Lain rek ngabom, tapi lumayan aya anu pikaseurieun........
Dari: "Suarsa, [email protected]>
Kepada: Sp Saprudin <[email protected]>
Dikirim: Sabtu, 24 Desember 2011 2:36
Judul: Kisah Ganjil dari Syiah: Dirijen Shalat Itu Pun Mengeluarkan Asap Rokok (1)
Kepada: Sp Saprudin <[email protected]>
Dikirim: Sabtu, 24 Desember 2011 2:36
Judul: Kisah Ganjil dari Syiah: Dirijen Shalat Itu Pun Mengeluarkan Asap Rokok (1)
Sanajan
ieu warta geus lila, mun maca deui sok nyerengeh sorangan, keun urang nyerengeh
duaan ayeunamah atuh kang hehehe, punten bilih tos nampi.
Kisah
Ganjil dari Syiah: Dirijen Shalat Itu Pun Mengeluarkan Asap Rokok (1)
Ini
mungkin akan menjadi sedikit cerita atau mungkin tepatnya oleh-oleh dari acara
Ahlussunah Bersatu Menolak Syiah yang baru dilaksanakan Jum’at
lalu,
10/06/2011.
Banyak
paparan yang sangat menarik untuk dicermati dan sayang bila dilewatkan. Dari
kisah Kang Jalal yang kepergok tidak bisa taqiyyah, model
shalat
Jum’at yang unik di Iran, hingga kisah perempuan-perempuan yang
“dijual”, namun dibungkus ajaran agama bernama mut’ah.
Ya
Syiah memang menjadi polemik, masyarakat pun masih menunggu fatwa tegas dari
MUI.
Ketika
Kang Jalal Tidak Bisa (Lagi) Taqiyyah
Kisah
ini akan kami awali dari Profesor Jalaluddin Rakhmat. Akademi kondang yang
menjadi pilar terdepan dalam penyebaran Syiah di Indonesia.
KH.
Kholil Ridwan kemarin menceritakan pengalamannya berhadapan dengan Jalaluddin
Rakhmat. Pernah suatu ketika pengurus MUI tersebut didaulat
menjadi
pembawa acara dalam sebuah dialog di Pesantren At Taqwa Bekasi.
Dalam
seminar tersebut, hadir Kang Jalal sebagai narasumber. Melihat kehadiran Kang
Jalal yang sudah dikenal sebagai aktivis aliran Syiah, tentu
KH.
Kholil ingin tahu sejauhmana darah Syiah mengaliri diri pakar komunikasi dari
Universitas Padjadjaran itu.
Kontan
saja, kemudian pimpinan Ponpes Husnayain Kalisari, Jakarta Timur itu bertanya,
“Kang Jalal, anda ini Sunni atau Syi’i?”
Mendengar
pertanyaan dari KH. Kholil, Kang Jalal pun menjawab diplomatis, “Saya ini
bukan Sunni, bukan Syi’i. Saya ini Sunni-Syi’i,
Syi’i-Sunni.”
Dalam
hati, KH. Kholil bertutur, “Kang Jalal ini taqiyyah”. Karena dalam
tradisi Syiah berbohong dalam rangka taqiyyah itu berpahala. “Halalan
thayibban
barakallah, berpahala bagi mereka,” kata KH. Kholil
Namun
taqiyyah Jalal ternyata tidak selamanya berjalan mulus. Kali ini datang dari
cerita Prof. Yunahar Ilyas, petinggi di jajaran PP Muhammadiyyah.
Beberapa
hari lalu, Prof. Yunahar pernah bercerita kepada KH. Kholil.
Pernah
dalam satu waktu, tiga perwakilan Indonesia yakni, Prof. Yunahar Ilyas
(Muhammadiyah), KH. Hasyim Muzadi (NU), dan Kang Jalal sendiri berada dalam
satu airport.
Kebetulan
kala itu, mereka bertiga sedang transit menuju Libanon dalam rangka menghadiri
acara ukhuwah antara Sunni-Syiah. Dari Indonesia diundang
kedua
kelompok baik Sunni maupun Syi’i.
Mengetahui
kehadiran Kang Jalal, Prof. Yunahar agak heran dan bertanya.
“Kami
ini dari Muhammadiyyah, Pak Hasyim dari NU, Kang Jalal utusan mana?”
Mendengar
pertanyaan seperti itu, Kang Jalal tentu kaget. NU dan Muhammadiyyah sudah
dikenal dua ormas terbesar di Indonesia berhaluan
Ahlussunah.
Apa boleh buat, Kang Jalal tidak bisa mengelak dan terpaksa mengakui bahwa
dirinya adalah perwakilan Syi’ah.
“Karena
kalau Kang Jalal taqiyyah mengatakan dari sunni berarti beliau harus pulang,
karena dari sunni sudah ada Pak Yunahar dan Kyai Hasyim
Muzadi.
“ kata KH. Kholil menyambung kisah dari Ulama dari Bukittingi yang gencar
memberantas liberalisme baik di Muhammadiyyah maupun nasional.
Ternyata
tidak berhenti disitu, Prof. Yunahar kembali bertanya yang bisa jadi dapat
menyinggung Kang Jalal,
“Kang
Jalal ini bilang dari Syiah, taqiyyah bukan? Jangan-jangan Kang Jalal sedang
bertaqiyyah dalam rangka taqiyyah?”
Dan
Kang Jalal tidak bisa berkata apa-apa. “Begitulah Kang Jalal yang tadinya
Sunni, kemudian menjadi Sunni fifty-fifty Syi’i, dan sekarang
menjadi
Syi’i,” kata KH. Kholil. Menurut pengurus MUI bidang Budaya
tersebut perkembangan Syiah di Indonesia secara pesat terjadi setelah
Revolusi
Iran meletus.
Kisah
lain lahir dari kebiasaan shalat aliran Syiah. Di Syiah, menurut KH.
Kholil
, tidak ada shalat Jama’ah. Beliau sendiri pernah merasakan hal terebut
saat mendirikan shalat Jama’ah bersama seorang kerabat di Mesjid
Syiah
dalam suatu kesempatan di Singapura.
Melihat
KH. Kholil berjama’ah bersama seorang rekannya, kontan saja seorang
Syi’i kemudian menegurnya. Mendapatkan respon yang tidak mengenakkan itu,
KH. Kholil tetap bergeming, ia lebih menghiraukan dan memilih melanjutkan
shalatnya,
“Suke-suke
gue dong, yang shalat gue ini, “ ujar KH. Kholil dengan logat Betawinya
di hadapan para jama’ah yang hadir di Mesjid Al Furqon, Jum’at
lalu.
Dirijen
Shalat Itu Seorang Perokok
Ternyata
kebiasaan lain dalam Shalat Jama’ah juga terjadi di Iran. Menurut
penuturan almarhum KH. Irfan Zidny, Ulama PBNU yang pernah berguru dengan
orang-orang Syiah, ada hal ganjil dalam shalat taraweh di Iran.
KH.
Irfan pernah bercerita kepada KH. Kholil, jadi karena tidak boleh shalat berjama’ah
dalam tarawih, untuk menandakan posisi Imam sudah
berganti
posisi, dihadirkanlah seorang dirijen yang tidak ikut shalat.
Tugas
seorang dirijen cukup memberitahukan kepada jama’ah dibelakang imam bahwa
imam sudah rukuk atau pindah posisi. Sebab, jika Imam membaca lafazh takbir
kemudian jama’ah dibelakangnya mengikuti: shalatnya menjadi tidak sah,
karena dia terhitung menjadi makmum.
Nah
kebetulan ketika raka’at kedua, Imam membaca surat yang cukup panjang.
Karena,
letih berdiri, sang dirijen kemudian melakukan suatu hal yang bisa jadi sangat
lucu bahkan tidak masuk di akal bagi kita seorang muslim.
Sambil
menunggu Imam menyudahi bacaannya, ia memilih rehat sejenak.
Diambilnya
sebungkus kopi, diseduhnya, lalu diminumnya. Masih kurang mantap, ia lantas mengambil
sebatang rokok lalu menghisapnya. Nanti kalau
Imam
sudah menyelesaikan bacaannya, ia kembali berdiri sigap sambil membaca takbir
keras-keras, tentu bersamaan dengan asap rokok yang mengepul dari mulutnya.
“Kan
tidak masuk di akal Rasulullah mengajarkan shalat seperti itu,” heran KH.
Kholil. (pz//bersambung)
------------------------------------
Kisah
Ganjil dari Syiah: Di Iran Nikah Mut'ah Bisa Sampai Seribu (2-Habis)
Kisah
berikutnya tentang kawin mut’ah di negeri Persia itu. Di Iran, rupanya
tidak sulit menyalurkan syahwat biologis lewat cara ini. Para pemuda Iran sudah
akrab melakoni penyaluran kisah cintanya lewat jalan mut’ah.
Caranya
pun relatif mudah, cukup bagi kita untuk menyambangi tiap mesjid di Iran yang
menyediakan fasilitas mut’ah. Berbeda seperti mesjid kita sebagai orang
Islam, mesjid kaum Syiah memang menyediakan ruangan khusus untuk melakukan
transaksi mut'ah.
Biasanya
para perempuan akan ditaruh di bilik-bilik Mesjid dan siap untuk diperlihatkan
kepada laki-laki yang datang. Harga nikah mut’ah pun bervariasi.
Tergantung perempuan mana yang menjadi selera kita, termasuk juga waktu.
“Mau
satu jam atau dua jam? Kalau satu jam harganya sekian,” tukas KH. Kholil
menyambung kisah seorang temannya yang pernah kuliah di Iran dan membuat para
peserta menggelengkan kepalanya.
Hebatnya,
nikah mut’ah pun tidak mengenal ambang batas. “Tidak ada batasnya,
boleh sampai seribu kali (nikah mut’ah) dalam hari yang sama dan saat
yang sama,” lanjutnya.
Berbeda
dengan nikah dalam ajaran Islam yang memakai syarat wali dan saksi, nikah mut’ah
aliran Syiah tidak memerlukan keduanya, “nikah mut’ah itu tidak
perlu pakai wali, tidak perlu pakai saksi. Karena pada hakikatnya mengandung
adanya jual beli.” tambah KH. Kholil bercampur heran.
“Bagaimana
kita mau mengatakan ini nikah muslim jika caranya seperti itu?” tanyanya.
Jika
kita mendengar kisah ini, kita jadi teringat akan berita di Iran baru-baru ini.
Menurut sebuah berita, saat ini terjadi pergeseran tren di Iran dimana nikah
mut’ah lebih popular ketimbang nikah secara permanen.
DR
Shahla I'zazi dari Lembaga Studi Ilmu-Ilmu Sosial Iran, menyatakan fenomena
nikah mut'ah adalah tuntutan sejumlah pejabat Iran yang menginginkan adanya
hubungan gelap antara laki-laki dan perempuan. Oleh sebab itu, mereka mencoba
melegitimasi hubungan ini melalui pernikahan sementara.
Namun
perkembangan nikah mut’ah pun bukan semata-semata karena tingginya
syahwat para pejabat Iran, karena secara statistik menunjukkan bahwa pelaku
nikah mut'ah atau kawin kontrak terbesar justru berasal dari warga kota Qum.
Kota yang dianggap suci dan merupakan pusat pendidikan ilmu agama, yang
sebagian besar lulusannya menjadi ulama Syiah ternama.
Kasus
aneh dari nikah mut’ah pun tidak hanya terjadi di Iran. Bahkan yang lebih
menggelikan lagi, dilakukan sekelompok pemuda Syiah di negeri ini.
Majalah
Panji Mas- sebelum majalah ini gulung tikar- pernah menceritakan
pengalaman mut’ah sekelompok pemuda Syiah di Indonesia.
Berbeda
dengan di Iran yang melepaskan transaksi syahwatnya di dalam mesjid, sekelompok
pemuda Indonesia ini malah melakukannya diatas hawa sejuk kawasan Puncak. Apa
ada mesjid di Puncak yang melaksanakan mut’ah?
Tentu
tidak, karena pemuda ini mendatangi Puncak jsutru untuk menemui para pelacur.
“Jadi
sewa pelacur dan menyewa villa.” Kata KH. Kholil.
Di
hadapan para pelacur ini, salah seorang perwakilan Syiah kemudian berkhotbah
bahwa apa yang akan mereka lakukan tidaklah perbuatan zina asal mereka mau
menjalani sebuah syarat, yakni dinikahkan secara mut’ah.
“Kita
ini bukan mau berzina, tapi mau mut’ah,” ungkap KH. Kholil
menirukan suara si pemuda.
Dari
kelima pelacur tadi, salah seorang diantaranya ada yang menitikkan air mata. Ia
menangis tersendu-sendu. Namun ada pula yang tertawa cekikikan.
Karena
merasa ada yang aneh, pengkhotbah tersebut lantas bertanya kepada pelacur yang
menangis itu.
“Kamu
kenapa menangis?”
“Saya
nangis karena ingat masa lalu saya, saya ini tamatan pesantren. Saya sedih
kenapa saya jadi begini.” jawabnya
“Lah
kamu yang cekikikan?” tanya sang pengkhotbah.
“Saya
tertawa, masak sih pak ustadz mau maen aja pake ceramah dulu. Maen mah maen
aja.” tutup KH. Kholil yang disambut tawa riuh para jama'ah yang hadir
dalam acara Ahlussunah Bersatu Menolak Syiah. (pz)
RONI RA SUARSA

OPERATOR, YEP PP WET END
Saudi Yanbu Petrochemical Company
A SABIC Affiliate
Yanbu Industrial City 41912
Saudi Arabia
Saudi Arabia
T +966 (4) 321 4276-4276
F
This e-mail and any attachments are for authorized use by the intended recipient(s) only. They may contain proprietary material or confidential information and/or be subject to legal privilege. They should not be copied, disclosed to, or used by any other party.
If you have reason to believe that you are not one of the intended recipients of this e-mail, please notify the sender immediately by reply e-mail and immediately delete this e-mail and any of its attachments. Thank you.
