Sunat: Senjata Melawan AIDS di Swaziland Oleh *Elles van Gelder* Dibuat *4 April 2011 16:02* [image: image/jpeg icon]sunat_afrikaelles_van_gelder.jpg<http://cdn.radionetherlands.nl/data/files/images/lead/article/2011/04/sunat_afrikaelles_van_gelder.jpg>
*Swaziland berusaha memenangkan perlawanan terhadap AIDS, caranya dengan sunat. Urolog Belanda, 69 tahun, Adam Groeneveld berperan besar dalam kampanye melawan penyebaran hiv-aids.* Laki-laki yang duduk di kursi plastik di ruang tunggu klinik Matsapha (Swaziland) gelisah memandang sekeliling mereka. Pagi itu mereka memutuskan untuk disunat saja. Tapi mereka takut akan pisau bedah. Kendati demikian, mereka harus menjalaninya, kalau memang ingin mengurangi risiko kejangkitan HIV, virus penyebab AIDS. *Makam penuh sesak* "Swaziland sangat menderita akibat HIV/AIDS," cerita Adam Groeneveld, urolog Belanda yang bekerja di Swaziland. "Angka statistik negeri ini mengerikan. Satu dari empat orang tertular HIV/AIDS." Rata-rata perkiraan hidup hanya 32 tahun. Makam sudah penuh sesak. Di Swaziland, Adam Groeneveld terlibat erat dalam upaya menghambat penyebaran wabah tersebut. Dokter Belanda ini sudah enam tahun terlibat program khitan di Swaziland sebagai upaya mencegah AIDS. Penelitian yang dilakukan atas perintah organisasi kesehatan PBB WHO menunjukkan laki-laki yang disunat, 60 persen lebih berkurang kansnya kejangkitan HIV/AIDS. Pada kulup alat kelamin pria terdapat sel-sel yang lebih mudah menyalurkan HIV ke pembuluh darah. Ini menjelaskan mengapa jumlah pria dewasa di Afrika Barat yang terkena hiv/aids, jauh lebih kecil. Di sini para prianya memang dikhitan pada usia muda. Swaziland, sebaliknya, tidak punya tradisi sunat. *Dengan siapa saja* Di klinik pria kota Matsapha, Adam Groeneveld mengajar bagaimana melakukan penyunatan, demikian dikatakannya dalam salah satu ruang bicaranya. Targetnya adalah pada akhir September mendatang sudah disunat 152 ribu pria antara 14 sampai 49 tahun. Itu berarti 80 persen pria pada kelompok usia ini. Menurut Adam Groeneveld, HIV, virus penyebab AIDS tersebar dengan cepatnya di Zambia, karena warga Zambia gemar berhubungan seks dan melakukannya dengan siapa saja. Kebebasan seks begitu besar. *Kondom* Walaupun sudah menikah, seseorang ternyata masih tidur dengan orang lain yang bukan pasangannya. Penggunaan kondom juga rendah. Orang juga tidak cepat-cepat membiarkan dirinya menjalani uji HIV. Salah seorang pria yang mengikuti seruan khitan adalah Maxwel Xaba, mahasiswa berusia 25 tahun. Ia menatap tayangan musik di sudut kamar tunggu. Tangannya dilipat erat-erat. "Bagaimana ya, mereka akan mentes dulu apakah saya mengidap HIV," katanya. "Tes terakhir saya enam tahun lalu." Untungnya Xaba tidak mengidap HIV. Seorang penyuluh AIDS menekankan bahwa sebelum operasi, Xaba harus menggunakan kondom. *40 persen* "Pria yang sudah sunat langsung mengira kondom tidak diperlukan lagi," demikian pakar urologi Adam Groeneveld. "Kita harus berkali-kali menekankan, mereka tetap bisa kejangkitan HIV, kansnya sampai 40 persen." Adam Groeneveld mengajari tenaga medis Matsapha bagaimana menyunat seorang pria. Dia sendiri bekerja sebagai spesialis urologi di sebuah rumah sakit swasta di ibukota. Bagaimana dengan pensiun. Ia tergelak, "Uang siapa? Dan setelah beberapa tahun di luar negeri, jaminan pensiun saya di Belanda juga berkurang banyak." Kembali ke Belanda sebagai dokter dia juga tidak mau. "Saya sekarang sudah menjadi tenaga honorer. Saya menikah dengan orang Afrika dan saya lebih kerasan di sini ketimbang di Belanda." - [image: image/jpeg icon]sunat_groeneveldelles_van_gelder.jpg<http://cdn.radionetherlands.nl/data/files/images/image/article/2011/04/sunat_groeneveldelles_van_gelder.jpg> ------------------------------ *URL sumber:* http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/sunat-senjata-melawan-aids-di-swaziland *Links:* *Images:* [i1] http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/lead/article/2011/04/sunat_afrikaelles_van_gelder.jpg [i2] http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/image/article/2011/04/sunat_groeneveldelles_van_gelder.jpg
