Kepergian Darso Bakal Pengaruhi Musik Pop Sunda
Selasa, 13 September 2011 | 08:19 WIB
 
Besar<http://www.tempointeraktif.com/hg/musik/2011/09/13/brk,20110913-355908,id.html#>
Kecil<http://www.tempointeraktif.com/hg/musik/2011/09/13/brk,20110913-355908,id.html#>
Normal<http://www.tempointeraktif.com/hg/musik/2011/09/13/brk,20110913-355908,id.html#>
  [image: foto]  <http://image.tempointeraktif.com/?id=90431&width=490>

Hendarso atau yang lebih dikenal sebagai Darso. Foto: Facebook

*TEMPO Interaktif*, *Bandung - *Penyanyi pop Sunda, Hendarso alias Darso, 66
tahun, dimakamkan Selasa pagi ini, 13 September 2011. Darso dimakamkan di
belakang rumah anaknya, Asep Darso, di Jalan Warung Lobak, Kampung Cibisoro,
Desa Gandasoli, Katapang, Kabupaten Bandung, pukul 09.00 WIB.

Darso meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit Umum Daerah Soreang,
Kabupaten Bandung, pada Senin, 12 September 2011. Dokter Instalasi Gawat
Darurat menyatakan Darso telah berpulang ketika datang pukul 14.20 WIB.
Penyebab kematiannya tidak diketahui karena jenazah langsung dibawa ke rumah
duka oleh keluarga.

Musisi Ismet Ruchimat mengatakan dunia seni Sunda kehilangan dua tokoh besar
di bidang seni suara dalam rentang waktu yang berdekatan, yaitu Darso dan
sebelumnya penembang Euis Komariah. "Dua kekuatan vokal itu sekarang belum
ada penerusnya," kata pentolan grup musik Samba Sunda itu.

Kepergian Darso, ujarnya, bakal mempengaruhi dunia musik pop Sunda. Sebab,
selama puluhan tahun, popularitas Darso banyak memberi warna dan menjadi
kiblat penyanyi pop Sunda.

Darso memulai kariernya sebagai penyanyi pop Sunda bersama kelompok Baskara
pada 1968. Namanya mulai melejit setelah membentuk kelompok Calung Darso
pada 1978. Kini sudah ratusan album dan lagu yang dibawakan. Beberapa yang
menjadi hits seperti *Kabogoh Jauh, Dina Amparan Sajadah, Gara-gara SMS,*dan
*Dago Pakar.*

Adapun Darso punya keinginan lain yang belum terpenuhi. Saat wawancara
dengan *Tempo* beberapa waktu lalu, penyanyi kelahiran Bandung, 12 Agustus
1945, itu sangat ingin membangun patung monumen Mang Koko di Bandung. "Dia
musikus besar Sunda, tapi nggak ada yang perhatian," ujarnya.

Darso berharap seniman Sunda lainnya dan pemerintah daerah mau mewujudkan
monumen itu. Mang Koko dikenal sebagai seniman karawitan Sunda.

* ANWAR SISWADI*

*
http://www.tempointeraktif.com/hg/musik/2011/09/13/brk,20110913-355908,id.html
*

Kirim email ke