Leuweung kaduruk beak kusabab kasarakahan pangusaha anu nyekel HPH, jeung eta 
bisa ngeunah-ngeunah sarakah, kusabab aya kasarakahan patugas anu kuduna 
ngajaga, sarakah meunang sogokan jeung leuwih-lewih deui ayana kasarakahan 
oknum-oknum pajabat anu mere palindung ka eta pangusaha sarakah anu mere rezeki 
ka maranehna. Budak leutik oge nyaho yen sarakah teh henteu hade. Tapi ahli 
ekonomi lain budak leutik, jeung mun manehna ditanya naha sarakah teh alus 
atawa goreng, maka mun manehna ngajawab santun manehna ngajawab henteu nyaho, 
mun manehna hayang ngajawab jujur manehna ngomong yen sarakah teh henteu alus.
Hiji akibat penting tina gajala globalisasi nyaeta Nagara Indonesia katularan 
panyakit sarakah. hal ieu henteu aya paksaan atawa dipaksakeun ka nagara 
Indonesia, tapi dijieun sacara sukarela. Kumaha ieu bisa kitu? Teuing atuh !!
 
Dari: Mang Kabayan <[email protected]>
Kepada: UrangSunda <[email protected]>; Kisunda 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>; Senyum-ITB <[email protected]>
Dikirim: Kamis, 27 Oktober 2011 5:57
Judul: [kisunda] Re: [Urang Sunda] Trs: Forward dari milis sebelah : “JFK, 
Indonesia, CIA and Freeport.”


  
Halaaaah kasebeleuuuun pisan nya Kang, dan ada urang sunda lagi yg turut serta 
melanggengkan mereka :((. Hayoooh saha? Asa bagi-2 kueh meureunnya. Masalah 
didunya bukan beda pendapat tapi ya itu dia beda pendapatan :((.

Sedih pisan euy ngeliat papua sekarang, yg jadi kurban rahayat leutik weh. Para 
elit nya mah gaya aja malahan bisa jadi selebritis :((.

Sebenernya mah pamarentah kalo mau bisa ngatur sakadang freeport seperti Mang 
Karno dulu sok lah ente usaha disini asal negara untung badag jangan maneh bin 
ente sajah yg untung :((. Jangan enak sendiri, nagara untung saeutik itu juga 
akhirnya di korupsi :((. Maklum pan skor IPK kita masih belom beranjak dari 2 
:((. 

Kompas kemarin BCA untung ceunah 7 Trilyuuuuun eduuuuun itu Bank udah jadi 
milik Negara eeeeh malaaah dijual :((. Haduuuuuh capeeee deeeeeeh :((. Kalo 
para karuhun/ leluhur para pahlawan yg berjuang memerdekakan bangsa ini denger 
teh pasti nangiiiis bombaaaay. Teungteuingeuuuuun pisan :((. 

Nuhuuuuuns,
Mang Kabayan
www.dkabayan.com
ti urang, ku urang, keur balarea
From: dudi mulyadi <[email protected]> 
Sender: [email protected] 
Date: Wed, 26 Oct 2011 13:02:27 -0700 (PDT)
To: [email protected]<[email protected]>
ReplyTo: [email protected] 
Subject: [Urang Sunda] Trs: Forward dari milis sebelah : “JFK, Indonesia, CIA 
and Freeport.”
  



  
Pantes  atuh ari carana kieu mah.....Teu ngabibisani.
Kuring ge ngadadak jadi mules , sirah jeung hate  jadi panas , waktu maca ieu 
postingan.
Beu.........

----- Pesan yang Diteruskan -----
Dari: Tatang R Jiwapraja [email protected]

  
Nasionalisme tetap perlu dan menguntungkan................., tanpa itu kekayaan 
negara puluhan milyar bisa dibeli hanya dengan jutaan dollar, malah 
kurang................
Intervensi asing di Indonesia harus dilakukan secara persuasif, krn bangsa 
Indonesia akan bersatu kalau intervensi asing dilakukan secara kasar dan 
melawan sbg musuh bersama. Mungkin saja kalah, tapi korban akan sangat banyak, 
mungkin puluhan juta, tidak cuma ribuan atau puluhan ribu.
 
TRJ69

----- Forwarded Message -----
From: [djoko prasetyo] [email protected]

  
Begitu dahsyat pengerukan kekayaan bumi pertiwi...


tabik,

~djoko prasetyo~
Sent from BudakBageur® smartphone
From: [email protected] 
Sender: [email protected] 
  
Akhir tahun 1996, sebuah tulisan bagus oleh Lisa Pease yang dimuat dalam 
majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington 
DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and Freeport.”

Walau dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, 
namun kiprahnya di negeri ini sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam 
tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama 
perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi 
pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959.

Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh 
Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport 
Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya 
terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO 
Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun 
berkali-kali pula menemui kegagalan.

Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson 
yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan 
Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu 
Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung 
Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 
1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan 
tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Van 
Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan 
membacanya.

Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu 
jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis 
tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya 
diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung 
Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam 
tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan 
perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam 
benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit 
kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.

 

Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas 
Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya 
dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut 
gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak 
perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan 
tanah. Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar 
matahari.

Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain 
dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan 
perak!! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN, 
bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan 
jika Freeport akan untung besar dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. 
Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, 
Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk 
mengeksplorasi gunung tersebut.

Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan 
yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian 
Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan 
Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.

 

Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy 
agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah spertinya mendukung 
Soekarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan 
jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan 
bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing 
kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.

Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya 
mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta 
sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak 
ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.

Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian 
kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport 
jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan 
ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank 
Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!

 

Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas 
ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy 
merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang 
hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.

Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak 
belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada 
Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang 
keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, 
adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.

Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain 
kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex 
(patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 
memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60persen 
labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari 
tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan 
Soekarno ini.

Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang 
ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus 
C.Long juga aktif di Presbysterian Hospital di NY dimana dia pernah dua kali 
menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini 
merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.

Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 
1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa saja yang 
dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang 
paling krusial.

Pease mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C.Long terpilih sebagai 
Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus 1965, Long 
diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk 
masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan 
operasi rahasia AS di Negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh 
yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan 
sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.

Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 
21.48, yang menyatakan jika kelompok Jendral Suharto akan mendesak angkatan 
darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan 
pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.

Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira 
loyalis Soekarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur 
Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap 
mengekplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu 
Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana 
Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?

Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah 
mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka 
adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. 
Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan 
Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat 
karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.

Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang 
draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan Rockefeller, disahkan tahun 
1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto 
adalah Freeport!. Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. 
Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu 
menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti 
itu malah merugikan Indonesia.

Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng 
Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA 
John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards 
Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.

Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi 
perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun.

Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah 
buku berjudul “Grasberg” setelab 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas 
di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih 
tembaganya menempati urutan ketiga terbesar didunia.

Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan 
bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 
tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi 
tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Irian Barat itu 
merupakan yang termurah di dunia!!

Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya 
EMASPURA. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung 
tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka 
Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat 
mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun 
pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapura sepanjang 100 kilometer 
langsung menuju ke Laut Arafuru dimana telah menunggu kapal-kapal besar yang 
akan mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. Ini sungguh-sungguh perampokan 
besar yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!!!

Kesaksian seorang reporter CNN yang diizinkan meliput areal tambang emas 
Freeport dari udara. Dengan helikopter ia meliput gunung emas tersebut yang 
ditahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam. Semua emas, perak, dan 
tembaga yang ada digunung tersebut telah dibawa kabur ke Amerika, meninggalkan 
limbah beracun yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua yang 
sampai detik ini masih saja hidup bagai di zaman batu.

Freeport merupakan ladang uang haram bagi para pejabat negeri ini, yang dari 
sipil maupun militer. Sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di 
dunia itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan 
keluarganya. Freeport McMoran sendiri telah menganggarkan dana untuk itu yang 
walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang kecil 
karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat dahsyat. Jika Indonesia mau 
mandiri, sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu.

 

Sumber : Blog Media Kata

 

Merusak Papua

.

·  · Share 
Powered by Telkomsel BlackBerry®






Kirim email ke