Beunang nyalin tina blog UIN Bandung: === Politisi Sunda “Pakia-kia” Published on Agustus 13, 2009 by Asep Salahudin<http://www.sunangunungdjati.com/blog/?author=19> · 5 Comments
*Oleh ASEP SALAHUDIN * *[image: asep1]Sunan Gunung Djati*-Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu karakter manusia Sunda adalah sangat individualistis. Karakter seperti ini sering disebut sebagai bibit buit (asal usul) dari keterpurukan politisi Sunda saat ini. Jangankan di tingkat nasional, di level lokal sekalipun, kiprahnya nyaris tidak terdengar. Jati ka silih ku junti yang merujuk pada makna Ki Sunda yang terdominasi oleh kultur lain salah satu faktornya adalah karakter seperti ini. Dunia politik yang menghajatkan sikap solider sebagai ekspresi dari kecermatan sosial sudah tentu sangat tidak kondusif ketika digeluti dengan cara-cara soliter. Sebab, politik berkaitan dengan mobilisasi massa yang dalam hal ini mengandaikan hadirnya manusia yang memiliki fleksibilitas dan keterampilan sosial memadai. Dunia politik bukan dunia eskatis individualistis. Di sinilah sejatinya, sekali lagi, munculnya ketegangan antara watak yang melekat pada manusia Sunda di satu sisi dan tuntutan watak politik sesungguhnya di sisi lain. Hanya mereka yang dapat menyelesaikan ketegangan ini yang dapat tampil sebagai politisi Sunda andal yang diperhitungkan seperti Otto Iskandardinata dan Ali Sadikin. Meski demikian, keberhasilan ini sering kali tidak ditopang oleh gerakan kebudayaan dengan basis kultural sebagai pendukungnya. Dalam kenyataannya, acap kali melejitnya Ki Sunda sebagai politisi adalah hasil dari gerilya kegigihannya yang bersifat individual sebagaimana dengan nada retoris diungkapkan Ali Sadikin, “Saya bukan orang Sunda. Saya urang Sumedang!” Pragmatisme politik Dengan ungkapan lain, sifat individualistis inilah yang menjadi akar Ki Sunda ketika aub di wilayah politik mereka menerapkan politik pakia-kia, semacam politik yang berangkat dari paradigma pemisahan yang ketat aku dan engkau walaupun sama-sama berangkat dari kultur sama. Politik yang dikembangkan bukan politik kekitaan, tetapi politik yang menarik garis demarkasi antara kepentingan diri dan perhatian serta komitmen kesundaan. Dari sikap politik seperti ini, menjadi tidak aneh seandainya di Tatar Sunda sulit ditemukan politisi dengan fanatisme ideologis yang kental kecuali hanya fanatik kepada ideologi pragmatisme. Menjadi sangat dapat dimaklumi seandainya solidaritas kesundaan di kalangan politisi Tatar Sunda rapuh atau mungkin sudah punah. Solidaritas yang hilang ini akhirnya menjadi penanda untuk menjawab persoalan seputar absennya orang Sunda yang menjadi pemimpin partai-partai besar, termasuk juga absennya manusia Sunda dalam percaturan kandidat calon presiden dan wakil presiden 2009. Pakai-kia juga menyebabkan politisi Sunda merasa tidak bangga ketika karier politik atau ekonomi kawan daerahnya lebih maju, bahkan kalau bisa direngkas di tengah jalan, seolah mendukung padahal dukungan itu hanya sokong jongklok. Tragis. Celah kelemahan ini yang akan dengan mudah dimanfaatkan budaya luar untuk mendominasi budaya Ki Sunda. Di titik ini dengan sempurna jati ka silih ku junti menampilkan diri. Dengan kata lain, fenomena jati ka silih ku junti sejatinya terjadi karena lemahnya militansi dan kebanggaan terhadap tradisi sendiri. Politik pakia-kia dan sokong jongklok menjadi pintu yang sangat mudah untuk dimasuki “orang luar”. Bukankah dalam buku-buku sejarah dicatat bahwa kehancuran sebuah kerajaan selalu dimulai dengan rapuhnya lingkungan di sekitar kerajaan sehingga tatkala ada faktor eksternal penyerbuan dari luar, kerajaan itu dengan tanpa perlawanan berarti tertaklukkan. Dengan gampang Mataram (sejak awal abad ke-16), Belanda (sejak abad ke-18), dan Jepang (1942-1945), dan akhirnya oleh dua sistem orde yang tirani melumpuhkan Ki Sunda dengan tuntas nyaris tak ubahnya kerbau dicocok hidungnya atau kumaha anu dibendo. Akar genealogis Kalau kita telusuri, sebagaimana pernah ditulis Ajip Rosidi, sifat individualis ini bermula dari konstruksi budaya orang Sunda yang agraris, lebih khusus lagi, petani ladang atau huma yang selalu berpindah tempat bila lahan yang digarapnya sudah tidak subur lagi. Orang Sunda baru berkenalan dengan budaya sawah pada abad ke-19 ketika penjajah Belanda hendak meningkatkan produktivitas pertanian dan hendak mengikat orang Sunda agar menetap. Berladang dengan selalu berpindah tempat bukan saja merusak hutan, melainkan terutama menyusahkan pemerintah yang hendak memanfaatkan tenaganya dan hendak memungut pajak dan lain sebagainya. Di sinilah, kata Ajip lebih lanjut, budaya ladang menyebabkan orang Sunda lebih individualistis daripada orang Jawa yang berbudaya sawah. Orang yang berladang lebih banyak hidup di ladang daripada di kampung. Ladang yang tempatnya berjauhan menyebabkan komunikasi antarmereka kurang. Meskipun sudah hidup menetap, bahkan tinggal di kota, sifat individualistis itu tetap menonjol. Walaupun orang Sunda memiliki kearifan yang mencerminkan kohesivitas sosial, seperti silih asih, silih asah, dan silih asuh, pamali tarung jeung dulur, pamali bengkah jeung dulur, tampaknya kearifan ini tidak pernah mengendap dalam layar bawah sadar manusia Sunda. Sebab, sejak awal, alam bawah sadarnya telah didominasi kehendak pakia-kia paing-aing yang merupakan moralitas susulan dari sifat individualis itu. Akhirnya, berlakulah prinsip asa aing uyah kidul dan agul ku payung butut. Orang Sunda selalu bangga dengan falsafah Sunda walaupun falsafah itu tidak pernah menjadi bagian integral dari kepribadian. Falsafah keagungan Sunda tersimpan rapat dalam pengakuan sepihak yang serba retoris dan jauh panggang dari api atau jauh tanah ka langit dengan yang seharusnya. Dengan bangga orang Sunda selalu mengklaim “seuweu-siwi Siliwangi” tanpa ada upaya mewarisi nilai-nilai luhurnya. Dikhawatirkan, pakia-kia inilah yang telah menjebak manusia Sunda, khususnya para politisi, sampai saat ini ngahiyang. Bukan ngahiyang dalam kedalaman eskapisme spiritual, melainkan bersembunyi di balik pesona kemegahan pragmatisme kebendaan. Kiprah dan pemikirannya nyaris tak terdengar kecuali lamat terdengar sayup-sayup igauan uga yang entah kapan tiba bahwa “Pada setiap masa selalu akan hadir Prabu Siliwangi yang memiliki kualifikasi unggul sebagai pemandu arah perjalanan bangsa memasuki misteri masa depan” seperti tertulis dalam Upaya Awal Mengeja dan Menyingkap Makna Rumpaka (2004). *ASEP SALAHUDIN* *Dosen di IAILM Pesantren Suryalaya Tasikmalaya; Mahasiswa Doktoral Unpad Bandung. [Forum Budaya, Kompas Jabar Sabtu, 7 Februari 2009]* *http://www.sunangunungdjati.com/blog/?p=5103 *
