan pandangannya  ke muka saya lagi, agak terkejut saya menjawab “eh.. 
satu atau tiga hari pak”.
 kemudian dia bertanya lagi “ ini visa kerja Bruneinya sudah mati ya..? “ saya 
jawab “ lihat aja sendiri”  alamaak… kenapa dia Tanya beginian? deg.. deg.. 
deg..hati saya seperti  puting beliung  dia hentak kan stempel pada bantalan 
tinta “Dok” kemudian di cop kan ke paspor saya. Dalam hati saya memuji 
Alhamdulillah.
Setelah lolos dari imigrasi ini dada saya seperti  “mak Plooong”, selanjutnya 
ditempat  pemeriksaan boarding pass  saya tidak ada hambatan apapun, sampai 
pada ruang tunggu penumpang, orang sudah penuh, tidak lama kemudian terdengar 
pengumuman bahwa penumpang tujuan Kuala Lumpur di persilakan memasuki  pesawat. 
Di depan saya Seorang lelaki muda dengan istrinya menggendong anak kecil  
sepuluh bulanan, sempat tebersit rindu pada anak istri di kampong. Sambil 
menuju ke pintu pesawat masih terlintas bayangan tangisan ibu tengah baya yang 
menangis hampir pinsan di counter pembuatan KTKLN tadi, lelaki kekar yang 
meninju lantai sampai tangannya lecet,  rasanya ingin berteriak “carilah cara 
untuk mengelabuhi petugas imigrasi itu“  tapi niat itu saya urungkan, takut 
disangka orang kesurupan.  Akhirnya hanya sepanjat doa tulus,     “ya Allah 
berilah kemudahan jalan keluar kepada mereka”. Amiiin.

Kritik dan tuntutan kepada pemerintah RI :
1. Jika tujuan dan manfaat KTKLN untuk melindungi WNI yang bekerja di luar 
negeri, maka sejak pertama diterapkannya aturan ini, belum lagi manfaatnya di 
nikmati, telah lebih dulu menyusahkan orang banyak.
2. Seharusnya pemerintah tidak main pukul rata dalam teknis penerapannya, 
karena secara nyata tidak semua Negara mempunyai permasalahan yang sama seperti 
di arab Saudi
3. Hendaknya pemerintah mempunyai kebijaksanaan yang lebih lentur dan memihak 
kepada para TKI di bandara bandara International di seluruh Negara, mengingat 
sosialisasi KTKLN ini tidak seluruhnya sampai kepada WNI yang kerja di luar 
negeri. Sehingga kejadian pada Jumat, 01 juli 2011 di bandara soekarno hatta 
tidak terjadi lagi.
4. Menghukum yang setimpal dan menyeret kemeja hijau, kepada oknum pelaku 
sesuai dengan perbuatannya jika terbukti insiden padamnya listrik di lakukan 
secara sengaja. Yaitu pada jumat, 01 July 2011 pukul 06.00 Pm WIB. di ruang 
pembuatan KTKLN bandara soekarno hatta, pada waktu rakyat sedang cemas 
mengantri dan dalam ancaman missflight.

Saran kepada segenap WNI yang bekerja di luar negeri Khususnya Brunei 
Darussalam dan umumnya di seluruh dunia.
1. Bagi yang sedang cuti di tanah air, untuk berangkat lagi ke Negara tujuan 
bekerja, Hendaknya memperhitungkan waktu penerbangan dan ketibaan di bandara, 
untuk mengantisipasi antrean di kantor pembuatan KTKLN. Akan lebih baik jika 
pembuatan KTKLN di lakukan jauh sebelum hari penerbangan.
2. Pandai pandailah mengelabuhi petugas imigrasi di bandara dengan cara yang 
hAlaL jika resiko missflight mengancam.
3. Jangan takut melakukan protes keras kepada oknum yang tak tahu malu 
menyusahkan sesama warga Negara dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan.


Kuala Belait, 03 Juli 2011

ahmad j fadhly




On 07/05/2011 03:52 PM, Ki Hasan wrote:

Walang mudik euy Kang Zen.
Wilujeng ngupat tahu, ngabaso, atawa ngabatagor atuh!


2011/7/5 Mohammad zen <[email protected] <mailto:[email protected]>>


        

    Dina perjalanan mudik ka Indonesia patepang sareng TKI di bandara
    dubai...

    Arus mudik TKI di bandara dubai seueur pisan, asa raraosan teh di
    bandara dubai jiga di kampung halaman...kulantaran rea pisan tah
    anu mudik teh
    ari di bandara teh aya nu nyarios: " pak kamana , timana, bade
    kamana"
    lamun kanggo penumpang pesawat indonesia mah teu kedah diumumkeun
    kulantaran teu diumumkeun oge tos bararis di payuneun gate na...
    hehe...

    alhamdulillah nepi geuningan ka bandung
    ngan asa raraosan mah bandung teh jalannya laleutik, meureun
    kabiasaan ningal jalan2 di iran gararede.
    lamun di iran ayeun 50 darajat panas, ari di bandung mah sejuk
    geuningan...
    alhamdulillah nagara urang mah geuningan mani sejuk ...juk..juk



        




Kirim email ke