Kotoran Kuda untuk Kertas
  KOMPAS/ADI 
SUCIPTO<http://www1.kompas.com/printnews/xml/2011/08/12/02555293/Kotoran.Kuda.untuk.Kertas#>
Siswa SMA Muhammadiyah 1 Babat, Lamongan, Jawa Timur, memperlihatkan kertas
berbahan baku kotoran kuda. Karya mereka akan dipresentasikan pada ajang
ASEANpreneurs Idea Canvas di Singapura, 26 Agustus mendatang.
 Jumat, 12 Agustus 2011 | 02:55 WIB

*ADI SUCIPTO K*

Bagi sebagian orang, kotoran kuda menjijikkan. Selain itu, ada kekhawatiran
kotoran kuda bisa menimbulkan tetanus apabila kena luka. Ternyata, kotoran
kuda bisa dibuat menjadi kertas. Tiga siswa SMA membuktikan hal itu.

Adalah Dafina Balqis, Diah Ayu Vivit Nurfaidah, dan Muhammad Teguh
Kurniawan, tiga siswa SMA Muhammadiyah 1 Babat, Lamongan, Jawa Timur,
berniat membuat kertas daur ulang dalam kegiatan Muhiba Enterpreneur Club,
semacam kegiatan ekstrakurikuler untuk wiraswasta.

”Semula kami ingin membuat kertas daur ulang dari eceng gondok. Namun, kok
sudah dikembangkan,” kata Dafina.

Setelah berselancar di internet, mereka menemukan, di Amerika orang membuat
kertas dari kotoran bison. Di Thailand dikembangkan kertas dari kotoran
gajah. Kotoran gajah dan bison bisa dijadikan kertas karena banyak
mengandung serat.

*Kotoran*

Ketiga siswa kemudian beride membuat kertas serupa. Mereka membandingkan
kotoran kuda dan kotoran sapi. Ternyata, kandungan serat kotoran kuda 22,89
persen, sedangkan kandungan serat kotoran sapi hanya 18 persen.

”Karena itu, kami membuat kertas dari kotoran kuda. Setelah tiga kali
percobaan, akhirnya berhasil meskipun perlu terus disempurnakan,” Teguh
menuturkan.

Setiap 200 gram kotoran kuda menghasilkan lima lembar kertas setebal 1
milimeter ukuran folio.

”Kami ingin meriset ulang sampai ukuran kertas tipis dan lebih halus.
Rencananya akan kami padukan dengan serat pelepah pisang,” kata Diah.

Usaha Dafina, Teguh, dan Diah tidak sia-sia. Awal Juni, tim itu ditetapkan
sebagai juara dalam ajang ASEANpreneurs Idea Canvas. Mereka akan
mempresentasikan karyanya di Universitas Nasional Singapura, 26 Agustus
mendatang.

Pendamping siswa, Muhammad Najib, memaparkan, tim akan presentasi tentang
potensi Lamongan di hadapan entrepreneur se-ASEAN plus dari China dan
Taiwan.

*Mudah*

Menurut Dafina, untuk mengubah menjadi kertas, kotoran kuda kering
dibersihkan dengan air, lalu diambil seratnya.

Untuk menghilangkan kuman dan mengeringkan, serat dioven selama 15 menit.
Karena seratnya kaku, belum selembut yang diinginkan, serat dilunakkan
dengan bahan kimia soda api (NaOH).

”Kemudian saat mencetak perlu diberi filler (pengisi) untuk menutup serat
agar bisa rapat,” kata dia.

Per 1 kilogram serat kotoran kuda dicampur filler 100 gram. Agar warnanya
lebih bagus perlu diberi pemutih kain. Bahan-bahan itu diblender, kemudian
dicetak menggunakan nampan plastik sesuai ukuran yang diinginkan. Kurang
lebih empat jam, kertas berbahan dasar kotoran kuda siap digunakan.

”Dibutuhkan alat cetak dari seng atau aluminium untuk menghasilkan panas
lebih optimal dan cepat kering,” kata Davina.

Riset awal membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk penelitian hingga
mempraktikkan cara pembuatan kertas kotoran kuda.

*Kurangi polusi*

Para siswa itu terinspirasi membuat kertas dari kotoran kuda karena melihat
banyak kotoran kuda di pangkalan dokar (kereta kuda) Pasar Babat. Mereka
berharap penemuan ini nantinya bisa mengurangi polusi kotoran kuda di jalan.

Produk daur ulang yang ramah lingkungan itu memperoleh dukungan Bupati
Lamongan, Fadeli.

Fadeli menilai, prestasi di tingkat ASEAN merupakan hal yang membanggakan
bagi Lamongan. Apalagi peserta lain mahasiswa, sedangkan dari Lamongan
diwakili siswa. Fadeli meminta Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan
Lamongan membantu mematenkan karya tiga siswa itu.

*Dapatkan artikel ini di URL:*
http://www.kompas.com/read/xml/2011/08/12/02555293/Kotoran.Kuda.untuk.Kertas

Kirim email ke