Mamang coba bantu tambahkan ya :).

Sejarah sunda yg cukup jelas + ada foto-2 artefaknya ditulis oleh Mang Herwig 
Zahorka, seorang Jerman yg tinggal di Bogor, judul bukunya The Sunda Kingdoms 
of West Java, from Tarumanagara to Pakuan Pajajaran, over 1000 years of 
prosperity n' glory :).

Kerajaan-2 Sunda baik Galuh maupun Pakuan punya istana dan cukup megah namun 
hancur/ dihancurkan :). Di Buku Mang Herwig digambarkan peta lokasi dimana 
pusat kerajaan Pajajaran berada termasuk bentengnya. Di buku Kang Saleh 
Danasasmita (Sejarah Bogor) juga dijelaskan tentang lokasi dan peninggalannya. 
Selain Istana juga, taman-2 indah, kolam indah, dll... Termasuk Mandala dan 
Kabuyutan juga dihancurkan yg tersisa hanya yg tersembunyi saja seperti di 
Kanekes (Baduy), Ciptagelar, Cipaku, dll.

Dalam hal Candi urang Sunda juga membuat Candi terutama di Pesisir, ada Candi 
Batujaya, candi budha terbesar dan tertua menggunakan Bata yg dibuat dari 
campuran tanah dan selongsong gabah. Hal ini mematahkan bahwa Sunda tidak punya 
budaya Sawah. Sunda sudah memiliki budaya sawah dan termasuk tertua karena 
buktinya ada di candi batujaya. Masyarakat sunda yg peladang/ huma utk yg 
tinggal di Gunung, sedang yg di dataran rendah dan pesisir sudah ada budaya 
sawah.  

Berikut ini ada tulisan menarik dari Kang Jakob Sumarjo tentang Kasundaan :).

Dengan demikian dasar paham kekuasaan Sunda itu lebih maternal dari pada 
paternal. Lebih mengasuh, rohani, adat, pikiran daripada sekadar memerintah. 
Sikap ini juga tercermin dalam silat Sunda yang lebih menyimpan kekuatan dari 
pada menggunakan kekuatan itu. Silat Sunda itu bageakeun baik untuk dirinya 
maupun “musuhnya”. Diri sendiri selamat dan yang menyerangnya juga selamat. 
Yang pertama dilakukan adalah gerak menghindar sekaligus disertai gerak 
menyerang. Bukan untuk mematikan, tetapi untuk membuat lawan tidak berdaya 
lagi. Inilah sebabnya pawang pembetul tulang banyak terdapat di kampung-kampung 
Sunda. Jadi, sikap terhadap kekuatan lebih menyimpan, defensif, daripada 
menggunakannya dan agresif. Ini tidak berarti bahwa para jawara silat Sunda 
kurang “berani”, justru sudah melampaui keberanian dan hanya menggunakan 
kekuatan tersebut apabila lawan memang sudah tak mau dibageakeun. Kekuasaan dan 
kekuatan itu tak boleh digunakan semena-mena, tetapi demi kesejahteraan 
bersama, baik dalam maupun luar. Dalam zaman yang semakin menasional dan 
mengglobal ini, sikap feminin semacam itu memang dapat mengancam kesundaan. 
Sikap asli yang purba ini ditantang kearifannya dengan gelombang “kuasa 
laki-laki” yang agresif. Memang tidak mudah. Namun, pemahaman yang lebih 
mendalam tentang sikap hidup masyarakat Sunda ini perlu dilakukan, sehingga 
dapat dikenali “kedalaman sejatinya” yang kokoh namun lentur, tetap namun 
berubah. Feminin tidak berarti lemah, tetapi halus. Yang halus itu bisa kuat. 
Suatu kekuatan, kekuasaan, yang kokoh namun halus, arif, tinggi.
 
 
Paham Kekuasaan Sunda
Oleh JAKOB SUMARDJO
 
KEKUASAAN kurang lebih berarti kemampuan, kesanggupan, kekuatan, kewenangan 
untuk menentukan. Kekuasaan meliputi wilayah keluarga, kampung, negara, 
lembaga. Dalam pengertian kebudayaan, wilayah-wilayah kekuasaan tadi 
menampakkan pola-pola yang sama. Pengaturan kekuasaan dalam keluarga, dalam 
kampung, dalam kerajaan sama. Itulah pola kekuasaan yang menampakkan dirinya 
dalam berbagai hasil budaya Sunda. Namun, kebudayaan sebagai cara hidup 
kelompok itu berubah terus. Apa yang akan diuraikan di sini berdasarkan 
artefak-artefak budaya yang sudah ada, jadi agak kesejarahan, dalam arti “telah 
terjadi”.
 
Sumber dari pemahaman ini berasal dari cerita pantun, perkampungan Sunda, 
kampung adat, dan silat Sunda. Paham ini tersembunyi di balik yang tampak 
(tangible), sehingga memerlukan pemecahan simbol-simbolnya. Masyarakat Sunda 
sendiri dengan tidak disadari berlaku berdasarkan paham Sundanya, sehingga 
kurang berjarak untuk melihat realitas dirinya. Salah seorang mahasiswa 
pascasarjana di Bandung yang berasal dari Jawa Timur, pada suatu hari 
menyatakan pada saya, bahwa dia senang tinggal di Bandung karena orangnya 
ramah, baik, lembut hati. Masyarakat Sunda itu berkarakter halus, bukan kasar. 
Kalau harus “kasar”, tetap “halus”. Tidak keras tapi lembut. Tidak agresif tapi 
“diam”.
 
Pada dasarnya, sikap hidupnya agak ganda dalam arti positif, yakni paradoksal. 
Menyatu-memisah, menerima-mempertahankan, asli-berubah, mandiri-tergantung, 
pemilik-pemakai, tiga tapi satu dan satu tapi tiga. Genealogi dari sikap ini 
adalah budaya purbanya yang huma atau ladang. Hidup berladang itu 
menetap-pindah, produktif-konsumtif, bebas-tergantung, terbuka tertutup. Paham 
kekuasaannya juga berkarakter demikian itu.
 
Simbol kekuasaan Sunda dengan jelas sekali tergambar pada cerita pantun. 
Pangeran Pajajaran, misalnya Mundinglaya Dikusumah, ke mana pun pergi selalu 
diiringi oleh pengawal setianya, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung. Dalam 
pengembaraan Pangeran Pajajaran, dia digambarkan “diam dan pasif” tetapi sangat 
dihormati dan dipatuhi keputusannya. Dalam hal ini Mundinglaya lebih banyak 
diam, sedangkan yang aktif Gelap Nyawang sebagai pemikir dan pengatur strategi 
perjalanan (eksekutif) dan Kidang Pananjung sebagai penyelesai persoalan. 
Namanya juga Kidang Pananjung yang selalu ada paling depan.
 
Inilah tritangtu Sunda. Pangeran Pajajaran yang memiliki kekuasaan, namun tidak 
aktif menjalankan kekuasaannya. Ia menyerahkannya kepada Gelap Nyawang untuk 
bekerja dan Kidang Pananjung yang bertanggung jawab terhadap keselamatan, 
keamanan, dan kesatuan ketiganya. Ini berbeda dengan cerita wayang Jawa. Arjuna 
punya tiga pengiring seperti Mundinglaya, namun segala sesuatu dipecahkan 
sendiri oleh Arjuna. Ketiga pengiringnya hanya bertugas menguatkan dan 
menghibur majikannya. Arjuna adalah pemilik, pelaksana, dan penjaga dirinya 
sendiri.
 
Pola pengaturan kekuasaan semacam itu ternyata juga ada pada pantun Sunda 
sendiri. Pantun Sunda dimulai dengan tugas raja Pajajaran kepada putranya agar 
mengembara menemukan sebuah negara. Di negara yang ditemukannya itu ia menetap 
dan berkuasa dengan cara mengawini putri setempat. Karena kecantikan putri 
tersebut, banyak raja di sekitarnya yang juga ingin memilikinya. Terjadi perang 
antara raja-raja perebut putri dengan abang putri tersebut (yang biasanya 
dipakai sebagai judul lakon pantun). Para raja dapat dibunuh oleh abang putri 
yang menjadi istri Pangeran Pajajaran. Atas permintaan putri, para raja 
dihidupkan kembali dan bersumpah mengabdi kepada Pangeran Pajajaran.
 
Tampak bahwa pemegang mandat kekuasaan, Pangeran Pajajaran, justru diam namun 
berwibawa. Sedang yang aktif menyelesaikan persoalan negara adalah abang putri 
atau penguasa setempat. Dan bekas-bekas musuh pangeran akhirnya menjadi 
pelindung dan penjaga kekuasaan pangeran. Kekuasaan Sunda yang sejati itu 
adanya di Pakuan Pajajaran. Rajanya tidak beranjak dari kratonnya. Yang 
bergerak ke luar keraton justru putra-putranya (memperluas wilayah kekuasaan). 
Dan pada gilirannya, para Pangeran Pajajaran itu juga bersikap seperti ayahanda 
mereka di Pakuan. Pangeran-pangeran itu pasif di pusat negaranya yang baru. 
Yang aktif menjalankan kekuasaan justru raja setempat yang sudah menjadi 
keluarga Pajajaran. Sedangkan para pelindung (para anggota kerajaan) adalah 
raja-raja asing yang non-Sunda.
 
Dengan demikian, kekuasaan itu dimiliki-tidak dimiliki karena yang memiliki 
kekuasaan tidak menjalankan kekuasaan, sedang yang menjalankan kekuasaan tidak 
memiliki kekuasaan yang dijalankannya. Pihak kekuasaan ketiga adalah mereka 
yang bertugas menjaga kesatuan dan keamanan serta perlindungan pemilik dan 
pelaksana kekuasaan.
 
Kekuasaan, dalam paham ini, masuk kategori “perempuan” bukan “lelaki”. 
Perempuan itu yang memiliki, sedangkan lelaki yang menjalankan kepemilikan itu. 
Perempuan itu adanya di dalam rumah, bukan di luar rumah. Yang bergerak aktif 
di luar rumah itu lelaki. Kekuasaan sejati, yakni pemilik kekuasaan atau mandat 
kekuasaan surga adalah Raja Pajajaran dan putra-putranya yang tersebar di 
seluruh Jawa Barat. Sedang yang menjalankan kekuasaan bukan Raja Pajajaran atau 
putra-putranya di daerah, tetapi penguasa setempat atas nama Pajajaran. 
Sedangkan para pelindung kekuasaan boleh orang di luar pemilik dan pelaku 
kekuasaan.
 
Pola tripartit demikian itu rupanya bersumber pada pola pemerintahan 
kampung-kampung Sunda. Kampung telah ada terlebih dahulu dari pada lembaga 
negara yang bernama kerajaan. Dalam kampung-kampung Sunda tua, seperti di 
Kanekes-Baduy atau di Ciptagelar-Sukabumi selatan, kekuasaan kampung terbagi 
menjadi pemilik kekuasaan (kampung adat yang paling tua), pelaksana kekuasaan, 
dan penjaga kekuasaan kampung.
 
Kampung pemilik adat biasaya ada di bagian “dalam” dekat bukit dan hutan 
kampung, kampung pelaksana kekuasaan ada di tengah, dan kampung penjaga 
kekuasaan ada di luar. Dalam kampung adat Kanekes, masing-masing lembaga 
kekuasaan itu dipegang oleh Cikeusik (dalam, tua, adat), kemudian Cikertawana 
(eksekutif), dan Cibeo (pelindung batas).
 
Dalam kampung adat yang lebih modern, yakni di Ciptagelar, tripartit itu tetap 
dijalankan dalam bentuk kampung buhun (pemilik dan penjaga adat buhun Sunda), 
kampung nagara (pemerintahan modern nasional), dan kampung sarak (kampung yang 
mengurus kepentingan Islam). Dalam pola pikir ini, adat Sunda diletakkan 
sebagai pihak “dalam”, “pemilik sejati”, dan Islam berada di “luar” yakni batas 
wilayah kampung. Pemerintahan nasional ada di tengah.
 
Ternyata pola tripartit yang sama masih berlaku di banyak perkampungan Sunda di 
Jawa Barat seperti terjadi di Ciptagelar. Kampung Sunda di Darmaraja dekat 
Situraja, misalnya, membagi kesatuan tiga kampung dalam Kampung Cipaku yang 
mengurus kabuyutan kampung (Raja Haji Putih), Kampung Paku Alam mengurus 
pemerintahan nasional-modern (lurah), dan Kampung Karang Pakuan yang letaknya 
dekat jalan raya Darmaraja, merupakan kampung Islam di mana masjid kampung 
berada.
 
Di sinilah sikap terbuka-tertutup, tetap-berubah, menjalankan mekanismenya. 
Ketegangan budaya sering terjadi antara peran adat dan peran Islam. Sementara 
satu pihak menekankan adat buhun Sunda sebagai pemilik kekuasaan, di pihak lain 
Islam sebagai pemilik kekuasaan. Peran pelaku kekuasaan tetap lembaga 
pemerintahan nasional yang disetujui keduanya. Bagi mereka yang menjunjung 
tinggi kesundaan bersikap bahwa pemilik adalah Sunda (buhun, adat), sedang bagi 
yang menjunjung tinggi Islam bersikap “Islam itulah Sunda”, gerakan revivalisme 
Sunda, saya kira, berdasarkan pikiran siapa yang seharusnya dinilai sebagai 
“dalam” dan siapa yang dinilai sebagai “luar”. Seperti kita baca dalam kasus 
pantun Sunda, kategori “luar” itu mengandung arti “asing” juga.
 
Pola tripartit kekuasaan Sunda ini, dalam perjalanan sejarahnya menunjukkan 
sikap “tetap” sekaligus “berubah”. Hal ini tampak dari penyebutan ketiga 
lembaga kekuasaan tersebut. Pada awalnya adalah pemilik kekuasaan, pelaksana 
kekuasaan, dan penjaga kekuasaan. Lalu di masa kerajaan menjadi sebutan resi, 
ratu, rama. Resi adalah pemilik kekuasaan yang tak bergerak, ratu adalah 
pelaksana yang bergerak aktif, dan rama yang merupakan rakyat (kepala kampung) 
yang menjaga ketertiban kampung masing-masing. Pada zaman perkembangan Islam 
rupanya menjadi pesantren (dalam), menak (bupati-bupati di Priangan), dan 
rakyat Sunda di kampung-kampung.
 
Terjemahannya dalam masyarakat modern Sunda, rupanya pola tripartit ini masih 
berlaku, yakni sebagai pemilik kekuasaan adalah rakyat Sunda (demokrasi), 
pelaksana kekuasaan gubernur-bupati, dan penjaga kekuasaan adalah panglima 
wilayah. Kategorinya; dalam, tengah, luar. Dalam dan tengah adalah Sunda, 
sedangkan pihak luar boleh asing (mirip para ponggawa dalam carita pantun).
 
Dengan demikian dasar paham kekuasaan Sunda itu lebih maternal dari pada 
paternal. Lebih mengasuh, rohani, adat, pikiran daripada sekadar memerintah. 
Sikap ini juga tercermin dalam silat Sunda yang lebih menyimpan kekuatan dari 
pada menggunakan kekuatan itu. Silat Sunda itu bageakeun baik untuk dirinya 
maupun “musuhnya”. Diri sendiri selamat dan yang menyerangnya juga selamat. 
Yang pertama dilakukan adalah gerak menghindar sekaligus disertai gerak 
menyerang. Bukan untuk mematikan, tetapi untuk membuat lawan tidak berdaya 
lagi. Inilah sebabnya pawang pembetul tulang banyak terdapat di kampung-kampung 
Sunda. Jadi, sikap terhadap kekuatan lebih menyimpan, defensif, daripada 
menggunakannya dan agresif. Ini tidak berarti bahwa para jawara silat Sunda 
kurang “berani”, justru sudah melampaui keberanian dan hanya menggunakan 
kekuatan tersebut apabila lawan memang sudah tak mau dibageakeun. Kekuasaan dan 
kekuatan itu tak boleh digunakan semena-mena, tetapi demi kesejahteraan 
bersama, baik dalam maupun luar.
 
Dalam zaman yang semakin menasional dan mengglobal ini, sikap feminin semacam 
itu memang dapat mengancam kesundaan. Sikap asli yang purba ini ditantang 
kearifannya dengan gelombang “kuasa laki-laki” yang agresif. Memang tidak 
mudah. Namun, pemahaman yang lebih mendalam tentang sikap hidup masyarakat 
Sunda ini perlu dilakukan, sehingga dapat dikenali “kedalaman sejatinya” yang 
kokoh namun lentur, tetap namun berubah. Feminin tidak berarti lemah, tetapi 
halus. Yang halus itu bisa kuat. Suatu kekuatan, kekuasaan, yang kokoh namun 
halus, arif, tinggi. ***
 
Sumber: Pikiran Rakyat, Selasa, 01 Januari 2007.
 
------Original Message------
From: Bambang Setijoso
Sender: Senyum-ITB
To: Senyum-ITB
To: itb75-res itb
ReplyTo: Senyum-ITB
Subject: [Senyum-ITB] Situs Kerajaan Sunda tidak pernah ditemukan secara utuh ??
Sent: Oct 30, 2011 3:00 AM

  Menurut yang saya baca dalam link berikut ini, situs Kerajaan Sunda tidak 
pernah ditemukan secara utuh. Apa betul? bagaimana menurut pendapat anda? Ini 
cuplikan singkatnya: Para peneliti boleh bersilang pendapat soal di mana 
sesungguhnya letak kerajaan Sunda, Padjadjaran, karena memang hingga hari ini 
tidak pernah ditemukan situs-situsnya secara utuh. Namun di Cirebon, tak perlu 
ada silang pendapat soal di mana letak pusat kekuasaan Cirebon masa lampau. 
http://sundaislam.wordpress.com/polemik/jawa-barat-tak-cuma-sunda/
Salam Bb  Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New 
Topic Messages in this topic (1) Recent Activity: New Members 27 Visit Your 
Group *** Ayo, ajak masyarakat dan teman ikut Senyum-ITB. Klik 
http://bit.ly/p8cD25 Mudah kok! Manajemen email di milis Senyum-ITB ada di 
bawah. Dicoba deh :) Anggota: 7.342                           Diperbarui: 18 
Oktober 2011 ============================================================       
               *** Senyum-ITB ***             - Kerjasama merajut Prestasi 
Dunia -           Interaksi akrab Masyarakat dan Alumni ITB    Persahabatan, 
Ide, Iptek, Desain, Seni, Bisnis, & Kerjasama         Milis: 
http://groups.yahoo.com/group/Senyum-ITB              Portal: 
http://Senyum-ITB.blogspot.com Managed by: Senyum-ITB & 99Venus International ( 
http://yhoo.it/fYDB7B )       http://Facebook.com/pages/Senyum-ITB/100802856927 
               http://Twitter.com/Senyum_ITB  
============================================================ Mengatur mode 
terima email dengan ganti-ganti 3 cara terima berikut : 1. 
[email protected] = email terima normal (individual emails) 2. 
[email protected] = email terima ringkasan (daily digest) 3. 
[email protected] = cuti sementara / baca di web Senyum-ITB 
Ganti email / Cara berlangganan : 1. [email protected] = 
email berlangganan milis Senyum-ITB Untuk ganti email, silahkan kirim dari 
alamat email baru Anda 2. [email protected]
Nuhuuuuuns,
Mang Kabayan
www.dkabayan.com
ti urang, ku urang, keur balarea

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke