Ralat *teurak. Sanes terak :D
www.bioeti.com 
Powered by Telkomsel BlackBerry®mun mayar nyambung mun teu mayar ngaleos

-----Original Message-----
From: Irpan Rispandi <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 06 Dec 2011 12:51:37 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: Bls: [kisunda] Kisah Tragis Di Karbala

wah, bakal aya acara menyakiti diri teu kang?
diurang, siga kumaha nya  teknik menyakiti dirina?
naha make rante oge, atawa anu khas Indonesia, misalna make sarupaning 
tangkal nu cucukan.

menarik nih ...



On 12/06/2011 12:13 PM, ahsa wrote:
> Leres... eta mah pilihan salira. Bade ngiring Kangjeng Nabi atanapi nu 
> merangan Kangjeng Nabi oge eta mah pilihan salira.
> Insya Allah nu mela Putu Kangjeng Nabi mah kenging syafaat. Teu acan 
> kantos kadangu atanapi mendakan yen nu mela Yazid sareng Muawiyah 
> kenging syafaat ti Kangjeng Nabi. Paling oge meureun bakal sakobong 
> sareng Firaun, Namrud, sareng Abu sufyan, Abu jahal jeng sajabana.
>
> Kullu yaumin asyura
> Kullu ardhin karbala
>
> Insya Allah, dinteu ieu tabuh 18.30 di Istana Kana
> jalan Kawaluyaan Soekarno hatta Bandung
> bakal dipedar; dicaritakeun ka balarea kisah Imam Husen sareng 
> perjuanganna ngawalan kadoliman.
> Insya Allah, pun Guru abdi: Ustadz Jalaluddin Rakhmat nu bade medarna.
>
>
> ------------------------------------------------------------------------
> *Dari:* Irpan Rispandi <[email protected]>
> *Kepada:* [email protected]
> *Dikirim:* Selasa, 6 Desember 2011 12:05
> *Judul:* Re: [kisunda] Kisah Tragis Di Karbala
>
>
>
> Hidup Muawiyah...!
> Hidup Muawiyah...!
> Hidup Muawiyah...!
>
> Hidup Yazid...!
> Hidup Yazid...!
> Hidup Yazid...!
>
>
> he..he..he...
> sigana kuring bakal dicap teu nyaah ka Rasulullah.
> Naraka bagianana..
>
>
>
>
> On 12/06/2011 11:45 AM, Ujang Albanduni wrote:
>>
>>
>>     Salam. Ieu kisah Karbala, perjuangan Putu Nabi Muhammad saw dina
>>     nanjeurkeun  agama Islam.
>>
>>
>>     Kisah Tragis Di Karbala
>>
>> 28 11 2011<http://ahmadsahidin.files.wordpress.com/2011/11/husain.jpeg>
>> *Oleh AHMAD SAHIDIN*
>> Imam Husain bin Ali. Beliau adalah cucu kedua Rasulullah saw yang 
>> lahir di Madinah, 5 Sya`ban 4 H. dari pasangan Imam Ali bin Abi 
>> Thalib dan Sayyidah Fathimah Az-Zahra. Imam Husain bin Ali menikah 
>> dengan putri Khosru Yazdajird III, raja terakhir dari kerajaan 
>> Sasanid di Persia (Iran). Dari pernikahannya, Imam Husain bin Ali 
>> dianugerahi delapan anak, empat putra dan empat putri.
>> Saat Dinasti Umayyah berkuasa, Imam Husain tidak mau memberikan 
>> bai`at kepada Yazid bin Muawiyah. Penolakannya itu kemudian diketahui 
>> penduduk Kufah dan mereka meminta kesediaannya untuk menjadi pemimpin 
>> dengan mengundangnya datang. Imam Husain pun menyanggupinya. Namun, 
>> salah seorang saudaranya melarang kepergiannya karena di Kufah masih 
>> banyak orang-orang Yazid bin Muawiyah.
>>
>> “Ya Husain, sebaiknya engkau terlebih dahulu meminta mereka 
>> menyingkirkan para pejabat Yazid dari sana. Jika mereka 
>> melaksanakannya engkau akan aman di sana,” sarannya.
>> “Tidak! Aku akan berangkat sebab aku datang untuk menimbulkan 
>> perbaikan dalam tubuh umat kakekku, Muhammad saw. Aku ingin mengikuti 
>> perjalanan hidup ayahku, Ali bin Abi Thalib. Aku ingin melakukan amar 
>> ma`ruf nahi munkar. Jika orang menerimaku dengan penerimaan kebenaran 
>> maka Allah lebih utama untuk dipatuhi kebenaran-Nya. Barang siapa 
>> yang menolakku, aku akan bersabar sampai Allah memutuskan kebenaran 
>> antara aku dan mereka. Karena Dialah sebaik-baiknya hakim,” tegasnya.
>> Lalu, Imam Husain bersama keluarga dan rombongannya menempuh jarak 
>> sekitar 600 km menuju Mekkah. Setibanya di sana, cucu Rasulullah saw 
>> itu mengumumkan perihal keberangkatannya ke Kufah. Kemudian berangkat 
>> menuju Kufah dan beristirahat di Karbala, Irak. Imam Husain bin Ali 
>> mengetahui bahwa pasukan musuh sudah siap menghadang perjalanannya.
>> Pada malam 10 Muharam 61 H., Imam Husain mengutus rombongan kecil 
>> untuk mengambil air. Setelah semua meminumnya, ia memberitahukan 
>> bahwa air itu merupakan persediaan terakhir yang dapat mereka peroleh 
>> karena esok akan berhadapan dengan musuh. Malam itu, Husain memberi 
>> pilihan kepada pengikutnya antara tetap bersamanya atau pulang 
>> kembali ke kampungnya masing-masing. Rombongan itu menyatakan tetap 
>> ikut bersama Ahlulbait Rasulullah saw.
>> Pada hari ke-10 Muharram, rombongan Husain bin Ali yang semuanya 
>> berjumlah 73 orang dihadang pasukan sekitar 30.000 orang. Peperangan 
>> yang tidak seimbang pun terjadi. Satu persatu sahabat dan keluarga 
>> Imam Husain bin Ali gugur. Bahkan, Ali Ar-Radhi, bayi yang dalam 
>> gendongan pun disambar anak panah. Husain bin Ali berlari ke medan 
>> laga dan tidak sedikit musuh yang jatuh ditangannya. Namun, tiba-tiba 
>> saja sebatang anak panah menancap didahinya. Disusul beberapa anak 
>> panah mengenai tubuhnya. Perlahan-lahan wajah dan janggutnya 
>> bermandikan darah.
>> Imam Husain bin Ali tersenyum melihat darahnya mengalir. Husain 
>> dengan darah yang mengucur berdiri tegak siap bertarung. Kemudian, 
>> beberapa anak panah melesat menancap pada dada Imam Husain bin Ali. 
>> Tiba-tiba, blugh, rubuh tak berdaya. Pasukan Yazid pun cepat-cepat 
>> menggerubutinya. Ada yang menusuk-nusukkan tombak. Ada yang 
>> menginjak-injakkan kuda pada punggungnya. Bahkan, ada yang memenggal 
>> kepalanya hingga putus. Gugurlah cucu tersayang Nabi Muhammad saw 
>> yang selalu ditimang-timang itu.[]
>>
>>
>
>
>
>
>
> 


Kirim email ke