Tambahan hiji deui,

7. Segi Budaya

Urang Cina mah nyepeng tigin kana budayana boh budaya lahir atawa budaya 
spiritual.........sakitu we moal dipanjangkeun seratanana.



________________________________
From: Mang Kabayan <[email protected]>
To: Landy_series <[email protected]>; Senyum-ITB 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>; Kisunda <[email protected]>; UrangSunda 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>
Sent: Wednesday, August 17, 2011 11:34 AM
Subject: [kisunda] Re: [Landy_Series] RENUNGAN


  
Ruaaaaaar biasa, manstaaaaap. Sangat menginspirasi :).

Amrik sekarang lagi kesulitan karena kegedean utang dan salah satunya yg 
ngutangin adalah China melalui "SUN~Surat Utang Negara" sekitar 1 Trilyun 
Dollar. 

Ethos kerja China memang luar biasa dan mereka menekankan pendidikan 
enterpreneurship itu sedari kecil. 

Semoga banyak yg tergugah... Mamang sendiri jadi makin semangaaaaat :D. 

Merdekaaaaaa!!

powered by dkabayan.com
________________________________

From:  Dominique Marcello Bone <[email protected]> 
Sender:  [email protected] 
Date: Wed, 17 Aug 2011 09:28:13 +0700
To: <[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Subject: Re: [Landy_Series] RENUNGAN
  
Subject: Belajarlah Gaya Hidup Kepada Bangsa China-KH A.Hasyim Muzadi 
(perenungan dan wawasan)


Oleh : KH. A. Hasyim Muzadi
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang

Saya ingin menyampaikan sesuatu yang menarik tentang RRC (Tiongkok) kepada kamu 
semua. Dengan perjalanan ini, saya menjadi lebih mengerti kenapa Rasulullah SAW 
menganjurkan kita supaya mencari ilmu, sekalipun ke Negeri Cina. Saya 
perhatikan ada beberapa kekhususan dari China, yaitu:

1.      Segi Historis (Sejarah)
China adalah bangsa yang tua karena beribu-ribu tahun sebelum masehi, China 
sudah menjadi bangsa yang besar bersama dengan Romawi, Yunani, Persia, India, 
dll. Ini adalah bangsa-bangsa tua yang ribuan tahun sebelum masehi sudah 
dikenal dalam sejarah. 

2.      Segi Geografis 
China persis berada pada posisi tengah-tengah dari Benua Asia. Adapun selisih 
waktu antara Beijing dengan Jakarta hanya 1 jam sebagaimana selisih WIB dan 
WITA. 

Luas Negara China ini luar biasa, bahkan melampui luasnya Amerika Serikat dan 
hampir sama dengan luas Uni Sovyet sebelum pecah. 

3.      Segi Populasi 
Negara China mempunyai jumlah populasi terbesar di dunia, yaitu mencapai 1,3 
milyar jiwa. Ini jumlah penduduk yang ada di China daratan, belum lagi bangsa 
China berada di luar China (Overseas China). Di Negara mana-mana pasti ada 
orang China, termasuk Kalpataru, Cengger Ayam, bahkan daerah yang 
nyelempit-nyelempit itu. Jadi, tidak ada satu kota pun di dunia ini yang tidak 
ada orang Chinanya. Jumlah populasi orang China yang berada di luar RRC itu 
kalau ditotal sekitar 600 juta jiwa. Sehingga kalau ditotal secara keseluruhan, 
maka jumlah populasi warga China mencapai hampir 2 milyar jiwa.

4.      Segi Ekonomi
China ini adalah bangsa yang mempunyai etos kerja tinggi dan pekerja keras. 
Dalam satu hari, orang China mampu bekerja selama 11 jam, padahal kita saja 
yang berkerja 8 jam sehari sudah merasa berat. Perhatikan orang China yang buka 
toko. Pada pukul 06.00 dia sudah membuka toko dan tutup menjelang Maghrib, 
kemudian malam harinya, dia totalan. Jadi, waktu yang tersisa itu hanya 
digunakan untuk tidur atau untuk keperluan yang berkaitan dengan usaha 
dagangnya. 

Di samping sebagai pekerja keras, orang China adalah pekerja cerdas. Sekarang 
ini, tidak ada satu barang pun di dunia ini yang tidak ditiru oleh Negara 
China. Suatu saat saya pergi ke pasar malem. Di sana saya ditunjukkan jam 
tangan merk Rolex, mulai dari yang asli seharga 70 juta Rupiah, sampai Rolex 
yang seharga Rp. 70.000, dan kita sulit untuk membedakan antara yang asli 
dengan yang palsu. Oleh karena itu, RRC mempunyai potensi luar biasa untuk 
menghancurkan Barat. Apalagi produksi-produksi di sana dibuat secara 
besar-besaran, yaitu kalau satu orang membuat 10 baju, maka dari RRC akan 
mengekspor sekirat 12-13 milyar baju. 

5.      Rasa Persaudaraan (Kecinaan)
Bangsa China mempunyai rasa "kecinaan" dunia. Jadi, kalau orang China ketemu 
sama orang China lainnya, perasaannya lain dibandingkan ketemu dengan kita.

6.      Segi Politik 
Dahulu Negara China diperintah oleh Kaisar. Tunduk kepada Kaisar adalah harga 
mati, sehingga pada zaman Kekaisaran, Kaisar menyuruh rakyat untuk membangon 
tembok besar China meski harus mengorbankan ratusan ribu jiwa. Tembok besar 
China ini dibangun di puncak-puncak bukit dan panjangnya sekita sepanjang 6000 
KM. Kalau ada pekerja yang mati, maka langsung dikuburkan di dekat situ. Jadi, 
tembok besar China itu sebenarnya angker karena ada alam arwahnya. 

Setelah itu Negara China dipimpin oleh Komunis. Pemerintahan Komunis ditambah 
dengan etos kerja bangsa China yang luar biasa, menjadikan Negara China 
memperoleh untung besar. Kenapa?, karena nilai yang dimakan oleh masing-masing 
orang China, lebih sedikit dari pada nilai hasil kerja mereka. Ibaratnya: kalau 
nilai kerjanya Rp. 20.000 perhari, maka dia hanya memakainya sebanyak Rp, 
10.000 sehari, sedangkan yang Rp. 10.000 lainnya menjadi hak Negara, sehingga 
yang semakin kuat adalah Negaranya. Ini terjadi pada waktu pemerintahan Komunis 
dipimpin oleh tokoh bernama Mao Zedong. 

Setelah Mao Zedong meninggal dunia, sistem ekonomi China diubah, namun 
politiknya tetap berhaluan Komunis. Artinya: orang China masih diperintahkan 
untuk kolektivitas, tapi ekonomi China mulai dibuka pelan-pelan. Dari situ, 
mulai ada ekspor dan impor, investasi, dsb. Bahkan lebih dari 4 juta anak-anak 
muda China, dikirim ke seluruh dunia untuk belajar membuat barang-barang yang 
dibuat di negara-negara yang mereka tempati. Semua itu dibiayai oleh Negara. 

Akhirnya ekonomi China meledak dan berkembang sangat pesat. Kenapa?, karena 
bangsa China itu tidak suka hidup mewah, di samping karena budaya, juga karena 
faktor politik Komunisme yang dianut. Jadi, Negara China itu dari Komunis, 
bergeser ke arah Sosialis yang agak longgar, bahkan sekarang menjadi Kapitalis, 
namun bukan "dikapitalisi" oleh orang lain. 

Dalam tempo kurang dari 20 tahun, kota-kota besar di China disulap menjadi 
lebih hebat dari Washington dan New York. Jadi, di sana saya seperti memasuki 
daerah yang aneh, karena saya dulu pernah ke China, tapi tidak seperti yang 
sekarang ini. Sekarang ini Negara China luar biasa hebatnya dan mulai menggeser 
posisi ekonomi Barat. Kenapa itu bisa terjadi?, karena RRC tidak mau terikat 
dengan semua ikatan ekonomi internasional, baik itu IMF, ILO, WTO, dsb. 
Sehingga RRC ini berjalan tidak berdasarkan konsensus internasional, melainkan 
menggelinding sendirian dengan kekuatan raksasa yang mereka miliki. 

Hidup bangsa China tetep sederhana, karena mereka mempunyai budaya yang mengacu 
kepada filsafat Konghucu. Sekalipun bangsa China adalah komunis yang menganut 
ajaran tidak bertuhan (atheisme), tapi sebenarnya mereka masih mendewakan 
Kongfuche sampai hari ini. Orang China yang beragama Kristen menganut 
Konghuchu, orang China yang beragama Islam juga menganut Konghuchu, dsb. 
Konghuchu sudah menjadi agama negara dan agama bangsa. 

Umat Islam di China tidak besar, jumlah mereka kurang lebih sekitar 50 juta 
saja. Apa artinya 50 juta muslim di tengah-tengah 1.3 milyar penduduk RRC. 
Orang Islam di sana rata-rata sudah berusia tua yang kelasnya "Husnul 
khatimah". 

Nah, yang menarik bagi saya dan mungkin cocok dengan kandungan Hadits di atas 
adalah bahwa bangsa China itu selalu hidup di bawah jumlah penghasilannya. Saya 
kira, sikap ini perlu kamu tiru. Tidak ada orang China yang menghabiskan uang 
Rp. 10.000 sehari, kalau penghasilannya tidak mencapai Rp. 15.000. Ketika orang 
China masih berpenghasilan Rp. 5.000, maka dia hanya makan sebanyak Rp. 4.000 
saja. Jadi, bangsa China itu pantang memakan habis hasil keringatnya dan harus 
ada sisa dari hasil keringatnya tadi. 

Bangsa China sudah terbiasa hidup sederhana. Mereka bisa bikin mobil, motor, 
dsb. Mereka juga bisa meniru sepeda motor model Harley Davidson. Meskipun 
demikian, mereka jarang naik sepeda motor. Saya lihat di kota Peking, kalau 
orang mau bepergian yang jaraknya kurang dari 1 KM, maka mereka memilih jalan 
kaki; kalau lebih dari 1 KM, mereka memilih naik sepeda; dan kalau lebih dari 5 
KM, maka mereka memilih naik bus. Kalau sudah kaya betul, baru mereka mempunyai 
mobil; itupun jarang dipakai, karena mereka lebih suka naik bus sekalipun sudah 
mempunyai mobil sendiri. Alasan mereka sederhana dan rasional, yaitu jalan kaki 
itu lebih hemat, lebih sehat, lebih selamat, dan anti-polusi. 

Di sana juga banyak sepeda pancal, namun sepeda yang dipakai itu jelek-jelek, 
karena yang baik-baik itu untuk dijual. Jadi, bangsa China ini mempunyai 
sifat-sifat yang agak aneh dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang lain. Orang 
China itu kalau yang terbaik untuk dijual, sedangkan yang jelek untuk dipakai 
sendiri. 

Di RRC jarang ada rumah mewah, yang banyak adalah rumah susun, maklum jumlah 
penduduknya milyaran orang. Sedangan bangunan yang megah-megah adalah semacam 
universitas, pertokoan, mall, kantor, dsb. 

Orang-orang China jarang yang gemuk, padahal makannya banyak. Mereka bisa 
langsing karena sering jalan kaki dan berolah raga. Bahkan hampir seluruh 
tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat-obatan, tumbuh subur di Negara 
China. Ibaratnya, Negara China adalah miniatur dari tanaman-tanaman yang 
berkhasiat obat. Lha, ini yang menginspirasi Mr. Li Xiang untuk memproduksi 
obat-obatan, tapi sudah dimodernisir. Pabrik yang dimiliki oleh Mr. Xiang ini 
sekarang sudah menguasai 1/3 pasaran obat di dunia. Dia menggunakan sistem MLM 
(Multi Level Marketing) dan sistem bonus, yaitu setiap orang yang berhasil 
menggaet pelanggan lain, akan diberi bonus. Jadi, kalau saya membuat 100 anak 
Al-Hikam membeli produk obatnya, maka saya akan mendapatkan keuntungan dari 100 
orang tadi. Dengan sistem promosi yang berjenjang seperti ini, maka orang 
berlomba-lomba kaya melalui pabrik milik Mr. Xiang ini. Bonusnya juga ndak 
tanggung-tanggung, ada bonus berupa pesawat, kapal
 pesiar, mobil, sepeda motor, dsb. 

Saya kan sudah ke Eropa, Amerika, Timur Tengah, Afrika, dsb., saya melihat 
bangsa China ini memang aneh. Mereka lebih mendulukan bekerja dari pada makan. 
Jumlah yang dimakan harus di bawah hasil kerja. Sebenarnya makannya orang China 
itu banyak sama dengan makanya orang Arab; akan tetapi karena mereka 
berolah-raga terus, sehingga jarang yang gemuk. Lain hanya dengan orang 
Amerika, di sana ada wong gowo wetenge tok wis kabotan, mergo kakean 
badokan (orang bawa perutnya sendiri sudah keberatan, sebab kebanyakan makan. 
red). Lalu saya teringat pada Hadits Rasulullah SAW , Hadits itu ditujukan 
untuk urusan kehidupan duniawi. 

Bangsa China ini pekerja keras dan pekerja cerdas. Kalau orang Bugis, Madura 
dan Batak adalah pekerja keras, tapi tidak cerdas, sehingga kalau ayahnya 
jualan rokok di rombong, maka anaknya juga demikian. Beda dengan orang China; 
kalau ayahnya jualan kacang buntelan, maka pada saat anaknya nanti, usahanya 
sudah menjadi pabrik kacang. Jadi, untuk faktor enterpreneurship, mungkin China 
itu nomer satu di dunia. 

Orang Barat itu hebat dalam hal penelitian dan penemuan. Mereka meneliti sampai 
bisa menemukan listrik, kereta api, silinder, dsb. Adapun masalah berdagang dan 
mencari rezeki, jagonya adalah China. Sedangkan kalau makan tapi tidak kerja, 
jagonya adalah orang Indonesia. Jadi, orang Indonesia itu maunya, kalau kerja 
tidak berkeringat, tapi kalau makan, harus berkeringat. Berarti di sini kita 
mengalami hambatan budaya untuk maju. 

Ini semua membuat saya mikir-mikir: seandainya ibadah, tauhid, dan akhlaq kita 
digandengkan dengan etos kerjanya orang China, maka saya kira, itulah yang 
dimaksud oleh Hadits Rasulullah SAW: 

Bekerjalah untuk duniammu, seakan-akan engkau hidup selamanya; dan bekerjalah 
untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari

Kesalahan orang Islam adalah menghindari kerja keras, seakan-akan tidak 
berkerja keras adalah bagian dari tasawuf, padahal pandangan seperti itu adalah 
bagian dari kebodohan. Tasawuf itu ngeresii ati, bukan nganggur. Banyak orang 
Islam yang merasa mulya ketika ngganggur, tapi kok urip, padahal orang seperti 
ini pasti menjadi benalu atau seperti bunga teratai yang hidup terombang-ambing 
di atas air, sekalipun berbunga, ia tidak bisa lepas dari air. Oleh karena itu, 
saya ingin kamu semua mempunyai etos kerja dan enterpreneurship.

Saya melihat orang China di sana jarang omong. Mereka ngomong seperlunya, 
karena pekerjaan lebih mereka dahulukan. Sedangkan di sini, omong-omongan tok 
iso sampek 4 jam sambil ngentekno kopi 4 gelas (berbincang-bincang saja bisa 
sampai 4 jam sambil menghabiskan kopi 4 gelas. red), serta bercerita yang sama 
sekali tidak ada gunanya. Ini disebut dengan wasting time (menyia-nyiakan 
waktu), padahal di dalam Hadits disebutkan bahwa orang yang menyia-nyiakan 
waktu atau hidupnya, berarti dia sedang disia-siakan oleh Allah SWT. 

Sebenarnya Islam mengajarkan etos kerja ini ketika Rasulullah SAW ditanya: 
"Rezeki apa yang paling baik?", beliau menjawab; "Rezeki terbaik adalah rezeki 
hasil tangannya sendiri". Kadang-kadang, karena orang tua masih cukup, maka 
seseorang nebeng kepada orang tua, sementara dia sendiri tidak ada mempunyai 
kreativitas; sehingga begitu ditinggal mati oleh orang tuanya, dia akan 
kelabakan. 

Saya melihat bahwa perusahaan-perusahaan besar milik orang China di Indonesia, 
rata-rata Grand Manager-nya berusia di bawah 40 tahun. Misalnya: Gudang Garam, 
Djarum, dsb. Perusahaan-perusahaan itu sudah tidak dipegang oleh ayahnya, 
karena ayahnya sudah menjadi konsultan, sedangkan yang menjadi eksekutif 
commite-nya adalah anak-anaknya.

Saya sebenarnya ingin kamu berlatih dua hal, yaitu: jangan memubadzirkan 
waktumu, demi menegakkan etos kerja dan berusahalah berprestasi lebih tinggi 
dari pada apa yang kamu butuhkan. 

Hal-hal seperti di atas, kalau digandengkan dengan akhlak dan tauhid, maka 
itulah bentuk nyata dari fiddunya hasanah wa fil-akhirati hasanah. 

Negara-negara Islam, mulai dari Saudai Arabia sampai Maroko, adalah 
Negara-negara yang kaya, namun bukan Negara yang maju. Negara-negara di Timur 
Tengah menjadi Negara kaya, karena mempunyai minyaknya melimpah. Namun karena 
yang menyedot minyak adalah Amerika, maka Negara-negara Timur Tengah hanya 
dikasih 15 % dari hasil sedotan. Itu sudah membuat mereka menjadi Negara kaya, 
akan tetapi tidak bisa menjadikan mereka sebagai Negara maju, karena nyedot 
minyak saja tidak bisa. Sementara Negara-negara di Timur Tengah yang tidak 
punya minyak, semuanya menjadi Negara miskin, contoh: Mesir, Tunisia, 
Al-Jazair, Moroko, apalagi Sudan. Sudan itu ibukotanya bernama Kartoum, namun 
bandara Kartoum saja tidak ada WC-nya, sehingga kalau mau kencing harus melayu 
adoh ke tempatsing gerumbul-gerumbul (yang rimbun. red), sehabis kencing, 
diobati (maksudnya; diobat-abit). 

Sebenarnya, perintah melihat bangsa China adalah bagian dari Hadits yang 
menyatakan bahwa hikmah itu adalah milik orang mukmin. Kalau hikmah itu kececer 
pada orang lain, maka hikmah itu adalah milikmu. Jangan karena tidak Islam, 
lalu kamu memusuhi mereka. Karena mutiara itu kececer dan dipegang oleh orang 
lain, maka ambil kembali hikah itu. Contoh: Penelitian itu kan perintah Islam, 
lalu kenapa kita tidak memakai hasil penelitian orang Eropa?. Dulu, sebelum 
orang Eropa maju, yang bisa meneliti dalam bidang kedokteran, matematika, gizi, 
dsb. diteliti oleh ulama'-ulama' Islam. Oleh karena itu, ambillah hikmah dari 
mana saja, asal hikmah itu benar menurut syariat Islam. 

Jadi, tidak bagus kalau ada orang yang membeda-bedakan antara daerah Islam 
dengan daerah yang tidak Islam. Karena di daerah Islam itu ada tauhid, namun 
ada kelemahan; sedangkan di daerah yang tidak Islam, ada kekufuran, namun ada 
kelebihannya. Hanya saja, sampai hari ini, orang-orang Timur Tengah, masih juga 
membagi peta antara Negara Islam dengan Negara tidak Islam, padahal 
mutiara-mutiara Islam sebagai agama, telah tercecer di sana-sana, karena tidak 
dipegang oleh orang muslim di negara Islam itu sendiri. 

Ketika saya masuk Somalia, penduduknya begitu miskin. Kalau di sana ada orang 
bisa makan cukup setiap hari, itu sudah Alhamdulillah. Padahal Negara ini 
mempunyai tambang-tambang yang banyak. Ini semua mengingatkan kita, kenapa 
Negeri Islam, penduduknya miskin-miskin, sedangkan penduduk di daerah 
non-muslim kok tidak demikian. Ilmu memang ada di sini, namun yang melakukan 
adalah orang di luar Islam. Jadi, ilmu etos kerja, ilmu penelitian dan kerja 
keras adalah Islami. Mereka yang melakukan ilmu itu, meskipun ndak pakai 
syahadat; sedangkan di Negara-negara Islam pakai syahadat, tapi ilmunya tidak 
diamalkan. Jadi, kalau syahadat itu ibarat lokomitif, sedangkan gerbongnya 
adalah ilmu. Baik lokomotif maupun gerbong, itu sama-sama diperlukan. Kalau ada 
lokomotif ndak pakai gerbong, itu kan lucu. 

Akhirnya di Negara-negara Islam, penduduknya bertentangan karena selisih paham, 
saling bunuh-membunuh karena selisih aliran, dsb. Jadi, Islam yang kaffah itu 
bukan Negara harus distempel Islam, namun unsur-unsur ke-Islam-an yang harus 
diterapkan di Negara itu. Nah, sekarang itu, golongan seperti Hizbut Tahrir, 
FPI, dsb. mengatakan bahwa Islam Kaffah adalah kalau Indonesia yang dihuni oleh 
banyak orang Islam ini, distempel Islam; ndak peduli apakah masyarakat di 
dalamnya itu menjadi maling atau tidak. Padahal yang akan dihisab nanti adalah 
orang-perorang, bukan institusi. Jadi yang harus bertanggung jawab adalah 
individu, bukan nation state-nya. Baru pemahamannya saja, mereka sudah menceng 
dan tidak karu-karuan. Mereka itu sebenarnya tidak kaffah, tapi merasa paling 
kaffah. Kemarin saya didatangi oleh Redaktur Majalah Sabili; saya dikritik 
karena saya kok masih mempertahankan Pancasila, kenapa kok tidak setuju dengan 
Khilafah, berarti tidak kaffah. Lalu
 saya jawab: Lho, yang dimaksud kaffah bukan simbolistik-simbolistik, melainkan 
hikmah-hikmah Islam yang berserakan, kemudian dijadikan satu, itulah Islam 
kaffah. 

Untuk mengerti bahwa shadaqah itu penting, kita cukup membaca Hadits. Akan 
tetapi untuk menciptaan masyarakat yang mampu bersedekah, maka tidak cukup 
hanya dengan menghafalkan Hadits-hadits, karena itu adalah proses perjuangan 
ekonomi kerakyatan. Sementara sekolah-sekolah Islam yang di Timur Tengah, 
isinya menghafal saja, sehingga berhenti sampai hafalan, tidak pada 
aktualisasinya. Dino-dino omongane dalil (sehari-hari bicara dalil. red), tapi 
dalil iku gak tahu dilakoni (tidak pernah dilakukan. red). 

Semua ini menjadikan saya termenung. Sudah berapa Negara yang saya kelilingi, 
saya kira sudah lebih dari 40 Negara. Namun, untuk kunjungan ke China, rasanya 
lain bagi saya. Bagaimana tidak?, mereka punya sesuatu, tapi tidak mau pakai; 
mempunyai etos kerja tinggi, tetapi hidup sederhana; barang yang terbaik untuk 
dijual, sedangkan yang asal jadi, dipakai sendiri. Mereka juga jarang yang mau 
pakai sepeda motor, karena mengakibatkan polusi dan tidak sehat. Maka dari 
itu, umure wong Chino iku dowo-dowo, gak mati-mati sampek tuek 
tuyuk-tuyuk (umur orang china itu panjang-panjang, tidak mati-mati sampai tua. 
red) , bahkan mencapai usia lebih dari 100 tahun. 

Jadi, budaya kita ternyata tidak produktif. Bagaimana kita bisa mempunyai 
budaya yang produktif, tapi etis dan tauhidi dan Islami, ini baru menjadi 
bangunan dari fiddunya hasanah wa fil akhriati hasanah. 

Saya masih akan ke Moskow. Rusia itu dedengkot komunis dunia. Mereka telah 
mendirikan komunisme yang bertahan selama 70 tahun, lalu ambruk. Kenapa Rusia 
setelah direformasi, kok ambruk, sedangkan China setelah reformasi kok malah 
melejit, padahal keduanya sama-sama komunis?. Itu karena komunis di China 
menggunakan budaya China, yaitu makan kurang dari penghasilan; sementara orang 
Rusia, biaya makan melebihi kapasitas hasil kerjanya. Sekarang ini orang China 
pergi ke Moskow secara besar-besaran untuk menggarap pertanian-pertanian. 
Sehingga sekarang ini Rusia tampaknya berada di bawah kendali RRC. 

Ketika saya di China, saya bertemu dengan pedagang Amerika yang berasal dari 
Wall Street di New york. Dia minta dengan hormat, supaya China itu tidak 
mengekspor barang-barang seperti sekarang ini, karena kalau ini diteruskan, 
maka perekonomian akan ambruk dalam 5 tahun. Jawabnya orang China: "Saya tidak 
ingin mengekspor barang saya, kalau rakyat Anda tidak ingin membeli barang 
saya". Itungan China kan begini: Penduduk China itu berjumlah 1.3 Milyar jiwa, 
kalau setiap orang memperoleh bati 1$ saja, berarti untunganya sudah mencapai 
1.3 Milyar dollar. Jadi, gimana mereka mau disaingi, itu kan ndak mungkin.

disadur oleh alhikam team
 

Kirim email ke