mantap... kapungkur di ieu mislis oge kantos ngaguar Sankuriang ku kang Engkus, panambih link ngeunaan dongeng sangkuriang : http://groups.yahoo.com/group/kisunda/message/16435
hatur nuhu... Agus Wirabudiman http://sukapura.wordpress.com ________________________________ From: Mang Kabayan <[email protected]> To: Senyum-ITB <[email protected]>; IA-ITB <[email protected]>; Baraya_Sunda <[email protected]>; Kisunda <[email protected]>; UrangSunda <[email protected]>; Kota Bogor <[email protected]>; Alumni IPB <[email protected]> Sent: Wednesday, November 30, 2011 6:42 PM Subject: [kisunda] Re: Legenda Sangkuriang Manstaaaaaaap... Ruaaar biasa Juragan :). Panceg dina galur ngajaga amanah karuhun ~ Tetap istikomah memegang teguh amanat leluhur untuk senantiasa menjaga dan melestarikan tanah air. Barangsiapa yg tidak bisa menjaga kabuyutan ~ lemah cai ~ tanah air maka sama dengan kulit lasung ~ kulit musang yg dibuang ketempat sampah. Amanat Galunggung ~ Sewaka Darma ~ Sanghyang Siksa Kandang Karesian. Amanat Prabu Resi Guru Darmasiksa ke anak cucu-nya. Sangkuriang menikahi Dayang Sumbi ~ Anak ~ Ibu = hina melanggar etika budaya yang luhur. Sudah seperti hewan bahkan lebih buruk dari hewan karena sanggup membunuh ayahnya. Indung anu ngandung Bapa anu ngayuga, Indung tunggulna rahayu Bapa tangkalna darajat. Nuhuuuuuns, Mang Kabayan www.dkabayan.com ti urang, ku urang, keur balarea ________________________________ From: Hanief Adrian <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 30 Nov 2011 09:46:43 +0000 (GMT) To: [email protected]<[email protected]>; [email protected]<[email protected]>; [email protected]<[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: [Senyum-ITB] Legenda Sangkuriang Cerita rakyat Sangkuriang sudah sering kita dengar, terutama yang pernah kuliah di daerah Jawa Barat. Sangkuriang adalah cerita seorang anak yang hendak mengawini ibunya sendiri, karena dia hilang ingatan akibat kepalanya dipukul oleh sang ibu, Dayang Sumbi. Dayang Sumbi memukul kepala Sangkuriang dengan centong nasi, karena sangat marah mendengar Sangkuriang membunuh Situmang, anjing penjaga mereka, yang sebenarnya adalah jelmaan manusia, ayah kandung Sangkuriang. Sangkuriang membunuh Situmang karena dia kesal Situmang tidak mau mengejar babi hutan (penjelmaan manusia juga). Kurang lebih begitulah ceritanya, sampai Tangkuban Perahu (halah, bosen saya). Masuk akalkah cerita ini? Apakah membangun perahu dalam semalam, manusia menjelma menjadi anjing, adalah cerita yang rasional? Tentu saja, tidak, hehehehe.... Cerita Sangkuriang sebenarnya hanya sindiran yang bisa dipecahkan dengan telik sandi sederhana. Berikut telik sandi Sangkuriang, Dayang Sumbi, dan Situmang. * Sangkuriang/Sang Guru Hyang: leluhur yang mengajarkan ilmu pengetahuan (guru) * Dayang Sumbi/Da-Hyang Su-Umbi: Da (besar) Hyang/Eyang (leluhur) Su (indah/cantik) Umbi (ibu pertiwi) atau ibu pertiwi yang cantik warisan leluhur agung * Situmang/Si-Tu-Ma-Hyang: akronim dari Rasi (Cendekiawan), Ratu (Pemimpin), Rama (Penasehat), Hyang (leluhur), sebuah tatanan politik kuno Nusantara yang berlandaskan pada ajaran leluhur penyembah Yang Maha Esa dan Kuasa, (tatanan ini masih berlaku di Suku Baduy Jero) Nah, jadi cerita Sangkuriang adalah sebuah sindiran tentang kejadian di masa lalu, dimana orang yang memiliki pengetahuan dan berkewajiban menyebarkannya, lupa dengan ibu pertiwi, malah mau mengawini (baca: memperkosa) sang ibu, setelah merobohkan tatanan masyarakat yang mirip-mirip sedikit dengan trias politica. Cerita Sangkuriang ini mirip dengan kisah Ganesha, yang hendak mengawini ibunya Batari Durga, dan berkelahi dengan ayahnya Batara Syiwa. Cerita sindiran tentang orang yang berilmu seperti Sangkuriang/Ganesha, adalah cerita yang berulang di setiap masa. Kita, ganesha-ganesha muda yang telah lulus dari Padepokan Babakan Siliwangi, hendaknya meneladani cerita ini dengan: tetap setia dan rela berkorban demi kebenaran ilmu pengetahuan, tetap ingat dan setia untuk menjaga ibu pertiwi dan tata negara yang berlandaskan demokrasi dan kemakmuran rakyat. Bagaimana caranya, agar Ganesha tetap setia dengan tugas sucinya? Dengan berpikir dengan penuh kesadaran, kritis, jernih, rasional, dan patuh pada aras ilmu pengetahuan. Saya berpikir maka saya ada, Cogito Ergo SUM! -Hanief-
