Pengidap HIV/AIDS Indonesia Berjaya di Paris Oleh *Juliani Wahjana* Dibuat *25 Agustus 2011 13:43* [image: image/jpeg icon]homeless_world_cup-indonesia.jpg<http://cdn.radionetherlands.nl/data/files/images/lead/article/2011/08/homeless_world_cup-indonesia_0.jpg>
*Luar biasa! Untuk pertama kalinya dalam sejarah pertandingan sepak bola internasional, Indonesia mengalahkan Belanda. Pada putaran kedua Homeless World Cup 2011, Indonesia menggilas Belanda 7-4.* “Mudah-mudahan menang. Tapi yang penting, saya bangga sekali teman-teman dari Indonesia bisa datang ke Paris. Saya harap keikutsertaan ini bisa memperbaiki rasa percaya diri mereka. Walaupun mereka memiliki latar belakang HIV atau pecandu narkoba, tapi mereka masih bisa mewakili negara.” * * Kata-kata di atas keluar dari mulut Katherine Otto, perempuan di balik keikutsertaan tim Indonesia dalam kejuaraan sepak bola dunia untuk tuna wisma, Homeless World Cup 2011, di Paris. Kath, demikian panggilannya, adalah manajer tim Indonesia. Konsultan kesehatan Bank Dunia di Washington ini mengenal baik setiap anggota tim sejak tahun 2009, ketika bergabung dengan LSM Rumah Cemara, organisasi masyarakat yang bekerja sama dengan komunitas hiv dan pecandu, di Bandung . “Saya tahu tentang acara ini tapi belum ada tim dari Indonesia, sebagai tim kami 'melamar' ke komite Homeless World Cup dan mereka tertarik mengajak tim Indonesia untuk datang ke Paris,” demikian cerita Kath mengenai awal keikutsertaan timnya. [related-articles] *Seleksi* Kemudian diadakanlah seleksi. Persyaratannya adalah seseorang harus punya pengalaman *homeless *(tuna wisma). Sedangkan separuh pemain tim, empat orang, adalah ODHA (orang dengan HIV/Aids). Kath menjelaskan: “Mungkin mereka punya rumah dan keluarga, tapi karena banyaknya stigma terhadap mereka, mereka harus keluar dari rumah atau karena mereka pecandu maka harus meninggalkan rumah.” Di samping bisa bermain bola dengan baik, mereka juga harus melewati tes wawancara mengenai motif dan minat mereka mengikuti turnamen ini. *Stigma fisik *Dengan latihan seminggu tiga kali dan persiapan yang sudah cukup lama, tim Rumah Cemara siap untuk mengadu kebolehan mereka melawan tim dari negara-negara lain. “Kami siap,” demikian dikatakan pelatih Adym Mulyadi, yang pernah melatih tim sepak bola PON Jawa Barat. Berlatar belakang pecandu dan HIV/Aids tidak menghalangi mereka untuk berlatih fisik seperti layaknya pemain profesional lain. Hal ini pula yang ingin ditunjukkan sang pelatih. “Di Indonesia ada stigma bahwa pemain dengan latar belakang HIV/Aids dan pecandu, tidak akan kuat secara fisik. Tapi kita buktikan di lapangan bahwa mereka bisa kuat bermain selama sembilan puluh menit *full. *Jadi saya harap ini bisa menghapus stigma di masyarakat terhadap mereka,” tandas Adym. Tetapi Adym menambahkan bahwa mereka harus diingatkan untuk tidak lupa meminum obat setiap 12 jam sekali. *Membuktikan diri *Sementara bagi Tri Eklas Tessa, salah satu anggota tim, menang atau kalah itu adalah urusan kedua. “Yang penting saya bisa membuktikan diri kepada keluarga, kenalan, dan masyarakat luas bahwa orang yang termarginalkan seperti saya bisa melakukan sesuatu yang baik, yang dapat mengharumkan nama negara.” Sejauh ini, prestasi tim Indonesia dalam Kejuaraan Homeless World Cup memang membanggakan. Sebagai tim yang untuk pertama kali turut dalam turnamen, penampilan mereka boleh dibilang fenomenal. Mereka mampu mengalahkan lawan-lawan yang dianggap lebih jago. Yang masih dinantikan, apakah prestasi mereka ini juga bisa membawa perubahan sikap dan pandangan negatif masyarakat terhadap mereka. Homeless World Cup adalah kejuaran sepak bola dunia tahunan bagi para * homeless* (orang yang tidak memiliki tempat tinggal). Bekerja sama dengan 70 negara untuk mengembangkan program sepakbola akar rumput dan pembangunan sosial. Tujuan akhirnya adalah memberdayakan kaum homeless untuk mengubah hidup mereka melalui sepakbola. Pendiri dan presiden HWC adalah Mel Young. HWC dimulai sejak tahun 2003 dengan 18 negara peserta. Saat ini, 64 tim dari 53 negara turut serta dalam turnamen termasuk 16 tim putri. Edisi ke 9 HWC digelar antara 21 Agustus – 28 Agustus di Champ de Mars, Paris, Prancis. Untuk pertamakali Tim Indonesia turut serta. ------------------------------ *URL sumber:* http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/pengidap-hivaids-indonesia-berjaya-di-paris *Links:* *Images:* [i1] http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/lead/article/2011/08/homeless_world_cup-indonesia_0.jpg [i2] http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia
