Punten teu ditarjamahkeun seratan ti era muslim di handap ieu. Mudah-mudahan
aya pulunganeunana.
Melatih Diri Agar Senantiasa Berprasangka Baik
Oleh Endang TS Amir | Rabu, 09/02/2011 06:20 WIB
Belum lama ini, aku mendengar berita miring tentang sikap tidak amanah seorang
ikhwan. Atas berita itu, aku merasa kecewa kepada ikhwan tersebut. Aku menjadi
tidak respek padanya. Aku terus ‘ngedumel’ dalam hati. Kok bisa ya, padahal
jenggotnya panjang, istrinyapun memakai jilbab lebar. Aku terus berpikir,
penampilan dan cara berpakaiannya menunjukkan sang ikhwan paham agama. Kok
sampai?...
Cukup lama aku tenggelam dalam pikiran buruk tentang ikhwan itu. Hingga
akhirnya, Allah mempertemukan kami dan kami terlibat perbincangan cukup lama.
(Tentu saja ikhwan tersebut didampingi istrinya). Dari perbincangan itu, rasa
respekku yang memudar akibat berita miring itu, perlahan-lahan tumbuh lagi. Dan
tak henti-hentinya aku beristighfar di dalam hati di sela-sela perbincangan
kami.
Akupun bersyukur kepada Allah. Dengan skenarioNya, Allah melindungiku dari
prasangka buruk yang berkelanjutan terhadap saudara seiman. Dan atas
kehendakNya, Allah bersihkan ikhwan tersebut dari segala dugaan-dugaan yang
tidak benar melalui ‘perbincangan’ kami. Karena dari perbincangan itulah, aku
jadi lebih paham tentang dirinya, bahwa sesungguhnya orang-orang salah sangka
terhadap ikhwan ini.
***
Aku memiliki tetangga yang sudah bertetangga denganku lebih dari satu
tahun-tetangga tesebut baru pindah ke komplek tempat kami tinggal. Jarak rumah
kami sungguh dekat. Tapi aku belum pernah bertemu dengan penghuni rumah
tersebut, apalagi ‘ngobrol’. Dan setiap aku lewat di depan rumahnya, kulihat
pintu gerbangnya selalu di gembok. Kadang aku lihat mobilnya wara-wiri di depan
rumah, dan kami hanya saling berlambaian tangan, dan itulah ‘komunikasi’-ku
dengan tetanggaku itu. Terbersit dalam hati, kok begitu ya caranya
bertetanggga. Sepertinya nggak mau ‘kenal’ orang. Nggak pernah ‘nenangga’,
rumah juga tertutup rapat terus.
Seminggu yang lalu, tetanggaku ini menghubungiku, ia minta tolong agar
dicarikan tenaga pembantu plus guru ngaji di rumahnya. Karena urusan tersebut,
aku jadi berkesempatan berkunjung ke rumahnya. Dan dari kunjungan itulah, aku
jadi lebih paham, mengapa ia tidak pernah ‘nenangga’, mengapa pintu rumah
tertutup rapat dan pintu gerbang senantiasa digembok. Ternyata, si ibu ini
memiliki 4 anak. 1 sudah belasan tahun dan 3 orang masih balita. Dan anak kedua
yang berumur 5 tahun, berkebutuhan khusus. Masya Allah, pantas saja, ia tidak
bisa bebas keluar rumah, pantas saja, rumah harus terus tertutup rapat (anaknya
yang berkebutuhan khusus, tidak bisa melihat rumah terbuka).
Alhamdulillah…aku bersyukur, sekali lagi, Allah melindungiku dari prasangka
buruk yang berkelanjutan. DiciptakanNya scenario, yang membuat aku dapat
silahturrahim ke tetanggaku tersebut sehingga aku mendapat jawaban atas
prasangka-prasangka burukku.
***
Dua pengalaman berharga yang membuat aku tersadar diri. Kita memang benar-benar
tidak boleh berprasangka buruk. Jikapun kita menyaksikan sikap atau sifat
seseorang “yang tidak mengenakkan”, kita tetap harus berpikir positif.
Menyikapinya dengan cara pandang yang positif. Berusaha melihat, mungkin ada
alasan yang dapat diterima, mengapa si A bersikap begini atau begitu.
Sebagai contoh, ada seorang ummahat yang kemudian diberi label “keras dan mau
menang sendiri”. Pada mulanya aku sendiri agak tidak nyaman dengan sikapnya.
Berangkat dari kesadaran tidak ingin berpikir buruk tentang orang lain, aku
sedikit-sedikit mencari tahu tentang dirinya, berusaha lebih dekat dengannya.
Walhasil, terjawablah teka-teki, kenapa sang ummahat yang terlihat paham agama,
lulusan pesantren, tetapi “keras dan mau menang sendiri”. Ternyata, Ummahat ini
berasal dari sebrang. Orangtuanya hingga kini masih hidup dan bukan penganut
agama islam. Kemudian ia tinggalkan keluarganya demi memeluk islam. Sebagaimana
diketahui, orang sebrang memiliki hubungan kekerabatan yang kuat dan erat.
Bukan perkara mudah “pergi” meninggalkan orangtua dan kemudian berpindah agama.
Justru dengan sikap keras dan mau menang sendirinya itulah yang membuat sang
ummahat “kuat” meninggalkan orangtua dan agama nenek moyangnya demi Islam.
Artinya, secara pribadi memang ia typical orang yang “keras”. Jika dilihat dari
latar belakangnya, justru sifat “keras” itu yang menjadi kelebihannya.
Pada umumnya kita semua tahu bahwa berprasangka buruk itu dilarang. Tetapi,
dalam keseharian kita, betapa sulit menghindar dari perilaku ini. Prasangka
artinya membuat ‘keputusan’ sebelum mengetahui fakta yang relevan mengenai
objek tersebut. Padahal Allah berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman,
jauhilah kebanyakan dari prasangka! Karena sebagian dari prasangka itu adalah
dosa.” (QS. Al-Hujurat [49] : 12)
Dan Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ” Jauhkanlah dirimu
dari prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang
paling bohong.” (HR. Muttafaq’alaih)
Mustinya peringatan Allah tentang dosanya berprasangka buruk cukup membuat kita
berhenti dari perbuatan tersebut. Berprasangka buruk, berkaitan erat dengan
pola pikir negatif. Ketika menyikapi sebuah masalah atau kejadian, mindset kita
tertuju kepada hal-hal yang buruk. Jadi hasilnya adalah prasangka-prasangka
buruk yang berkembang. Dan ini harus dibenahi.
Saya menulis artikel inipun dengan niat, semoga tulisan ini menjadi tausiah
pribadi. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi saya ketika,
prasangka-prasangka buruk memenuhi hati dan pikiran.
Wallahu’alam.
Ummuali.wordpress.com
Powered by Telkomsel BlackBerry®
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/