Pondok Pesantren Al Falah Biru, Tarogong Kidul, Garut Mengajar Anak Berpuasa Tanpa Paksaan Senin, 8 Agustus 2011 | 17:11 WIB
*PONDOK *Pesantren Al Falah Biru, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, berdiri di atas lahan sekitar 10 hektare. Pesantren ini menampung ratusan santri putra dan putri dari berbagai tingkatan. Sebagian di antaranya mondok atau tinggal di asrama pesantren. Sebagian santri yang mondok di pesantren ini adalah anak-anak. Usia mereka berkisar antara 6 hingga 17 tahun. Dengan banyaknya anak-anak di tempat tersebut, para pengasuh di pesantren ini merancang sebuah formula agar konsep pendidikan dan pengasuhan dapat diterima serta menyenangkan para santrinya. Menurut seorang pengasuh pondok pesantren Al Falah Biru, Ustaz Hanif, para santri di pesantren itu berasal dari berbagai latar belakang baik ekonomi, budaya, maupun pendidikan. Pada Ramadan tahun ini, pihak pesantren benar-benar menerapkan disiplin tinggi kepada para santri agar dapat menjalankan ibadah tahunan tanpa membuat para santri terpaksa. Metode yang diajarkan, menurut Hanif, di antaranya adalah mengajari anak agar dapat berpuasa dengan menerapkan konsep tasawuf atau sufi. Konsep tasawuf di pesantren ini adalah menekankan pada upaya pembersihan aspek batiniah atau hati para santri yang dapat menghidupkan kegairahan akhlak yang mulia. "Kami mengharapkan anak-anak dapat berpuasa dengan kesadaran mereka. Tak ada paksaan. Anak-anak merasa berdosa sendiri jika tidak puasa," kata Hanif. Selama bulan Ramadan, pihak pesantren menerapkan konsep tasawuf secara teori dengan mengkaji beberapa kitab tasawuf, misalnya *Kifayatul Azkiya*. "Secara mudahnya, kami hanya membimbing anak agar dapat mencontoh para sufistik atau orang-orang saleh. Kita harapkan sedikit-sedikit anak-anak dapat mencontoh," katanya. Pembelajaran puasa melalui konsep tasawuf, kata Hanif, bertujuan menumbuhkan kesadaran serta kebersihan hati para santri yang muaranya para santri secara sadar dan sukarela dapat melaksanakan berbagai kewajiban, termasuk puasa Ramadan, yang bagi sebagian orang sangat berat. "Kami berupaya menumbuhkan rasa cinta terhadap puasa pada hati anak. Jadi bagi anak, puasa tidak hanya sekadar ritual," kata Hanif. Menariknya lagi, selain menekankan konsep tasawuf, Pesantren Al Falah Biru selama tiga tahun terakhir menerapkan konsep pesantren ramah anak. Beberapa tahun lalu, ketika pesantren ini masih menerapkan konsep lama, siswa yang melakukan kesalahan, misalnya tidak berpuasa, biasanya disuruh ke depan kelas disaksikan santri lainnya untuk diberi hukuman seperti *push up*dan paling berat sampai dipukul atau *dijilid *dengan rotan pada bagian tangan atau kaki. Dengan konsep ramah anak ini, Pesantren Al Falah Biru mulai mengarahkan hukuman atau *punishment *yang bersifat fisik itu kepada punishment yang lebih bersifat edukatif serta lebih membuat anak taat tanpa terpaksa. Dengan pola yang sudah dimodifikasi seperti itu, kata dia, diharapkan Pesantren Al Falah Biru dapat membuat nyaman para santri untuk belajar, tanpa dibayangi lagi ketakutan kena hukuman fisik dari para seniornya. "Jadi kami ingin menciptakan pesantren yang menyenangkan bagi anak. Kami ingin anak-anak betah di pesantren," ujar Hanif, yang juga Kepala Sekolah MTs Al Falah Biru ini. Pesantren Al Falah Biru merupakan salah satu pesantren di Kabupaten Garut yang dipilih Unicef untuk program Pesantren Ramah Anak. Program yang baru kali pertama digelar di Indonesia ini bertujuan untuk mengembangkan model pesantren dengan menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan dan memenuhi hak-hak peserta didik. (*) Penulis : Zezen Zainal M Editor : Darajat Arianto http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/59986/Mengajar-Anak-Berpuasa-Tanpa-Paksaan
