Allohummagfirlahuu, warhamhuu, wa aafihii, wa 'fu'anhuu, amiiin...


>________________________________
>From: Ki Hasan <[email protected]>
>To: Ki Sunda <[email protected]>
>Cc: Baraya Sunda <[email protected]>; Urang Sunda 
><[email protected]>
>Sent: Tuesday, 6 September 2011 9:41 AM
>Subject: [kisunda] Re: Tokoh - Abah Anom Suryalaya
>
>
>  
>Riwayat Singkat KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom) 
>
>Abah  Anom KH.  A Shohibulwafa Tajul Arifin yang dikenal dengan nama Abah 
>Anom,  dilahirkan di Suryalaya tanggal 1 Januari 1915. Beliau adalah  putra 
>kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok  Pesantren Suryalaya, 
>dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada  usia delapan tahun Abah Anom masuk 
>Sekolah Dasar (Verfolg  School) di Ciamis antara tahun 1923-1928. Kemudian ia 
>masuk  Sekolah Menengah semacan Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada  tahun 
>1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama  Islam secara lebih 
>khusus. Beliau belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren 
>Cicariang Cianjur, kemudian  belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah 
>kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah  kurang lebih dua 
>tahun di Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan  ke Pesantren Gentur, Cianjur 
>yang saat itu diasuh oleh Ajengan  Syatibi.
>  
>Dua tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom melanjutkan belajar di  Pesantren 
>Cireungas, Cimelati Sukabumi. Pesantren ini terkenal  sekali terutama pada 
>masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang  ahli hikmah dan silat. Dari 
>Pesatren inilah Abah Anom banyak memperoleh  pengalaman dalam banyak hal, 
>termasuk bagaimana mengelola dan  memimpin sebuah pesantren. Beliau telah 
>meguasai ilmu-ilmu agama  Islam. Oleh karena itu, pantas jika beliau telah 
>dicoba dalam  usia muda untuk menjadi Wakil Talqin Abah Sepuh. Percobaan ini  
>nampaknya juga menjadi ancang-ancang bagi persiapan memperoleh  pengetahuan 
>dan pengalaman keagaman di masa mendatang. Kegemarannya  bermain silat dan 
>kedalaman rasa keagamaannya diperdalam lagi  di Pesantren Citengah, Panjalu, 
>yang dipimpin oleh H. Junaedi  yang terkenal sebagai ahli alat, jago silat, 
>dan ahli hikmah.
>
>Setelah menginjak usia dua puluh tiga tahun, Abah Anom menikah 
                dengan Euis Siti Ru’yanah. Setelah menikah, kemudian ia 
                berziarah ke Tanah Suci. Sepulang dari Mekah, setelah bermukim 
                kurang lebih tujuh bulan (1939), dapat dipastikan Abah Anom 
telah 
                mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman keagamaan yang 
mendalam. 
                Pengetahuan beliau meliputi tafsir, hadits, fiqih, kalam,  dan 
tasawuf yang merupakan inti ilmu agama. Oleh Karena  itu, tidak heran jika 
beliau fasih berbahasa Arab dan lancar berpidato,  baik dalam bahasa Indonesia 
maupun bahasa Sunda, sehingga pendengar  menerimanya di lubuk hati yang paling 
dalam. Beliau juga amat  cendekia dalam budaya dan sastra Sunda setara 
kepandaian sarjana  ahli bahasa Sunda dalam penerapan filsafat etnik Kesundaan, 
untuk  memperkokoh Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Bahkan  baliaupun 
terkadang berbicara dalam bahasa Jawa dengan baik.
>
>Ketika Abah Sepuh Wafat, pada tahun 1956, Abah Anom harus mandiri 
                sepenuhnya dalam memimpin pesantren. Dengan rasa ikhlas dan 
penuh 
                ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan ajaran Islam. Pondok 
Pesantren 
                Suryalaya, dengan kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai 
pelopor 
                pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi 
untuk 
                meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit 
tenaga 
                listrik, dan lain-lain. Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren 
                Suryalaya tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang 
                diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan negara. 
                Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan 
yang 
                sah dan selalu berada di belakangnya.
>
>
> 
>
>
>Abah Anom &  Istri (Hj. Yoyoh / Ummy)  
>
>Abah  Anom  
>Di  samping melestarikan dan menyebarkan ajaran agama Islam melalui  metode 
>Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Abah Anom  juga sangat konsisten terhadap 
>perkembangan dan kebutuhan masyarakat.  Maka sejak tahun 1961 didirikan 
>Yayasan Serba Bakti dengan berbagai  lembaga di dalamnya termasuk pendidikan 
>formal mulai TK, SMP  Islam, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, 
>Madrasah  Aliyah kegamaan, Perguruan Tinggi (IAILM) dan Sekolah Tinggi  
>Ekonomi Latifah Mubarokiyah serta Pondok Remaja Inabah. Didirikannya  Pondok 
>Remaja Inabah sebagai wujud perhatian Abah Anom terhadap  kebutuhan umat yang 
>sedang tertimpa musibah. Berdirinya Pondok  Remaja Inabah membawa hikmah, di 
>antaranya menjadi jembatan  emas untuk menarik masyarakat luas, para pakar 
>ilmu kesehatan,  pendidikan, sosiologi, dan psikologi, bahkan pakar ilmu agama 
> mulai yakin bahwa agama Islam dengan berbagai disiplin Ilmunya  termasuk 
>tasawuf dan tarekat mampu merehabilitasi kerusakan 
 mental dan membentuk daya tangkal yang kuat melalui pemantapan  keimanan dan 
ketakwaan dengan pengamalan Thariqah Qadiriyah  Naqsabandiyah. Dalam 
melaksanakan tugas sehari-hari, Abah  Anom menunjuk tiga orang pengelola, yaitu 
KH. Noor Anom Mubarok  BA, KH. Zaenal Abidin Anwar, dan H. Dudun Nursaiduddin.
>  http://www.suryalaya.org/riwayat2.html
>
> 
>
>

Kirim email ke