Numawi, dina sosiologi, Kasukuan/ras/bangsa, kaya-miskin, ideologi, agama jadi 
hiji bahaya anu dianggap LATEN. Laten didieu nandakeun, sawaktu-waktu bisa 
"bitu" upami aya anu "nyundut", moal tiasa diicalkeun, sok sanajan diakalan 
kumaha oge.
Kapungkur pan aya kacapangan "awas bahaya laten kominis", da saleresna mah eta 
teh dasarna soal kaya-miskin, tapi ketang tiasa oge dilebetkeun kana pasualan 
ideologi.

mrachmatrawyani



________________________________
From: Ki Hasan <[email protected]>
To: Ki Sunda <[email protected]>
Cc: Baraya Sunda <[email protected]>
Sent: Wednesday, August 10, 2011 7:25 AM
Subject: [kisunda] Selingan - Rusuh Di London, Budaya atawa Lain?


  
Ari geus rusuh mah geuning teu dimana-mana, sarua we boh di lembur
urang, kitu deui di Eropa nu cenah nagri modern.
Usumna rusuh mah sarua gelona geuning.

====
London Mirip Mogadishu

Rabu, 10 Agustus 2011 | 09:17 WIB

TEMPO Interaktif, London - Kerusuhan yang meletup di Ibu Kota London,
Inggris, telah mengejutkan dunia. Berita penjarahan, pembakaran, dan
perusakan itu menjadi berita utama pelbagai media di berbagai negara.

Majalah mingguan asal Jerman Der Spiegel bahkan menyamakan situasi di
London saat ini dengan Ibu Kota Mogadishu, Somalia. “Sulit
membayangkan itu bisa terjadi. Gambar-gambar (kerusuhan) itu bukan
dari Somalia, tapi di London, tepat di jantung Eropa. Dan kami tidak
akan pernah melupakan itu,” tulis Der Spiegel.

Kerusuhan itu meletup pertama kali di kawasan Tottenham Sabtu malam
pekan lalu. Peristiwa itu dipicu beredarnya selentingan terbunuhnya
seorang lelaki setempat oleh polisi. Keonaran ini berlanjut hingga
kini dan meluas ke sejumlah kota, seperti Liverpool, Birmingham,
Manchester, Bristol, dan Nottingham.

Hingga saat ini Kepolisian London telah menahan lebih dari 450 orang .
Angka ini bakal terus bertambah dalam beberapa hari ke depan. Di
Birmingham, polisi sudah menangkap sekitar 100 tersangka. Untuk
menghentikan kerusuhan ini Inggris menerjunkan 16 ribu polisi dengan
peluru plastik.

Surat kabar the New York Times menyebut ini merupakan kerusuhan
terparah dalam seperempat abad terakhir Negeri Tiga Singa itu. London
sekarang mendapat julukan kota tanpa hukum.

Sejumlah negara, seperti Swedia, Jerman, Latvia, Denmark, dan
Finlandia telah menyerukan warga mereka untuk menghindari lokasi
kerusuhan.

DAILY MAIL | FAISAL ASSEGAF

http://www.tempointeraktif.com/hg/eropa/2011/08/10/brk,20110810-350960,id.html

 

Kirim email ke