sanajan teu kaasup  pahlawan, jalaran can layak jadi pahlawan ceuk
pamarentah, tapi gusti nu maha agung mah moal pahili milih emas jeung
leutak, meuren lamun teu aya ibu inggit mah can puguh ri bisa merdeka
17 agustus 45, mugia amal ibadahna ditampi ku nu maha suci  amiin


Inggit Garnasih
| Diposkan oleh Teguh | di 18:15 |
Batang pohon cempaka yang meranggas, kering, dan keriput itu masih
berdiri di halaman rumah Inggit Garnasih yang meninggal dunia 26 tahun
lalu. Setiap hari Inggit mengambil bunga cempaka dan mencampurnya
dengan ramuan lain untuk dijadikan bedak dan lulur yang ia jual di
sekitar Bandung.

Kini rumah mantan istri Presiden RI Soekarno di Jalan Inggit Garnasih
Nomor 8, Kota Bandung, itu sudah sepi. Rumah yang tahun 1994 dibeli
Pemerintah Provinsi Jawa Barat tersebut hanya dijaga oleh keluarga
petugas dari Biro Umum Pemerintah Provinsi Jabar. Beberapa ruangan di
rumah itu kosong. Hanya cempaka, lukisan Inggit berdampingan dengan
Soekarno, serta lukisan Soekarno yang mengingatkan pada kisah hidup
pemiliknya.
Semasa hidup, Inggit sering bercerita kepada Tito Asmara Hadi, cucu
keempat Inggit dari anak angkatnya, Ratna Juami atau Omi. Menurut
Tito, Inggit yang lahir di Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung, 17
Februari 1888, itu menikah dengan Koesno atau Soekarno pada 24 Maret
1923. Sebelumnya, Inggit pernah menikah dengan saudagar Bandung,
Sanusi.
Saat menikah, Soekarno masih kuliah di Technische Hoogeschool te
Bandung atau Institut Teknologi Bandung. Ia sering berkumpul untuk
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. "Soekarno bukan tipe lelaki yang
bisa mencari nafkah sehingga Bu Inggit harus bekerja untuk keluarga
dan kegiatan pergerakan," kata Tito.

Diskusi, berpidato ke berbagai tempat, dan lain-lain dilakukan
Soekarno setiap hari dari pagi hingga pagi. Jika diskusi dilakukan di
rumah mereka, Inggit menyediakan konsumsi. Inggit mendapatkan uang
dari membuat dan menjual bedak, lulur, pakaian, dan kutang. Ia juga
menjadi agen cangkul, parang, dan sabun. Soekarno sempat ditawari
menjadi dosen dan pegawai pemerintah, tetapi ditolak. Soekarno hanya
bertahan beberapa bulan membuat biro teknik tahun 1926. Inggit sering
mendampingi Soekarno berpidato dan menjadi penerjemah bagi orang Sunda
yang tak bisa berbahasa Indonesia.
Meski penuh derita, Inggit menjalankan tugasnya dengan ikhlas dan bersemangat.
Bahkan, tak jarang ia melakukan hal berbahaya untuk membantu Soekarno.
Saat Belanda memenjarakan Soekarno di Banceuy, di perutnya Inggit
menyelipkan buku sebagai bahan pembelaan Soekarno. Saat penjaga
penjara lengah, secepatnya ia menyerahkan buku itu kepada Soekarno.
Berkat buku itu, Soekarno bisa menulis Indonesia Menggugat.
Pangkat untuk rakyat

Ketika Soekarno dipindahkan ke Penjara Sukamiskin, Inggit berjalan
kaki 10 kilometer mengunjungi Soekarno. Ia tak punya uang untuk ongkos
naik delman.
Ketika Soekarno dibuang ke Ende tahun 1933, Inggit membawa Omi dan
ibunya, Amsi, untuk menemani Soekarno di pembuangan. Ia juga turut
serta saat Soekarno dibuang ke Bengkulu tahun 1938. Di pembuangan,
Inggit tetap bekerja membuat bedak, lulur, dan pakaian. Ia juga pernah
dengan berani berjalan kaki menemui Soekarno dari Bengkulu ke Padang
melewati hutan. Ia hanya berhenti saat makan sambil berdiri karena
jika duduk ia takut tak bisa kembali berdiri.

Di Bengkulu, Inggit dan Soekarno mengangkat Fatmawati sebagai anak
mereka. Sebelumnya, Fatmawati adalah teman main Omi. Namun, tahun
1942, Soekarno meminta izin menikahi Fatmawati. Karena tak
mengizinkan, Inggit meminta bercerai dan kembali ke Bandung. "Bu
Inggit menikah 20 tahun dengan Soekarno dan selama 14 tahun
mendampingi di pembuangan," kata Tito.

Pulang ke Bandung, rumah Inggit sudah hancur. Teman-temannya
membangunkan kembali beberapa tahun kemudian. Meski sudah bercerai,
Inggit yang berusia lebih tua 12 tahun dari Soekarno tetap berhubungan
baik. Soekarno pernah mengunjunginya tahun 1964 dan 1966. Saat
bertemu, Inggit selalu mengingatkan Soekarno bahwa baju berpangkat
yang dipakainya berasal dari rakyat. Karena itu, ia harus terus
berjuang untuk rakyat.
Inggit meninggal tahun 1984. Di hari sebelum meninggal, ia tetap
membuat lulur dan bedak untuk menyambung hidup.

Inggit Garnasih memang bukan satu-satunya istri Presiden Sukarno (Bung
Karno tak sudi namanya ditulis sebagai Soekarno karena sangat
Belanda).

Ketika pemilihan legislatif, banyak yang kemari untuk berziarah dan
diliput oleh wartawan. Tetapi, ketika mereka sudah jadi anggota dewan,
apalagi yang Dewan di Jakarta, sekarang ini tidak terlihat.
-- Oneng Rohiman, penjaga makam

Namun, Inggit berpengaruh besar bagi Sukarno sejak pemuda dari Blitar
di Jawa Timur itu kuliah di Bandung dan indekos di rumah Inggit yang
saat itu masih berstatus istri Haji Sanusi.

Inggit lantas menjanda, dan dinikahi Sukarno sebagai istri kedua.
Istri pertamanya adalah Utari binti Haji Umar Said Cokroaminoto, bapak
kos sekaligus guru politik Sukarno di Kampung Peneleh, Surabaya.

Lazim diketahui, Inggit Garnasih adalah perempuan tangguh yang
mendampingi Sukarno pada masa-masa paling sulit dari kehidupan Sukarno
selama 20 tahun.
Sebut saja sejak Sukarno dikurung di Penjara Banceuy, Sukamiskin,
hingga bersedia mengikutinya ketika dibuang ke Pulau Ende, bahkan
sampai Bengkulu.

Namun, justru di Bengkulu pula, Sukarno mulai gandrung kepada
Fatmawati. Gadis putri tokoh Muhammadiyah lokal itu dinikahi Sukarno
tahun 1943, tetapi kemudian menggugat cerai tahun 1954 karena Sukarno
giliran jatuh hati pada janda bernama Hartini.
Lain Bengkulu, lain pula Bandung. Di Bengkulu, pemerintah setempat
menaruh hormat pada Fatmawati dengan memuliakan namanya sebagai nama
bandar udara.
Adapun di Bandung, orang ramai seolah sudah melupakan Inggit.
Meninggal tahun 1984 atau 14 tahun setelah Sukarno meninggal, Inggit
dimakamkam di Pemakaman Umum Porib, Caringin, Kota Bandung.

Makam di daerah Bandung Selatan ini tampak tidak layak bagi Inggit
jika melihat jasa-jasanya dalam perjuangan bangsa Indonesia.

Penutup makam nyaris roboh karena ada dua tiang yang sudah tidak
berdiri tegak dan miring terlihat menahan beban. Bahkan tembok tiang
sudah retak-retak.
Tak hanya itu, eternit penutup makam pun terlihat bocor. Air hujan
menetes ke ruang makam. Properti makam seperti batu nisan, lantai
makam, serta foto-foto Inggit dan Sukarno tampak lusuh termakan waktu.
Begitu juga dengan warna cat tiang kayu mulai lusuh.
"Waduh, kalau tidak diperbaiki, ini pasti roboh. Tetapi, bagaimana mau
memperbaiki, tidak ada yang menyumbang baik itu dari pemerintah maupun
dari pribadi-pribadi," ungkap penjaga makam, Oneng Rohiman.

Oneng mengeluhkan kurangnya kepedulian dari masyarakat Indonesia,
terkait makam Inggit Garnasih. Padahal kalau melihat jasa-jasanya,
kata Oneng, sangat besar.
Dijelaskan Oneng, dalam hal pembayaran listrik saja, dirinya harus
mengeluarkan secara pribadi sebesar Rp 50.000 per bulannya. Tidak
pernah ada yang menyumbang apalagi digratiskan oleh pemerintah.

"Soal listrik harusnya digratiskan atau dibayar pemerintah kota.
Namun, tidak apa-apa, saya masih bisa membayar karena saya tahu
perjuangan Ibu Inggit," kata Oneng.
Oneng juga mengeluhkan para politikus nasionalis yang sering kali
hanya memanfaatkan nama Inggit Garnasih untuk kepentingannya.

"Coba saja ketika zaman pemilihan legislatif, banyak yang kemari untuk
berziarah dan diliput oleh wartawan. Tetapi, ketika mereka sudah jadi
anggota dewan, apalagi yang Dewan di Jakarta, sekarang ini tidak
terlihat," kata Oneng.

Dikatakan Oneng, dirinya juga sangat heran ketika banyak kepala daerah
ataupun wakil kepala daerah yang berasal dari kalangan nasionalis
sangat kurang peduli terhadap makam Bu Inggit. Padahal, bantuan yang
dibutuhkan untuk keadaan makam tidak seberapa.
Oneng menceritakan, hanya ada dua kepala daerah yang menurutnya peduli
pada makam Inggit Garnasih, yakni almarhum Ateng Wahyudi dan Nu'man
Abdul Hakim.

Ateng Wahyudi saat menjabat sebagai Wali Kota Bandung berhasil
membangun kompleks makam. Saat itu, kata Oneng, Ateng menambahkan
bangunan agar makam tertutup.
Adapun Nu'man Abdul Hakim saat menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa
Barat merenovasi kompleks makam. Bahkan, dia membangun fasilitas air
wudu untuk para tamu yang akan menunaikan shalat di kompleks makam
Inggit.

Disinggung mengenai jumlah penziarah, kata Oneng, masih belum menurun.
Namun, yang ziarah ke makam Inggit banyaknya para pejuang dan
anak-anak pejuang, baik itu dari Bandung, Jakarta, Bengkulu, Blitar,
maupun Surabaya.

"Kalau momen politik banyak. Tetapi kalau hari-hari biasa, paling dua
sampai tiga orang per minggu. Kalau keluarganya cukup sering," kata
Oneng.

Oneng dan dua penjaga makam Inggit kini hanya berharap ada kepedulian
dari masyarakat terhadap makam Inggit. "Ya, sekarang saya hanya ingin
ada kepedulian," kata Oneng. (SOB)

kompas.com


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke