Mumuluk heula dak samemeh digarawe............... -------------------------- IMAN YANG DISERTAI KESYIRIKAN ditulis oleh Isep Saprudin *) Membuka lembaran-lembaran hidup masa lalu yang tersimpan di memori otak saya, ada kasus yang menjadi bahan tulisan saya di bawah ini. Pada masa remaja saya seringkali menyaksikan seuatu perbuatan yang disandarkan kepada agama, padahal agama tidak mensyariatkannya. Salah satu kasus adalah ketika saya di ajak jiarah oleh salah satu tokoh agama di kampung saya. Cara-cara atau praktek jiarahnya sangat kontra diktif dengan yang disyariatkan agama. Dapat saya ilustrasikan, ketika jiarah kubur bersama sang tokoh agama, di depan kubur beliau duduk dekat batu nisan dan tangannya mengetuk-ngetuk batu nisan sambil berucap "Mama hadir, mama hadir, mama hadir". Waktu itu saya belum memahami tata cara jiarah kubur menurut syariat agama, sayapun mengikuti saja praktek jiarah kubur yang dilakukan sang tokoh agama tersebut. Sang tokoh agama memanjatkan do'a tawasul yang ditujukan kepada Para Nabi dan Rasul, para Aulia hingga kepada deretan nama-nama yang saya tidak tahu, dan terakhir beliau mengatakan kepada saya : "Sebutkan hajat kamu dan mintalah bantuan kepada ahli kubur yang telah Kai undang untuk hadir di sini". Kemudian kasus lain, ketika saya mancing di pinggiran pantai masih di kampung saya. Pada waktu itu yang mancing ada lima orang, salah satu dari lima orang tersebut ada yang melakukan ritual dengan membakar kemenyan, entah dari kampung mana orang tersebut datang. Sebelum mancing orang tersebut membakar kemenyan sambil mulut komat-kamit entah apa yang dia ucapkan. Setelah selasai melakukan ritual, saya hampiri orang tersebut dan menanyakan apa yang dia lakukan. Jawaban orang tersebut adalah katanya memohon izin kepada penguasa laut dan Insya Allah ikan akan banyak. Terus saya tanyakan siapa penguasa laut itu, dia menjawab bahwa penguasa laut pantai selatan adalah KANGJENG RATU RORO KIDUL. Merujuk pengalaman hidup tersebut di atas kaitannya dengan masalah permintaan (hajat), kalau kita sandarkan kepada pemahaman agama bahwa segala bentuk permintaan/hajat cukup hanya ditujukan kepada Allah Swt. semata, tidak kepada selain-Nya. Mari kita simak ayat al Qur'an di bawah ini : Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : ‘Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’. Tentu mereka menjawab : ‘Allah’, maka bagaimanakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)?” (Al-Ankabut:61). Orang yang mengingkari dan mengakui adanya Allah secara bulat-bulat maka dia tidak disebut orang musrik. Karena dasarnya dia tidak mengakui eksistensi Tuhan yang ia sekutukan dengan yang lain dalam ibadah, (orang macam ini termasuk kafir). Adapun orang yang mengakui/mengimani adanya Allah, sedang dia mempercayai pula disamping Allah dia juga mempercayai kekuatan-kekuatan ghaib lain bersama-sama dengan-Nya dalam mengendalikan kerjaan-Nya, atau memberikan manfaat dan pertolongan dan bantuan atau syafaat disisi-Nya tanpa izin-Nya, maka orang macam ini disebut orang musyrik. Sebab dia percaya dan beriman kepada Allah dan menjadikan yang lain sebagai sekutu dalam beberapa sifat Ilahiyah (Ketuhanan). Di tengah kehidupman masyarakat mulsim, orang-orang macam ini sangat jelas kontras terlihat. Salah satu contoh kasus tersebut diatas, mereka percaya kepada Allah Swt, dan mereka menyembah Allah Swt. Kepada-Nya mereka menyandarkan penciptaan, harapan, rezeki, penghidupan, kematian dan mengurus segala urusan, sebab mereka mengaku penganut agama Islam. Saya katakan mereka telah melakukan kemusyrikan, karena disamping mereka menyembah Allah Swt. mereka juga meyakini adanya kekuatan-kekuatan ghaib yang mereka percayai, yakni keyakinan mereka bahwa ada kekuatan ghaib seperti Para Roh atau penguasa Pantai Selatan Pulau Jawa (Nyi Roro Kidul). Semua itu mereka lakukan karena mereka yakin Makhluq Gaib (Roh) atau Nyi Roro Kidul akan melindungi dan dapat mengabulkan permintaan/hajat mereka. Oleh karena itu, Allah menjadikan syi’ar dan simbol Islam adalah “Lailahaillallah” (tiada Tuhan selain Allah).” Maksudnya Allah yang engkau imani itu, yang engkau akui wujudnya, yang engkau sandarkan kepadanya segala penciptaan dan perintah, hanya Dia satu-satunya yang berhak disebut Tuhan dan disembah, dan tidak ada Tuhan lain yang berhak untuk itu. Ketika Al Qur’an menyeru kepada mereka untuk meng-Esakan dan mentauhidkan Allah. Al Qur’an menjadikan kepercayaan dan keimanan mereka sebagai hujjah dan argumentasi atas mereka. Firman Allah Swt. : “Katakanlah : “Sesungguhnya yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penghlihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab : “Allah” Maka katakanlah : “Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?”. Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?”. (Yunus : 31-32). Mereka mengaku adanya Allah, menyandarkan kepada-Nya segala penciptaan dan perintah, maka Al Qur’an menjadikan aqidah (kepercayaan) ini sebagai hujjah atas mereka yang menegaskan Allah lah yang memiliki segala sesuatu. Dialah Tuhan mereka yang benar, adapun selain-Nya maka semuanya adalah batil dan sesat. Allah Swt berfirman : “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan mata hari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab “Allah”, maka bagaimana mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)?”. (Al Ankabut : 61). Sesungguhnya mereka mempercayai dengan kepercayaan yang teguh, yang tidak ada keraguan didalamnya dan mengakui Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan, serta mereka tidak menyandarkan kepada selain-Nya sesuatupun dari sifat-sifat Rububiyah (pengaturan), semuanya hanya mereka sandarkan kepada Allah semata. Islam datang dengan ayat-ayat yg jelas, serta dengan hujjah-hujahnya yang tegas dan lugas. Maka semua kesesatan dan kebatilan tersebut ditumpas ! Firman Allah Swt. : “Katakanlah : “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya” (Al Isra : 56). Dalam ayat lain Allah Swt. berfirman : “Katakanlah : “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat biji zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada diantara mereka yang menjadi pembantu bagi Nya” Dan tidaklah berguna syafa’at disisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu” (Saba : 22-23). Dari ulsan singkat ini, pembaca akan memahami judul tersebut diatas dan secara tegas mengetahui Iman yang disertai kesirikan, dan tidaklah sebagian besar mereka beriman kecuali mereka berlaku syirik kepada Allah. Racun-racun kesyirikan sampai sekarang terus menyebar menimpa segenap Ummat Islam, kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah dan sungguh sedikit jumlah mereka. Sesungguhnya iman yang bercampur dengan syirik sama sekali tidak berguna bagi pemiliknya. Kemusyrikan itu akan menghapus imannya, menghilangkan buahnya, dan karena itu orang musyrik serta merta adalah orang kafir. Yang demikian itu karena dia mengingkari dan tidak mengakui salah satu sifat Allah yang paling essensi dan penting yakni : “Wahdaniyyah” (Maha Esa, Maha Tunggal). Maha Esa dan kerajaan-Nya atas segenap makhluq. Mengingkari sifat-sifat Allah merupakan “kufrun bawah” (kekufuran yg nyata), dan menjadikan diantaranya golongan orang-orang yg binasa. Diantara hujjah dan argumentasi yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim As atas kaumnya adalah: “Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yg kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah diantara dua golongan itu yg lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?.
Orang-orang yg beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yg mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yg mendapat petunjuk” (Al An’am : 81-82). Kezaliman diatasdipertegaslagi oleh Allah dalam Surat Luqman ayat 13 yang artinya : “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (Luqman : 13). Dalam ayat lain Allah berfirman : “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yg merugi. Karena itu maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur” (Az Zumar : 65-66). Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad Saw.,keluarganya dan segenap sahabatnya, Amiin. *) Urang Banten, kuli di kantor BPMIGAS
