Tah Kang Odir, aya oge geuningan liputan ti Tribun Jabar, ngeunaan Pasantren Al-Falah Dago teh.
=== Pondok Pesantren Al Falah, Cisitu Baru, Dago Santri Pun Ikut Pelatihan Motivasi dan Diskusi Interaktif Rabu, 24 Agustus 2011 | 10:28 WIB *MINGGU *(21/8) sore itu, dari sebuah ruang kelas di Pesantren Al Falah Dago terdengar lantunan suara orang sedang mengaji. Di dalam kelas itu ada beberapa santri dan seorang guru yang sedang mengkaji kitab kuning. Ini merupakan kegitan rutin pesantren selama bulan Ramadan. Khusus untuk bulan Ramadan ada dua kelas yang dibuka, yaitu kelas pemula (kelas A) dan kelas lanjutan (kelas B). Adapun materi yang dipelajari adalah tajwid, *hidayatul mustafidz, tijan, akhlakul lilbanini, safinatunnajah, jumuriyah, matan bina*, bahasa Arab, *sanusiyah, fathul qorib, ta'lim muta'alim, kafrowi, tafsir Jalalein, sofwatuttafasir, kifayatulakhyar, ulumul hadits, ulumul Quran, waroqot, tanbih, maqsud, riyadhussholihin, imrithy, syamsiyah*, dan *alfiyah*. Selain mengkaji kitab kuning pada bakda Asar hingga pukul 16.30, setelah melaksanakan salat Tarawih sebanyak 23 rakaat, para santri pun melaksanakan tadarus dan setelahnya kembali mengkaji kitab kuning. Semua kelas yang diadakan menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantarnya. Santri yang berasal dari luar Jawa Barat kadang meminta bantuan teman-teman yang mengerti untuk menerjemahkan. "Teman yang tidak mengerti biasanya minta diterjemahkan, lalu mereka akan mencatat dengan bahasa mereka sendiri," ujar Iis Farida, seorang santriwati. Kajian kitab kuning merupakan ciri khas dari sistem salafi. Beberapa pesantren memang hanya menggunakan sistem salafi atau hanya menggunakan sistem modern (sekolah formal/madrasah). Pesantren yang berlokasi di Jalan Cisitu Baru No 52 ini menggabungkan kedua sistem itu. Selain mengkaji kitab kuning, pesantren ini pun mengadakan sekolah formal. Pesantren yang didirikan oleh KH Saefuddin Ahmad ini sudah mempunyai sekolah formal sendiri. Ada TKA/TPA, SD, SMP, SMA, dan SMK yang hanya berjarak sekitar 30 meter dari pesantren. Untuk pendidikan agama di sekolah formal, muatannya lebih banyak dibandingkan dengan muatan pendidikan agama di sekolah lain. "Di sekolah kami, muatan pendidian agamanya ditambahkan menjadi sepuluh jam per minggunya," kata KH A Suganda, pemimpin Pesantren Al Falah. Saat ini pesantren yang didirikan pada tahun 1950-an ini dihuni oleh sekitar 90 santri putra dan putri. Berbeda dengan beberapa pesantren lain yang santrinya hanya sampai usia SMA, di pesantren ini sekitar 70 persen dari seluruh jumlah santrinya adalah mahasiswa yang kebanyakan kuliah di ITB. Pondok pesantren yang memang berdekatan dengan beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta ini juga berperan sebagai institusi yang berbasis keagamaan untuk menunjang keberhasilan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di bulan Ramadan, para santri juga diikutsertakan dalam program khusus, seperti training motivasi, diskusi interaktif, bazar, dan santunan untuk duafa. Banyak orang yang tidak mengetahui keberadaan pesantren ini. Padahal, lokasinya ada di tengah kota. Menurut KH A Suganda, pesantren di tengah kota seperti ini memang langka. "Ini merupakan aset Kota Bandung. Di tengah kota masih ada pesantren seperti ini. Masih langka. Yang membuat pesantren ini masih bisa bertahan sampai sekarang ini mungkin karena santrinya tidak terlalu dibebani," ujar KH A Suganda. (*) Penulis : Andra Nur Oktaviani Editor : Darajat Arianto http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/63501/Santri-Pun-Ikut-Pelatihan-Motivasi-dan-Diskusi-Interaktif
