11 November 2002
 Memilih Berpeluh Bersama Petani
<http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2002/11/11/LK/mbm.20021111.LK82436.id.html#>

BANYOLAN si Cepot malam itu terdengar begitu menyegarkan. Bagi warga
Lembang, daerah pegunungan berhawa dingin di Jawa Barat, celoteh tokoh
jenaka dalam pertunjukan wayang golek itu menjadi hiburan yang mampu
menghangatkan suasana.

Tak aneh jika hampir tiap malam *Suara Petani*, yang mengudara di gelombang
95,55 FM, menyiarkan acara wayang golek. Bila si Cepot absen, alunan musik
dangdut terdengar mendayu-dayu menggantikannya. Wayang golek dan dangdut
merupakan kiat jitu *Suara Petani* untuk menjaring pendengar di kalangan
petani pedesaan.

Namun acara hiburan sejatinya bukan sajian utama radio yang hanya memiliki
daya pancar 6-7 kilometer tersebut. Di siang hari, sesuai dengan nama dan
tujuannya, program yang paling sering mereka putar adalah siaran pendidikan
bagi petani. Isinya panduan cara-cara praktis bertani dan beternak.
Pengelola radio biasanya mewawancarai narasumber ahli. "Kami merekam dan
bertanya sesuai dengan kebutuhan petani. Setelah itu, baru disiarkan di
radio," kata Ida Yurinda Hidayat.

*Suara Petani* merupakan salah satu upaya Ida membina petani selama 20 tahun
terakhir. Kepedulian Ida terhadap nasib petani berawal dari pekerjaannya
sebagai jurnalis. Menjadi wartawati *Kompas* sejak 1975, ia kerap menulis
soal kemiskinan di kalangan wanita penghibur dan buruh industri di sekitar
Bandung.

Namun pena tajamnya ternyata mendatangkan masalah. Beberapa pejabat
pemerintah marah lantaran tulisan yang "mengumbar kemiskinan" itu. Para bos
di kantornya pun, kata dia, ikut gerah. Mereka jadi sangat berhati-hati
dalam menugasi Ida-khususnya dalam liputan tentang pemerintah daerah. "Saya
dibuang ke kompartemen pendidikan," kenang ibu dua anak itu.

Merasa tak nyaman, Ida yang *drop out* dari Fakultas Psikologi Universitas
Indonesia itu akhirnya meletakkan pena wartawannya pada 1983. Setelah itu,
ia berkonsentrasi mempelajari kemiskinan dan menetapkan pilihan membantu
petani, kaum miskin yang jumlahnya paling banyak. "Saat itu buruh masih
sedikit, belum seperti sekarang," kata perempuan kelahiran 57 tahun silam
itu.

Kebetulan saat itu Ida diserahi tugas mengurus perkebunan keluarga di
Sampirun, Sumedang, Jawa Barat. Kesempatan menggarap lahan seluas 500
hektare itu tak disia-siakan. Ia mengundang para petani dan memutuskan ikut
memeras keringat bersama mereka menggarap lahan berstatus hak guna usaha
berbendera PT Sampirun Agrotama Kokobit.

Di samping menyediakan lahan, Ida memanggil ahli tanaman cabai. Sang ahli ia
suruh mendidik petani. Hasilnya menakjubkan. Panen cabai mereka meningkat
empat kali lipat, sehingga petani penggarap bisa meraup uang Rp 2 juta
setiap panen. Hal itu terjadi sebelum demam cabai merebak di masyarakat.

Ida juga punya cara jitu mengatasi kesulitan petani mendapat pupuk berharga
murah. Ia melobi para pengelola pabrik pupuk agar bisa memperoleh pupuk
secara langsung. Dengan cara itu, mata rantai perdagangan pupuk yang terlalu
panjang bisa diputus. Harga zat penyubur tanaman itu pun menjadi lebih
murah.

Lobi dengan kalangan perbankan juga digunakannya untuk menyediakan kredit
sepeda motor bagi petani. Dengan memiliki motor, petani bisa mencari
penghasilan tambahan dengan menjadi tukang ojek. Anak-anak pun tak lagi
terlambat sekolah karena ayah mereka punya motor yang siap mengantar.

Dalam membina petani, Ida mengaku tak mendasarkan diri pada ideologi atau
aliran politik tertentu. "Saya hanya ingin mendidik kaum tani agar bebas
dari belenggu kebodohan," katanya tegas di rumahnya di Lembang.

Toh, tuduhan miring tetap menerpa. Ketika pada 1993 Ida membentuk Ikatan
Keluarga Petani Mandiri, cap komunis segera diterakan pada dirinya. Pakaian
seragam organisasi yang berwarna hijau pun dipertanyakan. "Kami dituduh mau
latihan kemiliteran oleh pihak keamanan," ujarnya.

Ketika seragam ia ganti menjadi berwarna jingga, tuduhan tak menjadi pupus.
"Saya ganti dituding simpatisan Partai Demokrasi Indonesia," kata Ida. Kala
itu PDI memang menjadi ancaman bagi rezim Orde Baru. Pusing dengan pelbagai
tuduhan yang mengesalkan, ia mengganti warna seragam itu dengan warna
kuning, seperti warna Golkar. "Setelah itu, kami tak pernah ditegur," kata
perempuan yang masih gemar bersolek itu sambil tersenyum.

Lambat-laun petani binaannya berkembang tak cuma di sekitar Sumedang, tapi
meluas ke daerah lain seperti Indramayu, Cirebon, Banten, dan Purwakarta.
Pada suatu ketika, jumlahnya pernah mencapai 120 ribu orang. Bersama para
anggota organisasi itulah Ida kemudian mendirikan jaringan radio *Suara
Petani* di berbagai daerah.

Selain di Lembang, radio komunitas berbentuk jaringan itu telah mengudara di
26 tempat lain. Di samping itu, masih ada delapan radio lagi yang sedang
melakukan siaran uji coba. Berapa modal untuk mendirikan radio itu? Ternyata
tak mahal. Tiap radio cuma membutuhkan biaya Rp 2-3 juta untuk membeli *
mixer* dan pemancar. Duit itu mereka kumpulkan secara gotong-royong.

Biaya operasional radio sehari-hari juga ditanggung oleh para petani
sendiri. Mereka mengumpulkan dana dengan segala cara, termasuk menerbitkan
kupon permintaan lagu seharga Rp 1.000 per lagu. Ida tegas menolak
pembiayaan dari luar negeri atau lembaga swadaya masyarakat lain. "Kami
ingin mandiri," ujarnya.

Untuk menghemat biaya, para pengelola radio bekerja tanpa bayaran. Toh,
mereka tak mengeluh. "Radio ini kan dibangun untuk mencerdaskan petani,"
ujar Dedi, seorang penyiar *Suara Petani* Lembang.

Malang, di tengah sukses membangun jaringan radio, tahun lalu perkebunan Ida
diserbu aksi unjuk rasa. Peristiwa itu terjadi hanya beberapa bulan sebelum
masa kontrak hak guna usaha miliknya habis. Aksi demo tersebut membuat Ida
terpaksa hengkang dari Sampirun, yang kini dikuasai perusahaan lain.
Beruntung, jaringan radio *Suara Petani* masih bertahan. Dengan modal
radiolah Ida berusaha terus melanjutkan cita-citanya mencerdaskan para
petani.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2002/11/11/LK/mbm.20021111.LK82436.id.html

Kirim email ke