punten mun ripos gan,
---
http://nasional.kompas.com/read/2010/03/12/15395370/Batik.Ciamisan..Bersahaja.Tetapi.Elegan
Batik Ciamisan, Bersahaja Tetapi Elegan

Kesahajaan merupakan ciri khas batik ciamis. Warna hitam, putih, dipadu
coklat kekuningan, begitu menonjol pada motif batik daerah ini. Ragam hias
batik ciamisan bernuansa naturalistik, banyak menggambarkan flora dan fauna
serta lingkungan alam sekitar.

Kesederhanaan corak batik ciamis tak lepas dari sejarah keberadaannya yang
banyak dipengaruhi daerah lain, seperti ragam hias pesisiran dari Indramayu
dan Cirebon. Selain itu, pengaruh batik nonpesisiran, seperti dari Solo dan
Yogyakarta, tak kalah dominan.

Pengaruh dari wilayah pesisir dan nonpesisir yang berpadu dengan
nilai-nilai budaya Sunda dan kehidupan sosial sehari-hari masyarakat Ciamis
melahirkan ragam motif batik ciamisan yang sesuai dengan gaya dan selera
masyarakat setempat, bersahaja tetapi elegan.

Alhasil, corak batik ciamisan tidak memiliki makna filosofi, perlambang,
nilai sakral, atau menunjukkan status sosial tertentu. Penciptaan motif
atau ragam hias batiknya lebih ditekankan pada ungkapan kesederhanaan untuk
memenuhi kebutuhan sandang masyarakat. Kesederhanaan itu tertuang dalam
bentuk-bentuk yang terinspirasi dari alam sekitar dan kejadian sehari-hari.

Motif alam sekitar yang banyak dijumpai dalam batik ciamisan adalah rereng
atau lereng. Motif yang menggambarkan tebing miring ini dipengaruhi motif
parang pada batik Jawa Tengah. Motif lain adalah kumali, berupa empat
bentuk yang mengelilingi pusat, dan cupat manggu, motif geometris bergambar
buah manggis.

Masa keemasan batik ciamis berlangsung pada era 1960-an hingga awal
1980-an. Dari sekitar 1.200 perajin batik di Ciamis waktu itu, 421 perajin
di antaranya menjadi anggota Koperasi Rukun Batik yang berdiri tahun 1939.

Koperasi itu dapat memenuhi segala kebutuhan perajin batik, mulai dari
bahan baku sampai pemasaran produk. Rukun Batik berhasil membeli sejumlah
aset, bahkan mendirikan pabrik kain bahan baku batik di Jalan Sudirman,
Ciamis.

Namun, tahun 1980-an pamor batik ciamisan tenggelam, terlibas kemajuan
industri tekstil yang menghasilkan batik cetak ("printing"). Kondisi itu
diperparah dengan letusan Gunung Galunggung tahun 1982 yang menyebabkan
matahari nyaris tidak tampak selama setahun akibat debu vulkanik yang tak
henti menyembur. Para perajin tak bisa menjemur batik karena tidak ada
cahaya matahari.

Dari ribuan perajin batik yang pernah jaya pada 1960-an, kini hanya tersisa
satu unit usaha yang masih berproduksi. Pabrik sekaligus markas Koperasi
Rukun Batik sudah lama berhenti beroperasi. Lahan di depan pabrik kini
berubah fungsi menjadi rumah petak yang dikontrakkan. (ERI/LITBANG KOMPAS)

-- 
d-: dudi herlianto :-q
paciringan.wordpress.com
kunyuk nuyun kuuk, kuuk nuyun kunyuk

Kirim email ke