Sanggeus baralik deui ka fitrah, geura pek lalajoanan, bakal paheula-heula deui arindit ti fitrah. Ke mun pareng, taun hareup sugan jeung sugan bisa balik deui ka fitrahna. Sanes kitu? Hehehe
2011/9/5 oman abdurahman <[email protected]> > ** > > > Baraya, > > Masih dina raraga lebaran, hayu urang nyerepkeun jeung ngalenyepan maksud > 'idul fitri anu harti saujratna kl wangsul ka fitrah manusa, kalayan mugia > tiasa diamalkeun dina hirup kumbup sapopoe. Pikeun hal eta si kuring numbu > loka seratan p Haidar Bagir ti milist tatangga. Hapunten henteu > ditarjamahkeun kana basa Sunda. Mugia aya manfaatna. > > Salam, > manar > > > > ---------- Forwarded message ---------- > From: Herawati Kadarman <[email protected]> > Date: 2011/9/3 > Subject: [SuaraHati] Fitrah dan Makna Kembali KepadaNya > To: Rumah SUARA HATI <[email protected]> > > > Tulisan DR. Haidar Bagir juga sangat bermanfaat menambah khazanah > pengetahuan kita, salam Herawati bt Kadarman > (Dikutip dari group Asyura) > > FITRAH DAN MAKNA KEMBALI KEPADANYA > Oleh DR. Haidar Bagir > > Apakah Fitrah itu? > > Sudah lazim dikatakan bahwa hari raya fitri ini adalah perayaan > keberhasilan kita dalam mengupayakan kembalinya kita ke fitrah. Tapi, apakah > yang disebut dengan fitrah? Apa yang dimaksud ketika orang mengatakan bahwa > fitrah adalah kesucian, dan bahwa kembali ke fitrah sebagai kembali kepada > kesucian? > > Meskipun benar terkait dengan kesucian, fitrah tidak boleh difahami sebagai > kepolosan atau kekosongan. Fitrah justru adalah suatu kepenuhan, suatu > kesempurnaan yang menjadi esensi kemanusiaan kita. Untuk membahas masalah > ini marilah kita ulas sebuah ayat al-Qur’an – satu-satunya – yang mengandung > kata fitrah ini : > > ”Dan hadapkanlah wajahmu dengan hanif kepada agama Allah. (Tetaplah atas) > Fitrah Allah yang manusia diciptakan atasnya. Tak ada perubahan dalam > ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus ... (Al-Rum 30 : 30) > > Kata fitrah -- bahasa Arab ”fith-rah” – berasal dari akar kata f-th-r. Arti > kata ini, yang terkait dengan pembahasan kali ini, adalah ”keawalmulaan > sesuatu sementara sebelumnya sesuatu itu tidak ada.” Dengan kata lain, > ”sesuatu yang tercipta untuk pertama kalinya dan tanpa preseden (contoh)”. > Sinonimnya adalah al-khalq atau atau al-ibda’. Contohnya, air susu yang > pertama kali keluar dari induk unta disebut sebagai fithr. Maka, dalam ayat > di atas, fitrah berarti unsur manusia yang diciptakan pertama kali. Unsur > manusia ini, tak lain dan tak bukan terbentuk atas model sifat atau ”tabiat” > – yakni fitrah – Allah sendiri. > > Hal ini mengingatkan kita pada sebuah ayat yang lain, yang di dalamnya > Allah berfirman : > > ”Dan apakah yang lebih baik dari Celupan (Sibghah) Allah?” (Al-Baqarah 2 : > 29). > > Menurut para ulama, fitrah di sini identik dengan Celupan Allah, seperti > diungkapkan dalam ayat di atas. Yakni, pewarnaan yang pertama kali diberikan > oleh Allah kepada manusia -- yang memberikan kepadanya tabiat-esensialnya. > Dalam analisis lebih lanjut, sesungguhnya Fitrah atau Celupan Allah ini > identik dengan peniupan Ruh Allah dalam ciptaan manusia ini : > > ”Maka, ketika Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan meniupkan ruh-Ku ke > dalamnya, maka tunduklah kamu (para malaikat) dengan bersujud” (Al-Hijr 15 : > 29) > > Fitrah adalah Agama > > Selanjutnya, disebutkan dalam Al-Rum ayat 30 tersebut, bukan saja bahwa > fitrah manusia merupakan perwujudan ruh Allah, tapi ia juga identik dengan > agama itu sendiri, tepatnya ”agama yang lurus”. Yakni, suatu pandangan-dunia > (world-view atau weltanscahauung) dan cara hidup (way of life). Nah, jika > kita jajarkan ayat-ayat yang saya kutip di atas, maka dapat kita simpulkan > bahwa fitrah adalah ”warna keruhaniahan Ilahi” manusia dalam bentuk ”al-din > al-qayim”, agama yang lurus : dengan agama di sini berarti cara pandang > (world-view atau weltanscahauung) dan cara hidup (way of life). Yakni cara > hidup yang benar, yang berorientasi keimanan kepada Allah Yang Mahaesa,dan > kepada kebenaran – suatu cara pandang dan cara hidup yang, dalam ayat yang > sama, disebut juga dengan cara hidup yang hanif. > > Dua Unsur Fitrah > > Terkadang fitrah diidentikkan dengan kesucian. Hal ini biasanya merujuk > kepada hadis Nabi yang berbunyi : > > ”Semua bayi yang baru dilahirkan, dilahirkan atas fitrah. Adalah > orangtuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau pun Majusi ...” > Pemahaman ini bukan tidak ada benarnya mengingat, seperti dikatakan di atas, > fitrah tidak pernah berubah. Ia selalu dalam keadaan tetap sebagaimana ia > diciptakan pertama kali. Namun, hendaknya pemahaman ini tidak mengelirukan > kita sehingga kita berfikir bahwa fitrah identik dengan kepolosan, dengan > kekosongan. Sebaliknya dari itu. > > Dalam analisis lebih jauh, kita mendapati bahwa fitrah memiliki dua unsur > utama. Pertama, keimanan kepada Tuhan sebagai Rabb kita, sebagai Pencipta > dan Perawat kita : > > ”Dan ingatlah ketika Allah mengeluarkan anak-cucu Adam dari punggung atau > tulang sulbi ayah-ayah mereka dan menarik persaksian atas diri mereka : > ’Bukankah Aku ini Rabb-Mu?’ Mereka pun berkata : ’Benar, kami bersaksi’. > Agar kelak mereka tidak berkata : ’Sesungguhnya mengenai hal ini kami > lupa’.” (al-A’raf 7 : 172). > > Dalam konteks ini kita teringat pada salah satu pengertian kata ”din” atau > agama yang mengandung makna ”hutang” (dayn). Yakni hutang janji kita kepada > Allah bahwa kita akan selalu beriman kepada-Nya.[1] > > Unsur kedua fitrah adalah pengetahuan tentang jalan kebaikan dan jalan > keburukan yang telah diilhamkan kepada manusia sejak awal penciptaannya : > > ”Dan demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaan)-nya.[2] Maka diilhamkan > kepadanya jalan keburukan dan jalan ketakwaannya. Pasti berbahagia siapa > saja yang memelihara kesuciannya, dan pasti sengsara siapa saja yang > mengotorinya.” (al-Layl 92 : 7 – 10). > > Kesimpulan > > Berdasar itu semua, kita dapat menyimpulkan bahwa setiap manusia diciptakan > dengan keimanan kepada Allah Yang Maha Esa dan pengetahuan tentang kebaikan > atau ketakwaan dan keburukan. Bahwa kebahagiaan kita terletak dalam > memelihara kesucian keyakinan kita kepada-Nya dan pengetahuan baik-buruk > yang telah diilhamkan kepada kita tersebut. Inilah yang dalam ayat di atas > disebut sebagai ”agama yang lurus atau hanif.” > > Dari al-Rum ayat 30 di atas kita juga mendapati bahwa fitrah adalah suatu > unsur penciptaan manusia yang tak akan pernah berubah sama sekali : ”Tak ada > perubahan dalam ciptaan Allah ...”. Sekali diciptakan, ia akan terus ada > dalam diri manusia. Memang, di antara arti leksikal kata fitrah adalah > ”patrian, cetakan, atau stempelan” sedemikian, sehingga sekali dipatri, > dicetak, atau distempel, bentuk tersebut akan tinggal tetap dan tak pernah > berubah. > > Selanjutnya dapat pula kita simpulkan bahwa, apa pun yang terjadi, fitrah > selalu bisa menjadi pemandu kita dalam hidup ini. Selama fitrah kita belum > tertutupi dengan kotoran-kotoran akibat perbuatan-perbuatan buruk kiita, > maka kita selalu dapat mengandalkannya dalam menuntun hidup kita agar selalu > berada di jalan keimanan kepada-Nya dan di jalan kebaikan. Dengan kata lain, > fitrah – yang selalu ada dalam diri kita – itu akan memberikan tanda kepada > kita jika kita berbuat baik, dalam bentuk ketenangan hati. Sebaliknya, ia > akan memberikan tanda kegelisahan hati jika kita melakukan perbuatan buruk. > Inilah sebabnya, di dalam Islam, kebaikan disebut sebagai ”ma’ruf” (sesuatu > yang telah diketahui – sebagai baik) dan keburukan disebut sebagai ”munkar” > (sesuatu yang diingkari), karena sesungguhnya hal itu telah berurat-berakar > tanpa pernah hilang dan berubah dalam jiwa manusia, dalam bentuk fitrah > tersebut. > > Dalam kaitan ini Rasulullah saw. pernah bersabda : > > ”Kebaikan adalah sesuatu yang jika kamu kerjakan hatimu tenteram, sedangkan > keburukan adalah sesuatu yang jika kamu kerjakan hatimu gelisah.” > > Yang lebih mungkin terjadi, fitrah kita itu tertutupi oleh > perbuatan-perbuatan buruk kita sendiri sedemikian sehingga, jika telah > begitu banyak perbuatan buruk kita lakukan, maka ia tertutupi dan kita > kehilangan akses kepada hati nurani (hati yang selalu menyinari) tempat > fitrah pemandu kita berada. > > Nabi saw. bersabda : > > ”Dalam diri setiap orang ada segumpal organ (mudh-ghah). Jika baik organ > ini, maka baiklah keseluruhan orang itu, dan jika buruk organ ini, maka > buruklah keseluruhan orang itu. Organ itu adalah hati. Setiap kali orang > beriman melakukan keburukan maka muncul bintik hitam di dalam hatinya. Dan > makin sering dia berbuat keburukan, makin banyak bintik hitam di dalam > hatinya.” > > Jangan sampai kita terus membiarkan diri kita dikuasai oleh nafsu yang > mendorong-dorong kita untuk berbuat keburukan (al-nafs al-ammarah bi al-su’) > sedemikian, sehingga hati kita – fitrah kita -- benar-benar tertutup dengan > lapisan hitam atau, seperti dikatakan dalam Al-Qur’an, dengan penyakit atau > karat. Jangan sampai, seperti firman Allah Swt., kita menjadi seperti > orang-orang yang terkutuk, yang ”tuli, bisu, buta dan baginya tak ada jalan > kembali.” (Al-Qur’an 2 : 18) > > Penutup > > Mudah-mudahan ibadah puasa yang baru saja kita selesaikan penunaiannya > betul-betul dapat mengembalikan kepada kita kendali jiwa kita atas > nafsu-nafsu angakara murka dan, sebagai hasilnya, menjadikan kita orang yang > bertakwa – yakni, selalu sadar bahwa Allah ada dan selalu mengawasi kita -- > sehingga kita akan terus berupaya untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang > dapat mendatangkan ridha-Nya, dan menghindar dari perbuatan-perbuatan buruk > yang dapat mendatangkan murka-Nya, sesuai firman-Nya : > > ”Wahai orang beriman. Diwajibkan berpuasa atasmu sebagaimana diwajibkan > atas orang-orang terdahulu, agar kamu bertakwa.”. > > Karena jika kita benar-benar-benar berpuasa dengan ”landasan keimanan > (iimaanan) dan kepasrahan (ihtisaaban) maka Allah pasti akan menunaikan > janjinya dengan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lampau dan, dengan > demikian, membersaihkan kembali hati kita dari bintik-bintik hitam perbuatan > buruk kita, dan menjadikan kita mampu untuk mendapatkan jalan – mendapatkan > akse -- kembali kepada fitrah kita. > > > [1] Memang, ajaran Islam tak mengenal atheisme, dalam arti ketidakpercayaan > kepada Tuhan. Islam percaya bahwa sesungguhnya semua orang memiliki benih > kepercayaan kepada Tuhan. Yang terjadi, orang menutupi benih kepercayaan > kepada Tuhan ini. Orang seperti tidak disebut ateis, melainkan kafir. > Memang, kata kafir berasal dari ”k-f-r” (ka-fa-ra) yang berarti menutupi. > (Dalam sebagian kamus, kegiatan menutupi ini dicontohkan dengan kegiatan > petani yang menutup kembali, dengan tanah bekas galian, benih yang baru > ditanam dalam lubang yang dibuatnya. Kata to cover, dalam bahasa Inggris, > pun sesungguhnya berasal dari kata bahasa Arab ka-fa-ra ini). > > [2] Perhatikan bahwa kata bahasa-Arab yang dipergunakan Al-Qur’an untuk > menyatakan ”penyempurnaan” (atau, ”apa-apa yang disempurnakan”) dalam ayat > di atas adalah ”sawwaitu” yang berasal dari akar kata yang sama dengan > ungkapan ”fa idzaa sawwaituhu” (”Dan ketika telah kami sempurnakan ...”) > dalam ayat Al-Hijir ayat 29 yang dikutip sebelumnya. > > SalAm wa rahmah > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > ------------------------------------ > > Suara Hati SUARAYahoo! Groups Links > > > > > >
