Salam. ieu seratan kantos dimuat oge dina Republika nuju sasih Muharrom nu 
kalangkung. Mangga diaos, yen kajadian karbala sareng syahidna Imam Husen 
leres2 ditandasa ku jalmi dolim. Numutkeun kuring ieu kaasup kajian studi 
historis nu tiasa lebet kritis.
............................................................
 

Imam Jalaluddin As-Suyuthi Tentang Peristiwa Karbala

KH. Jalaluddin Rakhmat
 
Abu mikhnaf dan republika. Saya ingin mengomentari artikel yang dimuat di surat 
kabar Republika hari ahad, 12 Desember 2010 ditulis oleh Syahrudin Elfikri. Di 
ujung ia mengatakan begini: Riwayat yang mengatakan pihak Yazid sebagai 
pembunuh Husain di Karbala itu 
berasal dari Abu Mikhnaf Luth bin Yahya. Demikian disebutkan dalam kitah A’yaan 
al-Syi’ah, jilid 1, halaman 127. Tapi hal ini dibantah oleh sejumlah ahli 
sejarah lain. Imam Adz-Dzahabi dalam Mizan al-I’tidal menjelaskan ketika 
peristiwa 
Karbala itu terjadi Abu Mikhnaf belum lahir. Ia meninggal pada tahun 
170H. Ia adalah seorang pembohong besar. Ungkap Imam as-Suyuthi dalam 
kitabnya Alaailu al-Masnu’ah. 
 
Saudara-saudara, saya ingin meminta bantuan saudara-saudara, apa yang dibantah 
itu? 
Apakah yang dibantah itu ialah pihak Yazid sebagai pembunuh Imam Husain, atau 
yang dibantah itu ialah bahwa berita itu hanya berasal dari Abu 
Mikhnaf Luth bin Yahya; atau yang dibantah itu ialah kitab A’yaan 
al-Syiah, jilid 1, halaman 127? Saya sebetulnya agak sulit memahami 
tulisan ini. Tapi kemudian saya coba mencari siapa Abu Mikhnaf Luth bin 
Yahya itu.
 
Dalam Mizal al-I’tidal Luth bin Yahya bin Abi Mikhnaf didhaifkan para ahli 
hadits dengan alasan “huwa syi’iyun mukhtariq” (Dia ini seorang Syi’ah 
Ekstrem). Dosanya kenapa riwayatnya tidak bisa dipercaya adalah karena ia 
Syi’iyun mukhtariq, dia syi’ah yang ekstrem. “La yuthaqu bihi”, tidak bisa 
dipercaya. Tapi Mizal al-I’tidal tidak menyebutkannya 
sebagai pembohong yang besar. Cuma dia tidak bisa dipercaya. Begitu kata 
Adz-Dzahabi. Saya kemudian menbacabahwa Abu Mikhnaf sebetulnya nama lengkapnya 
bukan Luth bin Yahya, tapi Yahya bin Said bin Mikhnat, dan digelari Abu 
Mikhnaf, walaupun kakeknya juga bernama sama 
dengannya. Menurut para ahli sejarah tidak jelas apakah dia itu Sunni 
atau Syi’ah. Mungkin dia disebut sebagai Syi’ah karena dia menulis 
sebuah kitab khusus bercerita tentang peristiwa Karbala dan kitabnya itu 
termasuk kitab-kitab awal yang bercerita tentang Karbala yang jadi 
rujukan ulama lain setelah itu. 
 
Ada seorang penulis Jerman bernama Ursula Sezkin. Ia menulis Abu Mihnaf: Ein 
Beitrag zur Historiographie der Umaiyadischen Zeit. Sebelum Republika 
meributkan Abu Mikhnaf, ia sudah menulis penelitian yang sangat 
terperinci. Karyanya diterbitkan di Universitas Leiden pada tahun 1971. 
Tapi menurut dia, Abu Mikhnaf itu bahkan adalah salah seorang di antara 
satu ahli sejarah pertama di dalam Islam. Kata Robinson di dalam Islamic 
Historiography: Abu Mikhnaf itu sejarawan yang boleh kita sejajarkan sekelas 
Ibnu Ishak di dalam periwayatan sejarah, malah disebutkan bahwa ia adalah 
sumber 
yang terpercaya baik oleh Ahlu Sunnah maupun Syi’ah. Jadi dia termasuk yang 
dipercaya ….”considered reliable”.
 
Sementara menurut Republika, yang meriwayatkan bahwa Yazid adalah pembunuh Imam 
Husain adalah Abu 
Mikhnaf. Dan Abu Mikhnaf itu—katanya dengan mengutip As-Suyuthi—dia itu 
seorang pembohong besar. Artinya kita tidak bisa percaya. Tujuan dari 
penulisan Republika mungkin ialah bahwa peristiwa Karbala itu 
tidak pernah terjadi. Bahwa ini riwayat bohong yang dibikin oleh seorang 
Syi’ah, yang bernama Abu Mikhnaf. Dalam penelitian saya, ternyata 
kesyiahan Abu Mikhnaf pun diragukan. Misalnya bahwa dalam kitab-kitab 
rijal Syi’ah, Abu Mikhnaf tidak termasuk sebagai sahabat para Imam. Dia 
juga tidak dikenal meriwayatkan dari para Imam Ahlul Bayt yang sezaman 
dengannya. Penggunaan kata “Syi’i” oleh Adz-Dzahabi juga tidak serta 
merta merujuk pada kesyi’ahan Abu Mikhnaf. Karena penisbatan pada orang 
Syi’ah waktu itu menggunakan kata “Rafidhi”. Adapun jugakata “Syi’i” besar 
kemungkinan digunakan untuk orang yang cenderung 
mencintai Ahlul Bait Nabi Saw. Komentar Ibnu Abi al-Hadid dalam Syarh Nahj 
al-Balaghah  1: 147 memperkuat pendapat bahwa Abu Mikhnaf bukan orang syi’ah. 
Berikut tulisan Ibn Abi  al-Hadid: Abu Mikhnaf termasuk muhadditsin yang 
berpendapat tentang sahnya imamah dengan pilihan. Dia bukan syi’ah dan tidak 
dihitung sebagai rijal Syi’ah. Wa laisa min al-Syi’ah wa laa ma’duudan min 
rijaaliha. 
 
Di Universitas Edinburgh ada seorang dosen, A.K.A Howard namanya. Dia 
menulis khusus tulisan tentang buku-buku klasik yang meriwayatkan 
Karbala. Dia sebut bahwa riwayat tentang Karbala itu bukan hanya berasal dari 
Abu Mikhnaf, tapi juga berasal dari penulis lain. Al-Waqidi, 
Al-Mada’ini, Asybagh bin Nubata, Al-Madaini, Awana bin Hakam dan 
sebagainya. Meminjam istilah hukum “termasuk tapi tidak terbatas pada.” 
Jadi, included but not limited to. Tentang Karbala ini, 
Al-Waqidi menulis itu, At-Thabari juga mengambilnya dari Abu Mikhnaf. 
Dan At-Thabari adalah penulis sejarah Ahlu Sunnah. 
 
 
Kembali pada Abu Mikhnaf. Ia juga ialah orang pertama menulis tentang Saqifah 
Bani Saidah. Di antara keberatan Republika tentang peristiwa Karbala adalah 
fakta bahwa Abu Mikhnaf tidak 
menyaksikan langsung peristiwa Karbala. Mengapa? Karena saat peristiwa 
itu terjadi, Abu Mikhnaf belum lahir, dan Republika benar. 
Tetapi bukan hanya Abu Mikhnaf. Sebagian besar ahli sejarah tidak 
menyaksikan peristiwa itu, bukan hanya Abu Mikhnaf. Kalau sekarang ini, 
setelah Indonesia merdeka, seseorang menulis sejarah tentang penjajahan 
Belanda. Apakah hasil penelitiannya harus kita dhaifkan? Semua penulis 
sejarah besar dilahirkan setelah peristiwa yang ditulisnya lama berlalu. 
 
Menurut Republika, salah satu bukti kebohongan peristiwa Karbala ialah 
penulisnya 
meninggal dunia pada tahun 170H sementara peristiwa Imam Husein terjadi 
pada tahun 60H. Setelah saya cek, tahun meninggalnya juga keliru. Abu 
Mikhnaf meninggal pada tahun 157H. Jadi setelah kejadian Imam Husein ada waktu 
kurang lebih 90 tahun hingga meninggalnya Abu Mikhnaf. Karena itu Abu Mikhnaf 
menulis melalui wawancara dengan saksi-saksi mata yang 
pernah menyaksikan peristiwa itu dan masih hidup di zamannya. Jadi ada 
namanya dan dicatat secara terperinci. Ada nama-nama yang hidup pada 
zaman Abu Mikhnaf yang menyaksikan peristiwa Karbala. Misalnya, Muhammad bin 
Qays, Harits bin Abdillah bin Syarik Al-Amiri dan sebagainya. 
 
 
Kita mempelajari sejarah bukan hanya melalui dokumen tertulis. Tetapi juga 
lewat artefak atau peninggalan. Banyak data sejarah kita buat tidak 
berdasarkan tulisan apalagi jika kita berbicara tentang masa pra-sejarah 
ketika  tidak ada tulisan. Kita mengetahui bahwa 
peninggalan-peninggalan Imam Husein masih tersimpan utuh hingga saat 
ini. 
 
 
Silahkan saudara berangkat ke Karbala. Pada tanggal 10 Muharram ini, seluruh 
peristiwa Karbala itu akan berulang kembali di hadapana kita tidak dalam bentuk 
cerita atau tulisan. Tetapi dalam bentuk artefaks. Di sana 
terdapat tempat tangan Abu al-Fadhl Abbas ditebas, tempat jatuh tangan 
kirinya, tempat kemah-kemah yang dibakar oleh Amir bin Jausyan dan 
balatentaranya. Semuanya masih tersimpan dengan baik dan semua orang 
berusaha merekonstruksi peristiwa itu sekali lagi. Saya sempat 
menyaksikan pada acara Karbala, di arak seekor kuda. Melambangkan kuda 
Imam Husein, Dzuljanah. Digambarkan seekor kuda putih yang berlumuran 
darah. Dan orang banyak mengambil berkah dari kuda yang hanya simbol 
itu, untuk menyegarkan kembali ingatan dalam benak kita; tentang 
peristiwa sejarah yang harus kita kenang, terutama apabila ada 
sekelompok orang yang berusaha untuk menghilangkan peristiwa bersejarah 
tersebut. 
 
 
Jadi, terlihat bahwa memang kita memperingati Muharram ini sebagai bagian 
dari upaya untuk tidak menghilangkan peristiwa bersejarah itu. Rupanya, 
ada upaya yang dilakukan secara terperinci untuk menghapuskan jejak 
sejarah tersebut. Jika peristiwa tersebut sudah tak dapat lagi 
dihapuskan—karena peristiwa Karbala itu memang terlalu jelas untuk dapat 
dihapuskan—silahkan baca seluruh tarikh Islam dalam bahasa apapun. Anda akan 
menemukan peristiwa Karbala disebut. Atau silahkan baca sejarah 
bangsa Arab, sejarah itupun akan menyebutkan peristiwa Imam Husein. Oleh karena 
itu kemudian ada cara yang kedua: menjadikan Yazid bukan sebagai pembunuh Imam 
Husein. Sebagaimana dikutip oleh Republika:
 
“Yang pertamakali mengatakan bahwa Yazid pembunuh Imam Husein itu adalah Abu 
Mikhnaf, dan dia adalah seorang pembohong besar! Menurut siapa? Menurut 
as-Suyuthi……………”, dia menyebutnya Imam as-Suyuthi.
 
Imam jalaluddin As-Suyuthi dan peristiwa karbala. Saya membuka kitab Tarikh 
Al-Khulafa, ditulis oleh al-hafidz Jalaluddin as-Suyuthi. Saya tidak menemukan 
rujukan yang dimaksud oleh 
Syahrudin Elfikri (lihat bagian satu). Kitab yang disebutkannya tidak 
saya temukan pada Maktabah Ahlil Bayt. Tetapi bila Elfikri 
menisbatkan rujukan itu pada Jalaluddin As-Suyuthi, sekarang mari kita 
cek peristiwa Karbala sebagaimana yang ditulis oleh Jalaluddin 
As-Suyuthi. Apa betul menurut as-Suyuthi bahwa Yazid bukan pembunuh Imam 
Husain. Saya bacakan langsung dari sumber aslinya:
 
“Maka Yazid kemudian menulis surat kepada gubernurnya di Irak, yaitu Ubaidillah 
bin Ziyad untuk membunuh Imam Husain. Lalu dia kirimkan pasukan yang terdiri 
dari 4000 prajurit yang dipimpin oleh Umar bin Saad bin Abi Waqash (putera dari 
sahabat Nabi Saad bin Abi Waqash—red). Maka kemudian penduduk Kufah 
mengkhianati Imam Husain sebagaimana 
mereka telah lakukan terhadap ayahnya (yaitu Imam Ali). Dan setelah 
senjata-senjata dihunuskan, Imam Husain mengajak mereka kepada keadaan 
semula. Dan mereka semua menolak dan bersikeras ingin membunuhnya. Lalu 
terbunuhlah Imam, dan kepalanya dibawa di dalam sebuah wadah, sampai di 
hadapan Ibnu Ziyad.” 
 
Perhatikan ucapan Jalaluddin as-Suyuthi setelah itu, “Maka laknat Allah, bagi 
pembunuhnya, bagi Ibnu Ziyad beserta dia, dan laknat Allah juga bagi Yazid.” 
(semua kutipan As-Suyuthi diambil Tarikh al-Khulafa, halaman 193, terbitan 
Darul Kutub al-Islamiyyah, Beirut).
 
 
Apabila kita membaca Republika kita dapat pesan bahwa Jalaluddin As-Suyuthi 
tidak percaya bahwa Yazid 
memerintahkan pembunuhan Imam Husain. Karena menurut Elfikri, Abu 
Mikhnaf adalah satu-satunya orang yang meriwayatkan bahwa Yazid adalah 
pembunuh Imam Husain. Dan Abu Mikhnaf itu adalah pembohong besar. Saya 
tidak menemukan ucapan-ucapan dalam kitab bahwa Abu Mikhnaf itu adalah 
pembohong besar kecuali dalam harian Republika. Yang saya 
temukan dari as-Suyuthi justeru adalah bahwa as-Suyuthi melukiskan 
peristiwa Karbala dengan sangat dramatis sebagai berikut: “Terbunuhnya beliau 
itu ialah di Karbala, dan dalam kisah terbunuhnya itu, ada 
peristiwa yang panjang, yang hati ini tidak akan sanggup untuk 
menanggungnya, hati ini tidak akan sanggup untuk mengenangnya. 
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Kemudian ia bercerita pada waktu 
terbunuhnya Imam Husain: “Matahari itu memudar selama tujuh hari terus menerus, 
dan langit menguning, 
kemudian gemintang di malam hari seperti bertubrukan satu sama lain. Dan 
terbunuhnya itu pada hari Asyura, dan matahari pun mengalami gerhana, 
dan ufuk-ufuk langit memerah enam bulan terus menerus setelah peristiwa 
tersebut, dan ada satu bagian kemerah-merahan di langit yang tidak 
hilang sesudah itu, yang tidak pernah kelihatan sebelumnya. Pada hari 
itu, tidaklah dibalikkan bebatuan di Baitul Muqaddas kecuali orang-orang 
melihat di bawahnya darah kental mengalir.” Dan diceritakan oleh beberapa ahli 
tarikh, bahwa pada hari itu juga terjadi hujan merah. 
 
Di internet saya pernah menemukan sebuah fotokopi scanning sebuah dokumen 
dari perpustakaan di London, yang kebetulan sama dengan tanggal 10 
Muharram 60H. Penulis dokumen ini melingkari sebuah berita di situ bahwa pada 
tanggal yang sama di London pun terjadi hujan berair merah, 
seperti hujan darah. 
 
Di sisi lain, di internet ada juga ceramah Dr. Zakir Naik. Dia memberikan 
ceramah dalam bahasa Inggris . Ketika dia mengucapkan nama Yazid, dia 
menyebut “May Allah be pleased with him.” Ceramahnya itu mendapatkan 
reaksi bantahan dan penolakan keras dari para ulama, bahkan ulama-ulama 
Ahlu Sunnah. Dia pun menambahkan gelaran Sayyidina kepada Yazid dan ia 
mendapatkan banyak kecaman. Dia mengatakan bahwa Yazid bukanlah pembunuh Imam 
Husain, bahwa yang bersalah ialah Imam Husain sendiri karena ia 
ingin merebut kekuasaan yang sah. (lihatlah “Mufti besar Saudi mengatakan cucu 
Nabi sesat”. Yang membuat penasaran redaksi ialah apakah Dr. Zakir Naik 
menganggap 
perbuatan ‘Aisyah sama juga salah karena ia telah memerangi khalifah 
yang haq yaitu Imam Ali as—pen). Dia berpendapat bahwa kita tidak boleh 
melaknat Yazid. Bahkan menurutnya Imam al-Ghazali 
sekalipun tidak melaknat Yazid. Katanya, kita dilarang untuk melaknat 
Yazid karena ia adalah salah seorang amirul mukminin, dan banyak lagi 
alasan lainnya. 
 
Dalam telaah kita, kita temukan bahwa as-Suyuthi pun melaknat Yazid. 
As-Suyuthi ialah ulama besar Ahlus Sunnah, dari madzhab Syafi’i . Semua 
orang NU di Indonesia—dengan syarat ia Kyai—pasti mengenal nama 
Jalaluddin as-Suyuthi. Ayah saya dulu seorang Kyai, dan dia ngaji di 
pesantren, belajar tafsir, namanya tafsir Jalalain. Salah seorang 
penulisnya ialah Jalaluddin as-Suyuthi. As-Suyuthi adalah ulama besar 
Ahlus Sunnah dan dia melaknat Yazid. Dia melaknat pembunuh Imam Husain, 
melaknat Ubaydillah bin Ziyad, dan melaknat Yazid sekaligus. 
 
DHOGO’IN FI SHUDUURI AQWAAMINAgak menyimpang dari pembicaraan sebelumnya tapi 
mungkin berkaitan. Saya 
ingin memberikan komentar pada selebaran yang dibagikan di Masjid 
Istiqamah Bandung pada ibadah shalat Jum’at yang lalu. Di sana 
disebarkan pada jamaah selebaran dengan judul “Kebencian dan Kebohongan 
Jalaluddin Rakhmat, terhadap Ummul Mukminin ‘Aisyah ra, Imam Bukhari, 
dan Imam Muslim.” (Rupanya selebaran itu berasal dari Makassar, tertanggal 29 
Ramadhab 1429H barangkali hitung-hitung ibadah menutup Ramadhan—Red).
 
Menurut para sosiologi, ketika seseorang melihat sebuah peristiwa, ia selalu 
berusaha memberikanmakna: untuk apa peristiwa itu, mengapa, dan sebagainya. 
Kita akan 
mencari hubungannya dengan peristiwa lainnya yang berkaitan dengan 
peristiwa itu. Kita akan menemukan bahwa sebuah cerita itu saling 
berhubungan di alam kehidupan ini. Sewaktu 
membaca selebaran ini saya juga tidak paham apa yang dia maksud. Untuk 
apa sebetulnya Masjid Istiqamah membagi-bagikan ini? Lalu saya berpikir, 
mungkin, karena sebentar lagi ada acara Asyura. Dan pasti yang memiliki lakon 
dalam acara ini ialah Jalaluddin Rakhmat. Dia pasti akan 
bercerita tentang Karbala, dan dampak dari peristiwa Karbala adalah 
banyaknya orang yang akan terpengaruh (dan terperangah—red) dengan 
cerita ini. Saya menduga, sekitar 20% pengunjung ialah orang yang tidak 
bermadzhab Ahlul Bayt. Orang yang datang ingin mendengar. Kemungkinan 
besar orang-orang seperti itu akan mempercayai cerita Jalaluddin 
Rakhmat. Apalagi, karena—menurut selebaran itu—Jalaluddin Rakhmat 
memiliki keahlian dalam komunikasi. Disebutkan di dalamnya bahwa cara 
untuk menangkis serangan tersebut ialah menyiapkan suatu benteng dalam 
hati untuk ditanamkan dalam benak bahwa Jalaluddin Rakhmat itu ialah 
seorang pembohong besar. 
 
 
Dahulu pada suatu ketika, Rasulullah Saw berjalan di luar kota Madinah bersama 
Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, dan Imam Ali as. Di luar benteng 
Madinah itu, ada taman-taman yang asri. Imam Ali berkata kepada Nabi, 
“Ya, Rasulullah. Betapa indahnya kebun-kebun ini.” Rasulullah Saw 
menjawab, “Sesungguhnya tamanmu di surga jauh lebih indah dari ini.” 
Beberapa saat kemudian kata Anas bin Malik, Rasulullah Saw meletakkan 
kepalanya di bahu Imam Ali. Menurut riwayat Imam Ali: Rasulullah 
meletakkan dahinya di bahuku, kemudian beliau terus menerus menangis, 
makin lama makin keras. Kemudian Rasulullah Saw memberikan isyarat 
terhadap jatuhnya Imam Ali, dan orang-orang bertanya kepada Rasulullah: 
“Mengapa kau menangis, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Aku sedih, 
aku menangis, karena kebencian yang ada pada hati kabilah-kabilah itu, dhogo’in 
fi shuduuri aqwaamin, terhadap kamu hai Ali. Yang tidak mereka tampakkan. 
Kecuali setelah aku meninggalkan dunia ini.” Jadi Rasulullah meramalkan bahwa 
suatu saat 
bakal ada orang yang menampakkan kebenciannya kepada Imam Ali, setelah 
Rasulullah meninggal dunia. Dan kebencian itu tidak memiliki dasar 
apa-apa. Bukan benci karena pribadi Imam Ali, karena tidak akan ada 
seorangpun yang menemukan dalam Imam Ali, suatu kepribadian yang membuat 
seseorang benci kepadanya. 
 
 
Murtadha Muthahari pernah menulis tentang gaya tolak dan gaya tarik (quwwatun 
jaadzibah wa daafi’ah) Imam Ali. Seseorang tidak akan menemukan sesuatu yang 
membuat mereka 
benci terhadap Imam Ali. Saya hampir-hampir mengatakan “ini kebencian 
kolektif”. Rasulullah Saw menyebutnya: “rasa benci pada hati kaum-kaum 
tersebut terhadapmu”. Dan rasa benci itu bukan disebabkan oleh pribadi 
Imam Ali. Ketika Ibn Muljam dihadapkan kepada Imam Ali dan Imam Ali 
dalam keadaan kepala terbaring  bersimbah darah dan wajahnya memutih, 
Imam Ali melihat Ibnu Muljam terikat. Imam Ali meminta agar ikatan Ibnu 
Muljam itu dilonggarkan. Imam Ali bertanya padanya: Aku ini pemimpin 
seperti apakah menurut kamu? Apakah pernah aku menyakiti hatimu? Apakah 
pernah aku merugikanmu? Bukankah aku dahulukanmu daripada yang lain? Aku sudah 
tahu bahwa kamu akan menjadi pembunuhku………. tapi aku biarkan 
kamu. Apa sebetulnya dalam diriku sehingga kau melakukan apa yang kau 
lakukan kepadaku? 
 
 
Ibn Muljam tak dapat menjawab. Memang tidak ada alasan untuk membenci Imam 
Ali. Itu hanya karena sebuah ideologi yang diterapkan terus menerus. 
Sehingga menyebabkan orang membenci Imam Ali, bukan karena apa-apa, 
tanpa sebab yang jelas. Dan apa yang terjadi pada Imam Ali, terjadi juga pada 
Imam Husein. Di padang Karbala, Imam Husein berkata: “Siapa yang 
mengenal aku pasti ia mengenal ayahku. Siapa yang tidak mengenaliku, 
mari aku sebutkan. Siapakah orang yang pertamakali shalat di belakang 
Rasululllah? Ayahku atau ayahmu?” Mereka semua tak mampu menjawab, namun mereka 
tetap ingin membunuh Imam Husein. Itulah kedengkian yang 
tersembunyi dalam hati, yang baru mereka tampakkan sepeninggal 
Rasulullah Saw.
 
 
Lihatlah apa yang terjadi pada Imam Khomeini. Mengapa ada orang yang tidak 
mengenal Imam Khomeini namun sangat membencinya. Padahal Imam Khomeini 
tidak pernah merugikan dia. Imam tidak pernah mengancam kepentingan dia 
…………….tapi ada orang yang membencinya secara luar biasa.  Facebook saya 
juga dikotori oleh orang-orang seperti itu, padahal saya sudah berusaha 
untuk me-remove orang-orang ini, namun mereka muncul kembali 
dengan nama-nama yang baru. Terpaksa saya harus menerima terus 
makian-makian terhadap Imam Khomeini. Mereka menggambarkan Imam Khomeini 
sebagai makhluk paling jahat di dunia. Mengapa mereka melakukan hal 
tersebut? Tidak jelas. Itu karena kedengkian dalam hati mereka. Dan ini 
berlaku terhadap semua pengikut Ahlul Bayt. 
 
 
Bila saudara mencintai Ahlul Bayt, saudara akan tiba-tiba dibenci oleh 
orang-orang di sekitar saudara. Mereka membenci saudara tanpa alasan 
yang jelas. Dan jawabannya ialah karena kebencian kolektif itu. Karena 
itu saya tidak lagi risau terhadap ungkapan-ungkapan kebencian seperti 
itu. Itu harus kita terima sebagai kenyataan yang ada di tengah-tengah 
kita. Akan terus ada ungkapan-ungkapan kedengkian, bahkan mungkin 
ungkapan-ungkapan kekerasan yang diarahkan terhadap kita. Dimulai dengan 
kekerasan secara verbal, sampai kekerasan fisikal. Mereka sama sekali 
tidak menggunakan argumentasi. Seseorang yang menumpahkan kebencian 
terhadap Ahlul Bayt, akan kehilangan cahaya wajah mereka, sedangkan bagi yang 
mengungkapkan kecintaan mereka terhadap Ahlul Bayt akan memperoleh cahaya di 
wajah mereka. 
 
 
Sepanjang sejarah para pengikut Ahlul Bayt selalu dihadapkan kepada kebencian 
dan kekerasan dalam hidup mereka karena kedengkian orang-orang dalam 
hatinya. Namun meskipun begitu, kita harus tetap bersikap baik seperti 
Imam Ali terhadap Ibnu Muljam. Jangan melawan kekerasan dengan 
kekerasan. Kalau bisa kita ma’afkan. Kita tebarkan ampunan. Seperti kata Imam 
Ali kepada Imam Hasan tentang Ibnu Muljam: “Jika aku mati, 
kalian dapat melakukan qishash terhadap dia. Tapi jangan ganggu 
keluarganya. Jangan melakukan mutilasi, karena Rasulullah melarangnya. 
Berilah dia pakaian seperti yang kamu pakai.” Imam Hasan bertanya: “Ya, 
Abah………sampai dalam keadaanmu saat ini kau masih menganjurkan hal yang baik 
kepada pembunuhmu?” Lalu Imam Ali meminta minuman susu. Konon minuman itu 
adalah minuman 
terakhirnya. Imam Ali meneguk sebagian minuman itu, dan menyerahkan 
sisanya seraya berkata: “Berikan minuman ini kepada Abdurrahman Ibnu Muljam.”
 
Maka si pembunuh itu beroleh berkah dari cawan suci Amirul Mukminin. 
 
Inilah pelajaran betapa di saat terakhir sekalipun, Imam Ali tidak pernah 
mengurangi kasih sayangnya kepada sesama manusia bahkan kepada orang yang 
berbuat keji terhadapnya. 
 
(disampaikan pada peringatan Majlis Duka Husaini, DPW Ijabi Jawab Barat, 7 
Muharram 
1432H. 7 Muharram adalah saat ketika Imam Husein dan kafilah keluarga 
Nabi mulai kelaparan dan kehausan, ditahan dari sungai Furat (EFRAT)  
oleh ribuan pasukan. Terhatur terima kasih bagi saudara Alfan Arrasuli 
yang telah mentranskripnya dalam semalam. Labbayka ya Husain!)
 
dikutip langsung dari Al-Tanwir (edisi no 304, Edisi: 16 Desember 
2010/10Muharram 1432H)

Kirim email ke