Hapunten teu disundakeun.
Etang-etang Mieling Sumpah Pemuda.

Hapunten teu disundakeun.
Etang-etang mieling dinten Sumpah Pemuda.

wass.

mrachmatrawyani

Dari Milis Tetangge......
   

 FADEL MUHAMMAD Oleh
Rhenald Kasali Thursday, 27 October 2011 
Secara pribadi saya tidak
mengenalnya, bahkan bertemu saja baru satu kali. Itu pun di sebuah forum resmi,
dalam diskusi tentang ekonomi kelautan yang diselenggarakan Radio Smart FM di
Medan beberapa bulan lalu. Namun, sejak Indonesia kehilangan Jusuf Kalla
sebagai ”pendobrak” dan ”penggerak” ekonomi yang tidak pernah diam dalam ide,
saya menemukan sosok ”bergerak” pada Fadel Muhammad. Selain tangannya dingin,
kakinya ringan bergerak.
 Seperti yang sering saya katakan kepada para
ekonom muda, ekonomi Indonesia ini bukannya kereta api otomatis yang cuma butuh
jari untuk dijalankan. Ekonomi kita adalah sebuah kapal besar yang tak akan
bergerak kalau hanya dipikirkan. Ekonomi kita butuh a real entrepreneur yang
piawai menggerakkan, melakukan breaktrough dan siap berperang melawan para
mafioso. Jadi, pemimpin seperti inilah yang kita butuhkan, bukan harus
dikurangi, tetapi perlu diperbanyak. Sayang kalau kita mengabaikannya. Berperang
Melawan Belenggu Fadel mengagetkan kita saat dia maju berperang melawan
”beruang-beruang ekonomi” yang memaksa Indonesia melakukan impor komoditas
tradisional yang banyak dikonsumsi rakyat. ”Beruangberuang” itu tidak hanya
memasukkan barang, melainkan juga menyodorkan data-data yang sudah dipoles yang
seakan- akan kita sudah kekurangan segala komoditas dari beras, daging
sapi,sampai garam, dan bawang merah. Pokoknya semua kurang dan mengancam
inflasi. Lalu apalagi kalau bukan harus impor?
 Kita melihat Fadel maju ke depan membongkar container-kontainer
berisi ikan kembung yang diselundupkan ke pasar Indonesia. Bukan cuma ikan
kembung. Ternyata ikan lele dari Malaysia yang sangat mudah dikembangbiakkan di
sini juga membanjiri pasar domestik melalui perbatasan Kalimantan, Pelabuhan
Belawan, dan pelabuhan-pelabuhan penting lainnya. Dari ikan kembung dia
bergerak menyelamatkan industri garam rakyat yang bertahuntahun digempur para
importir bangsa sendiri. Impor-impor seperti itu jelas sangat berbahaya bagi
masa depan bangsa ini.Harga impornya boleh sangat murah, dipasarkan dengan
dumping atau tidak, tetapi perlahan-lahan mematikan ekonomi rakyat yang
tersebar di seluruh pesisir Nusantara. Setelah pertanian terpuruk, kini
petambak garam pun dibunuh bangsa sendiri. 
Fadel-lah yang menuntut agar
harga dasar garam rakyat dinaikkan. ”Kalau petambak hanya menerima Rp325 per
kilogram, bagaimana mereka bisa hidup?”gugatnya.Dia pun mengusulkan agar
dinaikkan menjadi Rp900.Petambak garam tentu senang dan mereka bisa kembali
bekerja. Tetapi kabar itu tak berlangsung lama karena kita mendengar
Kementerian Perdagangan hanya mau menaikkan sampai ke Rp700. Itu pun beredar
kabar ada saja pejabat—yang berdalih atas nama pasar bebas—tak mau tanda
tangan. Petambak bisa jadi senang kepada Fadel, tetapi importir dan pemberi
lisensi impor belum tentu.
 Kalau petambak garam dimanjakan Presiden,
mereka bisa kembali menyekolahkan anak-anaknya dan makannya bisa lebih terasa
enak.Mereka akan giat berproduksi dan impor garam akan hilang. Apakah benar
inflasi akan terjadi hanya karena harga garam naik? Beberapa orang
meragukannya, pasalnya harga dari petani yang rendah tidak menjamin harga
kepada konsumen ikut rendah. Bahkan impor murah sekalipun hanya menjadi alasan
bagi importir untuk menguasai pasar.Harga akhir yang dibayar konsumen pun tetap
saja tinggi. Lantas kalau harga dasar petambak dinaikkan, bagaimana nasib
importir? 
Tentu mereka tidak tinggal diam.
Menteri Perdagangan—atas nama perjanjian dagang yang dipayungi WTO—dan kita
semua yang pernah belajar teori ekonomi, boleh saja percaya pada kompetisi dan
pasar bebas. Tetapi secara moralitas,tak ada bangsa yang secara tulus dan
ikhlas membuka pasarnya secara bebas,murni 100%. Hanya bangsa yang bodohlah
yang membiarkan pintunya dibuka lebar-lebar dan membiarkan ”beruang-beruang
ekonomi” menari-nari memorak- porandakan pasar domestiknya. Sementara pasar
timbal-baliknya dibarikade dengan standar dan peraturanperaturan yang tidak
bisa ditembus. 
Anda tentu masih ingat betapa
sulitnya produk-produk kelautan kita menembus pasar Amerika dan Eropa. Ketika
Indonesia membuka pasar perbankan begitu leluasa bagi bank-bank asing,misalnya,
Bank Mandiri kesulitan membuka satu saja cabangnya di Kuala Lumpur. Apalagi
membuka cabang dan jaringan ATM. Di Eropa kita juga melihat betapa sengitnya
bangsa-bangsa yang percaya pada pasar bebas membuka pasar industri keju
lokalnya dari gempuran keju buatan Kraft yang diproduksi secara massal. 
Di Amerika Serikat masih dalam
ingatan kita pula, barikade diberikan kepada China saat CNOOC (China National
Offshore Oil Corporation) berencana membeli perusahaan minyak Amerika (UNOCAL).
Sejumlah anggota kongres menekan Presiden Bush (2005) agar pemerintah
membatalkan proposal China tersebut. Keju,minyak,udang,kopi,kertas, minyak
sawit, atau tekstil sekalipun selalu dihadang masuk kalau industri suatu bangsa
terancam. Jadi apa yang terjadi dengan lisensi impor di negeri ini? Sebuah
keluguan atau kesengajaan? Bisakah kita memisahkan perdagangan dari pertahanan
dan keamanan kalau wujudnya sudah mengancam kehidupan? Siapa peduli?
 Pro-Poor Maka sangat mengejutkan saat pekan
lalu kita membaca Fadel Muhammad tidak lagi menjalankan tugas negara sebagai
menteri kelautan dan perikanan. Sebagai warga negara kita mungkin terlalu rewel
untuk mempersoalkan pencopotannya sebab semua itu adalah hak Presiden. Tetapi
bagi seorang yang menjalankan misi Presiden yang pro poor–pro growth dan pro
job, saya kira pantas kalau nada sesal layak kita ungkapkan. Dia justru diganti
karena membela kepentingan rakyat, pro-poor. Ibaratnya dia tengah berada di
garis depan melawan ”beruang-beruang ekonomi” yang hanya memikirkan keuntungan
sesaat dengan ”membeli” lisensi impor yang mematikan hak hidup rakyat jelata.
 Saya sebut mereka ”beruang ekonomi”karena
seperti yang dikatakan Fadel, sesendok garam itu asin,tapi sekapal garam adalah
manis. Hanya beruanglah yang mampu mengendus rasa manis itu. Tahukah
”beruang-beruang ekonomi”itu bahwa petambak petambak garam dan nelayan adalah
penjaga perbatasan yang melindungi negeri dari segala serangan. Apa jadinya
negeri ini bila hidup mereka dilupakan? Bukankah lebih baik menjaga pertahanan
perbatasan dengan memberikan kapal-kapal yang bagus dan pekerjaan yang menarik
kepada para nelayan daripada membeli kapal perang yang tak pernah cukup untuk
menjaga bibir-bibir pantai yang begitu luas? Maka yang mengejutkan publik
sebenarnya adalah mengapa bukan ucapan terima kasih dan bintang yang disematkan
pada Fadel; melainkan serangkaian ucapan defensif dari kelompok-kelompok
tertentu?
 Karena itu, melalui tulisan ini, saya justru
ingin memberi motivasi yang tulus agar Fadel Muhammad tidak berhenti sampai di
sini,melainkan terus berkarya bagi kaum papa, petani-petani garam, dan para
nelayan yang ”kalah” bukan dari persaingan bebas, melainkan dari
”beruang-beruang ekonomi”yang menjual negeri melalui lisensi impor. Seorang
pemimpin sejati tidak memimpin hanya karena dipanggil tugas.Pemimpin sejati
bertugas karena panggilan. Saya senang membaca berita bahwa Fadel telah kembali
bekerja dengan Yayasan Garamnya. Selamat bergabung di sektor ketiga. Inilah
sektor kemandirian yang bekerja murni untuk memberantas kemiskinan. Inilah
sektor non-APBN yang memanggil orang-orang yang mau berjuang tanpa pamrih.
 Asosiasi Kewirausahaan Sosial yang saya pimpin
tentu senang menyambut Fadel.Saya percaya Fadel pasti bisa berbuat lebih besar
karena dia punya kekuatan perubahan yang justru tak dimiliki politisi lain.
Simpati besar dari rakyat untuk Fadel layak kita sematkan.  
RHENALD KASALI Ketua Program MM .

Kirim email ke