HADEEE ma Iyar !!
Salam ka Sadayana

Ereeleeuuuuu...
Cecep Gundala Putra Ketir

==================
Dikintun ku pun Blekbengker® hape pinter tina Sinyal Cageurrr....

-----Original Message-----
From: Ki Hasan <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 8 Jan 2012 13:43:31 
To: Ki Sunda<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: Urang Sunda<[email protected]>; Baraya 
Sunda<[email protected]>
Subject: [kisunda] Tokoh - Iyar Wiyarsih

Mamah Iyar Wiarsih "Mojang Priangan" Siap Turunkan Ilmu

 Sabtu, 07/01/2012 - 21:10
 [image: RETNO HY/"PRLM"]
RETNO HY/"PRLM"
MAMAH Iyar Wiarsih (kiri) saat menceritakan pengalamannya kepada Kepala
Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Dra. Hj. Rosdiana Rachmiwaty,
M.Si., saat ditemui dirumahnya Kampung Rancabali RT02...

BANDUNG, (PRLM).- Setelah puluhan tahun memilih untuk mengasuh cucu dan
cicit, pesinden Iyar Wiarsih (80) menyanggupi tawaran Balai Pengelolaan
Taman Budaya Jawa Barat (BPTB Jabar) untuk mewariskan keahliannya pada
peserta Program Pewarisan Seni Tradisional Jawa Barat 2012. Pengarang
sekaligus pelantun tembang “Mojang Priangan” ini tidak hanya akan
mewariskan lagu-lagu yang hingga kini masih tersusun rapih dalam buku
catatannya, tetapi juga akan mewariskan gaya panggung dan warna suaranya.

“Antara tahun 1950 hingga 1960-an sempat memiliki murid sampai empat puluh
orang, tapi tidak ada satupun yang menerima ilmu secara utuh dengan
kemampuan sama persis dengan Mamah. Demikian pula dalam beberapa tahun ini,
ada banyak calon penyanyi (lagu sunda) ataupun pesinden yang meminta
diajarkan gaya Mamah, tapi karena setelah bisa satu dua lagu tidak datang
lagi, jadi tidak semua ilmu diterima,” ujar Mamah Iyar, kepada Kepala BPTB
Jabar Dra. Hj. Rosdiana Rachmiwaty, M.Si., yang menemuinya di rumahnya
Kampung Rancabali RT 02/02, Ds. Kertamulya, Kec. Padalarang, Kab. Bandung
Barat.

Sejak meninggalnya Warsa Muharam, suaminya, pada tahun 1982 bubar pula grup
Sundayana. Mamah Iyar Wiarsih nyaris menghentikan aktivitas berkeseniannya
sebagai juru tembang (pesinden). Tapi karena tidak mengecewakan yang
menggundang, sesekali masih suka naik panggung dan menerima pesinden atau
calon sinden yang berguru pada dirinya.

Di sejumlah daerah priangan Mamah Iyar dikenal sebagai "Mojang Priangan",
di kawasan Pantura (Pantai Utara) dikenal sebagai "Si Jago Dermayon". Sudah
sejak usia 15 tahun naik panggung dan hampir 100 lagu diciptakannya, yang
dua diantaranya sangat legendaries adalah “Mojang Priangan” dan “Dikantun
Tugas”.

Meski dianggap dan diakui turut andil di medan juang, hingga usia senjanya
Mamah Iyar tidak mendapat pengakuan khusus apalagi santunan dari pemerintah
sebagai pejuang. Karena sikap rendah hati, sederet penghargaan yang di
antaranya dari Menteri Penerangan RI (1977), Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan (1981), Gubernur Jawa Barat (1985), dan Bupati Bandung (1993)
serta terakhir Anugerah Budaya dari Disparbud Pemkot Bandung (2009), telah
membuatnya bahagia. (A-87/A-88)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/172207

Kirim email ke