Kasim Ghozali, "Jembatan" WNI di Shanghai
Rabu, 16 Februari 2011 09:07

Kasim Ghozali adalah pengusaha swasta. Namun, apa yang dilakukan di
Shanghai, Republik Rakyat China (RRC), membuat orang tidak lagi
melihatnya sebagai orang swasta, tetapi perwakilan Pemerintah Republik
Indonesia di Shanghai.

Setiap dua bulan sekali, toko Made in Indonesia yang terletak di
Shanghai Bay, Pudong Selatan, Shanghai, berubah menjadi tempat
bertemunya warga Indonesia dengan perwakilan dari Kedutaan Besar
Republik Indonesia. Di toko miliknya itu, semua unek-unek yang menjadi
beban warga Indonesia ditumpahkan.

Ada yang mengadu soal sulitnya mengurus hak waris dari almarhum
suaminya yang berkewarganegaraan China. Ada juga yang mengeluh tentang
pengurusan hak asuh anak, perceraian, atau sekadar perpanjangan
paspor.

”Kami ini swasta. Tetapi warga Indonesia yang ada di Shanghai dan
sekitarnya tahunya kami ini wakil pemerintah. Jika mereka ada masalah,
pasti datang ke sini,” kata Kasim yang ditemui di Shanghai,
pertengahan Januari lalu.

Toko Made in Indonesia sekilas seperti galeri budaya Indonesia. Di
sana terpajang kain-kain tradisional asal Indonesia, kerajinan tangan,
lukisan, dan interior bergaya Bali. Di depan toko terpampang papan
promosi yang menceritakan kopi luwak dan kopi toraja yang ditulis
dengan bahasa Inggris dan Mandarin.

Setiap tamu yang masuk ke dalam toko itu perhatiannya pasti langsung
tertuju pada satu set angklung besar yang terletak di tengah toko.
Angklung tersebut berbeda dengan angklung biasa. Angklung itu bisa
berbunyi sendiri, tanpa ada orang yang memainkannya.

Rupanya, angklung tersebut telah disambungkan dengan program komputer
sehingga bisa mengumandangkan lagu-lagu Indonesia. Kasim bisa membuat
angklung digital itu karena mempunyai hubungan yang baik dengan Apple
Inc, perusahaan komputer terkemuka di dunia.

Istimewa karena selain di Toko Made in Indonesia, angklung itu hanya
ada di KBRI di Beijing dan Musical Instrument Museum di Phoenix,
Arizona, Amerika Serikat.

Menurut Kasim, angklung sengaja dipilih untuk dipamerkan di China
karena alat musik itu terbuat dari bambu yang sangat dikenal
masyarakat China.

”Tujuan utama saya adalah mengenalkan Indonesia kepada dunia. Tetapi,
agar mudah diterima, saya harus mencari cara yang mudah diserap atau
sudah dikenal masyarakat tujuan. Tamu-tamu China yang datang ke sini
sangat kagum. Mereka baru tahu bambu bisa jadi alat musik selain
suling,” kata Kasim yang bisnis utamanya adalah percetakan dan
pengemasan.

Membuat angklung digital itu adalah satu bentuk pengemasan yang unik
terhadap budaya Indonesia.

Keinginan pria yang murah senyum ini untuk mempromosikan Indonesia
sudah tumbuh sejak dia duduk di bangku sekolah. Kasim yang menuntut
ilmu di Singapura dan AS penasaran mengapa orang asing lebih kenal
Thailand dan bahkan Vietnam daripada Indonesia.

Dari penelusurannya, dia menemukan jawaban, bahwa negara-negara lain
lebih terkenal karena banyak warganya yang pergi ke luar negeri.
Mereka tidak sekadar berkunjung, tetapi juga menetap. Ketika itulah
mereka membawa budaya negaranya untuk dikenalkan ke lingkungan
sekitar.

Contoh yang paling nyata adalah makanan. Di tempat baru mereka mulai
menjalin hubungan dengan warga setempat, lalu mengundang
teman-temannya untuk mencicipi makanan tradisional mereka, akhirnya
menumbuhkan ide untuk membuka restoran. ”Ini baru makanan, belum
tradisi yang lain. Makanya, semakin banyak yang ke luar negeri, budaya
negara itu makin dikenal warga dunia,” jelas pria yang berpembawaan
santun dan kalem ini.

Di Toko Made in Indonesia yang dibuka sejak tahun 2008, Kasim juga
membuka restoran yang menyediakan menu-menu tradisional Indonesia. Ada
gado-gado, rawon, ayam penyet, soto, dan lainnya. Di bagian luar toko
diletakkan sebuah meja pajang kaca yang di dalamnya berisi penganan
khas Indonesia, seperti dadar gulung, kue lapis, dan lemper.

Kasim memang tidak menangani toko itu setiap hari. Toko tersebut
dikelola John Suhardjo yang masih ada hubungan kerabat dengannya.

Kasim sadar toko budaya miliknya tidak akan menghasilkan keuntungan
dari segi materi. Apalagi letaknya boleh dibilang kurang strategis.
Namun, dia tetap telaten mengurus toko itu karena yang diinginkannya
semata-mata mempromosikan budaya Indonesia sambil melayani warga
Indonesia di Shanghai.

Beberapa kali toko tersebut juga menjadi tempat bertemu para pebisnis
Indonesia dengan pebisnis China atau pebisnis dari negara lain. Kasim
berencana mencari tempat yang lebih strategis agar tokonya lebih
dikenal dan mudah dicapai banyak orang.

Setiap bulan Kasim datang ke Shanghai mengantar semua kebutuhan toko.
Setiap kali ke China dia membawa dua koper besar, satu koper kecil,
dan satu tas kerja. Dua koper besar berisi segala kebutuhan toko,
seperti kain, bumbu pecel, kerupuk, keluwek, bumbu dapur, dan lainnya.

”Saya tidak pernah banyak membawa kebutuhan pribadi. Jadi, koper-koper
ini isinya keperluan toko semua. Lalu pulangnya saya sering membeli
contoh-contoh kemasan yang saya temui di jalan,” ujarnya.

Kasim meneruskan usaha percetakan dan pengemasan yang sudah berjalan
selama tiga generasi. Dia menangani PT Printec dan PT Grafitec bersama
dua adik laki-lakinya, Rudy Ghozali dan Eddy Margo Ghozali. Kasim
bertanggung jawab pada bisnis secara keseluruhan, baik yang di
Indonesia maupun di China. Rudy bertanggung jawab pada perusahaan yang
di Indonesia, sedangkan Eddy mengelola teknologi informasi sekaligus
membuat dan mengelola basis data untuk kepentingan perusahaan.

Tiga saudara yang sangat berkemampuan itu membuat perusahaan keluarga
berkembang baik hingga ke China selama 13 tahun. Produk mereka
diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat, serta telah membukukan hasil
penjualan 100 juta dollar AS.

Melihat bisnisnya yang berkembang baik di China dan ketidakadilan yang
sering dialami etnis Tionghoa di Indonesia, ternyata tidak membuat
Kasim beralih dari Indonesia. (*/Kompas Cetak)

http://www.ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/sosial/6609-kasim-ghozali-qjembatanq-wni-di-shanghai.html


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke