Mulai dari Rumah Kita
Oleh Asep Mulyana
http://rumahbetujuh.wordpress.com/2011/08/02/mulai-dari-rumah-kita/

Ketika berkumpul di ruang keluarga rumah kami, istri saya mengeluh setengah 
bertanya, "Rumit sekali masalah yang dihadapi bangsa ini. Dari mana kita mulai 
mengurai benang yang telanjur amat kusut ini?" "Mulai dari rumah kita," ujar 
saya. Istri saya mengerutkan kening sejenak. "Maksud ayah?" tanya istri saya. 
"Ya, kita mulai membenahi bangsa ini dari rumah kita, mulai dari ruang keluarga 
kita."

Saya tentu tidak main-main untuk menjawab pertanyaan sepenting itu. Seperti 
dikeluhkan istri saya, masalah yang melilit bangsa ini sudah 
berjalin-berkelindan, berurat-berakar, sehingga kita seringkali mengalami 
kebingungan luar biasa bagaimana memecahkan masalah bangsa ini. Setiap solusi 
yang ditawarkan atas suatu isu seringkali mengalami dilema dan paradoks, 
sehingga suatu solusi justru acapkali menghasilkan masalah baru yang tak kalah 
pelik.

Gonjang-ganjing masalah politik dan uang yang dihadapi SBY dan Partai Demokrat 
tentu tidak berdiri di ruang hampa. Ia lahir dari struktur dan suprastruktur 
bangsa ini yang tak cukup dilihat dan dipahami sebagai sebuah kasus. Masalah 
yang menimpa SBY dan Partai Demokrat adalah wajah kita semua. Ia berjalin-jalin 
dengan banyak hal, dan terjadi di semua level dan institusi kita.

Mulai dari rumah kita, dari ruang keluarga kita. Itu kata kunci yang saya 
lemparkan kepada istri saya sebagai langkah kecil solusi bangsa ini. Setelah 
membasahi kerongkongan saya dengan teh hangat di senja itu, mulailah saya 
berkata-kata.

Bagi saya, karakter bangsa Indonesia dibangun oleh watak yang disusun dan 
dilembagakan di dalam rumah keluarga Indonesia. Di semua rumah keluarga kita, 
ada satu guru yang telah menggeser peran orang tua dan sekolah sebagai guru, 
yaitu televisi. Untuk sekian lama, selama belasan tahun, televisi hadir menjadi 
guru bagi kita dan anak-anak kita. Sayangnya, "guru" itu justru "mengajarkan" 
kepada kita, termasuk anak-anak kita, tentang kekerasan, konflik, intrik, dan 
tahayul. Hampir semua televisi menjadikan sinetron, berita, dan acara 
bincang-bincang (talkshow) sebagai ruang bagi eksploitasi kekerasan, konflik, 
intrik dan tahayul. Bahkan sejak bangun tidur di pagi hari, kita sudah disuguhi 
dengan berita-berita yang penuh energi negatif: pembunuhan, tawuran, intrik 
politik, dan berita-berita negatif lainnya. Hanya sedikit saja tayangan di 
televisi kita yang menyuntikkan inspirasi dan energi positif kepada keluarga 
Indonesia.

Dampak tayangan televisi sangat besar. Selama sekian belas tahun, ruang 
keluarga kita dibombardir oleh informasi dan tayangan penuh kekerasan, konflik, 
intrik, dan tahayul. Semua informasi yang disuguhkan di ruang keluarga bangsa 
Indonesia itu mengendap dalam pikiran bawah sadar bangsa kita, kemudian 
diam-diam terinternalisasi menjadi nilai, pola perilaku, dan budaya. Keluarga 
bangsa Indonesia pada akhirnya sangat akrab dengan kekerasan, konflik, intrik, 
dan tahayul. Keakraban seperti itu kemudian membangun struktur dan 
suprastruktur bangsa Indonesia yang lekat dengan kekerasan, konflik, intrik, 
dan tahayul.

Salah satu yang harus kita lakukan untuk memperbaiki itu semua adalah memutus 
mata rantai dengan memulainya dari rumah kita, dari ruang keluarga kita. Saya 
kemudian mengajak istri saya untuk MEMATIKAN SEMUA CHANNEL TELEVISI di ruang 
keluarga kami. Kami hanya menyisakan satu channel saja, yaitu Trans 7, karena 
stasiun TV ini kami anggap masih menyuguhkan tayangan-tayangan mendidik buat 
anak-anak kami (Si Bolang, Laptop Si Unyil, Dunia Air, dan lain-lain).

Sejak hari itu, kami membuat sejarah di keluarga kami. Ketika banyak keluarga 
Indonesia berlangganan TV kabel, kami justru membatasi TV masuk ke ruang 
keluarga kami. Kami ingin menjadi GURU bagi anak-anak kami. Ada pertanyaan dari 
istri saya, "Kalau televisi dimatikan, bagaimana dengan hiburan bagi 
anak-anak?" Saya katakan bahwa kita harus memberikan kompensasi atas hilangnya 
televisi di ruang keluarga. Kompensasi itu dilakukan dengan dua cara.

Pertama, kami harus menciptakan rumah tempat tinggal kami sebagai rumah yang 
penuh cinta dan kasih sayang, menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi 
semua penghuni rumah, terutama anak-anak kami. Senyum, keramahan, keceriaan, 
sikap positif, dan optimisme harus menjadi "roh" yang menghidupi rumah kami, 
Sebaliknya, marah, teriak-teriak, sedih, menangis, dan pesimisme harus 
disingkirkan sejauh-jauhnya. Nilai dan perilaku positif yang diajarkan di rumah 
kami, saya yakin, akan memetik hasilnya belasan atau puluhan tahun ke depan. 
"Nanti kita lihat, anak-anak kita akan tumbuh dewasa dengan jiwa dan mental 
yang positif, yang sangat berbeda dengan anak-anak segenerasinya," ujar saya.

Kedua, kami menyediakan DVD player sebagai pengganti televisi. Dengan adanya 
DVD player, kami menjadi pengendali utama yang memilah dan memilih tayangan 
untuk ruang keluarga kita. Selama ini stasiun televisi menjadi pihak yang 
mengendalikan tayangan yang disuguhkan kepada kita. Kita tak memiliki banyak 
pilihan dan kemampuan untuk memilih tayangan-tayangan bermutu ketika arus besar 
tayangan televisi kita lebih memilih untuk "menjual" kekerasan, konflik, intrik 
politik, dan tahayul.

Kini saatnya kita mulai membenahi bangsa ini dari rumah kita, dari ruang 
keluarga kita. Dua langkah kecil kami (Mematikan Televisi dan Menciptakan Ruang 
Keluarga dengan Aura dan Energi Positif), kalau dilakukan dengan konsisten, 
pasti menjadi virus yang menyebar di banyak keluarga Indonesia. Pada 
gilirannya, jika virus ini sudah mewabah, langkah kecil tersebut dapat menjadi 
sebuah capaian besar kelak di kemudian hari: membangun bangsa Indonesia menjadi 
bangsa yang bermartabat, terhormat, dan beradab, mulai dari rumah kita, dari 
ruang keluarga kita. Bukankah pencapaian besar dimulai dari langkah kecil?
====================================================================
Artikel ini ditulis oleh Asep Mulyana di sebuah suratkabar lokal di Jawa Barat



------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke