lah teu percaya..
paling ngan saukur seremonial wungkul teu dahar sangu unggal rebo.
balik ka imah 2 piring.

ngan keteng mun enya teh, salut lah



________________________________
Dari: Ki Hasan <[email protected]>
Kepada: Ki Sunda <[email protected]>
Cc: Baraya Sunda <[email protected]>; Urang Sunda 
<[email protected]>
Dikirim: Kamis, 21 Juli 2011 11:29
Judul: [kisunda] Percaya Teu, Urang Bandung Daek Puasa Kejo Unggal Rebo?


  
Tiap Rabu, PNS Jawa Barat Puasa Makan Nasi   
Rabu, 20 Juli 2011 | 17:57 WIB
TEMPO Interaktif, Bandung - Selepas membuka Koperasi Fair di Lapangan Gasibu, 
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menjamu Menteri Negara Koperasi dan UKM 
Syarief Hasan 
makan siang di Gedung Sate. Menunya istimewa, ada dendeng ragi, ayam 
goreng serundeng, sayur lodeh, balado asin, tempe asam manis, tumis 
jambal roti, plus lalap, dan sambal.


Ya,
 makan siang itu tanpa tersedia nasi. Yang ada hanya kukusan jagung, 
singkong, sorgum, dan hanjeli atau biji jali yang disajikan sebagai 
pengganti nasi. Sorgum misalnya, disajikan mirip nasi bakar. Rebusan 
sorgum sejenis ubi-ubian dibungkus pelepah daun pisang dan dibakar.

Tentu
 saja aneh, tapi ternyata tidak buat Syarief. Selama menjabat menteri, 
ini kali kedua dia disodori sajian untuk santap makan tanpa nasi. 
Pertama kali waktu dijamu saat mengunjungi Provinsi Maluku Utara. ”Saat 
itu makan malam, sekarang makan siang, komplit,” kata Syarief.

Ahmad
 Heryawan memang sengaja menjamu tamunya dengan menu tanpa nasi. Hal ini
 dibuat untuk mengampanyekan diversifikasi pangan agar tidak sebatas 
beras saja. Soal diversifikasi pangan itu sudah ditetapkan pemerintah 
lewat Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009. Pemerintah Jawa Barat 
melanjutkan kebijakan itu dengan Peraturan Gubernur Nomor 60 tahun 2009.
 ”Ini kita beri contohnya,” katanya.

Bahkan,
 Heryawan menerbitkan surat edaran yang meminta pegawai negeri di 
lingkup pemerintahan Jawa Barat tidak menyantap makanan berbahan beras 
dan terigu tiap Rabu. ”Sudah kita buat surat edarannya (pekan lalu) dan 
kita laksanakan hari ini,” katanya.

Syarief
 memuji kebijakan gubernur itu. “Ini harus dipromosikan secara nasional.
 Dengan demikian, konsumsi beras yang sekarang 180 kg per kapita per 
tahun bisa ditekan. Kalau negara lain itu hanya 50-60 kilogram per 
kapita per tahun,” katanya.

Tapi, jujur ya, sebagai orang Melayu yang tak bisa lepas dari nasi, 
apakah Syarief tidak merasa kehilangan sesuatu di makan siangnya? ”Enak,
 kok. ”Mungkin karena saya orang Sunda, jadi enak saja,” katanya. 

AHMAD FIKRI
http://www.tempointeraktif.com/hg/bandung/2011/07/20/brk,20110720-347517,id.html

 

Kirim email ke