Halahhh siahh kumaha ieu teh.....hukum simplicity saluyu henteu sareng usulan 
naekeun darajat ti status mulok ka status muatan utama?


jp

Dari: Irpan Rispandi <[email protected]>
Kepada: [email protected]; [email protected]
Dikirim: Kamis, 14 Juli 2011 10:35
Judul: [kisunda] Sakola, ceuk Rhenald Kasali

  
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/412716/44/

Benarkah Makin Berat, Makin Hebat?  
 
 
Thursday, 14 July 2011  
Sebagian besar pembaca mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi sulit, sehingga 
kaya berbagai peribahasa, seperti: hemat pangkal kaya dan rajin pangkal pandai. 
Kita bermain layang-layang, menangkap belut,bermain bersama anak-anak kampung 
dengan tiada henti canda, tawa,dan keringat. 

Bagaimana anak-anak sekarang? Lahan kosong berganti menjadi kebun sawit atau 
perumahan mewah.Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang-layang 
dan air yang mengalir bening. Tapi anak-anak punya mainan baru, 
Facebook,Twitter,Online Games, warung internet,dan bimbingan belajar. Pergaulan 
fisik diganti dunia maya, statistik, dan ilmu berhitung diganti kalkulator dan 
software. Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran, sehingga masih 
banyak waktu untuk bermain. Bagaimana anakanak kita? Bukannya dikurangi, 
melainkan semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak kita 
semakin banyak. Sementara di Selandia Baru dan banyak negara maju anakanak 
sekolah hanya mengambil enam mata pelajaran. Ketika mereka menganut spirit ”The 
Power of Simplicity”, kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut, ”kalau 
terlalu mudah, tidak akan melahirkan kehebatan”. Bukan hanya itu, di banyak 
negara, selain dirampingkan, mata ajar wajib juga
 dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan karier. 
Bagaimana di sini? Mata ajar yang banyak itu adalah mata ajar yang ”sakral”, 
wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya hanya semu, karena mata 
ajar agama disamakan dengan berhitung dan sejarah ala kita, yaitu ala 
hafal-hafalan. Ubah Cara Pandang Namun, sewaktu saya bercerita bagaimana 
sekolah di Belanda, China, dan Selandia baru,adajugaorangtuayangprotes. Mereka 
tak menginginkan sekolahnya dibuat lebih mudah. ”Sekolah itu memang harus sulit 
dan anak-anak harus berjuang”. Saya dapat mengerti pandangan ini, karena 
anaknya termasuk cerdas, tuntas semua mata pelajaran dengan nilai tinggi.Namun, 
saya kurang mengerti bagaimana orang tua rela menyita seluruh waktu masa muda 
anaknya hanya untuk belajar. Mendidik bukanlah untuk melahirkan orang-orang 
yang tahu semua, tapi selalu bertanya, ”Saya harus melakukan apa?” Ini adalah 
realita, semakin banyak ditemui orang tak
 bisa bekerja dengan prioritas. Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang 
memahami bahwa talenta dan leadership merupakan kunci untuk mencapai 
keberhasilan hidup.Untuk itulah, talenta harus diasah, diberi ruang,dan waktu 
agar ia tumbuh.Leadership maupun entrepreneurship diasah dari keseharian di 
luar bangku sekolah. Diuji dalam interaksi kehidupan. Tentu saya bertanya-tanya 
kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping, apakah benar menjadi lebih 
baik.Saya selalu teringat masa-masa memulai karier sebagai penguji di program 
S-3.Saat seorang tua,kandidat doktor diuji, yang mengajukan pertanyaan ada 13 
orang hebat. Namanya juga orang hebat, pertanyaannya pasti sulit bagi seorang 
pemula. Tetapi semua penguji tidak puas, kandidat digoreng ke kiri, di-ongseng 
ke kanan hingga nyaris hangus. Di ruang rapat semua menyatakan tidak 
puas.Sebagai doktor muda yang baru kembali dari sekolah doktor, saya tak punya 
suara yang berarti. Saya hanya bertanya,
 ”Beginikah cara Bapak-Bapak menguji seorang calon doktor?” Semua orang 
terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya. Beberapa orang menatap 
tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru saya dan terkenal di hadapan 
publik.Karena malu telah berkata- kata bodoh,saya teruskan saja berkata jujur. 
Saya katakan kita harus percaya diri. Ujian dengan penguji sebanyak ini 
menunjukkan kita kurang pede.Lagi pula tak ada yang bisa lulus dengan ujian 
seperti ini.Semua dosen hanya marah-marah karena kepintarannya tak dimengerti 
orang lain, dan memberi saran yang saling bertentangan. Saya pun 
mengatakan,andaikan saya yang diuji di sini, saya beranijaminsaya puntidakakan 
lulus.Pertanyaan ujian terlalu luas.Di Amerika Serikat,kita hanya diuji oleh 
empat orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita tidak dibantai, malah 
dibantu. Di SLTA negara-negara maju,jumlah mata ajar memang 
ramping,tetapisejakremajamereka sudah biasa membuat makalah dengan kedalaman
 referensi dan terbiasa bekerja dengan metode ilmiah. Demikianlah persekolahan 
kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat menjadi lebih kompleks. Semua mata 
ajar kita anggap sakral. Buku ditambah. Subjek ditambah. Guru juga ditambah. 
Saya kadang tak habis berpikir, bagaimana kita bisa menghasilkan kehebatan dari 
keribetan ini. Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa 
kesulitan ini, kita bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya. Tidakkah 
kita bertanya, jangan-jangan ada yang tidak beres dengan kurikulum persekolahan 
kita? Saya juga bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik dengan baik kalau 
hanya belajar enam mata pelajaran seperti di Selandia Baru, Denmark, atau 
negara-negara industri lainnya? Namun, fakta yang saya temui ternyata 
pendidikan yang hanya fokus pada enam mata pelajaran itu menempatkan pendidikan 
SelandiaBaruterbaikkeenamdi dunia.Rasanya di sana juga tak ada siswa yang 
kesurupan saat ujian, apalagi contekan
 massal. Perlukah kita meremajakan cara berpikir kita?  RHENALD KASALI Ketua 
Program MM UI  

Kirim email ke