Serpihan buku The Road to Muhammad (saw)
Oleh AHMAD SAHIDIN
 
TADI subuh saya membuka buku “The Road to Muhammad
(saw)” karya Ustadz Jalaluddin Rakhmat. Buku ini diterbitkan Mizan pada 2009,
menyusul buku sebelumnya: “The Road to Allah”. Meski judulnya ada kesamaan,
tetapi isinya berbeda. 
 
Buku pertama mengulas aspek historis dan kemuliaan
akhlak Rasulullah saw. Sedangkan yang kedua, lebih bisa disebut tahapan dan
gambaran atau pencerahan untuk semakin menuju Allah. Kalau yang pertama
mengenalkan nubuwwah beserta kemuliaan Muhammad saw; sedangkan yang kedua
berkaitan dengan tauhid dalam makna yang lebih luas lagi karena di dalamnya
dikupas pula tentang tasawuf dan tahapan perjalanan menuju Tuhan. 
 
Saya melihat-lihat daftar isinya. Saya lihat dalam
setiap bagian menyajikan tulisan yang berkaitan dengan Rasulullah saw; mulai
dari akhlak, peran, dan kupasan ayat Quran yang menerangkan sosok Rasulullah
saw. Begitu juga penjelasan perihal bitsah hingga wafat Muhammad saw dan
sahabat-sahabat yang dekat dan setia kepada Nabi dikupas dengan baik. 
 
Kemampuan dalam mengkaji khazanah klasik atau
buku-buku sejarah yang berbahasa Arab tampak menjadi kekhasan yang tidak
dimiliki Ustadz Jalaluddin Rakhmat. Memang kalau dicari-cari ada orang-orang
yang bisa membaca buku-buku kalsik, tetapi yang mampu mengkaji dan menyeleksi
bahasan sejarah dengan kajian kritis tampaknya masih disandang oleh ulama 
Bandung
yang kini menjadi Ketua Dewan Syura IJABI. 
 
Sambil melihat-lihat bagian demi bagian, tiba-tiba mata
saya berhenti pada subbagian ‘Wasiat Rasululallah saw kepada Imam Ali’ halaman 
329-320.
Pada halaman ini terdapat riwayat yang jarang ditemukan dalam buku-buku sejarah
Nabi Muhammad saw yang sudah saya baca. 
 
Ustadz Jalal mengutip dari Tafsir Al-Manar, 6:464.
Setelah pulang dari Haji Wada kemudian di dekat mata air atau Ghadir Khum,
persimpangan jalan menuju Makkah, Madinah, dan daerah lainnya, Sang Nabi
memerintahkan rombongan haji yang berjumlah ribuan untuk berhenti. Di tengah
siang hari dengan cuaca panas itu seorang sahabat diperintahkan untuk membuat 
mimbar
dari pelana. Setiap pelana kuda dan unta kemudian ditumpukan sampai menjadi
mimbar yang cukup tinggi dan terlihat dari orang yang berada di belakang
barisan. 
 
Setelah menunaikan shalat berjamaah, Sang Nabi
kemudian menaiki mimbar buatan tersebut. Kemudian berkhutbah dan meminta
kesaksian bahwa dirinya telah menyampaikan ajaran Islam kepada umat Islam.
Rasulullah saw juga menyatakan, barang siapa yang menjadikan Allah sebagai yang
patut disembah dan ditaati maka umat Islam diwajibkan untuk patuh dan menaati
Rasulullah saw. Kemudian Sang Nabi memanggil Imam Ali bin Abi Thalib untuk
berdiri di sampingnya dan diangkat tangannya sambil berseru, “man kuntu maula,
fa hadza Aliyyun maula.”  Dengan kalimat
tersebut Sang Nabi menegaskan bahwa Imam Ali merupakan pelanjut kepemimpinan
Islam sekaligus pewaris ajaran Rasulullah saw. 
 
Beberapa waktu setelah peristiwa Ghadir Khum (18
Dzulhijjah 11 H.), Sang Nabi didatangi seorang yang tidak ikut haji dan hadir
dalam pengangkatan Imam Ali sebagai washi dan pemimpin umat Islam.
Namanya Al-Haris Nukman Al-Fihri. Setelah menambatkan untanya, Al-Fihri berkata
kepada Rasulullah saw.
 
“Ya Muhammad, kau perintahkan kami shalat lima waktu,
kami terima itu. Kau perintahkan zakat, kami pun menerimanya. Tapi, engkau
tidak merasa puas dengan itu semua sampai engkau angkat tangan ibn ‘ammik (anak 
pamanmu) dank au istimewakan dia di atas kami semua. Lalu, engkau
berkata, ‘Siapa yang menjadikan Aku pemimpinnya hendaklah mengambil Ali sebagai
pemimpinnya.’ Aku mau tanya, apa ini berasal dari engkau sendiri atau dari
Allah Azza wa Jalla?”
 
Nabi  bersabda,
“Demi Zat yang tidak ada Tuhan selain Dia, ini semua dari Allah Azza wa Jalla.”
 
“Ya Allah, jika apa yang diomongkan Muhammad itu
benar, hujanilah aku dengan batu dari langit dan timpakan kepadaku azab yang
berat,” kata Al-Fihri sambil pergi. 
 
Sebelum Al-Fihri sampai ke tunggangannya, Allah
mendatangkan batu dari langit. Batu itu masuk ke dalam ubun-ubunnya dan keluar
dari duburnya. Al-Fihri pun mati.
 
Mencari wahyu terakhir 
Kalau tidak salah dalam sebuah Dialog Sunnah Syiah
yang digelar Anteve dengan narasumber Ustadz Jalal dan Nabhan Husen, riwayat
tersebut dibahas pula oleh Ustadz Jalal. Menurutnya, riwayat tersebut merupakan 
asbabun nuzul dari surah Al-Maarij (70) ayat 1-3. Dibenarkan pula oleh Nabhan
Husen.
 
Kalau benar riwayat tersebut sebagai asbabun nuzul,
berarti surah Al-Maidah ayat 3 bukan termasuk wahyu terakhir. 
 
Dalam buku “Sejarah Al-Quran” karya M.Hadi Ma’rifat
(yang diterbitkan Al-Huda, Jakarta) bahwa yang menyebutkan Al-Maidah ayat 3
sebagai wahyu terakhir dari sejarawan Ibnu Wadhih Yaqubi. Namun, sayangnya
tidak disebutkan kapan dan di mana turunnya. Hanya disebutkan turun setelah
Ghadir Khum. Meski belum diketahui otentitasnya, pendapat Yaqubi ini hingga
sekarang diakui sebagai kebenaran umum oleh umat Islam.
 
Dalam buku Sejarah Al-Quran, M.Hadi Ma’rifat
menyebutkan ada yang berpendapat bahwa wahyu yang terakhir turun adalah surah
Al-Baqarah ayat 281 yang bersumber dari Ibnu Abbas. Disebutkan bahwa satu bulan
setelah turun ayat tersebut, Sang Nabi meninggal dunia. 
 
Jika melihat penanggalan wafatnya Sang Nabi, yang terjadi
pada 28 Shafar 11 Hijriah, maka turunnya ayat 281 surah Al-Baqarah adalah 
Muharram.
 
Sejarah dikaji ulang
Sejarah memang perlu untuk dikaji ulang. Tidak semua
yang didengar dari orangtua dan guru-guru agama bebas dari kesalahan. Seperti
yang dilakukan Ustadz Jalal dengan buku The Road to Muhammad (saw) mencoba
menyajikan perjalanan Sang Nabi yang beda dari yang biasa kita baca. Sejumlah
fakta sejarah yang menjadi kebenaran umum dimentahkan dengan fakta dan analisa
segar berdasarkan sumber-sumber sejarah yang tepercaya.
 
Saya selaku pembaca buku, melihat buku The Road to
Muhammad (saw) sebagai buku yang bagus dan mencerahkan. Buku ini tidak
membahas sejarah Sang Nabi secara kronologis, tetapi berdasarkan tema-tema yang
dapat kita jadikan teladan dalam hidup yang berdasarkan Kita Suci dan Sunnah
Nabawiyah. Tidak heran kalau Anda menemukan ayat Quran dan sejumlah riwayat
bertebaran dalam setiap halaman buku ini.  
  
Bagaimanakah Ustadz Jalal melakukan kajiannya dan
metode historis apa yang digunakan dalam penyusunan bukunya? Jawaban yang ini
dapat Anda baca dalam buku yang terbit lebih awal dengan judul “Al-Mushthafa:
Manusia Pilihan yang Disucikan” (Penerbit Simbiosa, Bandung).
 
Karena itu, untuk menemukan kontinuitas nalar
intelektual Jalaluddin Rakhmat harus dibaca utuh dari berbagai karyanya dan
ceramah-ceramahnya. Kalau tidak, ya… sangkaan dan perkiraan yang tidak berdasar
yang akan muncul. Sudah seharusnya umat Islam membaca dan menyelami pemikiran
siapa pun secara utuh sehingga tidak asal dalam menilai. Mari kita belajar dari
kesalahan orang-orang terdahulu, untuk membuat kita semakir sadar. Mohon maaf
jika ada yang tidak berkenan.[]
 
Bandung, 1 Muharram 1433 H.
AHMAD SAHIDIN, pembaca dan
penulis buku Tanda-Tanda Kiamat Mendekat

Kirim email ke